Perjalanan Etape 7
Perjalanan Etape 6
Perjalanan Etape 5
Perjalanan Etape 5
Perjalanan Etape 4
Perjalanan Etape 3 (lanjutan Ketika Benih Cinta Mulai Tumbuh)
Perjalanan Etape 3
Perjalanan Etape 2
Perjalanan Etape 2
Teruntuk Tuhan...
Terimakasih Tuhan….
Terimakasih karena hingga detik ini Engkau masih meberiku nafas agar k uterus bertasbih
Terimakasih karena memberiku waktu tuk memperbaiki sebentuk iman yang masih koyak
Terimakasih atas kesempatan mencari bekal demi menghadap-Mu kelak
Terimakasih Tuhan….
Terimakasih karena tiada bosan mendengar keluh kesah dan sumpah serapahku pada-Mu
Terimakasih karena selalu mengabulkan setiap untaian permintaan yang kuhaturkan
Terimakasih Tuhan….
Terimakasih karena selalu membimbing pijak-pijak kaki nakalku
Terimakasih karena selalu mengingatkan atas khilaf sengaja dan khilaf diluar pengertianku
Terimakasih Tuhan….
Telah memberiku hidup indah bersama kekasih yang Engkau tunjukkan untukku.
Jika telah sebegitu besar kemurahan hati-Mu, dihari dimana aku mulai ada ini masih pantaskah aku mengemis karunia yang masih Engkau simpan?
Perjalanan
*Pertemuan
Ayam jantan sudah berkokok dengan gagahnya, dan aku masih terkapar enggan membuka mata. Bagai dikalungi berjuta tembaga mata ini terasa sukar tuk melihat gegap nuansa pagi yang baru saja lahir. Lelah masih setia menggelayut ditubuh. Nyeri, ngilu dan perih bahu-membahu menempa tubuh yang terbujur kaku, memprovokasi otak agar tak mengkoordinir otot melakukan satu gerak apa pun. Cukup begini, diam dan menikmati sejumlah kenangan.
Kemarin. Masih jelas terbayang saat jiwa dan ragaku dibelenggu oleh sistem yang tak aku paham. Luar biasa. Dia menyambutku dengan angkuh. Lecutan caci menjadi kata manis yang dia saji tuk menggerakkan tubuh melalui remote kontrol. Desauan angin yang dulu kurasa semilir menyegarkan berubah menggores balutan kulit sensitifku. Aku yang masih perawan. Hingga darah segar menetes diantara keringat yang meleleh terpanggang oleh sang siang.
Pertemuan pertama ini menerbitkan prasangka betapa kejam dirinya. Bahkan aku bernadzar tak sudi menemuinya kelak kecuali dia bersedia menyembulkan sedikit senyum manisnya padaku. Aku yakin, setiap senyuman yang tersungging menampilkan kesejatian sisi manis yang tersimpan dalam muka seram. Dengan itu mungkin jiwaku akan melunak dan mencoba tuk kembali mengenalmu.
Kemarin. Masih teringat bagaimana dirimu menjamuku dengan bongkahan-bongkahan amarah yang menggelindingkan raga. Aneh, dimana salahku? Setiap pijak langkahku kau hadang dengan kebengisan tapakan yang terjal. Kadang curam menanjak, kadang curam menurun, kadang lintasan bara kau pasang, bahkan kau juga menyisakan segaris jalan untuk satu kaki, bukan sepasang kaki. Beberapa kali aku nyaris jatuh, sekali aku terjatuh. Saat kuseka dayaku yang mulai meluruh kau justru tertawa. Tawamu terus menggema mengisi gendang telinga, terbahak di balik kebisuan ragamu.
Jika tidak salah sudah separuh jalan aku hidup bersamamu. Terawali dari naungan pucuk-pucuk hijau lebat yang menyesatkan dan bersanding dengan onak duri yang selalu siaga merajam tubuhku. Selesai menciumi diriku dengan hawa dingin yang menggigil, aku dituntun dalam gelap menelanjangi pesona auramu tanpa helaian busana hijau. Aku terkesiap. Indah, sunyi menelungkupi damai alami. Tak lama aku menikmati kesejukan yang menarikan bulu kuduk, selanjutnya aku dipanggang dalam terik surya membara. Panas, kulitku serasa mengelupas. Aku bergantung pada tali-tali erat, jika kupaksa lepas, lolos pula nyawa yang selama ini kudekap. Merayap dan terus merayap pada dinding batu tegak pencakar bumi.
Hari-hari bergulir. Begitu lambat namun pasti datang dengan membawa kejutan yang menantang urat syaraf. Firasatku berucap, ini akan segera berakhir. Penindasan yang sukar kutolak, kurasa akan menemui ajalnya. Atau justru ajalku? Oh, tidak. Dia sungguh ingin membunuhku terlebih dahulu sebelum dia mengakhiri dirinya. Sebuah hamparan penghisap tubuh menantiku dengan bangga. Rimbunan belukar menatap seakan merasakan haus yang berkepanjangan. Dia ingin tubuhku berkubang menyatu dengannya. Tidak! Dan terlambat. Alunan teriakan membahana menyeretku hingga terjerembab masuk semakin dalam.
Di antara keputus-asaan kutemukan butir semangat pemberontakan. Aku harus keluar dari kubangan ini! Seketika itu pula perih yang menggelitiki kakiku lenyap. Aku bangkit dan melawan. Satu hari aku berjuang mempertahankan ragaku dari hisapan lumpur maut. Nafasku tersengal, aku telah berada kembali diujung bibir kehidupan.
Senja semakin mendekat ke malam. Derap langkah lelah tertatih bersemangat mencari satu titik cahaya yang paling terang. Sayup kudengar bisikan memberi tanda bahwa sejengkal lagi hidup baru akan terjelang. Yah, cahaya itu penunjuk jalan menuju titik terbit cahaya terterang.
Gemerisik pasir yang bermain disela kaki tak kuhiraukan. Aku berjalan hanya dipandu semburat merah dilangit yang menampilkan bola pemberi nyawa siang. Samar kulihat pula sebuah bendera panji kemenangan yang harus kupegang dan kibarkan. Tentu saja, aku harus meraihnya, mengangkatnya dan meneriakkan kemenangan yang telah kureguk dengan taruhan nyawa.
Pagi ini hari begitu cerah. Terbukti dari kilatan sinar yang sukses meneropong mataku hingga mau membuka. Mimpi burukku telah berakhir. Dan hari ini tak disangka aku memperoleh kecupan lembut lengkap dengan senyum manis membasuh dendam yang kemarin bersemayam. Dia yang angkuh dan bengis namun mengasuhku dengan kasih yang hadir dipagi ini. Menjengukku, menebar senyum dan meluruhkan egoku.
My True Love
Teruntuk Suamiku
Duhai suamiku, aku memilihmu karena halus perangaimu aku memilihmu karena gigih dan tekun upayamu tuk mencuri hatiku aku memilihmu karena sinar sabar terpancar dari matamu Duhai suamiku, jika kau menganggapku mawar berduri ditepian jurang. Maka kau hujan yang menyiram bumi usai kemarau panjang jika kau menganggapku mutiara hitam yang langka. Maka kau kristal indah yang harus kujaga dari goresan dan jatuh membuyar
Duhai suamiku, kau simpan hatiku dalam pualam yang meneduhkan, dan akan ku simpan hatimu dalam bingkai lempeng berlian kau menyanjungku bagai ratu, aku akan menobatkanmu sebagai ksatria cinta untukku
Wahai kekasihku, meski aku menikahimu tanpa debar cinta yang kata orang begitu mendebarkan. Aku tahu pasti ada benang halus yang telah mengikat kita sebelum kita bertemu sebelumnya. Aromamu, pancaran auramu tidaklah asing bagiku. Seperti telah ada garis maya yang membuat kita saling terpana diawal jumpa. Tapi itu bukan cinta. Semacam asa perahu yang telah lama mengarungi samudera kemudian menemukan pulau kosong rindu sentuhan.
Wahai kekasihku, jika dalam hatimu masih bertanya-tanya adakah cinta itu dalam hatiku. Cinta itu ada, kekasihku. Cinta itu kini tengah mekar, sejak kuncup malam pertama. Cinta itu berubah menjadi edelweiss putih nun disana. tak akan terjangkau siapa pun kecuali engkau yang telah berhasil membuat peta jalan untuknya. Cinta itu tak akan layu oleh waktu sampai seribu tahun kemudian, bahkan hingga keabadian menjemput.
Wahai kekasihku, jika kau selalu bertanya rindukah aku padamu yang jauh dimata. Aku tak pernah rindu, kekasih. Karena hatimu selalu menemaniku. Karena suaramu terus mengiang dalam ruang dengarku. Karena aroma tubuhmu selalu mengitari langkah-langkahku. Karena wajahmu tak pernah enyah dari mata dan otakku. Walau sering aku ingin bertemu untuk mendengar cerita-cerita hidupmu. Sering aku ingin bertemu untuk memelukmu nyata dalam dadaku. Sering aku ingin bertemu agar ada yang menjaga keseluruhan hidupku dari serangan dunia. Dan sering aku ingin bertemu hanya untuk bermanja denganmu. Tapi kekasihku, ada catatan kisah yang harus kita selesaikan sampai ada kata penutup yang indah.
Wahai kekasihku, aku tahu kau juga merindu ceracau mulut mungil dari rahimku. aku mengerti usia kita tak lagi seperti Tapi kekasihku, ada goresan tinta yang berkata semua akan hadir pada saatnya. Ia akan menjadi buah yang lebih manis dari segala buah yang ada.
Oh gerangan belahan jiwaku, Asaku membumbung bahwa kau akan menjadi yang pertama sekaligus yang terakhir dalam sejarah hidupku. Asaku mengangkasa bahwa kau akan tetap menjagaku sebagai ratu sepanjang jiwa dan ragamu merayapi bumi.
Oh gerangan belahan jiwaku, tetaplah mencintaku tanpa pamrih tetaplah menjadi pangeran seperti dalam dongeng yang senantiasa mengajakku berdansa dalam suka dan duka.
Happy b’day Luv…..
a Piece Story of Love
Pertama kali aku melihatnya, jantungku berdecak indah nian bunga itu. Merah merekah senada dengan busana hatiku.
Kupikir kami bisa sepakat tentang hidup karena warna kami sama. Berhari-hari ku memujanya, menunggu saat tepat untuk memetiknya. Menyiapkan wadah terindah bagi kehadiran sang pesona.
Matahari telah mengemas ketika aku mengayun nada demi menyunting indahnya. Dia diam dalam tatap angkuh. Aku berlagu dalam tawa, dia mencibir.
Dalam degup yang membara ku beranikan tanganku terulur tuk menyentuhnya. Ouch.....
Warna merah semakin membuatku merah. Ada perih menggelayut.
Ah kawan, aku lupa sesuatu.
Mawar itu sungguh berduri. Bodohnya aku tak menyadari hingga aku tertusuk hingga ke dada.
Akhirnya yang kudapat hanya titik embun menyudut dikelopak mata.
Inilah nada-nada cinta yang kuuntai untuk memetiknya kawan,
dengarlah.....
Dear Mr Rose
Tahukah kau?
Sejak itu aku menjadi gila,
sungguh tergila-gila pada pancaran gerak lakumu
melupakan realita penantian lalu yang bersisa sia-sia
Entahlah,
Otakku mendadak buntu, meski aku mungkin cukup ahli dalam hal menggombal lewat tulisan
Kali ini aku terperangkap dalam lubang hitam kata, tanpa dasar hingga aku tak bisa keluar tuk berucap sebagaimana rasaku sesungguhnya
Terjebak dalam tuntunan nafsu
Gelisah dengan detik mengangan tentang dirimu
Kebimbangan menonjok telak ke jiwa. Membuat aku limbung memilih antara kebohongan atau kenyataan
Meski hati tak pernah bisa menipu hasrat setiap kehadiran selintas bayangmu
Ingin kembali menatapmu tanpa perlu kau berpaling padaku
Tanpa perlu menyentuh palung hatimu yang bukan untukku
teguhlah pada cintamu
Aku begitu takut mengakui bahwa ada getaran aneh yang menggerogoti status quoku
Aku terlalu naïf dengan menganggap percakapan sekejap dulu bukanlah mula atau bukanlah apa-apa
Ternyata aku salah
Itu awal bagi kebangkitan rohku yang suri
Menerbitkan harapan bahwa esok engkaulah sang pemberi hadiah pernikahan yang indah
Andai kau tak mengerti…..
demikianlah aku
Seorang pemimpi dengan obsesi setinggi Everest yang kelak ingin kudaki
Mustahil!
karena aku tetaplah aku
Si pecundang sok ksatria, pandai berpura-pura tegar sekokoh karang lautan
Tahukah kau?
Karang adalah sosok rapuh yang munafik
Kasat mata begitu perkasa dengan isi keropos berdiam dirongrong air laut kejam
Seorang yang mendadak jadi pengagummu
Seorang bodoh yang tiba-tiba menghamba cinta
Sangat aneh,
karena sekali lagi aku pun tak mengerti arti kegilaan ini
Tak seharusnya aku mendina-hina
menanti uluran tangan nisbimu, laksana si buruk rupa yang bermimpi bersanding dengan si rupawan
Tak seharusnya pula aku merangkai untai konsonan ke vokal dengan terbuka, sedemikian vulgar
Menumbalkan mutiara suci yang terpuja pembawa keanggunan
Menjeratkan diri dalam himpunan cerca kodrati manusia
Menjilati kehormatan kaum hawa
Tolong abaikan saja semua dramatisasi ini
Kecamlah aku!
Kutuki saja aku
tapi jangan kau ludahi ketidakberdayaanku tuk memilih cinta
Anggaplah aku serupa duri yang harus dibuang demi keindahan tanpa melukai siapapun
Anggaplah aku sebagai penggemar gilamu atas hasrat terlarang yang telah mencengkeram asaku
cukuplah dimengerti menjadi rahasia
Hanya kau dan aku
saja.
My Life
Terdampar
Selama aku mengarungi samudera hidupku entah berapa kali aku terdampar dalam pulau asing yang jauh dari pulau impianku.
Tahukah kau kawan,
bahwa pulau impian pertamaku adalah pulau dimana orang akan merasa haus dengan ilmu berlayarku. Aku akan bicara dengan bahasa asing yang akan membuat mereka terpana, bertanya dan menjadi paham akan bahasa yang ku gunakan untuk berbicara.
Sayang, angin kecil tanpa ku sadar telah meniup perahuku menuju pulau yang membuatku bingung untuk melangkah. Apa yang akan kudapat dari pulau yang isinya hanya tentang cara memerintah. Mereka sangat lihai bersilat lidah menghujat yang mereka anggap salah tanpa melihat sudah benarkah mereka dalam bertindak selama ini.
Tak salah kiranya jika pada akhirnya kelak mereka pun akan dihujat balik oleh anak cucu mereka saat telah merasa menjadi wakil rakyat yang benar. Ini tidak akan pernah berakhir, karena yang mereka pelajari hanya demokrasi asal bunyi. Tidak pakai hati, tidak pakai otak.
Mereka berdalih anarkhi bisa mengubah tatanan yang ada. Benar sekali, karena mereka berhasil menghancurkan bentuk fisik dari tatanan itu. Hanya rumah atau gedung saja yang rusak, kawan. Isi mereka tetap sama. Busuk!
Meski aku muak, seluruh sudut pulau itu aku jelajahi sampai tak terasa aku telah menjadi warganya. Sebentuk kertas melabeli nama belakangku menjadi almamater pulau itu.
Tahukah kau kawan,
setelah menyisir pulau yang katanya telah banyak melahirkan ahli negara, aku kembali berlayar berusaha mencari pulau impian yang hakiki.
Sebentuk fatamorgana menyeretku mendekat pada sebuah pulau yang menyerupai pulau impian. Ah, ternyata tak salah. Aku sedang tidak berilusi. Benar ini pulau impian. Tapi kawan, ada selubung tipis yang membuatku tak bisa masuk ke dalamnya.
Aku hanya menjadi penonton tak setia. Aku hilir mudik tak acuh dengan sesuatu yang dulu adalah mimpiku.
Aku hanya pelayan, kawan. Aku melayani mereka yang telah menjadi cita-citaku. Tak ada iri dengki. Tak ada cemburu dengan pencapaian mereka. Tak senang pula aku berdiam di zona antara ini. Yah, aku sadar, ini menyerupai pulau impianku. Tapi sesungguhnya pulau impian yang kucari merupakan jembatan penghubung menuju samudera dengan pulau impian hakiki.
Aku masih dalam kubah yang nyaman. Setidaknya, aku sedang bersiap untuk berlayar kembali mencari pulau impian hakiki yang sampai kini belum juga terlihat dalam peta samuderaku.
Tahukah kau kawan,
saat aku sedang mengitari pulau tinggalku sekarang, sebuah badai mendamparkanku ke pulau yang pernah ku lihat dari bibir pantai. Anak pulau yang timbul tenggelam. Suatu masa pernah terlihat, namun tenggelam kembali kemudian.
Kini aku berdiri diatasnya. Pulau terjal yang penuh persaingan untuk hidup. Dan aku harus tinggal berebut udara agar bisa bertahan bernafas.
Perahuku koyak kawan, aku butuh kayu untuk menambal atau bahkan membuat perahu baru. Untuk itu aku harus rela berpeluh keringat, air mata bahkan darah jika perlu demi mendapat sebatang kayu kokoh bagi perahuku.
Entah kawan, aku merasa nyaman dalam arena pacu pulau ini. Ada hal yang membuatku bersemangat terus maju dan maju.
Dan kawan,
sepanjang hari aku sibuk berkejaran dengan waktu. Aku nyaris lupa dengan pulau impian hakiki yang masih menjadi misteri akankah kutemui. Perahuku pun belum tersentuh perbaikan sama sekali. Aku malah asyik tawar menawar dengan hari, gerangan kayu apakah yang cocok untuk mengarungi samudera dimana kemungkinan pulau impian hakiki berada.
kadang nyaris menyerah kawan,
tapi pertunjukan tidak boleh berhenti, kan? Atau kalian akan menyesal!
Dan tahukah kau kawan,
sebentuk kata-kata panjang ini kuharap bisa membawaku kembali berlayar menempuh kiloan samudera yang setiap saat bisa saja mendamparkanku kembali pada pulau asing yang tak ku ingin.
Dan kawan,
Sesungguhnya dibalik setiap terdamparnya perahuku, ada kuasa Agung yang telah menulisnya dalam angin. Aku selalu kalah dengannya. Aku yang lulusan pulau birokrat latah menghujat-Nya sebagai biang langkah tertatihku. Aku marah, aku nyaris berbuat anarkhi.
Tapi kawan, tanpa ku sadar tulisan angin yang membentuk badai itu ternyata perlahan menguatkan perahuku.







.jpg)




