RSS
Container Icon

The Threembak Kentir's Ke Gunung Salak (katanya 10) Fin.


Lanjutan...


Elang, Terdampar!


Seketika keriangan padam manakala petugas pemeriksa karcis meminta tiket kami. Waduh, ada polsusnya juga, Bleh!

“Yaah, Pak cuma itu yang kami punya.” kata Pheenux memelas.

“Iya Pak, kami benar-benar kehabisan uang.” timpal Citonk.

“Kalau nggak punya uang jangan naik kereta dong!” omel petugas karcis.

Sementara Mas Polsus cuma senyum-senyum. Dia masih muda sih, mungkin tertarik sama kami empat gadis manis, yang polos dan menggemaskan. Nggak mungkin! Pasti itu yang terlontar dari mulut para pejantan yang sedari tadi diam tak berargumen dengan Bapak Penarik Karcis yang sok sangar. Teh Mei saja kali yang dia lirik.

“Pak, please! Kasihanilah kami anak-anak telantar ini, negara nggak mau mengurus. Kami juga sedang dilanda bencana kelaparan. Malang ya, Pak?” ocehku yang masih hafal UUD 45 Bab XIV pasal 34 tentang Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Terpaksa hafal demi ujian Pendidikan Pancasila.

“Sus, ini bukan kereta ke Malang!” bisik Dede kumat penyakit tidak nyambungnya.

Acara lobi-lobi terus berlangsung seru, herannya para cowok sama sekali tidak bereaksi, mereka memilih aksi tutup mulut. Hanya aku, Pheenux dan Citonk yang berjuang agar tetap bisa numpang kereta sampai tujuan. Akhirnya petugas dan mas polisi hanya mengancam dengan menyuruh kami turun di stasiun berikutnya. Kami koor menyanyikan lagu maju tak gentar mengiyakan dengan mantap, tapi tidak janji loh!

Pukul tiga pagi kami sampai stasiun Kroya dengan selamat, maksudnya tidak ada petugas karcis dan polisi yang menghampiri lagi untuk mengusir. Saatnya berpisah. Aku, Pheenux, Citonk dan Ali turun di stasiun Kroya. Sementara yang lain lanjut hingga Yogya. Kami rombongan Purwokerto sempat menanyakan perihal keuangan anak-anak Yogya, bahkan memberi sumbangan ala kadarnya, maklum ada kelebihan uang sedikit kalau cuma buat naik bus dan angkot tanpa sarapan.

Pagi buta kami terpaksa tidur di stasiun Kroya. Menggelar ponco dan tidur di peron stasiun berderet-deret. Nggembel lagi. Habis bus yang ke Purwokerto baru ada sekitar pukul lima. Dan ternyata kami tidak sendiri, ada banyak teman terkapar di lantai sana-sini.

“Bangun! Bangun!” terdengar suara orang membangunkan dengan lantang. “Hei, sudah pagi! Ayo, bangun!”

Kami berempat jelas kaget dan langsung mengangkat ponco alas tidur tanpa melipat. Bahkan buat ngucek-ngucek mata pun tidak sempat. Setengah nyawa kami langsung membopong carier keluar dari peron. Takut dibangunin dengan cara tendang. Nggak asyik banget, choi! Ini bukan sedang diksar, tapi ada lho yang kena gajul petugas.

“Kita mau kemana nih?” tanyaku yang masih super ngatuk. Belum on.

“Balik ke Purwokerto, woooiii, bangun!” Pheenux mengguncang-guncang tubuhku yang jongkok memeluk carrier.

Matahari pagi menyambut keempat petualang gembel dengan sinar ceria. Perjalanan selanjutnya jelas pulang ke Purwokerto, tentu, dengan membawa segenggam pengalaman yang sempurna, ada pertengkaran, cerita, derita dan gelak canda. Dan sekali lagi semua berakhir dengan senyuman__tawa melegakan.

Yeaah, gitu deh! Pendakian edisi terdampar. Pendakian dengan manajemen pendakian amburadul, hasilnya…. terdampar-dampar.

Berawal dengan terdampar di stasiun Kroya, berikutnya terlunta-lunta di jalanan ketika mencari sekre Astacala. Ketiga, nggembel di pinggiran jalan Sukabumi, sudah sampai di pos pendakian malah mendamparkan diri ke Kawah Ratu. Belum selesai, baliknya kami kembali terlantar di pinggiran trotoar depan terminal Sukabumi. Keenam, gelar lesehan di Stasiun Kiara Condong. Terakhir mencoba jadi tunawisma tidur di stasiun Kroya. Hebat kan?!!

Tapi… elang must go on!

♪♫Aku ingin terbang tinggi seperti elang…♫ ini tanganku untuk kau cium, ini tubuhku untuk kau peluk tapi tak bisa kau miliki♫♪.

Buat Om Dewa, pinjem lagunya ya! 

(Perjalanan The Threembak Kentir's berikutnya ke Gunung Merbabu. Tunggu ya....)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

The Three Mbakentir's Ke Gunung Salak (katanya 9)

Lanjutan...
 
Elang, Terdampar!
 



 

Setelah berkali-kali mendapat penolakan akhirnya seorang sopir truk budiman bersedia memberi tumpangan. Ujang dan Kentang yang berjalan paling belakang mencomoti kami satu-persatu yang terbagi menjadi beberapa kelompok.
Sayang, berkah tumpangan tidak dapat kami nikmati lama, baru saja kami mau meluruskan kaki, ternyata sudah sampai pasar Cicurug. Mau bagaimana lagi? Tidak mungkin dong, membajak truk sampai terminal Sukabumi, atau ke Bandung sekalian? Lebih sip lagi kalau servisnya langsung sampai ke Purwokerto-Yogya. Memang truk nenek moyang Loe? Mustahil, sebab begitu tiba di pasar Cicurug kami langsung dilempar keluar truk.
Setelah mengucap terimakasih ribuan kali dan sampai pak sopir capek meladeni dengan segera tancap gas, kami mencari bus ke Sukabumi. Untuk mengusir gundah ketiadaan uang, kami bernyanyi-nyanyi riang di jok belakang. Untung tidak ada yang menimpuk pakai sandal, karena suara amburadul yang tercipta benar-benar memekakan telinga.
Mendekati terminal Sukabumi kami diturunkan di jalan. Jangan merasa kasihan dulu, bukan hanya kami kok yang diusir keluar. Kata pak kondektur bus sih, mereka tidak ingin masuk terminal. Tidak tahu alasannya apa. Yang jelas sesuai rencana kami terus mencari kubah ATM. Demi penghematan, aku, Mei ditemani Ali mendapat mandat sebuah misi suci menjadi The Seeker, pemburu ATM. Sisanya mencari info perjalanan selanjutnya.
Tidak jauh dari dugaan, saat aku kembali dari ATM dibelahan kota lain karena harus pakai angkot untuk menjangkaunya. Ujang dan yang lain tampak duduk-duduk di trotoar sambil menyanyikan lagu kebangsaan kami kali ini.
♪♫Aku ingin terbang tinggi seperti elang… ini tanganku untuk kau cium, ini tubuhku untuk kau peluk tapi tak bisa kau miliki….♫♪
Pukul enam sore kami sudah berganti tempat mangkal di stasiun Kiara Condong. Pokoknya judul perjalanan kali ini ‘menanti’.  Menurut informasi pukul setengah sepuluh kereta baru akan berangkat. Dan lagi-lagi kami terdampar sambil nyanyi-nyanyi di peron stasiun dekat WC. Lagunya Elang lagi.
Pokoknya antara mulut dan perut sama sekali tidak kompak. Mulut menyanyikan lagu pop, tapi perut memutar musik keroncongan. Yang terdengar adalah lolongan antara bosan dan kelaparan. Mau beli makan, duit tidak ada. Jangankan makan, minum saja terpaksa ambil air di bak WC, nekat ya? Dalam kondisi perut lapar apa sih yang tidak masuk akal.
Aku mulai mengorek-korek semua kantong baju. Tak lupa meminta Citonk dan Pheenux melakukan operasi kantong juga. Tanpa diminta Mei ikut-ikutan merogoh-rogoh sakunya.
“Ini aku ada,” kata Teh Mei. “Mau buat apa Sus?”
“Beli gorengan dan lontong. Lumayan kan, buat ganjal perut.”
Dede yang duduk tak jauh dari gerombolan cewek mengacungkan ibu jari. Gerak selanjutnya kami para cewek beranjak keluar stasiun mencari gerobak gorengan.
Nah, saat beli gorengan inilah kami tak lupa meminta air minum yang layak konsumsi. Cuma dapat satu botol sih, tapi terlalu lumayan bagi kami daripada air WC. Tentu dengan syarat minumnya hanya boleh satu tutup botol per-anak. Kalau masih haus, ada tuh air WC. Kejaaam! Jerit para pejantan.
Penderitaan kami belum berakhir. Dalam kereta pun kami harus rela duduk disambungan antar gerbong depan pintu WC lagi. Maklumlah, kereta waktu itu padat amat. Amat saja tenang kenapa kita tidak tenang, selama ada gitar, mari kita bernyanyi riang. Semboyan Dede. Anggap saja amal menghibur orang-orang yang duduk manis digerbong. Asyik! Pokoke jempole joged!  (sayang, sekali lagi kami harus menemui kemalangan. Pak Kondektur memergoki kami sebagai penumpang gelap, ada pak polisinya pula. Piye iki? Mau lari ke pantai atau ke hutan?)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cinta Atau Uang

Bunga Lili Dan Istana Kaca


sumber gambar : wallpapers-xs.blogspot.com

      Liliana melonjak girang sambil bertepuk tangan. Rasa senang memang tidak pandang anak-anak atau orang dewasa, anak muda atau orang lanjut usia. Semua mengekspresikan dengan cara masing-masing. Ada yang jingkrak-jingkrak, ada yang meloncat melompat, ada yang tertawa-tawa bahkan ada yang menangis haru. Liliana langsung memeluk erat suaminya melupakan Dyfan yang berusaha menyeruak di antara pelukan mereka.
“Iya, Sayang.” Liliana merengkuh Dyfan yang mengerang protes merasa diabaikan. “Mami akan punya mobil, besok kita bisa jalan-jalan berdua ya ya....” Liliana menempelkan hidungnya dihidung Dyfan yang tertawa-tawa geli.
“Kamu sebaiknya segera ambil kursus setir mobil, Mi.”
“Pasti Pi, besok Mami langsung daftar kursus.”
“Cari tempat kursus yang bisa sekalian dapat SIM.” Rafi beranjak dari ranjang lalu mengganti hem-nya dengan kaos.
“Wah, sudah tidak sabar nih bisa menyetir.” Liliana memegang dua tangan anaknya menggerakkannya seperti sedang menyetir mobil.
“Papi lapar nih, makan yuk?”
“Kita makan di luar?”
”Seperti tidak biasa saja.”
Liliana tersenyum-senyum setengah malu. Memang sudah menjadi kebiasaan mereka tidak pernah makan malam di rumah. Asisten rumah tangga pun selalu di ajak serta makan bersama.
“Dyfan sama Mbak Sani dulu ya? Ayuk,” Liliana mengantar Dyfan agar berganti baju bersama pengasuhnya.
Sepuluh menit kemudian keluarga kecil itu sudah meluncur ke tempat makan yang belum pernah mereka datangi. Dari satu tempat makan ke restoran yang lain. Tiap malam mereka melakukan wisata kuliner untuk memuaskan perut yang lapar.
Sejak bisnisnya meraih laba banyak, Rafi tak segan mengeluarkan uang untuk segala macam kesenangan istrinya. Termasuk mobil yang diambil secara kredit untuk sang istri tercinta. Menurut Rafi selama dia masih bekerja, jangan terlalu khawatir tentang uang. Prinsipnya adalah sekarang habis besok cari lagi.
Sebagai istri, Liliana jelas senang dimanjakan aneka macam fasilitas yang ada. Kadang dia tidak ambil pusing bagaimana cara suaminya mendapatkan barang yang dia inginkan. Yang dia mau tahu, barang keinginannya segera ada nyata depan mata tanpa alasan.
Rafi tidak peduli omongan orang bahwa dia telah salah memilih Liliana yang terkenal cewek matre. Mungkin benar cinta itu buta, sebagaimana yang Rafi alami. Ada sesuatu yang bergejolak manakala dekat Liliana. Hidup Rafi pun terasa penuh warna jika berada tak jauh dari Liliana yang ceria. Hanya satu hal yang sangat ditekankan Rafi pada Liliana, jangan pernah mengkhianati hatinya.
Pengalaman pernah diselingkuhi oleh pacar yang begitu dia sayangi membuatnya waspada pada segala kemungkinan tersebut. Tentu saja, karena Liliana memang sangat cantik. Sementara dirinya memiliki penampilan fisik yang sangat timpang dengan Liliana. Seperti bumi dan langit. Bumi yang kelabu bersanding dengan angkasa biru cerah.
Di luar fisik yang bertolak belakang, secara sifat mereka berdua bisa saling melengkapi. Sosok Rafi yang cenderung pendiam cocok bersanding dengan Liliana yang periang dan banyak bicara. Malah terlewat cerewet jika Rafi melakukan sesuatu yang tidak disukai atau bila keinginannya belum terpenuhi. Sepanjang hari Liliana bisa berkicau tanpa berhenti. Biasanya Rafi hanya akan mendengar dari telinga kiri kemudian keluar telinga kanan.
Seperti saat Liliana meminta kendaraan roda empat untuk mobilitas sehari-hari. Kira-kira hampir satu minggu Liliana terus mengoceh tentang tidak menyenangkannya harus naik motor ke sana kemari. Keluhan tentang kulitnya jadi menghitam karena kena terik mentari. Keluhan tentang hujan yang bisa membuatnya sakit flu atau tentang debu dan asap yang membuatnya sesak nafas. Pokoknya topik selama seminggu berisi muatan tentang perlunya mobil bagi dia.
Yah, setelah sebuah mobil mungil berhasil bertandang di garasi menemani mobil Rafi, Liliana tak lagi melakukan demo dengan toa. Liliana kembali menjadi wanita yang cantik, manja dan lucu bagi Rafi.  
Selesai menuntut mobil Liliana punya program baru untuk mengorek kantong suaminya. Tiba-tiba dia mengusulkan agar Dyfan dimasukkan PAUD. Tentu saja bukan sembarang PAUD. Kinder Park merupakan arena belajar dan bermain dengan fasilitas super lengkap.
“Aku ingin anak kita bisa Bahasa Inggris, Pi. Di Kinder Park, bahasa pengantarnya Inggris. Mumpung anak kita masih kecil, pasti akan dengan mudah belajar bahasa itu.”
“Apa yang menurut Mami baik pasti Papi dukung. Toh, ini buat anak kita kan?”
“Tapi biayanya mahal, Pi.”
“Soal uang jangan terlalu dipikirkan. Itu bagianku, Mami konsen saja pada Dyfan.”
“Terimakasih Papi. Pokoknya aku jamin tidak mengecewakan. Bayaran mahal setimpal dengan mutu. Tidak akan sia-sia.”
Mendengar iklan dari istrinya Rafi tersenyum-senyum geli. Inilah Liliana yang dia cintai.
Liliana semakin merajalela. Dengan fasilitas kartu kredit dia semakin senang berbelanja sendiri ke mal atau belanja online. Liliana tidak sembarangan membeli barang-barang. Dia selalu memilih barang-barang bermerk dengan sertifikat original.
Tak heran jika Liliana menuntut satu ruang khusus untuk menyimpan semua tas, sandal dan sepatu bermerk miliknya. Dia benar-benar memperlakukan barang koleksinya seperti benda-benda bertuah. Belum lagi satu peti yang berisi perhiasan, satu etalase berisi jam tangan berbagai model dan merk terkenal.
Rafi sama sekali tidak keberatan dengan hobi istrinya yang senang mengumpulkan barang-barang mewah di rumah. Asal Liliana senang, apapun akan Rafi kabulkan. Dengan satu bayaran kesetiaan yang Rafi selalu tandaskan.
Syarat kesetiaan yang Rafi ajukan bagi Liliana bukan masalah besar. Liliana adalah tipe orang yang bisa menepati janji. Lagi pula selama Rafi memenuhi semua keinginannya kenapa pula dia harus berpetualang ke ranah cinta lain. Cukup baginya Rafi yang baik dan penurut untuknya.
Ternyata ada satu orang yang tak senang dengan kehidupan mereka yang bermandikan gelimang uang. Ibu Liliana tidak suka anaknya menghambur-hamburkan uang hanya untuk barang-barang tidak penting. Setiap kali Liliana datang ke rumah dengan membawa aneka hadiah, si ibu selalu mengingatkan.
“Sudahlah Bu, obat yang dijual oleh perusahaan Rafi sedang berjaya. Omzetnya sampai ratusan juta. Sebagai anak direktur pasti gaji Rafi tinggi bukan. Ibu tidak usah khawatir kami akan kehabisan uang.”
“Manusia mengusahakan, tapi Allah yang memberi keputusan final. Allah bisa dengan mudah membolak-balik hidup manusia.”
“Iya Bu, aku tahu.”
“Karena itu tidak ada salahnya kan kalau kamu menyisihkan uang untuk tabungan.”
“Iya, iya...” jawab Liliana yang bosan dengan nasihat ibu. “Lihat, baju ini bagus lho. Ibu harus mencoba. Ayo, Bu!” Liliana menarik ibunya ke kamar untuk mengepas baju yang baru saja dia beli.
Ibu Liliana menghela nafas. Dalam hati dia sungguh merasa sungkan menerima aneka barang dari anaknya. Bagaimana pun uang itu adalah uang suaminya. Sudahkah Liliana minta ijin suami jika membelikan barang-barang untuknya. Semoga Liliana tidak sembrono dalam mengelola uang dari suami yang telah bekerja mati-matian.
Bagi Liliana semua nasihat ibunya hanya sebatas tiupan angin sepoi yang akan segera berlalu. Dia sangat yakin bahwa perusahaan suaminya tidak akan bangkrut. Mengingat produksinya yang terus meningkat dan malah mendapat brand merk obat yang paling laku.
Tak lupa Liliana selalu mengingatkan kawan-kawannya yang sakit agar membeli obat dengan merk atau label RaPharma. Liliana yang supel dan banyak teman secara tidak langsung telah membantu penjualan yang terus meningkat.
Sayangnya sebuah status di facebook mengguncang tingkat penjualan RaPharma. Entah siapa yang menyebar, bisa jadi dari perusahaan pesaing yang iri dengan penjualan yang melonjak pesat. Media sosial memang sangat efektif dalam penyebaran berita dan penghancuran sebuah objek. Meski bisa saja berita itu tidak benar. Tapi umumnya orang-orang langsung percaya dan begitu saja membagikan kabar tersebut tanpa melakukan cek dan ricek.
Menurut status yang beredar obat-obat keluaran RaPharma terdiri dari obat sakit kepala, obat flu, obat batuk dan multivitamin mengandung sebuah zat yang bisa membahayakan pemakainya. Bahkan salah satu multivitamin penambah energi dapat menyebabkan ketergantungan. Kabar itu disertai dengan gambar dan saksi yang sangat meyakinkan.
Rafi dan keluarga gusar. Mereka segera melakukan investigasi pelaku penyebar berita tersebut. Belum lagi ketemu pelakunya, perusahaan harus menghadapi penolakan beberapa apotek terhadap obat-obat RaPharma. Bahkan BPOM melakukan pengecekan ke pabrik untuk memastikan kabar yang telah menyebar luas.
Entah siapa yang teledor atau karena ada unsur sabotase dari luar, hasil pengecekan ulang ternyata terbukti ada satu obat yang mengandung zat aditif. Satu titik nila merusak susu sebelanga, kira-kira demikian kondisi perusahaan Rafi. Apalagi berita yang sampai ke masyarakat terlalu dilebih-lebihkan. Layaknya peringatan resmi bahwa semua obat keluaran RaPharma berbahaya.
Meski telah melakukan klarifikasi dan meminta maaf serta menarik obat yang dianggap berbahaya. Image obat RaPharma telah telanjur jatuh. Kerugian pun telah mencapai ratusan juta rupiah. Untuk menutupi biaya produksi selanjutnya, membayar karyawan dan memulihkan image perusahaan mau tidak mau pemilik dalam hal ini direktur_ayah Rafi beserta keluarga yang ikut andil dalam perusahaan menjual aset pribadi yang dimiliki.
Mendengar itu Liliana meradang. Mobil, bahkan motornya ikut terjual. Kini keluarga besar Rafi harus rela hidup minimal demi perusahaan agar tetap bertahan.
“Maaf Mi, aku harap kamu bisa mengerti. Kita seperti sedang merangkak lagi dari nol. Semua harus berkorban. Masih untung perusahaan kita tidak ditutup paksa.”
“Tapi akan kembali normal kan?” tanya Liliana penuh harap.
“Kita berdoa saja. Untuk sementara kita harus berhemat. Tolong ya Mi,” Rafi memohon pada istrinya agar tidak lagi berbelanja yang tidak perlu.
“Tapi....”
“Bersabarlah,”
Liliana mengangguk mencoba memahami.
Tiga bulan, enam bulan belum ada tanda-tanda perusahaan RaPharma bangkit. Bahkan hingga satu tahun, penjualan masih belum mencapai target pada laba maksimal. Keluarga Rafi masih harus mengetatkan ikat pinggang. 
Meski Rafi tidak pernah mengeluh tentang keuangan rumah tangganya, Liliana paham jika Rafi kesulitan dalam melunasi kartu kreditnya yang telah dibekukan. Diam-diam Liliana yang semula malu mengakui kebangkrutan keluarganya mulai menjual semua koleksi kesayangannya pada teman-teman.
Berat sekali bagi Liliana. Seperti melepas semua baju hingga dia telanjang. Istana kacanya pun turut hancur berkeping-keping. Untunglah barang-barang bermerk yang dia punya laku keras. Selain karena kondisinya masih bagus, harga yang Liliana tawarkan tidak terlalu menguras kantong pembeli. Tidak hanya tas, sepatu dan baju yang dilelang oleh Liliana. Perhiasan satu peti, satu persatu dia jual untuk membantu melunasi hutang yang menumpuk.
Dalam hati Liliana sesungguhnya agak menyesal dulu tidak menyisihkan uang untuk ditabung. Meski pada kenyataannya Liliana masih bersyukur jika barang-barang koleksinya masih memiliki harga jual sehingga dapat menolong meski hanya sekuku jari. Pemborosan yang dulu dia lakukan masih bisa menambal kerugian yang dia timbulkan.
Liliana kini telah habis-habisan. Tak ada lagi perhiasan menempel pada tubuhnya seperti penjual emas. Pergi keluar pun harus rela naik angkot dan terpaksa pergi belanja ke pasar tradisional. Liliana tampil sebagai wanita sederhana seperti saat sebelum dia menikah.
Yah, Liliana hanya berharap perusahaan suaminya akan kembali berjalan normal dan meraih kejayaan. Setidaknya ini menjadi ajang bagi Liliana untuk belajar kembali hidup berhemat, belajar mencintai suaminya yang tidak lagi memanjakan dia dengan uang serta barang-barang mewah.


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen "Pilih Mana: Cinta Atau Uang?" #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com dan Nulisbuku.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Naik Motor = Safety First

Cerita Dari Halaman Belakang Rumah

sumber gambar : poskotanews.com

Usianya boleh muda tapi pengalaman dioperasi hingga tiga kali layak mendapat apresiasi. Dua tulang kakinya patah. Setidaknya sudah satu tahun ini dia menjadi seperti iron man yang sebagian tubuhnya terbuat dari besi, dua kakinya terpasang pen untuk menyangga kaki hingga sembuh total.
Seharusnya dia hanya akan melakukan operasi kaki dua kali, yaitu saat pemasangan pen dan pembersihan tulang-tulang yang retak dan operasi pelepasan pen. Nyatanya ditengah jalan kaki kirinya mengalami masalah penyambungan yang tidak sempurna. Entah karena apa aku tidak tahu pasti. Yang jelas saat ini dia cukup gembira bahwa besi yang tertanam dalam dua kakinya akan diambil. Secercah harapan mekar, setelah ini dia akan kembali berjalan dengan normal.
Aku masih ingat saat pertama dia datang dan menangis meraung-raung pasca operasi pembetulan tulang yang bermasalah dengan penyambungan. Ibunya pun kemudian bercerita asal mula kenapa anaknya mengalami patah tulang semacam itu.
Menurut si ibu sejak SD kelas enam anaknya memang sudah diajari naik sepeda motor. Masuk SMP, si ibu semakin membebaskan anaknya berkeliaran memakai motor. Bahkan kadang malah menyuruhnya untuk membeli sesuatu pakai sepeda motor.
Bayangkan saja anak SMP berkendara motor di jalan tanpa SIM dan tidak memakai helm. Dan tahukah dia tentang tata tertib lalu lintas dan norma berkendara? Menurut pengamatanku anak-anak di bawah umur suka asal dalam berkendara di jalan. Suka asal nyelonong, suka kebut-kebutan, dan suka menyalip sembarangan tanpa perhitungan.
“Saya tidak menyangka Mbak, kalau sore itu akan menjadi sore bencana bagi anak saya. Biasanya dia memang suka keluar membawa motor dan pulang dengan selamat. Tapi sore itu hingga maghrib dia belum pulang. Saya jelas cemas, tak berapa lama saya mendapat telpon dari seseorang yang mengabarkan kalau anak saya mengalami kecelakaan. Langsung lemas tubuh saya.” kisah si ibu dengan titik air merembes di sudut mata.
“Bertabrakan dengan apa, Bu?” tanyaku penasaran.
“Sama motor. Menurut anak saya, waktu itu jalanan terlihat sepi hingga anak saya langsung menyeberang saja. Eh, tidak tahunya ada motor dengan kecepatan tinggi tiba-tiba melibasnya. Anak saya sampai jatuh terseret beberapa meter. Dan yang menabrak menurut kesaksian orang sekitar oleng ke kanan dimakan oleh truk yang melintas. Dia langsung meninggal seketika. Aduh, waktu itu saya tidak bisa berpikir lagi.”
“Rugi dua kali ya, Bu?”
“Begitulah Mbak, saya sangat menyesal membiarkan Anang berkeliaran dengan motor tanpa pengawasan. Ini jadi pelajaran buat saya. Mungkin pelajaran buat Mbak, jangan sampai anak-anak yang masih belum cukup umur main-main dengan sepeda motor. Akibatnya fatal. Cukup anak saya saja.”
Aku mengangguk-angguk dan dalam hati berjanji tidak akan membiarkan anakku keluar membawa motor sembarangan. Semua ada waktunya bukan.
Aku melihat Anang yang asyik bermain game ditabletnya. Ah, bagaimana perasaan si anak itu ya? Apakah tangisannya waktu itu juga tangisan trauma karena telah menghilangkan nyawa orang lain. Entahlah, aku jelas tidak mungkin menanyakannya.
Baiklah, aku sudah berbicara panjang lebar pasti terbetik penasaran kenapa sampai rumahku kedatangan si ibu dan anak yang malang itu. Sejak dua tahun lalu, rumahku tepatnya rumah bapakku dijadikan rumah singgah bagi para pasien patah tulang yang menunggu kontrol berikutnya. Biasanya jarak antara operasi dan kontrol kisaran tiga hari hingga tiga mingguan. Bagi yang rumahnya jauh tentu saja memilih mencari tempat kos sementara dari pada bolak-balik yang bisa jadi berpengaruh pada hasil operasi.
Rumah orangtuaku kebetulan dekat dengan rumah sakit orthopedi. Melihat peluang itu bapak langsung membuat deretan kamar di halaman belakang rumah yang ada kolamnya. Setidaknya ada lima kamar yang berdiri di atas kolam.
Berdasarkan pengamatanku selama ini mayoritas pasien rumah sakit orthopedi adalah pasien akibat kecelakaan lalu lintas. Memiriskan bukan, atau justru menguntungkan bagi rumah sakit. Plus menguntungkan bagi penduduk yang tinggal di sekitar karena mendapat income tambahan dari menyewakan kamar. Entahlah....
Beda cerita lagi dengan tetangga sebelah kamar si ibu tadi. Bapak ini mengaku bahwa lampu motornya sedang mati ketika dia mengalami kecelakaan. Kalau lampu mati buat jalan siang hari tentu masalahnya tidak akan sebesar jika berjalan tanpa lampu di malam hari. Meski aturan sekarang sepeda motor pun wajib menyalakan lampu siang hari. Jelas sekali bapak ini telah melanggar peraturan berlalu lintas.
Bapak Wito beralasan jika kepergiannya tak jauh dari rumah hanya untuk membeli bakso. Jauh atau dekat jika kendaraan dalam kondisi tidak fit, tidak sempurna tetap berbahaya, bukan?
Siapa sangka dari arah depan tiba-tiba sebuah bus telah menyorotkan lampunya dengan raungan klakson membahana. Pak Wito kaget, refleks membelokkan motornya ke arah kiri tanpa sempat mengerem hingga dia langsung terjun bebas ke dalam sungai.
Sementara bus yang juga terkejut karena tidak menyangka ada sepeda motor berjalan di depannya banting setir ke kiri sehingga membentur mobil sedan yang disalipnya. Mobil sedan itu segera meluncur masuk sawah dan bus yang serba salah tersebut menabrak pohon di pinggir jalan.
Kisah selanjutnya Pak Wito tidak tahu pasti. Yang jelas tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan. Tulang punggungnya patah. Setelah melalui beberapa operasi dan perawatan kemungkinan Pak Wito bisa duduk bahkan berjalan lagi.
“Mungkin saya sedang apes waktu itu.” ucap Pak Wito seakan tidak menyadari kesalahannya. “Biasanya aman-aman saja. Haha....” masih juga bisa tertawa.
“Tidak jadi makan bakso dong, Pak?” selorohku.
“Betul itu, wah jan! Busnya memang kurang ajar. Mendahului kendaraan lain kok ya tidak lihat-lihat depan. Rasain sopirnya sekarang dibui. Biar itu jadi pelajaran buat sopir lain agar tidak ugal-ugalan menyetir. Apa tidak sadar kalau membawa nyawa orang banyak?”
“Kalau lampu motor Pak Wito menyala, saya rasa sopir akan tahu kalau ada kendaraan di depan.”
“Dasar sopirnya saja Mbak, saya sering melihat lho bus-bus macam itu selalu mencari menang sendiri. Tidak toleransi pada kendaraan kecil lain, mengebut, menyalip kadang tidak peduli kalau ada motor di depannya.”
“Memang sih,” tanggapku. “Tapi....”
“Lha iya tho? Ini jelas salah sopir bus itu. Lampu motor saya hanya memberi kontribusi kecil.”
Aku senyum-senyum geli. Waduh, gawat juga kalau semua pengendara kendaraan tidak menyadari betapa sekecil apapun kontribusi kesalahan di jalanan bisa berakibat fatal. Entah berapa banyak lagi kecelakaan bakal terjadi. Mungkin setiap menit, setiap kilometer akan ada insiden tabrakan antar kendaraan. Dan akan ada berapa banyak lagi korban yang berjatuhan di jalanan.
Sebenarnya masih banyak cerita tentang peristiwa kecelakaan dari belakang rumahku. Aku hanya mengambil satu dua versi untuk bahan renungan bahwa kecelakaan di jalan raya setiap harinya telah banyak menelan korban dan merenggut nyawa-nyawa yang kadang tidak bersalah. Perlu diketahui bahwa kematian akibat laka lantas sudah termasuk lima besar pembunuh manusia di dunia. Bersanding dengan HIV, TBC, penyakit jantung, dan malaria.
Tahun 2014 lalu WHO meranking dan meliris data tentang jumlah kematian akibat laka lantas, sungguh membanggakan Indonesia menempati urutan kelima. Ups! Maksudnya sungguh memprihatinkan. Hebatnya lagi Indonesia justru menempati urutan pertama dalam peningkatan kecelakaan lalu lintas, yaitu mencapai angka lebih dari 80%, melampaui India si jawara dengan tingkat kematian tinggi di jalanan. Dan pembunuh global yang paling mengancam adalah dari kendaraan sepeda motor.
Kenapa bisa demikian? Bukan rahasia umum lagi jika para pengendara motor sering tidak mematuhi peraturan lalu lintas dan mengabaikan standar berkendara yang benar. Seperti penggunaan helm yang disepelekan, membawa barang-barang melebihi muatan, naik motor bertiga, membawa anak kecil diboncengan belakang. Kebanyakan dari mereka berdalih, ah, cuma ke depan sebentar. Atau beralasan hanya mau pergi ke lingkungan sekitar. Padahal lingkungan sekitar mereka sudah jalan raya yang mungkin padat arusnya.
Aku jadi teringat dulu saat aku masih belajar motor. Tiba-tiba motorku melaju kencang tak terkendali karena aku salah memutar gas ke atas. Akibatnya sebuah tembok yang tidak bersalah aku tabrak tanpa ampun. Untungnya motor tidak mengalami kerusakan yang hebat. Aku pun dalam kondisi baik-baik saja, hanya mengalami luka lecet dan memar di muka. Pokoknya bersyukur sekali. Coba bayangkan jika waktu itu kepalaku langsung membentur tembok yang tanpa pengaman helm. Entah apa yang akan terjadi padaku.
Satu hal yang baru saja aku sadari bahwa belajar naik motor pun harus memperhatikan safety prosedure. Tapi kebanyakan dari kita mengabaikan hal itu, berlatih begitu saja tanpa memakai helm baik yang mengajari atau yang diajari dengan dalih berlatih di lapangan yang luas. Bukankah berbahaya sekali jika tiba-tiba kecelakaan tak terduga yang seperti aku alami terjadi dengan kondisi yang lebih parah lagi.
Setidaknya aku sekarang merasa aman. Aku bukan bagian dari pengendara sepeda motor. Dampak latihan dengan insiden menabrak tembok itu membuatku jera untuk berlatih mengendarai motor lagi. Ada sebentuk trauma yang menghantui kala harus memutar setang gas. Meski aku tahu tidak menjadi pengendara pun terkadang bisa mendapat imbas dari pengendara lain yang lalai dan ugal-ugalan.
Seperti yang terjadi pada salah satu penghuni kamar belakang rumahku. Siapa sangka dia bakal jadi korban tabrak lari dan terlantar semalaman.
Rumah Mas Danar dekat hutan karet. Tetangga kiri kanan berjarak cukup jauh. Waktu itu dia hendak menemui temannya di seberang bukit. Saat menyeberang tiba-tiba sebuah kendaraan dengan kecepatan tinggi melontarkannya hingga ke tepi jalan. Bukannya menolong pengendara itu malah langsung tancap gas membiarkan Mas Danar tergeletak begitu saja.
Antara sadar dan tidak, katanya Mas Danar merangkak menuju rumah yang paling dekat dengan lokasi kejadian. Hanya rumah itu satu-satunya harapan Mas Danar agar tetap hidup. Tapi bukannya pertolongan yang dia dapat, si empunya rumah malah mengusirnya dengan air muka setengah ketakutan.
Mas Danar yang tidak bisa berkata-kata karena mulutnya hancur berlumuran darah kembali merangkak ke pinggiran jalan berharap ada pertolongan dari sana. Nihil, malam itu begitu sepi lantaran hujan mengguyur dengan deras. Untunglah, paginya ada seorang bapak tua bersepeda yang lewat melihat Mas Danar melambai-lambaikan tangan dengan lemah. Tanpa berpikir panjang bapak tua itu segera menolong dan membawanya ke puskesmas terdekat.
Ah, aku masih tidak bisa mengerti dengan pemilik rumah itu. Apa dia manusia? Tega membiarkan seorang yang terluka parah terlunta-lunta di luar. Memang menurut si bapak penolong kondisi Mas Danar kala itu sangat mengerikan, darah berlumuran dari hidung ke bawah. Celananya koyak-koyak dan tampak tulang putih menonjol dari sekitaran luka.
Apa pun alasannya, setakut apa pun kita demi sebuah nyawa tak bisakah mengenyampingkan rasa takut itu. Apa yang perlu ditakutkan dari orang yang tidak berdaya? Jika merasa tidak bisa bukankah bisa meminta, memanggil bantuan orang lain untuk mengurusnya. Gampang, bukan? Tidak harus tangan sendiri yang terulur jika takut atau tidak sanggup.
Ini sungguh luar biasa, aku tak menyangka di negara kita ini masih ada orang tidak berhati macam itu. Apa benar nuraninya sama sekali tidak tergerak untuk memberi pertolongan? Aku pikir hanya negara-negara seberang yang melakukan perilaku tidak berperikemanusiaan seperti yang pernah tersiar di you tube. Di depan mataku, nyata kini ada korban tabrak lari yang tersia-sia.
Baiklah, aku rasa sudah cukup menuturkan semua kejadian yang menimpa dari halaman belakang rumahku. Orang-orang malang itu entah karena kesalahan sendiri atau kesalahan orang lain hendaknya tetap berhati-hati jika telah bergaul di area jalanan yang semakin liar.
Sekali lagi tidak bermaksud menggurui, tapi demi meminimalisir cedera dan resiko kematian saat mendapat musibah di jalan, sebaiknya jika berkendara dengan sepeda motor harus memakai prosedur yang aman. Mematuhi tata tertib lalu lintas, tak lupa bertoleransi dengan pengendara lain. Jika semua orang memahami hal itu niscaya kedamaian, keamanan di jalan raya akan tercipta. Jalan raya pun tidak lagi menjadi si ibu tiri yang kejam.


 Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen 'Tertib, Aman dan Selamat Bersepeda Motor di jalan.' #Safety First diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS