RSS
Container Icon

Special Gift



Sebuah Kado Pernikahan

Kau tahu aku bukan setangkai mawar
Namun kau sudi memetik dan meletakkan aku dalam bejana kristal

Kau tahu aku bukan safir kemilau
Namun kau menyematkan aku dalam tahta hatimu yang biru

Kau tahu aku bukan harum kesturi
Namun kau bersedia menciumi wangi kaktus berduri

Kau tahu aku bukan pujangga cinta
Namun kau bersedia mendengar setiap patah kata yang meluncur deras dari mulutku

Kau tahu aku bukan taman hijau menyejukkan
Namun kau rela menyirami taman gersang itu dengan kasih sayang yang menyegarkan

Kau bahkan tahu hatiku tak sesuci melati
Namun kau tak jenuh menaburi hatiku dengan aroma melati

Terimakasih cintaku,
telah bersedia menemani hari-hari kesahku
telah bersedia berbagi tawa sedih denganku
telah bersabar mengenalkan arti kata cinta untukku

Terimakasih suamiku,
telah memberi empat tahun kebersamaan yang menakjubkan!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sang Pecinta 2


*Sebuah Kisah Tentang Aku dan Pantaiku


Pagi itu aku terbangun oleh percikan sinar mentari pagi. Hawa dingin dan hembusan mesra bayu memaksaku kembali ke balik sleeping bag yang hangat.
Suara canda air yang bermain dengan angin menggugah sadarku serta mengabarkanku untuk segera beranjak dan menyapa sang penguasa siang.
Senyum hangatnya seakan mengobarkan semangat hidup abadi.

Sejurus kemudian aku telah menatap lepas tanpa batas. Wangi laut tanpa komando menyergap indera pembauku. Sangat khas dengan aroma peluh si pelaut.

Tiba-tiba kudengar suara bisikan yang menegakkan bulu kuduk. Suara bisikan yang memilukan, rintihan yang mengisyaratkan mengharap uluran tangan. Bisikan itu bergema ditelingaku “tolong… tolong aku!”

Terpaku aku. Sementara otak warasku berpikir ini hanyalah halusinasi yang tak perlu aku hiraukan.
Namun suara itu nyaris memekakan gendang telingaku. Ku coba mengikuti arus suara mengarah. Hingga ku dapati bisikan itu semakin jelas tatkala telingaku hampir berciuman dengan pasir halus menghampar di depan indera lihatku.

“Tolong aku wahai manusia!” bisikan itu seakan berseru kepadaku.
Aku anggukkan kepala tanda jika aku benar mendengar jelas seruan mengiba itu.
“Lihatlah aku wahai manusia! Aku si pasir malang, bagian dari keindahan pantai yang terkapar tak berdaya.”
“Lihat! Gerangan apakah yang mengitari aku!”
Aku mengernyitkan dahi, menegakkan kepala lalu duduk bersila, kemudian berkomat-kamit laksana orang gila menghitung apa yang ditangkap lensa mata dalam diri sang pasir. “manusia, binatang, serpihan rumah kerang, perahu, jaring, dan tanaman”. Tebakku.
“Tertutupkah matamu wahai manusia? Sesuatu hampir menelanku?Tidakkah engkau menyadarinya?”
Aku diam tak mengerti apa yang dimaksud sang pasir dengan bisikan gaibnya. Aku bahkan ingin sekali mengacuhkannya.
“Tidakkah kau lihat begitu banyak sampah yang menutupi kecantikanku?”
Ups! Aku lupa menyebutnya. Benar, sampah nyaris membelenggunya dalam kebusukan.
“Bersediakah engkau mempersunting aku?”

Hening sejenak.

“Kudengar engkau seorang pecinta. Engkau bahkan mendeklarasikan dirimu sebagai seorang pecinta yang mencintai alam. Betulkah?”
Kata-kata itu seakan menghantam telak ke ulu hati sehingga tanpa aku sadar setitik air yang tak ingin ku cucurkan menetes lewat celah sanubari yang telah lama tertutup kepongahan.
“Bersediakah engkau menyucikan ragaku dengan cintamu? Aku sakit, aku miskin cinta, sementara di sini aku menanggung beban berjuta kotoran sisa manusia. Salahkah jika aku menuntut cinta atas ketidakadilannya? Walau mereka tlah meracuni diriku?”

Termenung aku.
 Naif sekali.
Pertama kali aku mengenalnya aku bahagia mengagumi kecantikannya, lalu bermain, tertawa, berteriak bebas. Kini ketika sampah telah mengisi hari-harinya aku hanya bisa mengeluh. Keluhan tentang keburukan, ketidakindahan dirinya yang pernah mendamaikan jiwaku.
Jiwaku yang dulu merindu ketentraman, haus ketenangan.

Hari ini mataku terbuka.
Ternyata kedewasanku selama ini tak cukup memahami keinginan dari cintaku. Begitu bodohnya aku hingga hanya bisa bermain dalam duka alam yang senantiasa teraniaya olehku. Oleh ego dan pongahku tuk menaklukkan dirinya yang berselimut pesona dan mimpi manusia.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

sekedar... 
Kicauan Hati

Menjadi sempurna jelas sebuah kemustahilan.
Tapi aku yang tak sempurna ini selalu memimpikan kesempurnaan itu.
Banyak hal yang ingin ku raih. Namun akhirnya yang ku dapat hanya kekosongan.
Jadi apa aku harus membuang semua impian itu?
Menjadi seperti takdir yang telah dititahkan.
dan menjadi semakin kosong...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sang Pecinta


Aku dan Alamku
 

Ketika persepsi mereka tergulir mendiskreditkan tentang aku dan alamku
Ku anggap itu hanya sekedar gurauan semata
Aku tahu, mereka tak akan pernah mengerti bahkan tak akan mau mengerti
Meski tiga hari tiga malam aku mendongeng tentang aku dan alamku

Aku sadar dengan otak waras.
Bagi mereka aku hanyalah seorang syaraf 
gemar berkeliaran masuk keluar hutan mencari titik tertinggi,
menyusup mencari sudut gelap dalam lorong pekat,
merayap menanggung nyawa demi puncak tegak,
bermandi lumpur untuk melawan ganasnya Agas, dan seolah bermain dalam bayang kematian
Itu pikir mereka.
Tapi esensi esaku demi cinta

Bagiku alam dan petualanganku adalah hidupku yang sesungguhnya
Dia laksana keluarga, sahabat dan rumah ternyaman bagiku
Dialah yang telah mengajari aku makna cinta serta menempa kedewasaanku atas pencarian jatidiriku
Dia begitu alami tanpa topeng kepalsuan
Dia selalu menebar damai, mengecam pertikaian
Indah meski selalu berpagar misteri

Dan aku sungguhlah percaya, bahwa alam yang kucinta akan mendekap hangat ragaku selepas arwah menghilang bersama ceria alam yang terjelang esok hari
Aku bahkan akan bahagia meski sebentuk sesal kan mengutuk aku karena telah lancang melawan titah agung yang murka

Biarlah…
Ini adalah kisah tentang aku dan alamku
Selama langit masih biru membentang
Selama laut masih bersedia menciumi garis  pantai
Selama puncak nan anggun masih menjulang tinggi
Selama jiwa masih setia pada raga ini
Selama itu pula ijinkan jiwa dan raga ini berkelana menyisir setiap lekuk pesona pada dirimu
Biar kukabarkan pada dunia betapa pentingnya engkau wahai alam bagi hidupku


                       

                                                                                          Purwokerto,  Juli 2004
                                                                                                                                         
                           Dalam letihnya malam yang membius nafas dalam buaian mimpi.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS