RSS
Container Icon

The Threembakentir' Ke Gunung Merbabu 3

Lanjutan...
Trio Meong vs CJR KW 4 


Pagi ini begitu cerah, secerah wajah kami. Hari ini aku menjabat sebagai leader. Jalur awal yang dilalui ternyata tidak seberat sangkaan, banyak bonus yang membuat pergerakan menjadi cepat. Kondisi hutan yang masih sedikit perawan menambah kesegaran tubuh.
Sesekali kami berpapasan dengan penduduk yang habis mencari kayu atau daun-daunan untuk pakan ternak. Mereka begitu ramah menyapa pendatang, otomatis kami pun tak kalah ramah menebar senyum semanis-manisnya.
Tiba di pertigaan, langkahku mulai ragu-ragu. Untuk memastikan aku segera mengeluarkan peta. Ormed, ormed (orientasi medan).
“Ke kiri,” gumamku menentukan langkah. Tapi beberapa tapak kemudian aku termangu, lalu mengambil nafas sebanyak-banyaknya, “Tanjakan ala tangga, Bleh!”
“Habiskan!” balas Pheenux bersemangat.
“Serius nih kita habisi!” tanggapku masih menatap ke atas yang tidak terlihat ujungnya.
“Ayo, Sush!” Citonk ikutan bersemangat.
Kami lalu meniti setiap pijakan tanah yang semakin ditapak semakin mengarah curam nyaris menyentuh hidung.
“Sebentar lagi kayaknya datar!” laporku terengah-engah namun tetap melaju mencoba mengalahkan rasa lelah.
Tiba di akhir tanjakan.
“Lho!” pekikku kaget manakala mendapati dua mahluk yang tidak asing leyeh-leyeh bersandar pada tas masing-masing. Mereka itu rombongan cowok yang sudah berangkat jam setengah enam tadi.
“Masih di sini, tho?”
“Iya, kami habis buang bekal dalam perut.” jawab si imut. “Biar ringan.”
Seorang cowok yang memakai bandana berambut gondrong diikat ekor kuda hanya tersenyum tipis. Penampilannya MAPALA banget. Paling keren di antara ketiganya. Dan cowok itu seleranya Citonk!
“Yang satu lagi mana nih?” tanya Pheenux yang sudah ikut mengerumuni keduanya.
“Igit?” sahut si imut. “Masih ada keperluan.”
“Wah, aku lupa nih nama kalian.” ucapku terus terang. “Igit, terus Mas?” tunjukku pada si imut. “Sori, aku rada amnesia kalau mengingat nama orang.”
“Aku Dino, dia Radit.” tunjuk Dino pada Radit si gondrong. “Sushi, Citonk sama Pheenux, kan?” Dino menunjuk tim cewek satu persatu.
“Betul seratus!” balasku. Tepuk tangan mengiringi nilai yang aku suguhkan.
Setelah dirasa cukup beristirahat, tim putri meminta ijin untuk jalan duluan. Jalur berikutnya masih ngetrack berat. Kami terus melaju seakan tidak kenal sama yang namanya Om Lelah. Pas nemu tempat ideal buat istirahat aku minta break pada anggota rombongan lain. Sayangnya, yang ada di belakangku cuma Pheenux seorang. Citonk tidak ada!
“Tercecer di mana tuh anak!” kata Pheenux nyengir memandangku yang tertawa geli.
Tonk, hello genk!” kami pun memanggil-manggil Citonk. Tidak ada balasan.
“Pheen, aku lihat ke bawah ya.”
“Mengkhawatirkan juga tuh anak.” timpal Pheenux yang bersedia menjaga barang bawaan.
Setelah melangkah turun setengah berlari kurang lebih dua ratus meter, terlihat Citonk sedang duduk bersandar pada carier sambil kipas-kipas pakai topinya.
“Lagi ngapain, Tonk?” sapaku setengah geli setengah khawatir. “Kamu nggak pa-pa kan?”
“Sebentar, Sush.”
“Yuk! Aku bawakan cariernya, di atas ada tempat luas buat istirahat. Daripada ditanjakan gini.ucapku seraya mengangkat carier Citonk ke punggung.
Begitu sampai di tempat Pheenux, “Mana Citonk?”
Hah? aku jadi menengok ke belakang. “Kirain tadi jalan ngikuti aku.” desahku menghempaskan tubuh bersama carrier Citonk.
Kumat ngadatnya?” ujar Pheenux.
Aku hanya menggeleng sambil mengangkat bahu. Pheenux berdiri melangkah turun. Tak berapa lama yang nongol malah trio Klaten.
Citonk, nampaknya kecapekan.” kata Dino setelah ber-say hey. “Yang bawa carier Citonk kamu?” tanya Dino ketika menyadari aku bersandar pada carrier Citonk.
Aku menanggapinya dengan meringis.
“Ckckck…” Igit berdecak kagum.
“Wow, dua kali naik turun?” tanggap Dino.
Tak lama muncullah Citonk yang tampak kepayahan. Disusul Pheenux dan Radit.
Sush, air di carier Citra pindah ke aku aja!” kata Pheenux langsung melangkah ke arahku.
Tanpa banyak komen aku segera mengeluarkan satu buah jerigen berisi air, lalu menyerahkan pada Pheenux.
“Benar juga mungkin dia keberatan,” komentar Dino yang orangnya lebih bisa diajak komunikasi ketimbang dua orang rekannya yang sepertinya tipe cowok dingin.
Perjalanan berlanjut kembali. Tentu saja setelah memastikan Citonk siap melaju. Kami berenam berjalan berurutan dengan rombongan cewek berada di depan. Formasi tim putri berubah, Citonk ditaruh depan, takut tercecer lagi.
Bonus jalur datar membuat laju langkah menambah kecepatan. Percakapan tak lupa kadang mengisi sela langkah kaki yang terasa ringan. Tapi itu tidak berlangsung lama. Sebuah tanjakan sudah menanti kembali menantang dengan angkuh. Tanpa gentar kami lalu menapaki setapak demi setapak.
Dan entah kenapa, Citonk mendadak perkasa. Gara-gara Radit kali ya. Hihi… kayak habis dicash. Baterainya fit bener sampai nggak ngedrop-ngedrop. Sepengetahuan kami, Trio Klaten masih setia mengikuti langkah ala badak. Tapi ketika tiba di tempat datar lagi, ternyata mereka lenyap.
“Wah, kok ada yang tercecer lagi sih?” cetusku lalu meneguk air dari botol.

“Tiga orang sekaligus malah” timpal Pheenux. “Perasaan tadi mereka masih di belakang deh.” 
Jangan-jangan... kok mendadak syerem yah? Kami bertiga saling berpandangan.
(kira-kira mereka_Trio Klaten menghilang kemana sih?)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

The Three Mbakentir's Ke Gunung Merbabu 2

Lanjutan....

Trio Meong vs CJR Kw 3



“Pheen! Kabutnya turun lagi.” laporku masih dengan tertawa.
“Masa sih?”
Citonk yang tidak percaya meyakinkan diri dengan melongok keluar. “Benar. Gelap lagi.”
“Wah, kita dipermainkan!”
Kami pun turun ke jalan dan duduk di bangku yang ada di depan pintu masuk halaman. Aksi bengong terjadi lagi. Menunggu dan menunggu. Bosaaaaan oooi! Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul tiga sore.
“Nggak ada harapan.” desis Citonk.
“Dari pada bengong, kita foto-foto aja yuk!” usul Pheenux.
“Benar, benar,” aku menjadi bersemangat. “Aku ambil dulu kameranya?”
Untuk menghibur diri, kami bertiga kemudian berfoto-foto ria seperti layaknya foto model, bergaya dengan berbagai pose norak. Sok pada jadi covergirl! Covergirl tabloid satwa. Untung kami ingat kalau perjalanan besok masih butuh dokumentasi. Nyaris saja satu rol habis.
Pengisian waktu selanjutnya kami lalui dengan jalan-jalan menuju titik start pendakian. Di situ tampak ada batas jelas, antara jalan beraspal dengan jalan setapak tanah berhiaskan daun-daun kering yang bertaburan di atasnya.
Saat sedang mengawasi titik pemberangkatan bakal jalur tiba-tiba muncul pendaki lain yang turun. Terjadilah kembali saling sapa, sekali lagi ini menyangkut kode etik sesama pendaki yang harus saling menyapa. Maksudnya sih, siapa tahu dapat hibahan logistik gratis, hehe…. Makanya tanpa ragu-ragu kami langsung setel tampang manis dan menyapa pendaki yang baru turun. Lagi-lagi pendaki yang turun menyarankan agar jangan nekat naik sekarang, apalagi kalau belum hafal medan. Kami tentu saja mengiyakan dengan ekspresi sok bego.
“Pendakian masal, Mas!” celetukku ketika melihat rombongan yang baru turun tadi jumlahnya banyak sekali. “Ada duapuluhsatu orang, Bleh.”
“Hush, apa sih. Kurang kerjaan.” tegur Pheenux.
“Aku cuma membayangkan Kunyit, Ujang yang naik lewat Wekas. Pasti seperti tadi itu panjangnya.” balasku.
Setelah bosan lagi dengan aktivitas jalan-jalan, kami kembali ke base camp. Kabut masih menyelimuti ruang gerak. Sampai di base camp ternyata sudah ada pengunjung lain. Jumlah mereka empat orang, berpasang-pasangan dan cuma membawa tas rangsel kecil. Datangnya pakai motor. Mungkin mereka cuma mau kemping.
Aktivitas kembali ke masak-memasak. Daripada bengong, lebih baik mengurusi bakal makan malam. Di sudut lain kedua pasangan tadi tampak sedang berbincang-bincang dengan mesra.
“Khusus dewasa!” hardik Pheenux padaku dan Citonk yang dilanda penasaran.
“Ngomong-ngomong dulu kamu putus sama pacarmu kenapa, Tonk? Apa karena kamu suka naik gunung dia jadi ngeri sama kamu. Takut tersaing kekar.” tanyaku membuka percakapan ke arah yang lebih privat tentang hubungan asmara.
“Yaa, gitu deh!” sahutnya tertawa. “Beda prinsip. Artis aja yang sudah pada menikah bisa cerai, apalagi masih pacaran.”
“Siapa ya namanya?” tanggap Pheenux.
“Antonius brengsek!
“Weesshh, segitu bencina?” goda Pheenux.
“Habis dia yang mutusin aku dulu sih. Nggak pangki banget, kan? Pemutusan secara sepihak. Hiks hiks… padahal aku... hhh… cinta mati sama dia.” curhat Citonk.
Bilang saja kamu nyesel karena bukan kamu yang mutusin?” imbuh Pheenux.
“Ya iyalah, secara Citonk, gitu….”
“Sabar Tonk,” ucapku sok bijak, “Pasti akan datang cowok lain yang lebih dari dia.”
“Mungkin. Semoga.” balas Citonk terlihat lemas. “Eh, Sush, cowok manis yang jalan bareng sama kamu dulu itu siapa?” interogasi Citonk tiba-tiba.
“Yang mana? Kenapa? Naksir?”
“Kamu itu, bukannya dia pacarmu? Itu tuh, waktu aku jalan bareng Kisti terus kita ketemu di depan warung pojok.”
“Oh… Heka,” balasku tertawa. “Pacar? Ngaco ah! Dia itu teman kuliah dan kebetulan kosnya depan kosku.”
“Tapi sebenarnya nggak cuma sekali lho, aku lihat kalian jalan bareng.” kata Citonk.
“Teman apa teman?” Pheenux malah menggoda.
“Halaah! Kalau Heka mana bisa dibilang pacar. Dia tuh statusnya TTM seluruh penghuni kosku.”
“Dia cowok gampangan?” selidik Pheenux.
“Iya kali, hehe… nggak, anaknya mang mudah akrab ma siapa aja. Dan dia tuh anaknya super baik, mudah dimanfaatin. Teman-teman kosku juga keterlaluan, seenaknya saja nyuruh-nyuruh. Terus terang aku nggak suka sama sifatnya yang itu, terlalu mudah dimanfaatin”
“Termasuk kamu, kan?”
“Heh, he… kadang sih,” cengirku. “Dia rajin banget kuliah dan yang paling penting catetannya lengkap. Nah, asyik kan, tinggal pinjem sama dia, urusan kuliah beres!”
Bukannya kamu juga rajin, Sush?”
“Rajin, apaan?”
Rajin ke gunung!” koor Pheenux dan Citonk.
“Yaa benar-benar… Ngomong-ngomong berarti kita semua ini jomblo!?”
“Jojoba banget dech!” tambah Pheenux.
“Jomblo-jomblo bahagia,”
Kami pun tertawa tak sadar ada delapan pasang mata sedang mengawasi dengan tatapan tidak senang. Keberisikan kali.
Sepertinya dari kita ada yang mau mengakhiri masa jomblo nih,” celetuk Citonk.
“Oh ya, Pheenux! Gimana perkembanganmu dengan Ujang?” pekikku menyadari sesuatu.
“Nggak!” kata Pheenux keras.
“Dia cinta berat lho, Pheen, sama kamu.” Citonk mengompori.
“Buat kamu aja, sana!” sungut Pheenux menunjukku pakai centong nasi.
“Kenapa aku?” ucapku menunjuk hidung sendiri pakai ikan asin. Kebetulan lagi bagi jatah makan.
“Yuk, makan aja!” Pheenux mengalihkan pembicaraan.
Sushi pimpin doa.” kata Citonk.
Setelah berdoa kami menyantap makan malam yang agak kepagian eh, kesorean. Bersamaan dengan selesainya acara makan, dua pasangan tadi pun pergi setelah berpamitan pada Pak Bau.
Sekali lagi aku menawarkan diri untuk cuci piring. Sekalian wudlu. Kali ini Pheenux membantu karena hendak mengambil air wudlu juga. Citonk yang non muslim membereskan peralatan.
“Hei Sush, ada yang datang!” bisik Pheenux antusias setelah memasukkan peralatan makan dan hendak wudlu lagi karena batal.
“Berapa orang?”
“Tiga,”
“Oh!” tanggapku santai. “Aku duluan, Pheen!”
Ternyata ucapan Pheenux benar. Di dalam sudah ada tiga cowok yang kelihatannya mau naik juga. Mereka sedang mengobrol dengan Citonk.
“Itu yang satunya,” ucap Citonk.
Aku langsung pasang senyum semanis madu refleks menyalami ketiganya melupakan sesuatu.  
“Astagfirullah!” seruku membuat tiga cowok yang sedang mengorek isi tas masing-masing memandang penuh keheranan.
“Apa, Sush?” tanya Citonk tak kalah bingung.
“Aku lupa. Aku kan habis wudlu, mau mengambil mukena. Eh, malah salaman sama mereka.” ucapku menunjuk tiga cowok asal Klaten itu.
“Oa laah….” tanggap salah satu diantara mereka yang bertubuh paling kecil. “Ya, wudlu lagi aja, Mbak!”
“Ehehh… iya,” gumamku malu ngeloyor keluar mengambil air wudlu. Wah, airnya dingin lagi. Kenapa sih tadi begitu semangat menyambut uluran tangan mereka. Kesannya kan haus cowok banget.
“Memang iya!” komentar Pheenux ketika aku curhat padanya.
Masa sih?ucapku sangsi
Kembali dari mushola ketiga cowok pendatang tadi sudah tidak ada, meskipun barang-barang mereka masih terlihat pada posisi semula. Menurut Citonk ketiganya keluar untuk jalan-jalan. Aktivitas selanjutnya ngerumpi, sesekali membicarakan rencana operasional esok hari. Tak lupa melakukan pencatatan waktu dan biaya yang sudah digunakan. Buat laporan.
Pukul sembilan aku sudah membungkus diri dalam kantung tidur. Sayup-sayup terdengar obrolan kecil antara Pheenux, Citonk dan ketiga cowok yang sepertinya baru balik ke base camp.
Aku terbangun ketika mendengar kegaduhan yang ditimbulkan oleh tiga cowok Klaten, sepertinya sedang bersiap mau berangkat. Mengerjap-kerjap aku berusaha melihat jarum jam tangan.
“Bangun, Bleh!” seruku terkesiap begitu tahu waktu telah menunjuk pukul lima.
“Selamat pagi!” sapa cowok yang paling kecil. Kalau tidak salah namanya Dino. Habis lupa.
“Pagi juga!” balas Pheenux sambil menggeliat. “Lho katanya berangkat malam?”
“Kami baru terbangun jam empat. Niatnya sih jam satu dinihari, eh, ketiduran.” terang Dino.
Aku tak begitu peduli dengan ketiganya. Pagi ini jatahku masak. Makanya aku langsung berjibaku menyiapkan kompor, nesting dan kawan-kawan.
“Kamu sholat dulu sana, Sush!” Citonk menyuruhku meninggalkan aktivitas perdana mengurusi bakal sarapan.

Pukul setengah enam rombongan cowok berangkat. Setelah mengucapkan salam perpisahan dan janjian ketemu di atas, kaum cowok pergi meninggalkan para wanita kesepian yang masih sibuk dengan aktivitas rutin tiap pagi, sebagaimana ibu rumah tangga. Masak! (masih nyambung, Bleh!!)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

The Three Mbakentir's Ke Gunung Merbabu

Trio Meong vs CJR kw 3

sumber gambar : argopura.blogspot.co.id

“Halah, malah hujan,” gerutu Citonk yang berdiri depan rumah Pak Bau. Juru kunci jalur pendakian Selo. Gerimis turut mewarnai suasana kelabu yang telah lama melingkupi sekitar.
Saat ini kami sedang berada di basecamp pendakian gunung Merbabu di dusun Tarubatang, desa Genting, kecamatan Selo. Istirahat dulu lah, setelah tadi jalan dari Polres Selo (saat pendakian kala itu belum ada kendaraan menuju ke sana).
“Kalau cuma hujan sih nggak masalah. Kabutnya itu lho nggak nguatin, tebal kebangetan!” tambahku.
“Hhh….” Citonk menghela nafas kemudian masuk menghampiri Pheenux yang sedang memasak buat makan siang kami.
“Nasinya belum matang?” tanya Citonk.
Pheenux membuka tutup nasi, lalu mencicipinya. “Sebentar lagi.”
“Anak-anak pasti sudah mulai naik,” ujarku yang ikut duduk mengerubuti kompor menanti hidangan dari Chef Pheenux.
Kira-kira bisa pas ketemu di puncak nggak ya?” desah Citonk.
“Nggak ada koordinasi, kemungkinannya kecil, Tonk.” balas Pheenux.
“Heh, ketawa sendiri.” tegur Citonk padaku.
“Nggak, cuma lucu aja. Akhirnya, bisa juga kita berangkat bertiga. Nekatzzz!”
“Habis Kunyit nggak jelas infonya sih. Eh, kemarin dia ngajak kita naik mana? Wekas atau Thekelan?”
“Wekas,” jawab Citonk. “Meragukan, nggak jelas mau beneran naik apa nggak. Daripada kita telantar mending naik sendiri.”
“Dan kita ambil jalur Selo.”
“Mau gimana lagi, pusdok cuma punya data pendakian lewat sini.” kata Pheenux.
Judulnya cari yang praktis?” komentar Citonk.
“Aman juga dong!” imbuhku. “Jangan sampai edisi pendakian ke Salak terulang lagi.”
“Sudah matang!” seru Pheenux. “Mari kita eksekusi!
Kami pun mulai sibuk membagi jatah makan siang kali ini yang berupa sayur sop dan tempe goreng. Sejak pukul setengah dua belas kami sudah nongkrong di rumah Pak Bau. Kalau tidak salah namanya Pak Warso.
Bagian depan rumah Pak Warso telah ter-setting sebagai tempat transit untuk para pengunjung puncak Merbabu. Di situ terdapat area khusus bagi pendaki yang hendak bermalam. Siap pakai pokoknya, ada tiga hamparan tikar mengisi sudut ruang sebelah kanan.
Sebelah rumah Pak Warso, berdiri mushola kecil yang dapat berfungsi sebagai tempat istirahat lain. Tentu jika rumah Pak Warso telah penuh sesak tak mampu menampung pendaki yang lapar puncak.
Pak Warso sempat tidak percaya saat menerima kedatangan tiga cewek yang mengaku mau naik Merbabu tanpa kawalan pejantan. Awalnya mungkin beliau pikir kami hanya bercanda, “Ah, paling sudah janjian sama teman lain,” tapi, nyatanya… nihil. Berkali-kali Pak Bau menghitung kami, jumlahnya tetap tiga. Kalau sampai bertambah jadi empat, kami yang malah jadi merinding disko.
Fiuuh, Pak Bau akhirnya menyerah menunggu rombongan kami yang lain. Dia pun cuma berpesan agar naik ketika kabut sudah hilang, sebab menurut beliau bahaya kalau naik saat kabut. Kami manggut-manggut. Paham benar resiko mendaki dalam cuaca berkabut, kemungkinan tersesat besar. Modal kami menuju puncak kan peta dan kompas. Bagaimana mau ormed (orientasi medan) kalau kawasan tertutup kabut.
“Pheen, sini biar aku yang cuci piring,” aku menawarkan diri ke sumber air. Sekalian mau ada urusan darurat sama kamar mandi.
“Boleh, dengan senang hati!”
“Aku bantu, Sush.” Citonk menyusul keluar menuju kamar mandi yang letaknya di belakang rumah, terpisah dari rumah induk. Sementara Pheenux tampak membereskan peralatan pendukung masak dan bahan makanan.
Pada akhirnya Citonk yang mencuci semua peralatan. Yah, seperti yang aku bilang tadi, aku ada urusan dengan kakus dulu. Begitu keluar, Citonk sudah kelar cuci-cucinya. Ah, leganya. Makasih ya, Tonk!
Ada pendaki turun tuh!” kata Citonk terlihat antusias ketika kami sampai di teras rumah dengan menenteng piring dan gelas yang sudah bersih.
“Habis naik, Mas?” tanyaku basa-basi pada seorang anak yang duduk beristirahat di halaman rumah Pak Bau.
“Iya,” jawabnya singkat sambil tersenyum.
“Di atas gimana? Apa kabutnya tebal juga?” Citonk ikut mengintrogasi.
“Iya, lampu senter sampai nggak tembus.” jawab yang lain yang memakai tutup kepala.
“Kalian mau naik?” tanya anak yang hidungnya tertempel plester.
“Iya, tapi nunggu kabut hilang.” sahut Citonk.
“Eh, cuma berdua?” tanyaku penasaran.
“Berlima. Yang tiga, itu mereka!” tiga orang pendaki muncul lagi.
“Udah ketemu Bapak?” tanya salah seorang yang bertubuh tinggi hitam dan baru datang.
“Belum, istirahat dululah,” sahut si hidung plester.
“Masuk aja!” ajak Citonk. “Daripada kehujanan gitu. Bapak ada kok.”
“Sebentar Mbak, istirahat dulu,” jawab yang lain.
“Oh ya udah, saya tinggal masuk.” pamitku menyusul Citonk yang sudah ngacir duluan.
Di dalam Pheenux dan Citonk sedang mendiskusikan tentang keberangkatan kami nanti.
“Pokoknya kita tunggu sampai kabut reda.” ucap Pheenux pada Citonk.
“Meski sore sekali pun?” tanya Citonk.
“Kalau redanya sore, kita langsung cabut.” kata Pheenux mantap.
Kalau pakai target waktu, bisa-bisa baru dapat sepuluh langkah sudah langsung bangun tenda.” celetukku. “Masih di jalan aspal pula, haha...”
“Kondisional,” balas Pheenux. “Maksimal cabut jam tiga. Lewat jam itu kalau masih kabut, terpaksa nge-camp di sini.”
“Sepakat.”
“Permisi!” gerombolan anak-anak yang baru turun tadi masuk base camp Pak Bau. “Bapak ada?” tanya salah seorang yang ditunjuk sebagai jubir.
“Di dalam, Mas.” sahut Pheenux. “Ketok-ketok aja,”
Si jubir mengikuti saran Pheenux. Satu detik, dua, lima sampai satu menit tidak ada tanda-tanda orang nongol dari dalam.
“Wah, kok sepi?”
Kami saling berpandangan sejenak.
“Coba Tonk, kamu tengok ke dalam!” perintah Pheenux bossi.
“Sebentar,” Citonk menurut beranjak lalu melongok ruang pribadi Pak Bau sambil terus memanggil-manggil dengan suara yang lebih stereo.
“Bertiga aja?” tanya seorang yang berkulit putih.
“Iya,” jawab aku dan Pheenux kompak.
“Berani?” ujarnya seakan meremehkan kemampuan kami.
Belum sampai kami menjawab tantangan anak itu, Pak Bau muncul dan menyambut mereka dengan ramah. Citonk kembali pada kami yang sudah mulai packing carier masing-masing. Maksudnya biar nanti tinggal berangkat kalau kabut sudah lenyap.
“Mbak, kami duluan!” seru si hidung plester setelah mereka beramah tamah sebentar dengan pemilik rumah pada sudut kiri ruang yang terdapat seperangkat kursi panjang.
“Oh, iya ya!” sahut kami nyaris bersamaan.
“Langsung pulang?” tanya Pheenux. “Nggak mampir Merapi?”
“Waktunya nggak ada, udah ditunggu kuliah. Mari Mbak!” sahut anak yang pakai balaclava.
Mereka semua melambaikan tangan pada ketiga cewek yang sedang ribut packing. Terpaksa kami menghentikan sejenak aksi beres-beres tas lalu berdiri berjajar membalas lambaian kelima cowok yang lumayan kece.
Hampir saja aku ikut arus melaju ke depan. Tarikan tangan dari Pheenux dan Citonk berhasil mengurungkan niat membeoku.
“Lho, mau naik sekarang?” tanya Pak Warso setelah mengantar tamunya hingga teras depan.
“Yaaa, tergantung kabut, Pak. Kalau kabutnya hilang kami langsung berangkat.” sahut Pheenux.
“Sepertinya hari ini akan kabut terus,” katanya. “Heran, padahal kemarin cuaca cerah sekali.”
“Apa karena kami datang jadi berkabut begini, Pak.” sambarku.
Pak Warso tertawa. “Bisa jadi,” komentarnya. “Ya sudah, sekarang istirahat saja dulu. Jangan sungkan-sungkan.”
“Iya Pak!” koor kami kompak mirip anak SD yang habis dikasih instruksi sama Pak Guru.
“Sekarang mau ngapain lagi nih?” keluh Pheenux berkacak pinggang. “Bosen.”
“Sepi, sepi,” timpalku.
Kami bertiga kompak duduk bersila menopang dagu menghadap pintu ditemani segelas air teh dan sebungkus biscuit susu. Detik-detik berlalu.
“Keluar yuk!” ajak Citonk.
Acara bengong massal berpindah ke teras depan yang berundak. Mata kami tidak lepas memelototi kabut yang terus bergantungan di udara. Hujan tidak lagi turun. Dalam hati kami terus memohon agar kabut segera disingkirkan dari pandangan.
“Mulai terang!” pekikku girang.
“Tunggu sebentar, serius nggak nih.” ucap Pheenux mencegah kegembiraanku.
Selama lima belas menit menunggu dalam harap-harap cemas. Akhirnya cuaca semakin terlihat cerah. Matahari rupanya sukses menembus pertahanan kabut yang mengitari desa terakhir ini.
“Siap-siap yuk!” ajakku bersemangat kuda. Ringkikannya bahkan terdengar menggugah sadar Citonk dan Pheenux yang masih ragu-ragu dengan aura kasih, eh, aura wajah langit yang sendu malu.
“Jam berapa, Sush?” tanya Citonk.
“Jam dua,”
Khawatir si kabut berubah pikiran kembali turun ke bumi, kami langsung memakai sepatu gunung menggusur alas kaki favorit, skandal jepit_nama tren sandal jepit di luar peradaban. Menghabiskan teh yang masih tersisa, lalu memasukkan biskuit yang tinggal tiga keping dalam kantung tas carier bagian atas berdesakan dengan alas kaki merk swallow.
Aku yang sudah siap segera berderap menyongsong mentari sang pahlawan kami. Jreng, jreng....
Ini sungguh menggelikan. Sang kabut seakan tidak mengijinkan kami berangkat sekarang. Tawaku pun menyembur seiring tatapan heran dari Pheenux dan Citonk. Kesambet jin mana tuh anak? (apa yang akan terjadi selanjutnya ya, mereka jadi naik ke merbabu tak? tunggu kelanjutannya bulan depan^^)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

My Coffee Story



Kopi Keliling Nusantara



 Sumber gambar : majalah.ottencoffee.co.id



Sayup-sayup denting lonceng telah terdengar dari tempatku biasa menunggu. Semakin dekat, gerudak bunyi gerobak turut mengiringi tiap suara pemanggil itu. Sosoknya yang tinggi kurus tampak timpang dari bentuk gerobaknya yang pendek tambun. Atas gerobak yang mirip meja datar akan penuh dengan perlengkapan pembuatan kopi saat dia mulai beraksi layaknya barista. Coffee dripper, hand grinder, filter paper dan french press timbul sebagai sarana penyeduh kopi. Peralatan pendukung seperti cup, timbangan, ketel leher angsa untuk mengontrol aliran air, termometer serta timer turut memenuhi meja berukuran 1 x 1,5 meter.
Aku pikir itu sangat merepotkan, memakan waktu dan tidak praktis. Tapi setelah mencecap kopinya segala penantian panjang kala dia harus mengeluarkan alat, menakar biji kopi, menggiling kopi hingga proses penyeduhan, ah, cita rasa yang tercipta sungguh luar biasa. Benar-benar fresh kopi, kalau boleh aku bilang demikian.
Mas Gota si barista keliling bahkan menunjukkan padaku aneka aroma kopi sangrai sebelum digiling dan setelah digiling. Hidungku yang tidak peka tak bisa membedakan secara jelas, namun menurutnya tiap kopi memiliki ciri khas aroma yang berbeda. Bila kopi Robusta beraroma kacang-kacangan, maka kopi Arabika cenderung memiliki aroma buah-buahan atau tergantung tempat tumbuhnya. Ada yang beraroma rempah diwakili kopi Mandheling, harum buah-buahan dapat tercium pada kopi Bali Kintamani, kopi Toraja menyebarkan wangi earthy, dan aroma gurih menguar dari kopi Aceh Gayo.
Satu hal lagi yang baru aku tahu, kadar kafein tinggi ternyata tidak menjamin kopi menjadi lebih enak. Semakin tinggi kadar kafein semakin pahit kopi tersesap. Kopi Arabika yang berkadar kafein 1,2 % lebih nikmat dibanding kopi Robusta yang kadar kafeinnya mencapai 2,2%.
Kata Mas Gota tak semua orang juga tahu mengenai empat varietas kopi di dunia. Selain kopi Arabika dan Robusta yang familiar ditelinga kita, ada kopi Excelsa, berikutnya kembaran Excelsa  kopi Liberica. Banyak yang salah menyamakan antara kedua kopi Afrika tersebut. Meski identik berat kopi Excelsa lebih ringan dari kopi Liberica yang merupakan kopi terbaik dunia. Untuk dua jenis kopi terakhir Mas Gota angkat tangan perihal rasa. Belum pernah mencicip.
Gerobak sepeda bertuliskan Kopi Keliling Nusantara pada tiap sisinya secara terpisah semakin dekat gardu ronda. Jam menunjukkan pukul delapan, dan hari ini jatahnya dia mangkal di pos kampling RT-ku.
Seperti aroma kopi yang telah sering kucecap, senyumnya berkibar menyapa dengan riang.
“Hari ini kopi apa, Mas?” tanyaku.
Mas Gota selalu datang membawa tema yang berbeda. Masih setia pada tiga macam racikan kopi hitam. Americano, Long Black dan kopi tubruk. Menurutnya teman ronda yang asyik so, pasti kopi hitam.
Americano dan Long Black berbasic espresso. Bedanya pada cara penyajian. Jika Long Black espresso-nya dituangkan ke air panas, maka Americano air panaslah yang dituang ke cairan espresso. Sedangkan Kopi Tubruk khas Indonesia tentulah semua sudah tidak asing lagi. Kopi ini tersaji lengkap dengan ampasnya.
“Robusta luwak dan kopi Gayo.”
“Robusta luwak, kayaknya nikmat kalau dibuat kopi tubruk saja.” balasku.
“Tapi harga lebih mahal, maklum melalui proses fermentasi diperut luwak.”
“Mari kita coba seberapa enak. Orang bilang rasa kopinya lembut dan eksotis.” timpal Pak Mehdi teman ronda yang baru datang.
Mas Gota mulai menata peralatan yang semula dia sembunyikan dalam kotak gerobak. Menimbang kopi seberat 20 gram lalu menyiapkan air sebanyak 200 gram. Selagi merebus air, Mas Gota menggiling kopi secara manual.
Tiba saat penyeduhan, tak sembarang tuang air panas. Untuk manual brew harus tunggu air bersuhu antara 85 - 87 derajat Celcius dari titik didih 100 derajat Celcius. Beda jika menggunakan mesin kisaran suhu yang cocok antara 90 – 96 derajat Celcius. Pada suhu tersebut kopi akan terekstrak secara sempurna. Tahap terakhir penyaringan, karena kami berdua pesan kopi tubruk, Mas Gota tak perlu repot menyiapkan filter paper untuk menyaring kopi.
Tidak seperti kafe-kafe yang kini sedang ngetren bak jamur di mana-mana. Kafe atau kedai kopi yang menyajikan segala varian kopi mulai Latte, Cappucino, Moccaccino, Frappe, Flat White, Macchiato dan Espresso itu sendiri. Mas Gota justru berjualan keliling dari pos ronda ke pos ronda, tiap RT, tiap desa demi menawarkan citarasa yang membumi.
 “Mas, kopi Papua Wamena ada? Long Black.” seorang peronda yang datang terlambat langsung memesan kopi pada Mas Gota. Pak Sabar.
“Mau coba kopi Gayo? Aromanya juga tajam seperti kopi Wamena.” tawar Mas Gota.
“Judul ngopi kali ini tubruk luwak dan Gayo, Pak.” imbuhku.
“Okelah,”
“Sabar ya, Pak.” kata Mas Gota setiap kali pelanggan selesai memesan kopi.
“Saya selalu sabar, Mas. Tenang saja.”
“Namanya juga Pak Sabar.” timpal Pak Mehdi.
Kami semua tertawa.
“Ngomong-ngomong Mas ini barista bukan tah? Kok tidak buka kafe saja.” tanya Pak Sabar. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya telah lama ingin aku lontarkan.
Mas Gota tersenyum simpul sambil menggeleng. “Saya bukan barista. Saya hanya peracik kopi tradisional. Seorang barista tentu bisa menjalankan mesin espresso, bisa membuat latte art dan punya sertifikat barista tentunya. Saya hanya penikmat kopi saja. Penikmat kopi yang keterlaluan terobsesi dengan kopi.” tawanya menggema.
“Saya kira semua orang yang pintar meracik kopi bisa dibilang barista.” kata Pak Mehdi.
“Tidak Pak, banyak kualifikasinya. Barista-baristaan seperti saya sih mungkin banyak.”
“Tapi pengetahuan Mas Gota tentang kopi bisa jadi melebihi seorang barista cafe. Saya pernah dengar cupping, tukang cicip kopi.” tambahku. “Kenapa tidak jadi itu saja?”
Cupper.” Mas Gota membenarkan istilahku. Dia menggeleng. “Lebih nikmat menjadi penjual kopi keliling macam ini. Apalagi melayani bapak-bapak yang rajin ronda.”
“Kalian dengar tidak, kemarin desa sebelah ada yang kecurian laptop dan HP.” Pak Sabar membuka obrolan lain bersamaan dengan kopi pesananku datang.
“Apa tidak ada yang ronda?” tanggapku setelah mencecap kopi tubruk luwak. Rasanya ada yang beda dari kopi luwak yang pernah aku minum dulu.
“Ada apa Pak?” tanya Mas Gota yang ternyata memperhatikan air mukaku.
“Ini lebih pahit dari yang pernah saya minum. Apa gulanya dikurangi?”
“Sama Pak, saya sengaja membuat takaran yang sama berkenaan dengan gula agar pelanggan bisa membedakan mana luwak Arabika dan mana yang Robusta.”
“Luwak Robusta.” aku manggut-manggut. “Aromanya benar kurang nendang. Tapi pahitnya menggelegar, Mas!” acung jempol kiriku. “Bisa jadi pencegah kantuk semalam suntuk.”
Pak Sabar dan Pak Mehdi masih membicarakan tentang desa tetangga yang kecolongan. Mereka bilang desa sebelah memang kurang aktif dalam kegiatan siskampling.
“Mas Gota pernah keliling ke desa itu?” tanya Pak Sabar.
“Iya Pak, pos kamplingnya memang sepi. Malah saya yang jadi ronda.”
“Tradisi ronda seringkali diremehkan. Padahal penting sekali demi keamanan lingkungan sendiri.” tutur Pak Mehdi.
“Betul, Pak.” tanggap Mas Gota. “Terus terang tujuan saya berkeliling dan sering mangkal di pos kampling untuk menghidupkan budaya ronda yang mulai luntur. Saya harap kopi saya menyegarkan mata para penjaga sukarela keamanan desa.”
“Malah ada yang lebih rela mengganti badan mereka dengan uang.” timpalku.
“Maksudnya?” tanya Mas Gota berkerut-kerut.
“Lebih senang membayar denda daripada berangkat ronda.”
“Jadi ada dendanya?”
“Di RT kami demikian Mas, agar orang mau aktif ronda. Tapi prakteknya ada saja yang sengaja tidak datang cuma membayar denda.”
Mas Gota manggut-manggut.
“Padahal dulu pos ronda merupakan media sosial untuk kalangan bapak-bapak yang begitu tenar.” kata Pak Mehdi yang umurnya lebih sepuh. Setidaknya beliau pernah merasakan sensasi ronda jaman dulu yang identik dengan sarung, sandal jepit, senter dan kentongan.
“Sekarang media sosial yang populer ada pada layar 5 sampai 7 inch.” imbuhku.
“Yang jauh jadi dekat, yang dekat malah jadi jauh.” timpal Pak Sabar.
“Saya senang, kalau pos ronda ramai lagi seperti ini.” kata Mas Gota memecah obrolan kami.
“Tentu saja senang, kopimu jadi laku mbok?”
“Ah, bisa saja Pak Sabar ini.” Mas Gota tersenyum malu-malu sambil menyajikan kopi untuk Pak Sabar.
“Semoga kegiatan ronda yang sudah berjalan ini tidak mandeg lagi.” gumam Pak Mehdi.
Aku mengangguk kembali meneguk Robusta luwak menyisakan sedikit air dan ampas. Pahit. Seperti kenyataan banyak tradisi leluhur mendekati punah bahkan telah lenyap sama sekali. 
Sebenarnya rutinitas ronda di kampung kami pun mengalami pasang surut. Ada kalanya hidup namun suatu waktu bisa mati suri lagi. Untuk periode kali ini agaknya bertahan lebih lama. Kehadiran kopi keliling Mas Gota memberi nuansa baru yang mencucuk hidung ingin menghirup aroma kopi dengan sensasi beda.
Kopi instan rumahan terlalu biasa, punya rasa hampir sama. Sebagai penghasil kopi Robusta terbanyak kedua dunia setelah Vietnam, kebanyakan kopi instan di negeri tercinta terbuat dari jenis kopi tersebut. Hanya beberapa kopi instan yang memakai kopi Arabika, itu pun mereka koarkan mengenai jenis kopi yang ditawarkan.
Sementara kopi dari gerobak keliling nusantara setiap cangkirnya memberi warna baru bagi lidah penikmat kopi sejati. Memang dari segi harga lebih tinggi dari kopi instan. Tapi soal memanjakan indera pengecap terbayar puas secara lunas.
Rasanya selalu tidak sabar ingin bertemu dengan Rabu malam yang penuh dengan aroma nusantara. Jika hari ini kita menjelajah rasa Aceh dan Jawa, esok mungkin kita bisa mencecap citarasa Mandheling dan Bali, berlanjut ke Flores seterusnya Toraja hingga ke Wamena. Tak hanya Arabika high quality saja. Robusta yang berlevel rendah, si kopi kelas dua, kopi Indonesia sesungguhnya turut hadir mewarnai malam kelam yang menyimpan aneka rahasia kehidupan. Menemani pijar mata agar terjaga demi keamanan bersama.



Sumber informasi/bacaan : majalah.ottencoffe.co.id


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupofStory diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS