RSS
Container Icon

The Three Mbakentirs ke Gunung Salak (katanya 1)

Elang, Terdampar!

sumber foto : sidomi.com

 Ternyata virus kangen tidak hanya melanda kami (aku, Pheenux dan Cithonk) saja. Anak-anak Yogya ternyata merindukan kami juga. Satu bulan kemudian saat ada momen tujuh belasan kami (aku, Pheenux, Cithonk plus anak Yogya) sudah merencanakan pendakian berikutnya. Rencana awal sih ingin naik Gede-Pangrango. Tapi ternyata kami yang iseng ngegombal ke anak sekre lain malah mendapat berita duka kalau Gunung Gede-Pangrango tidak menerima pendaki pada tanggal 17 Agustus. Wah, kecewa berat! 
Katanya sih, takut populasi pendaki bakal meluap dan menimbulkan lautan sampah. Yah, kebanyakan pendaki memang tidak peduli dengan sampah. Mereka dengan semena-mena membiarkan bungkus-bungkus makanan mereka tercecer merana di gunung yang dingin. Kasihan, kasihan, kasihan.
Akhirnya setelah mengadakan diskusi panjang kali lebar lewat telpon pilihan jatuh pada Gunung Salak. Sayang referensi tentang tetek bengek Gunung Salak tidak ada di pusdok (pusat dokumentasi) sekre UPL, mungkin dia sengaja ngumpet dari kami. Terpaksa deh mendaki pakai ilmu kiralogi.

*H1 (Pra Operasional)
Benar saja kawan, ilmu kiralogi tidak memuluskan jalan kami. Dari awal kami sudah salah jalan. Ternyata tidak ada kereta dari Purwokerto yang langsung ke Bandung. Jadilah kami naik kereta nebeng sampai stasiun Kroya. Oh ya, anak-anak Yogya menjemput kami di Purwokerto dulu baru berangkat bareng ke Kroya.
“Untung nggak ketinggalan kereta kayak ke Lawu dulu,” ucap Pheenux menyeringai setelah kami sukses menemukan kereta yang bisa membawa kami hingga Kroya saja, “Pakai ngejar-ngejar kereta pula!”
“Memang nggak apa-apa tidak beli tiket?” tanyaku was-was.
“Tenang, kan ada Ujang.” kata Ujang membusungkan dada.
“Benar, wajahmu kan horor, jelas petugas tiket bakal takut.” smash Pheenux.
“Santai Sus, kalau ada pemeriksaan tiket tinggal bayar aja. Gampang kan?” timpal Citonk menjawab rasa was-wasku.
“Aku juga sering nembak!” aku Ali kemudian. “Lumayan hemat. Bisa bayar separuhnya atau malah kurang dari itu, hee….” (ini jaman dulu lho saat kereta ekonomi belum ber-AC seperti sekarang).
“Wah, ilegal!” bisikku miris. Bagaimanapun aku ini kan anak manis. Selalu taat aturan. Bahkan karena begitu taat aturan, dulu waktu pertama masuk SMP pas OSPEK dan masih pakai baju SD aku memakai seragam lengkap anak SD, pakai topi dan dasi. Padahal waktu itu tidak ada yang memakai dasi. Kena lah aku! Ini SMP nduk bukan SD. Kesasar ya? Celetuk Pak Pembina membuat mukaku merah kuning hijau.
“Sesekali-kali jadi anak nakal, Sus.” kedip Pheenux.
“Jadi anak nakal jangan ajak-ajak!” jitak Ujang ke kepala Pheenux.
“Sembarangan!” Pheenux melotot.
“Memang kamu minta ijin ortu kalau naik gunung?”
“Jangan gitu, Jang, aku juga nggak pernah ijin kalau ke gunung. Eh, pernah sekali ding, pas naik gunung pertama__Slamet. Selanjutnya… hehe… ilegal.” ungkapku terus terang.
“Tuh, kan bukan aku aja yang nggak minta restu.” ucap Pheenux merasa dapat dukungan teman senasib seperjuangan.
“Mbak Mei, pernah ke gunung mana aja?” tanya Citonk pada seorang cewek berjilbab yang Ujang bawa dalam pendakian kali ini. Selain Mei ada satu orang lagi, dia Dede. Kebetulan Dede dan Kentang duduk terpisah dari mereka.
“Baru ke Ceremai.” jawabnya.
“Ciremai?” mataku berbinar. “Kami malah belum pernah ke sana.”
“Kapan-kapan kita ke sana yuk!” ajak Pheenux bersemangat.
“Boleh, boleh.” sahutku dan Citonk  penuh gairah.
“Siap-siap!” seru Ali. “Tang, De!” panggilnya.
Kami bersembilan dengan cuek turun di stasiun tersebut tanpa bayar. Selanjutnya Pheenux dan Ujang mewakili kami menuju loket. Bukan mau beli tiket lho, cuma mau tanya keberangkatan kereta ke Bandung.
“Hebat! Kita harus nunggu sampai berakar dan lumutan.” lapor Pheenux yang sudah balik bareng Ujang.
“Jam berapa, Pheen?” tanya Citonk.
“Dua jam lagi baru ada. Katanya tadi kereta yang ke Bandung baru aja berangkat.”
Kami mendengus kecewa.
“Padahal aku baru bilang beruntung kita nggak ketinggalan kereta, ini malah lebih parah, ketinggalan sama sekali.” ucap Pheenux.
“Perasaan jadi nggak enak, jangan-jangan bakal terjadi hal-hal yang nggak diinginkan.” timpalku menyeringai.
“Hush! Jangan ngomong sembarangan!” larang Teh Mei. “Pamali atuh!”
“Tapi benar loh Teh,” lanjut Pheenux. “Dulu, pas ke Lawu kita nyaris ketinggalan kereta dan apa yang kita alami? Kita ketemu mahluk-mahluk jelek yang sok manis dan menyebalkan itu!” Pheenux member isyarat menunjuk para cowok yang sedang asyik menghisap asap nikotin.
Teh Mei senyum manggut-manggut.
“Siapa mereka?” tanya Dede penasaran yang tak melihat isyarat Pheenux.
“Yang pada duduk di sebelahmu!” tunjuk Pheenux tanpa basa-basi.
Dede tertawa girang sambil nunjuk-nunjuk Ujang, Noly dan Kentang.
“Hei denger! Ketemu kami justru membawa berkah. Coba nggak ada kami pas Citonk keseleo, siapa coba yang mau gendong dia?”
”Ali!” koor kami bertiga.
Ujang cengar-cengir.
“Lagian siapa yang mau digendong kalian. Idiiih, sori Bang!” kata Citonk.
“Yaah, paling nggak kami berguna sebagai koki dan tukang pasang tenda setelah itu, tho? Harusnya kalian berterimakasih sama kami.” kata Ujang masih nggak mau kalah.
“Kami nggak nyuruh kalian pasang tenda dan memasak. Bagi kami ada yang mau jadi korban, bahagia banget! Ya nggak?” Pheenux mengerling ke aku dan Citonk. Kami menyambutnya dengan anggukan dan acungan jempol mantap.
“Cebret tenan! Jadi cuma dimanfaatin toh.” Ujang geleng-geleng kepala menatap kami. “Hebat, hebat, hebat!”
“Hei, hei lihat, aku udah mulai jenggotan nih!” Kentang memegang jenggotnya yang cuma tiga helai.
“Gara-gara nunggu kereta mpe tumbuh jenggot ya, Tang.” tanggap Dede. “Coba lihat!” Dede memeriksa jenggot Kentang.
“Adauow!!” tiba-tiba Kentang berteriak. “Sakit tau!”
“Ini sih bukan jenggot. “ Dede masih bersikap sok serius dan cuek tidak peduli Kentang yang menoyor kepalanya. “Ini sih rambut yang iseng tumbuh di situ.”
Kami melihat ulah keduanya dengan geli.
“Sebenarnya kita mau naik gunung atau kemping sih?” ucapku spontan setelah melihat barang bawaan kami yang tidak meyakinkan.
“Naik gunung, tho? Naik gunung Salak. Kamu tidur ya, Sus?” jawab Ujang.
“Perasaan kok kayak mau kemping ya, tuh bawa gitar segala.” tunjukku ke gitar yang dipeluk Dede.
“Itu sih nyawa dia,” kata Noly akhirnya.
“Benar kawan. Gitar is my life!” tanggap Dede dengan lafal Inggris yang belepotan. “Buat jaga-jaga juga kalau ntar kehabisan duit, bisa buat ngamen!” Dede mulai menggenjreng gitarnya. “Atau sambil nunggu begini, nyanyi aja yuk!” tanpa mendengar komentar yang lain sebuah nada lagu Sheila On Seven mengalun lewat petikan gitar Dede.
Tanpa komando dua kali kami langsung unjuk suara, meski suara kami kacau, antara fals, sumbang dan kontrol nadanya itu loh! Adu balapan juga sama gitar Dede. Untung nggak ada mbak Ii (Tri Utami), bisa dibantai habis-habisan kami nanti, nyanyi nggak memperlihatkan keindahan ditelinga. Lama-lama seperti kena setrum Ali dan Teh Mei ikutan menambah paduan vokal yang amburadul. Sampai orang-orang yang lewat pada menutup kuping.
Selain nyanyi-nyanyi kami juga melakukan aksi bengong, tukar cerita konyol dan menertawakan orang lewat. Malah sempat terpikir mau melakukan pertunjukan topeng monyet dengan para aktor:
Dede        : monyet 1
Kentang   : monyet 2
Noly         : monyet 3
Ujang       : anjing
Ali            : tukang ambil duit
Mendengar ide cerdas kami para cewek jelas para cowok ngomel-ngomel dan protes keras atas perlakuan yang tidak berperikehewanan.
“Masa Mas Dede yang cool (keren) ini suruh akting jadi monyet, hah! Yang bener dong!” protes Dede. “Gimana kalau orang utan aja?”
Mendengar itu anak-anak langsung ngakak.
“Kurang gemuk dan berbulu tuh! Mana ada orang utan kurus dan gundul gitu,” cetus Noly membuat kami tambah ngakak.
Pukul setengah sepuluh, kami mulai siaga. Takut ketinggalan kereta lagi. Sebagai antisipasi kami meronda bergantian di ujung peron masuk kereta. Noly yang dapat giliran terakhir kembali dengan lesu. Jam sepuluh sudah, dan kereta yang ditunggu belum menampakkan batang moncongnya.
“Nihil!” cetus Noly.
“Tanya lagi yuk!” ajak Citonk. “Teh Mei, yuk!” ketika tidak ada yang merespon, aku ikut menyusul.
“Wajahnya kok pada mendung, nyanyi lagi yuk!” Dede kembali menggenjreng gitarnya. Lagu Ari Lasso, Misteri Illahi. Cocok banget dengan suasana mereka. Yang lirik awalnya, aku masih di sini… mendekap hampa dihati… bla bla….
“Ternyata jam sebelas baru datang.” lapor Citonk.
“Wah, bapak tadi tuti (tukang tipu) banget.” cetus Pheenux.
“Katanya ada halangan, entah apa.” klarifikasi Teh Mei.
“Tapi kok pada senyum-senyum gitu, kita kan jadi deg-degan!” ucap Kentang.
“Dia kan di kampus termasuk Mapres.” puji Pheenux.
“Ah enggak, kok!” protesku malu-malu. “Mengada-ada Pheenux tuh!”
“Mahasiswa berprestasi? Hebat!” ungkap Teh Mei. “Nggak nyangka ya?”
“Mahasiswa prengas-prenges (suka meringis)!” koor Pheenux dan Citonk.
“Huu dasar!” amukku.
“Ge-er dia,” kata Pheenux ke Citonk cekikikan.
“Senyum itu ibadah,” dalihku kemudian. “So, keep on smile!” aku meringis menampakkan seluruh jajaran giginya yang kuning.
“Hiyy, jorok gigi kuning gitu. Gosok gigi seminggu berapa kali, Neng?” tuding Ujang.
“Enak aja! Teratur dong, sehari dua kali, kadang malah tiga kali. Mang dari sononya gini. Yang penting, kan ramah.”
“Ah yang bohong?” komentar Kentang tanpa ekspresi.
“Banyak senyum berarti kamu punya banyak pahala Sus, bagi-bagi tho!” celetuk Dede. “Jangan pelit!”
“Hahh!”
“Koleksi sendiri, Bung!” balasku. “Lagian dibanding dengan pahala koleksi dosaku jauh lebih banyak, mau? Dengan senang hati aku kasih, gratis deh.”
“Walaah, kalau itu aku bersemeru-semeru.” ucap Dede.
“Bersemeru?”
“Gunung Semeru kan tinggi, kalau ber- berarti banyak. Bayang pun Gunung Semeru kalau ditumpuk-tumpuk sampai 100 tingkat, kalau ibarat air sampai tampungannya nggak muat terus banjir kemana-mana. Lha itu….” tunjuk Dede. Yang lain bengong mengikuti arah tunjukan jari Dede. “Kucing!”
“Apa sih?”
“Nggak nyambung!” runtuk kami semua.
Kami terus bersenda. Aku pikir masa penantian kami bakal garing, kering kerontang seperti musim kemarau. Nyatanya bersama mereka suasana sungguh renyah, legit dan manis. Lapis Surabaya kalah. (kira-kira kereta datang jam berapa ya? Dan ketakutanku karena naik kereta nggak bayar membawa petaka bagi kami semua... ikuti lanjutannya yach!)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cermis Gunung Lawu



Cerita Mistis Pendakian Gunung Lawu

sumber gambar : ekalawu.weebly.com
 
 “Tang, tadi malam kamu lihat gak?” Kunyit tiba-tiba berseru pada Kentang. Saat kami mulai bosan menunggu kereta yang lewat.
“Hii... syerem deh!” sahut Kentang sambil menutupi mukanya.
“Apaan sih?” selidikku penasaran. Tiba-tiba bulu kudukku berdiri. Aku beringsut merapat ke Cithonk yang sibuk menghitung jumlah rel kereta.
“Cerita gak ya?”
“Jangan, syerem!” kata Kentang. “Nanti kalian pada takut lho!”
“Lebih nyeremin dia, kali.” tunjuk Pheenux pada Ujang yang asyik berasap duet bareng Noly.
“Jangan gitu, tho? Biar serem begini hatiku, selembut sutra.” sahut Ujang begitu tahu telunjuk Pheenux menuding ke mukanya.
Sontak yang lain pada tertawa. Kunyit dan Kentang tambah meledek Ujang.
“Cerita dong!” aku yang sebenarnya takut tetap saja penasaran tentang sesuatu  yang seram itu. Mendadak sunyi, seruanku menghentikan tawa mereka.
“Tadi malam ada yang mengikuti kita.” kata Kunyit. Membuat kami semua serentak mengerumuni Kunyit kecuali Ujang, Noly dan Kentang
“Pendaki lain? Kok aku nggak melihat?” sambar Pheenux membuatku menyadari sesuatu.
“Lebih baik kalau kamu gak melihat, Pin.” balas Kentang yang meringkuk dekat tas carrier yang dibawa Ali. “Ngeri deh!”
“Makanya tadi malam aku menghitung jumlah kalian dan mengabsen satu persatu.” terang Kunyit.
Aku ingat semalam Kunyit mendadak aneh menyorotkan senter ke muka kami semua dan sempat membuatku kesal. Kalau tidak salah waktu Cithonk minta turun dari gendongan Ali dan kami duduk melepas lelah. Sekaligus memberi kesempatan Ali untuk bernafas.
Kunyit juga menempatkan kami para gadis di tengah-tengah para pejantan. Dan entah kenapa kami semua menurut saja komandonya. Bahkan Kunyit mengatur dirinya berjalan di antara aku, Cithonk dan Pheenux. Alasannya sih karena dia tidak bawa senter.
Setelah itu leader perjalanan kami, Ali. Dan ekor rentetan rombongan kami pasangan Alex-Kisky. Curang sekali ya anak-anak Yogya itu. Tidak mau ambil resiko. Cari yang aman di tengah. Tapi di tengah juga belum tentu aman, kan?
Kunyit menyeringai, “Orang yang mengikuti kita tidak punya kepala, lho. Hiii...” Kunyit bergidik sendiri.
“Hah?” kami semua langsung disco horor.
“Yang bener, Nyit? Kan gelap, mungkin mukanya saja yang nggak kelihatan.” kata Pheenux.
“Dia membawa caping yang di dekap di dadanya.” lanjut Kunyit tidak menanggapi Pheenux. “Dan waktu kita berhenti istirahat menurunkan Cithonk dari gendongan Ali, dia duduk di sebelah Ujang.”
“Cepret! Kau tak bilang-bilang, hah?” Ujang ngamuk-ngamuk di luar kerumunan. Tapi tidak ada yang memperdulikan.
Aku langsung celingak-celinguk meski tahu sekarang siang hari dan posisi kami sudah di stasiun kereta. “Dia mengikuti kita sampai mana?” tanyaku sambil memegang tengkukku.
“Sampai pos satu aku lihat sudah tidak ada.” kata Kunyit.
Semua tampak bernafas lega.
“Beneran sudah tidak ada?” Kisky masih tidak yakin.
Kunyit manggut-manggut, “Tapi kalau setelah itu dia masuk tenda ikut tidur bareng mereka, aku tidak tahu ya.” kata Kunyit menunjuk kami rombongan Purwokerto.
Kami bertiga saling pandang dan spontan jejeritan heboh. Tidak! Kami bisa ternoda! Tidak peduli lingkungan sekitar.
“Jangan-jangan dia tidur di sebelahmu, Nux?” ucapku yang kebetulan tidur di tengah.
“Ah, nggak ada kok!” bantah Pheenux.
“Tapi kamu kan, tidak bisa melihat.” komentar Ali membuat Pheenux pucat. Aku mengangguk-angguk setuju.
“Di samping Cithonk juga mungkin, kan?”
“Aku merapat ke ujung tenda.” alibi Cithonk. “Pokoknya tidak ada ruang tersisa.”
“Bisa jadi dia malah tidur di tengah antara Pheenux dengan Suxie, atau antara Suxie dengan Cithonk.” Alex urun pendapat yang tidak tepat. Itu semakin membuat kami berhoror ria.
“Tenang, dia hanya mengantar kita sampai pos satu kok,” kata Kentang membuat kami tenang.
“Sebenarnya waktu aku usul agar Cithonk digendong. Aku mau minta tolong sama dia untuk menggendong Cithonk. haha...” Kunyit masih saja menjahili kami.
“Gak lucu!” cetus Cithonk memerah.
“Sembarangan!” timpal Pheenux. “Jangan-jangan kamu yang memanggil dia.”
“Aku nggak ikut-ikut lho, aku nggak bisa melihat.” kata Ujang ingin tampak bersih di mata Pheenux.
“Kamu kan gerombolan Kunyit, pasti terlibat.” tuding Pheenux berapi-api.
Lagi-lagi Ujang dan Pheenux saling berdebat. Tapi nampaknya dari percikan-percikan bara permusuhan itu tercipta sebentuk aura merah jambu di hati Ujang. Cinta, kawan! Ujang telah tersetrum getaran kata-kata Pheenux yang tajam.
Hhh, kembali ke masalah kawan baru kami yang mistis. Terus terang baru kali ini aku, Pheenux dan Cithonk secara tidak langsung bersentuhan dengan mahluk halus melalui Kunyit, dkk. Sebelumnya belum pernah kami mengalami kejadian mistis semacam ini. Apa karena kami anak UPL anak yang baik-baik ya, jadi mereka tak mengganggu kami dengan penampakan dalam bentuk apa pun. Semoga!
Yang jelas, sejak mendengar cerita Kunyit tentang sosok tanpa kepala itu setiap melakukan kegiatan malam pikiranku selalu parno. Mau pipis saja tidak berani sendiri dan tidak berani jauh dari tenda. Parah! Jadi harap maklum, kalau pagi-pagi yang tercium bukan wangi alam tapi aroma hasil buangan alamiah. Pesing, Bleh! Wkwkwkak....

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

The Three Mbakentir's Ke Gunung Lawu

Lanjutan...

Pen, Aku Padamu...!
 
 
*H3 Operasional
Pukul 09.00 wib kami baru turun, habis bangun kesiangan. Tapi sebenarnya tidak banyak berpengaruh sebab dari pos I ke gerbang pos pendakian sudah tidak begitu jauh.
Kaki Citonk pagi ini sudah sedikit mendingan. Begitu tiba di pintu masuk pendakian, Kunyit dkk langsung menghambur berlarian keluar kayak kera yang baru saja keluar dari hutan, nanar melompat sana melompat sini. Mau tak mau kami rombongan Purwokerto jadi ikutan menari-nari sambil tertawa mengikuti gerak mereka. Life is beautifull pokoke!
Acara berikutnya mandi-mandi, terus menuju stasiun. Sampai sejauh ini hubungan kami bersepuluh tambah akrab dan meriah. Apalagi setelah virus kegilaan menjangkiti aku, Pheenux dan Citonk. Enjoy, jadinya. Tidak merasa bosan manakala harus lumutan menunggu kereta yang baru datang dua jam kemudian.
“Pen, aku mau ngomong sesuatu ke kamu,” tiba-tiba Ujang berkata serius saat kami masih di peron stasiun.
“Ngomong aja, ada apa?!” balas Pheenux.
“Aduh, jadi grogi. Di sini banyak orang, ntar di kereta aja yah.” kata Ujang malu-malu.
“Terserah!”
Kami yang mendengar langsung bercicit-cuit meniru Joshua. Wek wek uwek juga ada. Kebun binatang dadakan muncul di kompleks stasiun. Jelas jadi tontonan.
Bak pasukan perang kami langsung berdiri sigap manakala moncong kereta meniupkan peluit tanda perebutan kursi akan segera dimulai. Kami segera berderap menyerbu kereta. Sungguh tidak sia-sia aku, Citonk dan Pheenux membawa bodyguard bertampang sangar. Buktinya kami semua mendapat tempat duduk jadi satu. Bersebelahan kanan-kiri, depan-belakang. Pesona preman yang luar biasa!
Kira-kira lima gelindingan roda kereta, Ujang nongol di grup Purwokerto, mulai merayu Ali. Loh, kok jadi Ali?
“Ali, kamu itu baik hati, kan?” ucap Ujang di ujung kursi atas Citonk. “Kita tukar tempat duduk, yuk!” Ujang menggusur Ali yang duduk tepat berhadapan dengan Pheenux dekat jendela.
“Jangan mau Li,” Pheenux mengompori Ali.
“Boleh, nggak masalah.” ucap Ali mengalah lalu berdiri.
“Mau ngomong apa?” sergah Pheenux saat Ujang berhasil menguasai kedudukan Ali.
“Wow, galak banget, Nyit!” seru Ujang pada Kunyit yang duduk di seberang. “Aduh, malu aku.” Ujang pura-pura malu dengan menutupi mukanya pakai topi kumalnya. “Wah, bau banget ternyata.”
“Emang topi siapa?” tanya Citonk.
“Hehe... topiku, sudah satu tahun nggak aku cuci.”
“Hueek!” aku langsung menutup hidung.
“Jorok!” komentar Pheenux. “Cepat ngomong aku mau tidur nih.” ucap Pheenux lagi.
“Yah, masa tidur sih. Kita kan bisa ngobrol dulu, ya nggak Cit?”
“No coment!”
“Makanya langsung ngomong!”
“Aku padamu, Pen!” seru Ujang setelah beberapa kali saat belum naik kereta dia sudah berkoar-koar demikian. Mukanya langsung berubah lucu seperti anak kecil yang diperbolehkan makan es krim.
“Padamu negeri!” balas Pheenux santai.
“Hayo, Pheenux?” goda aku dan Citonk.
“Padamu negeri… kami… berjanji… pa… da… mu…. ne… geri, ka… mi berbakti….” Kentang yang duduk di seberang bareng Kunyit secara spontan langsung menyanyikan lagu Padamu Negeri. Otomatis aku dan Citonk langsung kena radiasi ikutan nyanyi. Suasana jadi ramai, ada yang nyanyi ada yang menggoda Ujang. Gerombolan kalem sebangsa Ali, Kisky dan Alex hanya menyumbang senyum. Tapi cukuplah, buat suasana jadi gempita.
Ujang diam menatap Pheenux. Iringan lagu Padamu Negeri masih berkumandang lirih bak backsound drama picisan. Yang ini tapi nasionalis banget, nembak cewek dengan iringan lagu perjuangan. Mungkin biar ada semangat yang membara.
“Jangan lihat aku seperti itu! Horor tau!” semprot Pheenux.
“Oke, aku pindah,” kata Ujang lalu meminta Ali kembali ke tempat duduknya. Backsound musik berhenti. Berganti desisan kecewa.
“Dari tadi kek,” ucap Pheenux. “Bikin mata kelilipan aja!”
Mendengar itu, aku dan Citonk cekikikan sambil mengerling geli. Kereta terus melaju seiring godaan Kentang dan Kunyit pada Ujang yang mereka anggap gagal menjalankan sebuah misi, yaitu misi cinta. Mungkinkah akan berhenti sampai di stasiun Yogya saja?
“Eh, lho sudah sampai Yogya!” pekikku spontan.
“Cepet banget ya!” keluh Ujang. “Perasaan baru naik.”
“Makanya jangan pakai perasaan!” sambut Noly, “Pakai ini nih!” Noly nunjuk kepalanya.
“Kami turut berduka cita, Jang!” komentar Kentang sambil berdiri.
“Apaan!”
“Saatnya berpisah,” kata Kentang. “Berpelukan yuk!” Kentang menghadap ke arah kami dengan tangan terentang hendak memeluk kami semua.
“Hii, ogah!” tolak Pheenux.
“Teletubis kaleee!” komentarku.
“Kami turun duluan!” pamit Alex menyalami rombongan tersisa.
“Hati-hati!”
“Pen, aku padamu!” teriak Ujang sebelum akhirnya turun bersama yang lain termasuk Kisky dan Alex yang katanya mau piknik dulu di Yogya.
Backsound lagu Sayonara bergema. Kami saling melambai dalam aneka makna.
“Hh… akhirnya gerombolan pembuat onar pergi juga.” ucap Pheenux.
“Benar,” sahutku mantap.
“Al, kamu nanti turun Klaten?” tanya Citonk.
“Iya, aku harus pulang nih. Biasa minta jatah duit.”
“Kok nggak minta dikirim aja?” tanyaku.
“Bapak nggak akan kasih duit kalau aku nggak pulang. Hehe… masalahnya sudah satu semester aku nggak pulang.”
“Dasar!” komentar Citonk.
Suasana jadi lengang apalagi sesudah Ali turun, kami bertiga bahkan sempat terlelap karena begitu sepinya. Dan ketika bangun kami sadar ada sesuatu yang kurang. Hambar. Benar-benar ada yang hilang. Tentu saja, kami kehilangan kebersamaan yang baru saja terjalin sedemikian eratnya. Meski awalnya mereka membuat perut mules, mual dan terbakar. Tapi….
“Gila semua orangnya.” kata Pheenux.
“Baru berpisah sudah kangen?” tanggapku.
“Hayo, kangen sama siapa?” goda Pheenux.
“Yee, yang disindir malah nggak ngerasa.” balasku.
“Pheen, sepertinya Ujang benar-benar naksir lho sama kamu.” ucap Citonk.
“Iya tuh, cinta pada pandangan pertama,”
“Males, ah!” sungut Pheenux. “Serem,”
“Tapi kalau buat berteman mereka asyik ya?” ucapku sambil menelaah sebuah filosofi. Jangan menilai buku dari sampulnya, tapi lihat atau baca dulu isinya, baru komentar bagus tidak buku itu. Begitu pun anak-anak Yogya__teman baru kami. Meski penampilan mereka seperti cowok bergajulan, lusuh, kumuh mendekati horor namun hati dan jiwa persahabatan mereka T-O-P B-G-T! Patut diacungi dua jempol, kalau perlu plus bonus dua jempol kaki.
Kami akhirnya tertawa mengenang perjalanan kemarin. Wuih, benar-benar pengalaman yang menakjubkan. Ini adalah awal dari pendakian freelance kami, awal dari segalanya. Awal dari persahabatan dan kebersamaan yang memberi warna baru bagi Tiga Walang (Wanita Petualang).
 
*H3 (Pra Operasional)

 
 
“Ikut yuk!” ajak Indra seusai berpose di depan sekre. “Kalian belum pada makan malam, kan? Sekalian merayakan kesuksesan kalian menaklukkan Lawu. Eh, ngomong-ngomong berhasil muncak nggak nih?”
“Jelas, Lawu! Nggak segarang Slamet.” kata Pheenux bangga.
“Kamu yang mau traktir?” todong Citonk.
“Iya. Ayo!”
“Serius?” sangsi Citonk. “Memang punya duit?”
“Kapan aku nggak serius, coba?”
“Nggak pernah!” sahut Pheenux.
Indra meringis, “Nih lihat!” Indra menunjukkan isi dompetnya. “Cukupkan buat beli ayam goreng, berapa sih, buat empat orang. Masih lebih malah.”
“Wah, lagi kaya nih, tumben.” celetukku.
“Mau nggak aku traktir, kalau nggak malah kebetulan duitku jadi utuh.”
“Habis ngerampok di mana, Dro!” tembak Pheenux.
“Sembarangan, semiskin-miskinnya aku punya harga diri. Nggak mungkin aku ngerampok. Paling bobol ATM, e_hee… nggak ding! Aku habis dapat beasiswa. Oke, pada hitungan ketiga...”
“Yuk, Dro, iya… ayooo!” kami langsung menarik tangan Indro sebelum dia berubah pikiran.
“SUXIEEE!!!” panggil seseorang dari ambang pintu sekre. Dia mbak Riana. “Mau kemana? Kerjaanmu!? Publikasinya?!!” Mbak Riana ngomel-ngomel sambil mengacung-acungkan penggaris panjang ke arahku.
“Waaa… Mbak Riana, serem banget!” seruku langsung ngacir melarikan diri.



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS