RSS
Container Icon

The Three Mbakentir's ke Gunung Lawu

Lanjutan...
 
Pen, Aku Padamu...!
 
 

Dan sobat, mendekati pos II terjadi kecelakaan kecil tapi cukup fatal. Citonk yang berjalan di belakangku jatuh terduduk. Kakinya keseleo.
Awalnya kupikir cuma jatuh biasa tidak sampai cidera. Aku bahkan sempat menertawakan Citonk yang meringis-ringis. Habisnya aksi jatuh begitu sudah biasa dong yah. Dulu pas naik Slamet, kami malah bergantian eksyen jatuh. Biar dramatis.
Kami merubung Citonk, kotak P3K sudah aku keluarkan. Kentang yang katanya bisa sedikit ilmu pijat membantu mengurut kaki Citonk.
“Sakit, Cit?” tanyaku. “Bisa jalan?”
“Aku nggak pa-pa. Sepertinya bisa,” ucapnya berusaha berdiri dengan bantuanku dan Pheenux.
“Kalau nggak bisa jangan dipaksa. Kita ngecamp aja.” kata Pheenux.
“Iya,” sahutku mengamini.
“Ngecamp di mana? Di sini nggak ada tempat buat ngecamp, kali.” kata Citonk kembali meringis menahan sakit.
“Tul juga, di sini nggak mungkin bisa pasang tenda. Cuma jalur berbatu menurun.”
“Kalau masih bisa jalan kita ngecamp di pos I aja, yang ada shelter-nya.” saran Kunyit.
“Yuk, jalan!” ajak Citonk.
Meski terseok-seok, Citonk tetap berusaha berjalan sendiri. Kunyit mengusulkan agar ada yang menggendong Citonk. Sayang Citonk menolak mentah-mentah ide tersebut.
Akhirnya setelah melalui proses rayu-merayu, Citonk menyerah pasrah. Nah, sekarang masalahnya siapa yang mau gendong Citonk? Perdebatan yang seru akhirnya memutuskan kata sepakat Ali-lah yang mendapat kehormatan untuk menggendong Citonk. Lebih tepatnya Ali kalah suara, karena semua tangan menunjuk ke arahnya. Ali yang dasarnya kalem, cuma manggut-manggut nampaknya sambil berpikir, akankah diriku pingsan begitu sampai gerbang Cemoro Sewu. Ah, betapa mengenaskan.
“Masih kuat, Li?” tanya Ujang.
“Tenang,”
“Bagus! Cuma tanya loh.”
Citonk rupanya bisa mendengar ratapan merana Ali. Baru beberapa langkah Citonk sudah minta turun. Katanya sih merasa bisa jalan sendiri. Ali pun tersenyum lega dalam hati. Makasih Tonk, kau sungguh pengertian dengan teman kecilmu ini.
Hari mulai gelap. Payahnya selain kaki Citonk yang keseleo, harus ditambah penderitaan tanpa penerangan cahaya. Cuma kami tiga dara manis dan pasangan Kiko-Ale yang bawa senter, yang lain pada sok sakti tuh. Biar kaya si buta dari goa hantu kaleee, berjalan dalam gelap. Mending si buta asli buta, lha mereka punya mata sehat tak punya cahaya. Percuma kan, tetap saja meraba-raba, membuta gitu, jadi tambah menghambat perjalanan saja!
Kira-kira pukul delapan, setelah berjuang hingga titik lelah penghabisan, bergelap-gelap, menahan kantuk dan terseok-seok untuk Citonk, kami sampai juga di pos I. Lega banget pokoknya.
Tak disangka tak diduga, anak-anak Yogya mengambil alih tenda dan alat masak. Mereka mempersilakan kami menghuni tenda seraya menunggu mereka memasak. Hehe... indahnya. Mana pernah kami diperlakukan secara istimewa oleh pejantan UPL. Tidak ada istilah bermanja-manja. Semua harus bekerja saling bantu. Kali ini kami benar-benar tersanjung, setelah tersandung batu betulan.
“Wah, be queen nih!” celetuk Pheenux.
“Kalau sama kami santai aja,” sahut Ujang. “Enak tho, jadi ratu.”
Suasana akrab terjalin lagi. Sayang mataku tak bisa diajak berteman. Dia sudah teriak-teriak minta dipejamkan. Aku segera menyusul Citonk yang sudah lebih dulu menikmati mimpi. Di luar suara senda mereka mengiringi lelapnya tidurku. (Perjalanan pulang ternyata tidak selancar perkiraan. Haduh, ada apalagi nee???)



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

The Three Mbakentir's ke Gunung Lawu

lanjutan...

Pen, Aku Padamu...!
 
 
Sepertinya aku kena sindrom puncak deh, lagi-lagi aku merasakan nafas yang putus-putus. Jalanku semakin pelan, karena kaki serasa habis menjahit kain ratusan meter. Beda sekali dengan sindrom puncak Citonk. Begitu dekat puncak Citonk justru semakin perkasa dan berjaya.
Dan lagi-lagi anak-anak Yogya merecoki langkah terseok kami. Mungkin maksudnya memberi semangat, tapi caranya membuatku nyaris naik pitam. “Sabar, sabar!” ucapku dalam hati. Aku harus menyimpan emosiku untuk menambah kekuatan.
Anak-anak Yogya yang mendahului laju kami berteriak-teriak dari atas memberi tahu kalau tempat mereka berpijak adalah puncak. Tentu saja komentar-komentar sadis masih mereka hujamkan.
“Ayo, ini puncaknya!” teriak Ujang berdiri meringis menonton kami. “Peni, aku menunggumu!”
Kali ini lagi-lagi Citonk yang pertama berjaya di puncak Lawu. Juara dua Pheenux. Terakhir aku dalam pengawalan Ali. Baik banget kamu, Li!
  “Apa ini gunung mati?” gumamku seraya mengatur nafas lalu berkumpul dengan lainnya.
Jiwa penasaranku membuatku berkeliling melihat-lihat keadaan. Puncak Lawu berupa dataran cukup luas yang ditengahnya terdapat semacam tugu dari batu. Sekitar tugu itu banyak batu besar/kecil berkumpul mengelilingi tugu seakan ingin menemani keangkuhan tugu batu itu.
Rupanya masih ada dataran memanjang dan sedikit menurun yang arahnya berlawanan dengan jalur turun. Lebar dataran tersebut kurang lebih tiga meter dan semakin ke ujung semakin menyempit. Kanan-kirinya sudah merupakan jurang yang curam.
Aku, Pheenux dan Citonk jelas tak mau melewatkan acara paling narsis sedunia. Foto dunk! Setelah puas berfoto-foto ria, karena cuaca yang terik kami lalu pada nyungsep di antara semak-semak besar. Acara makan siang sederhana bersama digelar, dengan menu roti tawar dengan isian selai. Suasana akrab mulai terjalin. Akhirnya kami bisa berbincang biasa dan bahkan tertawa bersama. Tak lupa saling tukar-menukar alamat.
Pukul 14.00 wib kami merayap turun. Seperti biasa acara turun lebih cepat ketimbang naik. Tinggal menggelinding saja, jadi cepat deh. Tiba di sumber air drajad kami sempatkan mengambil air. Selanjutnya adegan kejar-kejaran terjadi lagi. Seru seperti balapan moto GP gitu.
Kunyit dan Ujang dengan tidak sopannya mendahului Valentino Rossi, Pedrosa dan Stoner (ibaratnya aku, Pheenux, Citonk, tiga pembalap itu. Hihi...) nge-gas mendahului kami tiga pembalap terkenal. Wah, pembalap cacingan macam mereka tidak boleh menyaingi mereka, dong yah? Para fans bisa pada kecewa. Apalagi melihat tampang mereka yang jauh dari tampan. Kami pun segera tancap gas. Dan alangkah terkejutnya kami begitu sampai pos III yang ada shelter-nya.
What??? (pakai mulut nganga lebar). Mau masak? Benar-benar kurang kerjaan! Ini sudah sore Bung, target pos I bisa tidak keburu. Hih, super gregetan! Kalian tahu kan, bapakku tentara. Jadi sifat disiplin melekat dalam nadiku. Pokoknya anti yang namanya jam karet seperti yang biasa dipakai oleh orang Indonesia pada umumnya.
Tanpa rasa berdosa mereka menikmati mie hasil masakan Kunyit tak terkecuali Ali. Aku, Citonk dan Pheenux saling pandang sambil menghela nafas sambil menahan iler juga.
“Peni, mau mie?” tanya Ujang. Pheenux menggeleng. “Citonk sama Sushi?”
“Nggak, makasih.” sahut Citonk ikutan sok nolak.
“Tapi tehnya boleh tuh. Hehe....” kata Pheenux mendekat meminta teh panas.
Rasa jaimku meluntur. Lumayan buat menghangatkan badan yang terasa menggigil.
“Nyit, gimana nih?” teriak Ujang tiba-tiba.
“Apaan?”
“Ser nyut-nyut rasane....”
“Apanya? Perutmu? Makan tuh batu!” balas Kunyit cekikikan.
Ujang membalas celoteh Kunyit tak kalah seru. Membuarlah tawa keduanya. Kami hanya pasang tampang asem manis.
Setengah jam kemudian perjalanan kami lanjutkan. Kami terus melaju dengan kecepatan tinggi, masih dengan setengah berlari. Serasa naik kereta ekspres, begitu anak-anak Yogya berkomentar. (juk ijak ijuk ijak ijuk... saking kencangnya laju kereta kami, maka terjadilah kecelakaan yang tidak diinginkan. Kira-kira siapa saja yang cidera ya? tunggu lanjutannya...)



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

The Three Mbakentir's ke Gunung Lawu

Lanjutan...

Pen, Aku Padamu...!
 
 
Selepas pos III medan sudah berupa jalan setapak tanah dengan tanaman semak menghiasi sisi kanan-kiri kaki mereka, cukup menyenangkan. Apalagi banyak bonusnya. Kami melipir bukit kecil yang menjulang di sayap kiri, sayap kanan jurang landai yang mengarah ke lembahan. Segar pokoknya, laksana hamparan karpet hijau yang digelar pada atas bukit dan lembahan. Karpet alam berwujud asli rumput-rumputan (sabana) atau tanaman semak termasuk edelweis yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan saja.
 “Dulu di sana itu banyak edelweisnya, kayak taman edelweiss gitu!” terang Ali sang guide. Ali menunjuk ke sebuah lembahan.
“Pada minggat kemana edelweisnya?” ucapku.
“Biasa buat souvenir.” balas Ali.
“Wah, wah!”
“Nggak asyik banget sih.” tambah Pheenux.
“Penduduk atau pendaki yang sering ngambil?” selidikku.
“Aku kira dua-duanya,”
Kami menghela nafas sangat menyayangkan kondisi yang mengenaskan itu. Sedikit mengutuk manusia-manusia yang tega mengeksploitasi alam dengan merampas edelweis dari singgasananya. Tapi kalau yang mengambil penduduk memang jadi sebuah dilema. Kesulitan ekonomi sepertinya memaksa mereka memetik dan menjualnya demi sekeping uang untuk makan. Meski tetap saja tidak bisa dimaafkan.
Yang kebangetan kan para pendaki. Sadis, jadi seorang penikmat alam yang menggerayangi alam kemudian mencampakkan. Tidak bertanggung jawab tuh, seenaknya saja mengambil yang bukan miliknya. Souvenir gunung mereka bilang? Keterlaluan!!! Lalu kami? Kami kan anak-anak manis, Insya Allah tidak akan melakukan hal-hal yang dilarang oleh senior UPL. Di antaranya ya memetik edelweis. Kalau ketahuan, bisa disuruh mengembalikan ke habitatnya sambil jalan jongkok bonus push up 100 porsi.
Suasana masih hening, yang terdengar hanya derik langkah kaki kami masing-masing. Tiba di sumber air drajad rombongan yang tersisa tinggal lima biji.
“Lho, yang lain pada kemana?” tanyaku kaget. “Bukannya Ali tadi berjalan tepat di belakang kita. Ngilang kemana dia?”
“Huh, payah!” keluh Noly. “Tadi sih mereka memang berhenti. Aku kira cuma sebentar terus nyusul.”
“Menyebalkan!” gerutuku lagi. Pheenux hanya geleng-geleng kepala.
“Mau ambil air nggak?” tanya Citonk setelah mendengus lelah.
“Ntar turunnya aja, kalo air cuma buat minum sih masih,” Pheenux mendekat ke Citonk dan aku yang duduk terpisah darinya. “Eh, minta air matang yuk?” ajak Pheenux ketika melihat ada rumah-rumahan.
“Kayak warung makan?” ujarku heran. “Jadi ini yang dimaksud mall sama Kunyit?”
“Iya, ini.” tanggap Noly.
“Wah, sakti banget ya bapak-bapak itu.” komentar Pheenux sebelum masuk warung ketika melihat seorang bapak datang membawa segunung kayu bakar.
“Udah biasa kali.” tanggap Citonk. "Yuk, ah masuk!"
“Noly, airnya ngambil di sini?” tanyaku menunjuk sebuah bak penampungan air yang bibir baknya aku duduki. Aku tidak ikut masuk ke dalam warung. 
“Iya, situ.” jawabnya singkat sambil menghisap sebatang rokok. Dia lalu menawari ke Alex, tapi Alex menggeleng.
“Makasih,” ucapnya. “Nggak ngerokok.”
Beberapa menit kemudian Ali muncul bersama Kisky. Tiga anak Yogya lain belum kelihatan.
“Mana yang lain?” sambut Noly.
“Masih di bawah. Tapi mereka sudah jalan kok.” jawab Ali.
“Pada ngapain sih?” tanyaku penasaran.
“Biasa pada ngerokok, terus tidur-tiduran.” terang Ali.
“Dasar, pada nggak sadar apa kalo ditungguin.” gerutu Noly yang anaknya kalem tidak seperti ketiga rekannya.
Pheenux dan Citonk nongol dari warung sambil mengacungkan tas plastik hitam. "Ada yang mau?"
"Apaan tuh?" sambutku.
"Tempe goreng," sahut Pheenux sambil menyeringai. 
Kami semua menatap lapar, tanpa komando kami sudah menyergap tas kresek hitam dari genggaman Pheenux. Tak ada satu menit tempe dalam plastik telah raib berpindah ke perut kami.
Begitu ketiga mahluk Yogya kelihatan batang hidungnya dan setelah tempe tandas, kami memutuskan melanjutkan kembali perjalanan. Lagipula menurut Ali, puncak sudah dekat. Dari tempat kami berdiri saja puncak sudah terlihat. Ayo, semangat!!
Matahari saat itu tepat di atas kepala. Cuaca panas dan berdebu menyambut laju kaki tertatih kami yang menanjak di antara bulir tanah kering. (sayangnya lagi-lagi aku kena sindrom puncak. Fiuh... sampai nggak ya?)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

The Three Mbakentir's ke Gunung Lawu

Lanjutan...


Pen, Aku Padamu...!




*H2 Operasional

Seperti dugaanku, paginya tubuh kami benar-benar terasa ‘enak-enak’ gimana gitu. Semalaman kami tidur sambil pijat refleksi khusus area punggung. Matras dan sleeping bag (SB) tidak bisa meredam aksi batuan yang menusuk-nusuk tubuh kami.

“Nux, nggak bisa keluar!” jeritku tertahan “Aduh, aku kebelet pipis nih.” Sebuah flysheet menutup seluruh tenda kami. Depan pintu masuk tenda Ali tampak bergelung dalam SB-nya. Sebelahnya entah ada siapa tidak tahu. Yang pasti dalam flysheet para cowok terkapar dalam kantung tidur masing-masing.

Wah, terperangkap!

“Bangunin aja mereka!” saran Pheenux  ikut melongok di pintu tenda.

Seorang anak tampak bergerak-gerak, dia Noly. Dengan wajah masih bau aroma kantuk dia berkoar-koar membangunkan teman-temannya. Tapi tak satupun bergeming bahkan satu diantaranya malah ada yang bergumam masih terlalu pagi, tanpa membuka mata.

“Sebentar aku buka ikatan yang sebelah sana,” kata Noly bergerak ke ujung flysheet. “Udah lompatin aja!” katanya lalu menyusup kembali ke kantung tidur.

Pagi ini jatahku masak dibantu Ali yang tiba-tiba ikutan bangun. Sementara Pheenux dan Citonk mulai mengemas barang-barang yang ada dalam tenda. Biar cepat, tinggal bongkar tenda, packing dan berangkat!

Sayang semua melenceng dari rencana operasional. Jam keberangkatan jadi mundur. Gara-gara anak-anak Yogya pada telat bangun dan tidak segera menggulung flysheet mereka. Pheenux jadi terlambat packing menunggu tenda dilipat. Walau komentar mereka tidak enak dikuping tapi untungnya ada itikad baik dengan membantu kami melipat tenda.  

Jalanan masih berbatu dengan kondisi nge-track abis tanpa bonus landai kami lalui. Tetap dengan prinsip pelan-pelan asal sampai, kami berjalan sambil menghitung jumlah langkah. Pelan euy...

Matahari pagi bersinar cerah, kadang sinarnya yang nakal berhasil menerobos dari sela pepohonan yang masih lumayan banyak dibanding jalur Bambangan Gunung Slamet pasca kebakaran. Komentar keempat cowok Yogya yang ribut berkenaan dengan langkah kami yang lebih pelan dari siput membuat lelah yang menghimpit semakin menggencet habis nafas kami.

“Oh, jadi kalian ini cewek mapala.” ucap Kunyit ketika kami melepas lelah sejenak sambil mengatur nafas.

“Mapala? Wow!” komentar Ujang.

“Capek ya?” tanya Kentang.

“Aku kira Mapala nggak kenal lelah.” oceh Ujang lagi. “Yuk, jalan lagi  katanya Mapala, harusnya kuat dong. Masa baru jalan sebentar udah ngos-ngosan!”

“Berisik banget!” cetusku kesal, pasti wajahku sudah terlihat terlipat delapan. “Bisa pada diam nggak?”

“Ada yang marah nih?” sindir Ujang cengengesan.

“Santai, Mbak!” ucap Kunyit coba mendinginkan suasana yang mulai memanas

You know? Tanganku sudah mulai terkepal, sobat. Ingin sekali membungkam mulut mereka pakai bogem mentah. Sifat temperamenku ditambah beberapa jurus silat yang kupelajari saat SMA dan Kempo ketika masuk bangku kuliah, selalu membuatku ingin mempraktekkan ke orang lain secara nyata. (Obsesi jadi atlet silat yang tidak kesampaian)

 “Biarin aja Sus, aku juga kesal. Kita buktikan saja kalau kita bisa,” nasehat Citonk berhasil meluruh emosiku.

“Menyebalkan sekali mereka itu,” runtukku. “Apaan si Pheenux itu. Dia malah melayani celotehan mereka.”

“Ya deh, aku diam,” ucap Ujang dengan suara keras, dan dia masih bersikap acuh tak acuh. “Eh, tapi Peni kuat ya?” puji Ujang. “Idih, kenapa diam aja. Ups! aku lupa, aku kan nggak boleh ngomong.” Ujang langsung menutup mulutnya.

“Peni, siapa tuh!” sungut Pheenux.

“Pheenux, Bleh!” Kunyit membenarkan. “Jalan yuk! Hampir sampai kok.”

“Sampai pos III kaleee!” tambah Kentang tertawa.

“Nah, itu dia maksudku,” Kunyit ikutan ngakak lalu menepuk kepala Kentang. “Pinter kamu!”

“Nggak lucu!” komentar Noly yang dari tadi sibuk menghisap rokoknya tak peduli dengan situasi yang baru saja terjadi.

“Santai, Mbak. Jangan serius gitu dong! Santai man!” oceh Kunyit lagi.

“Eh, mereka bertiga itu kayak super, super... super boy apa ya? Itu lho film pahlawan yang bisa terbang, pakai kacamata semua,” Kentang meringis menatap ke arah kami yang kebetulan berkacamata minus semua. “Mereka ini pasti sakti.”

“Super woman!” ralat Ujang. “Cewek semua sih.”

“Power puf jell!” seru Kunyit. “Eh, tapi mereka nggak pakai kaca mata.”

“Powerpuff Girls!”  ralat Noly.

“Kompakan nih yee?” timpal Ujang.

“Asli minus kok.” sahut Citonk datar.

“Keren!” ucap Kentang.

Tanpa mempedulikan ocehan mereka, aku, Pheenux dan Citonk berjalan meninggalkan riuh rendah yang memuakkan itu. Aku kembali konsen ke jalan yang terjal, e-ge-pe sebodo teuing ala Sunda dengan mereka. Sebagaimana kata Citonk, buktikan saja kalau kita bisa.

Selama perjalanan celotehan anak-anak Yogya tiada matinya. Mereka sekarang menemukan TO baru sebagai bahan lelucon mereka. Siapa lagi kalau bukan pendaki lain yang baru saja turun dari puncak. Dasar, rupanya hobi mereka mengganggu orang lain toh.

Seperti pepatah Jawa; Tresno Jalaran Soko Kulino. Lama-lama celotehan mereka kok jadi terdengar kocak ya. Ada saja komentar mereka ke para pendaki lain. Mirip sekumpulan orang gila menggelikan.

“Mas mau kemana?” sapa Kunyit pada beberapa rombongan pendaki lain yang turun.

“Mau turun.” Jawab pendaki itu.

“Ooh, saya kira mau naik ke bawah,” Kunyit berkata tanpa ekspresi. Sementara mas-mas yang ditanya nyengir aneh. “Naik ke bawah sih seperti apa ya?” lanjut Kunyit bertanya ke Kentang.

“Tau!”

“Mbak puncak masih jauh nggak?” tanya Ujang pada rombongan berikutnya yang kebetulan berpapasan dengan kami. Sial banget mereka, ketemu gerombolan sableng ini. Tapi nasib mereka masih tergolong baik, tidak separah kami yang terjebak di dalamnya.

“Masih Mas!” sahut yang cowok.

“Oh gitu, ya. Makasih. Maklum Mas, kemarin malam pas naik sambil merem sih, jadi nggak hafal.” Ujang menyeringai. Rombongan yang baru disapa menggerutu tidak jelas, langsung ngacir turun. (selanjutnya ternyata rombongan Yogya tiba-tiba menghilang. Ada apa dengan mereka yah?)


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

The Three Mbakentir's ke Gunung Lawu

lanjutan...


Pen, Aku Padamu...!





“Bener nih, kalian mau ikut kita bermalam di sini nggak ngelanjutin?” tanya Pheenux ke Kisky dan Alex. Keduanya mengangguk, lalu mencari sarang mereka sendiri.

“Jangan karena kami lho yaa? Kami nggak biasa jalan malam.” tambah Citonk.

Kami anak UPL memang anti jalan malam dan tidak setuju dengan model mendaki SKS (Sistem Kebut Semalam). Sesuai dengan kode etik kepecintaalaman yang menyarankan/MENGHARUSKAN aktivitas jalan dilakukan siang hari. Alasannya : Pertama; jika jalan malam dikhawatirkan bakal bertemu dengan binatang yang tidak diinginkan (buas maksudnya), karena beberapa binatang yang berbahaya melakukan aktivitasnya di malam hari. Kedua; karena hawa dingin bisa mengganggu metabolisme tubuh__serangan hipotermia lebih ganas. Pengecualian kalau di goa yang nggak ketahuan siang – malamnya, dan hawa di goa tidak sedingin di gunung. Ketiga, bagi yang belum pernah naik, kemungkinan buat nyasar lebih besar. Apalagi kalau jalurnya banyak percabangan, mau ormed gelap. Jadi nyasar kan? Ini dia faktor utama kenapa banyak pendaki yang mati di gunung. Modal fisik saja tanpa bekal pengetahuan yang memadai.

Pokoknya resiko jalan malam lebih besar deh, yang lebih gawat lagi kalau ketemu Mbak Kunti dan teman-teman. Hiiiii… serem nggak sih!

Malam itu begitu cerah, ditemani api unggun yang sukses aku buat bareng Ali dengan bersusah payah. Bagaimana tidak, kalau buatnya tanpa bahan bakar penyulut seperti minyak tanah, spirtus ataupun bensin. Benar-benar ajang praktek cara survive di alam. Setelah api jadi Ali kebagian tugas mencari kayu-kayu kering. Dengan catatan tidak mengganggu tanaman yang masih hidup. Citonk yang tidak begitu pandai masak malam itu dapat jatah masak.

Malam itu banyak juga yang masih nekat mendaki. Kurang lebih pukul delapan tiba-tiba ada pendaki yang berhenti di perkemahan kami. Jumlah mereka ada sekitar empat orang. Itu juga kalau tidak salah hitung. Dengan seenaknya mereka makan dan menguasai api unggun hasil kerja kami. Sumpah, kesal banget. Apalagi mulut mereka berkoar tidak karuan.

“Ooo, Pheenux, Citonk, Ali terus yang memakai jilbab tadi siapa? Sushi?” seorang anak menunjuk satu persatu muka rombongan dari Purwokerto. "Sushi kok kayak nama makanan ya?"
"Wah, iya jadi lapar nih, Tang!"
"Kok laporan ke aku?"  
"Wis, wis, soal perut nomer dua. Kita kan belum memperkenalkan diri." 
"Kalau lapar jadi tidak bisa maksimal menampilkan diri dong." protes seorang yang tadi bilang lapar. 
"Diam, pret! Kita mulai saja,"

Dengan pe-denya mereka memperkenalkan diri mereka. Asli tidak ingin tahu. Kalau tampang mereka ganteng-ganteng sih, langsung kami mintain tanda tangan malah.

“Yang pakai topi ala bajak laut itu, Kunyit!” kata si rambut gondrong lusuh, yang tadi paling ngebet ingin memperkenalkan diri. 
“Sebelah pohon Kunyit, berambut keriting namanya Kentang, terus yang agak ganteng itu, Noly. Dan dari kami berempat yang paling ganteng ini jelas, Ujang!” ujarnya menepuk dan membusungkan dada. Derai suara huu... membahana.

“Cepret, paling ganteng dia bilang?” kata anak yang bernama Kunyit mencak-mencak di sambut pembelaan diri Ujang.

“Dari mana, Mas?” Pheenux bertanya pada Noly yang duduk sebelah Ali.

“Dari bawah mau ke atas,” serobot Ujang tertawa bareng Kunyit.

“Hush, ketawa. Gak ada yang lucu. Serius, serius!” Kentang berhasil membungkam tawa Ujang dan Kunyit. Tapi selanjutnya giliran dia yang cekikikan sendiri.

“Dari Yogya.” sahut Noly singkat padat dan jelas. Tidak seperti teman-temannya yang pada saraf semua.

Malam yang kusangka akan indah, berubah jadi bencana bagi kami dengan hadirnya gerombolan gila ini. Aku mendadak mengidap penyakit gondok. Cuma bisa cengar-cengir menahan ketidaknyamanan arena percakapan yang tidak jelas ujung pangkalnya.
            Lega banget rasanya bisa menghilang dari mereka. Pheenux dan Citonk menyusul. Akhirnya kami buka salon di dalam tenda. Obat cantik kami keluarkan, perkakas perempuan seperti bedak, lipstik, minyak wangi, ups! Memang kami cewek apaan? Yang jelas aku mengeluarkan cairan yang katanya bisa menghapus jerawat dari mukaku. Pheenux dan Citonk jadi pada ikutan tuh, menggosok-gosok muka mereka biar besok pagi bercahaya, mengalahkah sinar matahari. 
(tunggu sambungannya ya, bagaimana empat cowok pendatang baru itu menggoda tiga cewek cantik dari Purwokerto). C U!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS