RSS
Container Icon

The Three Mbakentir's ke Gunung Lawu

Lanjutan...

Pen, Aku Padamu...!
 
 
Selepas pos III medan sudah berupa jalan setapak tanah dengan tanaman semak menghiasi sisi kanan-kiri kaki mereka, cukup menyenangkan. Apalagi banyak bonusnya. Kami melipir bukit kecil yang menjulang di sayap kiri, sayap kanan jurang landai yang mengarah ke lembahan. Segar pokoknya, laksana hamparan karpet hijau yang digelar pada atas bukit dan lembahan. Karpet alam berwujud asli rumput-rumputan (sabana) atau tanaman semak termasuk edelweis yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan saja.
 “Dulu di sana itu banyak edelweisnya, kayak taman edelweiss gitu!” terang Ali sang guide. Ali menunjuk ke sebuah lembahan.
“Pada minggat kemana edelweisnya?” ucapku.
“Biasa buat souvenir.” balas Ali.
“Wah, wah!”
“Nggak asyik banget sih.” tambah Pheenux.
“Penduduk atau pendaki yang sering ngambil?” selidikku.
“Aku kira dua-duanya,”
Kami menghela nafas sangat menyayangkan kondisi yang mengenaskan itu. Sedikit mengutuk manusia-manusia yang tega mengeksploitasi alam dengan merampas edelweis dari singgasananya. Tapi kalau yang mengambil penduduk memang jadi sebuah dilema. Kesulitan ekonomi sepertinya memaksa mereka memetik dan menjualnya demi sekeping uang untuk makan. Meski tetap saja tidak bisa dimaafkan.
Yang kebangetan kan para pendaki. Sadis, jadi seorang penikmat alam yang menggerayangi alam kemudian mencampakkan. Tidak bertanggung jawab tuh, seenaknya saja mengambil yang bukan miliknya. Souvenir gunung mereka bilang? Keterlaluan!!! Lalu kami? Kami kan anak-anak manis, Insya Allah tidak akan melakukan hal-hal yang dilarang oleh senior UPL. Di antaranya ya memetik edelweis. Kalau ketahuan, bisa disuruh mengembalikan ke habitatnya sambil jalan jongkok bonus push up 100 porsi.
Suasana masih hening, yang terdengar hanya derik langkah kaki kami masing-masing. Tiba di sumber air drajad rombongan yang tersisa tinggal lima biji.
“Lho, yang lain pada kemana?” tanyaku kaget. “Bukannya Ali tadi berjalan tepat di belakang kita. Ngilang kemana dia?”
“Huh, payah!” keluh Noly. “Tadi sih mereka memang berhenti. Aku kira cuma sebentar terus nyusul.”
“Menyebalkan!” gerutuku lagi. Pheenux hanya geleng-geleng kepala.
“Mau ambil air nggak?” tanya Citonk setelah mendengus lelah.
“Ntar turunnya aja, kalo air cuma buat minum sih masih,” Pheenux mendekat ke Citonk dan aku yang duduk terpisah darinya. “Eh, minta air matang yuk?” ajak Pheenux ketika melihat ada rumah-rumahan.
Kayak warung makan?” ujarku heran. “Jadi ini yang dimaksud mall sama Kunyit?
“Iya, ini.” tanggap Noly.
Wah, sakti banget ya bapak-bapak itu.” komentar Pheenux sebelum masuk warung ketika melihat seorang bapak datang membawa segunung kayu bakar.
“Udah biasa kali.” tanggap Citonk. "Yuk, ah masuk!"
“Noly, airnya ngambil di sini?” tanyaku menunjuk sebuah bak penampungan air yang bibir baknya aku duduki. Aku tidak ikut masuk ke dalam warung. 
“Iya, situ.” jawabnya singkat sambil menghisap sebatang rokok. Dia lalu menawari ke Alex, tapi Alex menggeleng.
“Makasih,” ucapnya. “Nggak ngerokok.”
Beberapa menit kemudian Ali muncul bersama Kisky. Tiga anak Yogya lain belum kelihatan.
“Mana yang lain?” sambut Noly.
“Masih di bawah. Tapi mereka sudah jalan kok.” jawab Ali.
“Pada ngapain sih?” tanyaku penasaran.
“Biasa pada ngerokok, terus tidur-tiduran.” terang Ali.
“Dasar, pada nggak sadar apa kalo ditungguin.” gerutu Noly yang anaknya kalem tidak seperti ketiga rekannya.
Pheenux dan Citonk nongol dari warung sambil mengacungkan tas plastik hitam. "Ada yang mau?"
"Apaan tuh?" sambutku.
"Tempe goreng," sahut Pheenux sambil menyeringai. 
Kami semua menatap lapar, tanpa komando kami sudah menyergap tas kresek hitam dari genggaman Pheenux. Tak ada satu menit tempe dalam plastik telah raib berpindah ke perut kami.
Begitu ketiga mahluk Yogya kelihatan batang hidungnya dan setelah tempe tandas, kami memutuskan melanjutkan kembali perjalanan. Lagipula menurut Ali, puncak sudah dekat. Dari tempat kami berdiri saja puncak sudah terlihat. Ayo, semangat!!
Matahari saat itu tepat di atas kepala. Cuaca panas dan berdebu menyambut laju kaki tertatih kami yang menanjak di antara bulir tanah kering. (sayangnya lagi-lagi aku kena sindrom puncak. Fiuh... sampai nggak ya?)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

The Three Mbakentir's ke Gunung Lawu

Lanjutan...


Pen, Aku Padamu...!




*H2 Operasional

Seperti dugaanku, paginya tubuh kami benar-benar terasa ‘enak-enak’ gimana gitu. Semalaman kami tidur sambil pijat refleksi khusus area punggung. Matras dan sleeping bag (SB) tidak bisa meredam aksi batuan yang menusuk-nusuk tubuh kami.

Nux, nggak bisa keluar!” jeritku tertahan “Aduh, aku kebelet pipis nih.” Sebuah flysheet menutup seluruh tenda kami. Depan pintu masuk tenda Ali tampak bergelung dalam SB-nya. Sebelahnya entah ada siapa tidak tahu. Yang pasti dalam flysheet para cowok terkapar dalam kantung tidur masing-masing.

Wah, terperangkap!

“Bangunin aja mereka!” saran Pheenux  ikut melongok di pintu tenda.

Seorang anak tampak bergerak-gerak, dia Noly. Dengan wajah masih bau aroma kantuk dia berkoar-koar membangunkan teman-temannya. Tapi tak satupun bergeming bahkan satu diantaranya malah ada yang bergumam masih terlalu pagi, tanpa membuka mata.

“Sebentar aku buka ikatan yang sebelah sana,” kata Noly bergerak ke ujung flysheet. “Udah lompatin aja!” katanya lalu menyusup kembali ke kantung tidur.

Pagi ini jatahku masak dibantu Ali yang tiba-tiba ikutan bangun. Sementara Pheenux dan Citonk mulai mengemas barang-barang yang ada dalam tenda. Biar cepat, tinggal bongkar tenda, packing dan berangkat!

Sayang semua melenceng dari rencana operasional. Jam keberangkatan jadi mundur. Gara-gara anak-anak Yogya pada telat bangun dan tidak segera menggulung flysheet mereka. Pheenux jadi terlambat packing menunggu tenda dilipat. Walau komentar mereka tidak enak dikuping tapi untungnya ada itikad baik dengan membantu kami melipat tenda.  

Jalanan masih berbatu dengan kondisi nge-track abis tanpa bonus landai kami lalui. Tetap dengan prinsip pelan-pelan asal sampai, kami berjalan sambil menghitung jumlah langkah. Pelan euy...

Matahari pagi bersinar cerah, kadang sinarnya yang nakal berhasil menerobos dari sela pepohonan yang masih lumayan banyak dibanding jalur Bambangan Gunung Slamet pasca kebakaran. Komentar keempat cowok Yogya yang ribut berkenaan dengan langkah kami yang lebih pelan dari siput membuat lelah yang menghimpit semakin menggencet habis nafas kami.

“Oh, jadi kalian ini cewek mapala.” ucap Kunyit ketika kami melepas lelah sejenak sambil mengatur nafas.

“Mapala? Wow!” komentar Ujang.

“Capek ya?” tanya Kentang.

“Aku kira Mapala nggak kenal lelah.” oceh Ujang lagi. “Yuk, jalan lagi  katanya Mapala, harusnya kuat dong. Masa baru jalan sebentar udah ngos-ngosan!

Berisik banget!” cetusku kesal, pasti wajahku sudah terlihat terlipat delapan. “Bisa pada diam nggak?”

Ada yang marah nih?” sindir Ujang cengengesan.

“Santai, Mbak!” ucap Kunyit coba mendinginkan suasana yang mulai memanas

You know? Tanganku sudah mulai terkepal, sobat. Ingin sekali membungkam mulut mereka pakai bogem mentah. Sifat temperamenku ditambah beberapa jurus silat yang kupelajari saat SMA dan Kempo ketika masuk bangku kuliah, selalu membuatku ingin mempraktekkan ke orang lain secara nyata. (Obsesi jadi atlet silat yang tidak kesampaian)

 Biarin aja Sus, aku juga kesal. Kita buktikan saja kalau kita bisa,” nasehat Citonk berhasil meluruh emosiku.

Menyebalkan sekali mereka itu,” runtukku. “Apaan si Pheenux itu. Dia malah melayani celotehan mereka.”

“Ya deh, aku diam,” ucap Ujang dengan suara keras, dan dia masih bersikap acuh tak acuh. “Eh, tapi Peni kuat ya?” puji Ujang. “Idih, kenapa diam aja. Ups! aku lupa, aku kan nggak boleh ngomong.” Ujang langsung menutup mulutnya.

“Peni, siapa tuh!” sungut Pheenux.

“Pheenux, Bleh!” Kunyit membenarkan. “Jalan yuk! Hampir sampai kok.”

“Sampai pos III kaleee!” tambah Kentang tertawa.

“Nah, itu dia maksudku,” Kunyit ikutan ngakak lalu menepuk kepala Kentang. “Pinter kamu!

“Nggak lucu!” komentar Noly yang dari tadi sibuk menghisap rokoknya tak peduli dengan situasi yang baru saja terjadi.

“Santai, Mbak. Jangan serius gitu dong! Santai man!” oceh Kunyit lagi.

“Eh, mereka bertiga itu kayak super, super... super boy apa ya? Itu lho film pahlawan yang bisa terbang, pakai kacamata semua,” Kentang meringis menatap ke arah kami yang kebetulan berkacamata minus semua. “Mereka ini pasti sakti.”

Super woman!” ralat Ujang. “Cewek semua sih.”

Power puf jell!” seru Kunyit. “Eh, tapi mereka nggak pakai kaca mata.”

Powerpuff Girls!”  ralat Noly.

“Kompakan nih yee?” timpal Ujang.

“Asli minus kok.” sahut Citonk datar.

“Keren!” ucap Kentang.

Tanpa mempedulikan ocehan mereka, aku, Pheenux dan Citonk berjalan meninggalkan riuh rendah yang memuakkan itu. Aku kembali konsen ke jalan yang terjal, e-ge-pe sebodo teuing ala Sunda dengan mereka. Sebagaimana kata Citonk, buktikan saja kalau kita bisa.

Selama perjalanan celotehan anak-anak Yogya tiada matinya. Mereka sekarang menemukan TO baru sebagai bahan lelucon mereka. Siapa lagi kalau bukan pendaki lain yang baru saja turun dari puncak. Dasar, rupanya hobi mereka mengganggu orang lain toh.

Seperti pepatah Jawa; Tresno Jalaran Soko Kulino. Lama-lama celotehan mereka kok jadi terdengar kocak ya. Ada saja komentar mereka ke para pendaki lain. Mirip sekumpulan orang gila menggelikan.

“Mas mau kemana?” sapa Kunyit pada beberapa rombongan pendaki lain yang turun.

“Mau turun.” Jawab pendaki itu.

“Ooh, saya kira mau naik ke bawah,” Kunyit berkata tanpa ekspresi. Sementara mas-mas yang ditanya nyengir aneh. “Naik ke bawah sih seperti apa ya?” lanjut Kunyit bertanya ke Kentang.

“Tau!”

“Mbak puncak masih jauh nggak?” tanya Ujang pada rombongan berikutnya yang kebetulan berpapasan dengan kami. Sial banget mereka, ketemu gerombolan sableng ini. Tapi nasib mereka masih tergolong baik, tidak separah kami yang terjebak di dalamnya.

“Masih Mas!” sahut yang cowok.

Oh gitu, ya. Makasih. Maklum Mas, kemarin malam pas naik sambil merem sih, jadi nggak hafal.” Ujang menyeringai. Rombongan yang baru disapa menggerutu tidak jelas, langsung ngacir turun. (selanjutnya ternyata rombongan Yogya tiba-tiba menghilang. Ada apa dengan mereka yah?)


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

The Three Mbakentir's ke Gunung Lawu

lanjutan...


Pen, Aku Padamu...!





“Bener nih, kalian mau ikut kita bermalam di sini nggak ngelanjutin?” tanya Pheenux ke Kisky dan Alex. Keduanya mengangguk, lalu mencari sarang mereka sendiri.

“Jangan karena kami lho yaa? Kami nggak biasa jalan malam.” tambah Citonk.

Kami anak UPL memang anti jalan malam dan tidak setuju dengan model mendaki SKS (Sistem Kebut Semalam). Sesuai dengan kode etik kepecintaalaman yang menyarankan/MENGHARUSKAN aktivitas jalan dilakukan siang hari. Alasannya : Pertama; jika jalan malam dikhawatirkan bakal bertemu dengan binatang yang tidak diinginkan (buas maksudnya), karena beberapa binatang yang berbahaya melakukan aktivitasnya di malam hari. Kedua; karena hawa dingin bisa mengganggu metabolisme tubuh__serangan hipotermia lebih ganas. Pengecualian kalau di goa yang nggak ketahuan siang – malamnya, dan hawa di goa tidak sedingin di gunung. Ketiga, bagi yang belum pernah naik, kemungkinan buat nyasar lebih besar. Apalagi kalau jalurnya banyak percabangan, mau ormed gelap. Jadi nyasar kan? Ini dia faktor utama kenapa banyak pendaki yang mati di gunung. Modal fisik saja tanpa bekal pengetahuan yang memadai.

Pokoknya resiko jalan malam lebih besar deh, yang lebih gawat lagi kalau ketemu Mbak Kunti dan teman-teman. Hiiiii… serem nggak sih!

Malam itu begitu cerah, ditemani api unggun yang sukses aku buat bareng Ali dengan bersusah payah. Bagaimana tidak, kalau buatnya tanpa bahan bakar penyulut seperti minyak tanah, spirtus ataupun bensin. Benar-benar ajang praktek cara survive di alam. Setelah api jadi Ali kebagian tugas mencari kayu-kayu kering. Dengan catatan tidak mengganggu tanaman yang masih hidup. Citonk yang tidak begitu pandai masak malam itu dapat jatah masak.

Malam itu banyak juga yang masih nekat mendaki. Kurang lebih pukul delapan tiba-tiba ada pendaki yang berhenti di perkemahan kami. Jumlah mereka ada sekitar empat orang. Itu juga kalau tidak salah hitung. Dengan seenaknya mereka makan dan menguasai api unggun hasil kerja kami. Sumpah, kesal banget. Apalagi mulut mereka berkoar tidak karuan.

“Ooo, Pheenux, Citonk, Ali terus yang memakai jilbab tadi siapa? Sushi?” seorang anak menunjuk satu persatu muka rombongan dari Purwokerto. "Sushi kok kayak nama makanan ya?"
"Wah, iya jadi lapar nih, Tang!"
"Kok laporan ke aku?"  
"Wis, wis, soal perut nomer dua. Kita kan belum memperkenalkan diri." 
"Kalau lapar jadi tidak bisa maksimal menampilkan diri dong." protes seorang yang tadi bilang lapar. 
"Diam, pret! Kita mulai saja,"

Dengan pe-denya mereka memperkenalkan diri mereka. Asli tidak ingin tahu. Kalau tampang mereka ganteng-ganteng sih, langsung kami mintain tanda tangan malah.

Yang pakai topi ala bajak laut itu, Kunyit!” kata si rambut gondrong lusuh, yang tadi paling ngebet ingin memperkenalkan diri. 
“Sebelah pohon Kunyit, berambut keriting namanya Kentang, terus yang agak ganteng itu, Noly. Dan dari kami berempat yang paling ganteng ini jelas, Ujang! ujarnya menepuk dan membusungkan dada. Derai suara huu... membahana.

Cepret, paling ganteng dia bilang?” kata anak yang bernama Kunyit mencak-mencak di sambut pembelaan diri Ujang.

“Dari mana, Mas?” Pheenux bertanya pada Noly yang duduk sebelah Ali.

“Dari bawah mau ke atas,” serobot Ujang tertawa bareng Kunyit.

Hush, ketawa. Gak ada yang lucu. Serius, serius!” Kentang berhasil membungkam tawa Ujang dan Kunyit. Tapi selanjutnya giliran dia yang cekikikan sendiri.

“Dari Yogya.” sahut Noly singkat padat dan jelas. Tidak seperti teman-temannya yang pada saraf semua.

Malam yang kusangka akan indah, berubah jadi bencana bagi kami dengan hadirnya gerombolan gila ini. Aku mendadak mengidap penyakit gondok. Cuma bisa cengar-cengir menahan ketidaknyamanan arena percakapan yang tidak jelas ujung pangkalnya.
            Lega banget rasanya bisa menghilang dari mereka. Pheenux dan Citonk menyusul. Akhirnya kami buka salon di dalam tenda. Obat cantik kami keluarkan, perkakas perempuan seperti bedak, lipstik, minyak wangi, ups! Memang kami cewek apaan? Yang jelas aku mengeluarkan cairan yang katanya bisa menghapus jerawat dari mukaku. Pheenux dan Citonk jadi pada ikutan tuh, menggosok-gosok muka mereka biar besok pagi bercahaya, mengalahkah sinar matahari. 
(tunggu sambungannya ya, bagaimana empat cowok pendatang baru itu menggoda tiga cewek cantik dari Purwokerto). C U!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

The Three Mbakentir's ke Gunung Lawu

lanjutan....


Pen, Aku Padamu...!



Sekitar pukul setengah dua belas kami berempat turun di stasiun Jebres, Solo. Sesudah acara foto-foto narsis, makan siang tak lupa sholat Dzuhur, perjalanan berlanjut menuju Matesih, Tawangmangu yang berjarak kurang lebih 40 km. Dari pasar Matesih kemudian naik angkutan ke pos penjagaan Cemoro Sewu. Salah satu jalur pendakian Gunung Lawu selain Cemoro Kandang.
Dan tahu tidak sobat, angkutan yang membawa kami ke Cemoro Sewu itu opletnya si Doel anak sekolahan. Sempat mencari si Doel beneran mau minta tanda tangan. Sayangnya ini, kan Karang Anyar bukan Jakarte, mane ade si Doel anek sekolehen.
Panas, sesak, berdesak-desakan mirip ikan asin dalam keranjang yang baunya hmmff... aduhai. Untung aku tidak mabok maning, mabok maning, padahal waktu kecil aku paling hobi mabuk kendaraan. Paling setelah turun nanti aku butuh tabung oksigen buat menyambung nafas.
Pukul 15.00 wib setelah bayar uang masuk di pos yang tepat di samping Gapura bertuliskan Cemoro Sewu kami berempat sibuk kembali dengan aktivitas mengambil air dan sholat Ashar. Pasalnya menurut guide Ali, air baru ada di sumber air Drajat beberapa meter dari puncak.
Ali tampak mengerutkan kening melihat carier yang dia bawa semakin berat. Kami pura-pura tidak tahu sampai Ali akhirnya bersuara memprotes tentang bawaan kami.
“Gila, kalian mau jualan di puncak ya?”
“Ada deh, mau tahu ajah!” sahut kami kompak sambil cengar-cengir.
Setengah empat kami mulai start naik. Sobat, tahu enggak sih, ternyata walau tidak tampil dengan make up atau baju seksi. Kami bertiga berhasil menggaet dua cowok loh. Hebat, tho? Tentu saja, tampang kami yang cute (sok kalau pada mau muntah) meski tanpa riasan telah membuat mereka berdua seperti kerbau yang dicucuk hidungnya.
 Jadi nanti tinggal rayu-rayu sedikit pasti nanti mereka mau bawain carier kita. Huehehee.... Mereka, Alex dan Kisky asal Bogor.
Jalur pertama yang harus kami lalui berupa jalan undak berbatu. Baru beberapa tapak nafas sudah mulai terdengar berat.
“Slow motion aja ya, guys!” desahku hampir kehabisan nafas.
“Iyahh,” sahut Citonk tak kalah lemah yang berjalan di belakangku.
Sesuai dugaanku, Pheenux masih terlihat sangar. Sejak zaman diksar dan melintas Gunung Slamet dulu dia memang terkenal sebagai strong woman. Apa karena bapaknya tentara ya jadi terlatih. Setiap pagi lari-lari keliling komplek asrama sambil menggendong ransel. Bapakku juga tentara, dulu pernah sih bapak mengajak lari-lari pagi, tapi pada saat itu aku tiba-tiba datang bulan, belum pakai pembalut hingga celanaku bersimbah darah. Sejak saat itu Bapak tidak pernah mengajak aku lari-lari lagi. Ada dua kemungkinan mengenai hal itu, pertama trauma aku bikin malu lagi dengan darah haid di pantatku. Kemungkinan kedua, takut disangka menyiksa anak sampai berdarah-darah sedemikian rupa. Efeknya kayak gini nih, gampang letih, loyo, letoy.
Satu jam kemudian kami beristirahat agak lama di pos satu. Sebuah shelter jadi pilihan ternikmat untuk meluruskan kaki. Tentu saja, setelah selama perjalanan tadi waktu istirahat hanya sekedar mengambil nafas.
“Hehe… lumayan!” desisku sebelum meneguk air dari botol air mineral palsu. Cuma casing-nya saja yang bermerk, dalamnya air sumur Citonk.
“Lumayan apa, Sus?” tanggap Pheenux.
“Lumayan ngos-ngosan, apalagi?balasku yang nyaris bareng dengan celoteh Citonk. Kami lalu tertawa.
“Nih, makan snack dulu!” tawar Kisky membuat mata kami langsung berbinar-binar.
“Asyik nih! Yach, bagi dong Pin!” seruku kalah serobot dari Pheenux.
“Tenang, tenang semua kebagian.” kata Citonk sok dewasa meski umurnya di bawah aku dan Pheenux. Tapi melihat mukanya, mupeng tenan!
Ali senyam-senyum melihat ulah kami bertiga berebut makanan. “Kalian lapar apa doyan sih?
Ini asli enak,” sahutku. “Beli di mana nih?”
Di Bogor.” jawab Kisky.
“Pasti mahal. Merknya apa, Cit?” Pheenux penasaran.
“Asterina,” baca Citonk yang memeluk biskuit dengan krim kacang.
“Judul yang bagus, mmm, ntar anakku tak kasih nama Asterina, ah.” kata Citonk.
“Nama merk biskuit dipakai buat nama orang, ada-ada aja.” ucap Kisky tersenyum.
“Eh, bagus lho, pabriknya aja yang aneh, pakai nama sebagus itu.” bela Pheenux. “Tonk, gimana kalo nama anak kita dibuat sama?”
Asterina, berarti bunga aster. Rina artinya cantikocehku asal. “Boleh juga tuh.”
“Yee, ikut-ikutan. Nggak boleh, itu hanya untuk nama anakku tahu! Yang nemu aku, kalian jangan ikut-ikutan.” protes Citonk kumat sifat kekanak-kanakannya.
“Jangan pelit gitu dong!Pheenux tidak mau kalah. Anggap aja sebagai kenang-kenangan dari ke Lawu, makan biskuit kacang pemberian Kisky.”
Sweet memory with biskuit kacang!” komentarku sambil menatap biskuit kacang yang pasrah dalam cengkeraman jariku.
Citonk kelihatan menimbang ideku dan Pheenux.
“Udah, mikirnya sambil jalan aja yuk!” ajak Ali menyudahi perdebatan ala play group kami. Tidak mutu! Lagi pula kalau ternyata anak mereka cowok apa mau dikasih nama Asterina? Ada-ada saja!
Jam menunjukkan pukul lima. Waktunya ngecamp, waktunya ngecamp! Jam tanganku sudah menjerit mengingatkan akan RO yang kami buat dan berdasarkan kesepakatan pakai target waktu. Tapi sejauh kaki melangkah belum menemukan tempat yang tepat untuk mendirikan tenda. Jalur yang kami lewati berupa tanjakan melulu. Banyak batu-batuan pula, nggak nyaman banget buat ngecamp. Dan lagi tidak mungkin muat buat pasang tenda.
Tapi menurut informan__Ali yang agak lupa-lupa ingat, katanya pos dua tidak jauh lagi. Kita sih menurut saja. Meski sudah tidak nafsu jalan.
Satu setengah jam kemudian pos dua masih belum menampakkan batang hidungnya. Mungkin karena langkah kami yang super duper kayak siput, jadinya tidak sampai-sampai.
Aku, Pheenux dan Citonk mendadak mogok jalan ketika menemukan tempat yang agak luas. Kami merengek ke Ali supaya ngecamp saja di tempat tersebut. Alasan pertama lapar, kedua aku dan dua teman UPL-ku sudah kena sindrom ngecamp kalau malam. Dari bayi saat diksar sudah dikondisikan begitu sih.
Ali menurut setelah kami ancam bakal kami perkosa rame-rame. Padahal tempatnya sama sekali tidak asyik, selain agak miring juga banyak batuan yang nongol. (baca kelanjutan kisah kami saat kedatangan tamu tak diundang ya!)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS