RSS
Container Icon

Perjalanan Etape 7



*Lorong-lorong sahabat


Hari ini menurutku, aku terlihat gagah. Sebuah busana kebesaran membalut hampir seluruh tubuh. Baju ala penerbang mungkin juga pakaian kerja bengkel, cover all jadi ciri khas tersendiri bagi penjelajahnya. Helm dan lampu kepala menjadi asesoris yang tidak boleh terlewatkan ditambah sebuah lilin yang tersemat manis di saku lengan.
Berdebar rasanya jantungku menjemput pertemuan dengan primadona nan anggun namun sedingin salju. Sisi gelapnya menawarkan kesunyian abadi, hanya kawan lamanya yang bersedia menunggui dengan sinar mata penuh kehangatan. Jutaan ornamen adalah perhiasan mahal yang kau cipta dengan kasih ribuan tahun lamanya. Tentu, kau menyimpannya dan tak kan rela jika seseorang menjamahmu tanpa santun.
Zona remang romantis ku lewatkan dengan manis. Kelepak gelisah kelelawar mengitar terusik.
“Tenanglah kawan, hadirku hanya tuk memahami ketenangan sobat lamamu. Benarkah sunyi tempat sempurna tuk menimbun gundah? Aku ingin membuang resah dan berbagi kehampaan.”
Lampu senter menyirami aneka batuan unik. Ornamen flowstone menjuntai gemulai. Stalaktit menggantung bak lampu penghias ruang mewah. Pilar pencakar terbalut leleran air seakan mendesak ingin dipeluk. Stalakmit yang menggeliat tumbuh turut mewarnai cipta seni yang tersuguh apik.
Ups! Buaian pernak-pernik istana bawah tanah ini telah menjerembabkan kakiku dalam liatnya lumpur berbatas dengan keriap air. Dingin menelusup lewat pori kain pembalut badan menggigit kulit. Sensasi menakjubkan saat merenangi air tatkala dinding atap merendah memaksa muka berciuman hingga basah. Merayapi liang sempit ditebus dengan chamber selaksa ruang petapa agung.
Lorong-lorong panjang terkadang menyesatkan membuahi kecewa. Berakhir dengan jalan akhir yang mustahil ku terobos, sedang tubuhku kasat mata. Tirai-tirai gordin telah menutup jalan ke depan. Ku kembali menjilati tebaran moonmilk dengan mata kekaguman. Sementara air masih enggan melepaskan aku dari rengkuhannya.
Sebuah guardam telah menanti tuk ku gerayangi. Satu-satunya celah yang mungkin akan memberiku kejutan lain. Sedikit sukar tanpa pijakan nyata, air pun turut menampar muka dengan percikan nakal. Namun bara penasaran berhasil membawa tubuh menuju puncaknya.
Adakah kebosanan telah merambati kalbu, ketika ujung lorong tiada menyambut gemuruh rindu bersua dengan maha cahaya. Tidak. Pencarian harus menemui titik ajal. Aku yakin alur-alur yang ada akan membawa pada kepuasan tiada tara. Walau aku harus rela manakala kepala beradu keras dengan batu tua. Hadiah cap kebiruan dikulit mungkin akan menempel beberapa hari mendatang sebagai kenangan. Aku bangga telah menembus pekat sang jawara malam.
Lorong sempit masih ku ikuti ujungnya. Untuk menelusurinya kaki melaju menyamping. Pantat dan perut tak lepas bergesekkan dengan dinding pengap. Celah kecil yang menganga di depan hidungku tak kusia-siakan. Merayap merupakan santapan terlezat tiap waktu. Ku nikmati hingga hadiah lorong lebar memberi applause atas jerihku.
Telingaku menangkap sesuatu yang bergemuruh. Ku harap bukan derap genderang musibah air bah yang menggoncang. Air menyisakan setinggi mata kaki. Temaram cahaya membantu menuntun mataku memantulkan berkas cahaya. Gemuruh semakin memekakan telinga.
Lalu…….Air mukaku mengutas senyum. Pintu keluar menyorotkan cahaya siang yang menyegarkan. Rona pelangi laksana karpet merah penyambut tamu kebesaran digelar. Riuh gemuruh itu……ah, ternyata curahan air yang menghujam tanah. Sebuah air terjun nyaris menutup pintu keluar ujung lain. Menakjubkan!
Terbayang aku akan dongeng klasik tentang pangeran dan putri. Goa yang tertutup air terjun, tempat pelarian hebat untuk memadu kasih. Akankah putriku telah menunggu hadirku di mulut goa ini?
Sinar yang menerjang retinaku cukup menyilaukan. Aku coba susupkan tubuhku di sela percikan yang merajalela. Bebas, ku hirup wangi dunia permukaan. Terlampau biasa. Tak ada gejolak keterasingan yang dalam. Putri sunyi sungguh pendiam. Meski emas bergelimang menguasai jagad penuh kedamaian. Terimakasih putri, kiranya dirimu sudi berbagi kesenyapan dan meluruhkan dendam.
Kepalaku menengadah, ku cari si empunya cahaya. Ku berseru penuh bangga;
“Wahai surya, Sang Pemancar Cahaya! Aku yakin kau akan senang jika turut serta menjelajahi perut sang bumi. Sayang. Kau terlalu sibuk dengan kehidupan permukaan. Kau pasti tidak sadar, sahabat-sahabat baik di sana tetap diam dan tenang meski kau tak adil membagi cahayamu. Kerajaan gelapnya justru terbangun megah dan cantik tanpa sentuhan hangatmu. Mereka yang di sana membisu. Melindungi dari kekejaman terik yang kau tawarkan jika letihmu telah memuncak di ubun-ubun. Hai, kau yang di atas sana dan bertahta aura membara, sanggupkah kau berkenalan dan bersahabat dengannya?”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perjalanan Etape 6

*Saat Berdekap Denganmu




Aku tak tahu apakah ini sebatas pelarian atas kepenatan dalam menjalani hidup kemarin. Ataukah karena alam yang pendiam menyimpan segudang teka-teki yang sayang untuk dilewatkan, dibongkar hingga auranya telanjang? Yang pasti hari ini kobar adrenalinku akan tersalurkan dengan manis. Bersiap mengarungi detik, putaran waktu dan mengecap setiap mili kokohnya ragamu.
 Aku dongakkan kepala, mengukur jarak untuk target hari ini. Dan aku rasa tepat bagian batu yang menjorok (hang pertama) dengan hiasan rumput liar. Lima puluh meter, semoga, aku harap lebih, mengingat poin yang sukar ditembus.
Aku melirik ke sejumlah peralatan panjat siap pakai. Sebagian besar alat-alat itu termasuk benda berat yang terbuat dari besi. Semua tergantung membentang seperti jemuran lengkap dengan talinya bahkan mirip pajangan barang dagangan.
“Tiga hari!” ucap teman satu timku mengajak toas.
Why not!” balasku tak kalah optimis. Apalagi operasional perdana ini aku didaulat sebagai leader. Si penentu jalur pemanjatan, tentu tanggung jawabku besar. Aku harus memastikan pengaman yang kutancapkan menggigit kuat bibir batu andesit yang keras.
Aku mulai merayap mendekap batuan kokoh yang berjuluk tebing. Kaki, tangan, kelentukan tubuh dan otak berkoordinasi tanpa henti agar tak luncas dan terpental mengikuti laju gravitasi. Tanganku terus meraba sekedar mencari tempat singgah ternyaman jika ingin tetap berdekap dengannya. Kakiku menegang tuk sebuah pijakan penentu guliran nafas. Detak jantung dan nafas seakan berlomba menghantarkan butiran keringat.
Matahari semakin tinggi. Pancarannya benar-benar menyengat sekujur tubuh memaksa kulit yang mulai menjelaga runtuh terkelupas karenanya. Tubuhku masih bergelantungan bersama tali-tali sahabat jiwa. Lelah dan haus silih berganti menemani tanpa bisa ku elak.
Berat terlihat. Tapi tantangan ini sangat menjanjikan kepuasan para penantang kaum pejantan. Hidup seakan meregang nyawa. Seluruh indera bekerja. Satu lelah, asa kan musnah.
Hari ketiga. Hari penghabisan penuh pengharapan. Seorang kawan membimbing lintasan. Ku lihat begitu gesit laju geraknya, semangat yang meracun dirinya jadi pematik rasa penasarannya tuk segera menapak puncak kepuasan yang terjanjikan.
Aku sempatkan meletakkan pantat yang telah rindu ingin mengadu lempeng datar. Meski hanya setengah pantat yang diperbolehkan mendarat, aku sudah cukup tersanjung. Batu yang mejorok dan menyisakan sedikit ruang bagi lelahku sungguh melegakan tarikan nafas yang sebelumnya sesak.
“Hoi…..! Top!” teriak kawan setimku yang me-leader.
Kepala kudongakkan mencari kepastian pendengaran. Benar. Dia sedang berjuang agar kakinya bisa menapak tegak. Tercapailah asa. Sesaat dia meghilang. Kemudian kepalanya tiba-tiba melongok ke bawah seraya menampilkan sunggingan penebar semangat.
Gairah mendesir menyulut organ tubuhku tuk segera bersua. Satu pijakan, dua rengkuhan, dan…
“Ah!” erangku.
“Zan….!” kawan-kawanku meneriaki aku.
Seketika sadarku melayang seiring tubuhku yang serasa terbang. Lepaslah lelah sesaat, berganti desiran ringan membelah udara. Sekejap. Hingga indera perasaku menggores perih wajah yang bersimbah peluh bercampur debu dan sedikit leleran cairan kental berwarna merah darah. Yeah, darah mengalir cukup deras dari sudut pelipis kananku. Tapi otakku masih sangat jernih walau tubuh tergantung tak sempurna.
Aku mengenang sejenak gerangan apa yang telah dengan sukses memerosotkan tubuhku hingga beberapa meter ke bawah. Piuh, pe-erku semakin banyak. Aku teringat betapa bergeloranya diriku ketika sobat satu perjuangan berhasil menggenggam tali kemenangan dengan bangga. Aku jadi terlalu bernafsu ingin segera memeluknya, merasakan degup jantung yang berdentang mengabarkan kejayaan kami sebagai seorang pecinta yang selalu haus kasih Sang Dewi Alam. Lalu azab menelan ambisi serakah. Aku bahkan tak menyadari jika batuan yang  kudekap begitu rapuh, tanganku yang mencengkeramnya semakin melabilkan hingga runtuh bersamaku. Ah, cerobohnya aku!
“Kau tak apa-apa, sobat!” gemuruh suara kawanku menyadarkan keterkejutanku.
“Oke!” sahutku sambil mengacungkan ibu jari.
Ku seka darah yang menyatu keringat di sudut mata. Daya kembali kukumpulkan bersama pijar semangat yang ada. Aku tak hiraukan tusukan menyakitkan dipelipis kanan. Hanya satu yang kupedulikan, titik akhir pemanjatan ini. Walau terus terang ku akui tubuhku sempat melemas tanpa aliran darah, tapi itu tidak akan menyurutkan nyaliku yang kian menggebu.
Sekali lagi aku meniti lintasan yang pernah kurambati. Sejauh ini kesabaranlah batu ujian yang harus aku renangi. Aku pijak dan tancapkan jari-jariku dengan mantap. Satu rengkuhan lagi. Batinku menyemangati. Sobatku pun menyeringai menanti hadirku dengan dengungan pengobar semangat yang tak kalah berwibawa dari batinku. Selanjutnya dia mengulurkan tangannya membantuku memijak puncak yang aku rindukan.
Darah masih mengalir meski pertolongan ala kadarnya menyentuh lukaku. Nafas mulai normal setelah tersengal. Aku duduk menikmati nuansa penyegaran bak semerbak bauan aromatik. Wangi Sang Dewi Alam yang terpujakan. Kuciumi hembusan hawa yang disajikan, hingga pedih yang memakan rasa punah tersapu sang bayu.
Lirih ku dengar senandung jiwa kasmaran. Terbuai aku dalam alirnya. Dia lalu memapah indera lihatku menyaksikan bentangan alam yang maha luas. Memaksa benakku berangan dan menginginkan, hhh… seandainya hati dan jiwaku seluas jagat ini pasti tidak akan pernah ada luka terpendam. Yang ada hanya kejujuran tuk sebuah cinta kasih. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perjalanan Etape 5


Lanjutan *Saat Berlari Bersama Deru Ombakmu


Aku rentangkan kedua tanganku bebas. Wangi laut masih tercium oleh indera pembauku. Menakjubkan! Dari sini seluruh penampakan pantai dengan segala perniknya dapat terlihat nyata bak lukisan naturalis penuh imaji. Aneka burung laut mengangkasa dengan manuver menukik kadang menyentuh ujung laut dan kadang meraba ujung langit. Kapal-kapal mungil tampak mengayuh pelan, semakin jauh bahkan ada yang kemudian menghilang dibalik layar biru yang membentang tanpa batas. Lekukan teluk pembentuk pantai sangat jelas tergambar laksa bulan sabit. Bak bidak catur tanpa jari pengatur, kerumunan orang-orang bergerak bebas berlari, bermain menyisakan sayup dengung gembira digendang telinga.
Pemandangan lain berhasil ditangkap kamera mataku. Sisi kiri dari tanganku mempersembahkan seraut muka dengan sunggingan menawan. Sebuah pantai yang tak kalah menarik menatapku dengan ceria. Walau ia terhampar tak seluas tetangganya yang ramai pengagum, tapi sejatinya dirinya yang berdekap dalam ketenangan terlalu cantik untuk dilupakan.
Identitas unik bersarang hingga memuntahkan decak kagum. Dua karang mendongak menyembah langit dengan kepongahan yang tersirat. Satu karang menghadang hempasan ombak ditepian pantai. Karang lain berdiri menjauhi tepian tenggelam dalam pelukan air membiru. Batinku berseru,
“Tunggulah, kan kujemput engkau diujung pijakan tapakku. Kan kucari celah pembuka deburnya yang menyurut, kupastikan arah pelarianku hanya untuk merengkuhmu.”
 Lebih jauh radar penglihatanku beradu dengan panorama lain. Kulihat gugusan tanah menjorok lebih dari satu mengundang jiwaku tuk segera menyapa keanggunan hakiki. Beribu jajaran bukit menanjung menampilkan gejolak baru. Seperti bukit yang kini ku injak, bukit-bukit serupa gundukan tanah menghijau itu ku tebak membelah teluk, tempat dimana air bisa leluasa bercengkrama dengan butran pasir. Sungguh tergambar jelas nuasa syahdu itu.
Tak terasa siang telah menyenja. Bola merah pembias panas kian malu dan berusaha menundukkan wajahnya  di balik jajaran bukit terakhir dari seribu bukit. Bahkan separuh permukaanmu nyaris tercelup air laut. Sunset pantai! Beruntung aku bisa menyaksikan sebuah gejala alam yang sangat luar biasa bagiku, walau mungkin bagi anak pantai ini bukanlah sesuatu yang spesial. Untukku akan menjadi hal yang menimbulkan kecemburuan.
Debur ombak masih sibuk bermain dengan pantainya seakan tak mengenal istilah waktu. Kulihat burung-burung yang mengangkasa mulai gelisah ingin segera menjenguk sarang harapan. Namun aku dan anganku terlalu enggan berlalu dari ujung gundukan tertinggi, hasratku masih ingin menyelami irama debur ombak yang menyenandungkan kidung gembira anak pantai. Dan biarkan aku tetap di sini sebagai pengagummu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perjalanan Etape 5

*Saat Berlari Bersama Deru Ombakmu


Aku datang dari tempat dingin dan tinggi. Semasa itu telah beribu-ribu gunung aku daki. Setapak namun pasti kuturunkan pijak langkahku hingga mencapai muka dunia terendah. Aroma lain kucium begitu menyengat. Sangat khas, penuh gelora dan gairah yang mendebarkan dada.
Gunungan bukit-bukit kecil tak lebih tinggi dari mata kaki menghampar polos menantang terik bola merah pembakar satu sisi hari selama duabelas jam. Gundukan membukit-bukit pasir itu memberi citra tersendiri sebagai suatu tempat landai yang kaya akan air. Terlalu bertolak belakang dengan keberadaannya yang penyendiri dipuncak-puncak dingin, begitu angkuh meski segudang keindahan tertabiri selimut kabut. Di sini kau seorang peramah bersahabat dengan keriuhan segenap isi suka cita alam. Angin, ombak, riak, pasir, karang bahkan jerit anak manusia adalah pembentuk kisah persahabatan yang hangat. Rangkaian kisah yang bersama-sama akan membuahkan kenangan manis tersendiri.
Sebuah pantai. Di mana anak-anak dapat merasakan belaian kasih sang alam. Lewat pasir yang kau tebar mengalasi ragamu, kau lindungi kulit-kulit muda mereka agar tak terluka. Lewat hembusan nafas angin, kau menepis kejamnya siang yang membara. Lewat debur air mengombak, kau ajak jiwa-jiwa baru tertawa menyelami makna canda yang kau desahkan.
Aku sungguh menikmati suasana yang menghanyutkan ini. Gemerisik bulir lembut menyambut kaki telajangku dengan gelitik manja. Anginpun masih setia menerpa, mengusir hawa panas memberi kesejukan. Dengan angin inilah gelora air terkendali hingga sudi menjilati bibir pantai. Hhh……sebuah alunan canda yang menggemaskan sehingga dapat memaksa tiap insan turut serta dalam perhelatan gelak suka itu.
Aku mulai menyusuri lintasan batas antara darat dan lautan. Sesekali riak air mencolek nakal lewat sela kakiku dengan lincahnya. Hanya sesaat lalu berlari kembali ke induknya. Dia melambai menggulung diri, seakan menggoda aku agar mengejarnya. Aksi kejar-kejaran adalah kegemarannya, tanpa ragu aku melayani setiap titahnya.
Si pantai ini rupanya penyuka lawakan penghadir tawa. Ku lihat nyiur berjari seribu meliuk berdansa dengan sepoi angin selepas bergemuruh mencumbu air.
Langkahku sejenak terhenti, ku dongakkan kepala menebus penasaran mata. Benar. Aku tidak salah mengira. Di depan sebuah bukit telah menghadang pemandangan lepasku. Bukit itu menjorok ke laut membentuk semenanjung hijau dengan gagahnya. Tak takut terkikis derasnya hujaman kumpulan air liar. Serentak jiwa tualangku mendesak kaki tuk meniti rimbun terjalnya garis tepian yang menjadi titik temu garis lengkung lain.
Rumput semak bergoyang tersentuh irama langkah yang terasa sangat berat. Sisi miring nyaris 45 derajad membuat tubuhku mendekap pada lekukan kasar tubuhmu. Merayap menjadi sebuah sensasi yang menegangkan urat saraf. Kesabaranku menuai berkah.  Jalan setapak yang ku idamkan beberapa menit lalu membentang menghantar lajuku ke tempat yang dijanjikan. Puncakan bukit  mengesankan terhampari ilalang lengkap dengan serbuk putihnya melegakan tarikan nafas yang mulai menyambung teratur. (bersambung....)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perjalanan Etape 4


*Cinta Gila

Dua tahun ini hidupku selaksa tersembah untuk Sang Dewi Alam. Tiada hari tanpa mencumbunya dalam asmara berselaput tawa. Ringan, tak terbelenggu beban yang mengancam eksistensiku sebagai aku pedamba kealamian. Bebas bersenandung tanpa nada. Merdeka dari keluhan duniawi yang haus harta.
 Dulu, tak sama kurasa. Aku sungguh menanggung karma. Dirimu yang kusangka liar tanpa hukum, ternyata lebih beradab dari peradaban yang telah lama tenar. Gegapmu menyiratkan kedamaian yang didamba manusia. Riuhmu menyimpan sunyi berhawa hangat melahirkan ketenangan. Bukan sunyi berbuah sepi. Bukan ketenangan ilusi mendekap mati. Itulah yang membuatku hanyut dan menggila dalam pelukmu.
 Aku teringat pada dunia yang dulu mengikatku. Sungguh aku takut keturunanku akan berbangsa kanibal, tega menghisap darah hasil jerih saudara dan bangga membiarkan bangkai-bangkai busuk penindasan berkeliaran tanpa topeng kemaluan. Tidak! Kupastikan jiwaku berkelana dan belajar cinta darinya, Sang Dewi Alam yang bersahaja berselimut kasih nan ceria.
 Untuk yang kesekian kalinya aku mengembara. Mencari dan terus belajar dari keluguan yang menyejukkan relung sanubariku. Tentu. Aku ingin menggali berjuta ilmu, menempa hidup menikmati ragam rasa yang kau tawarkan.  Senang, tawa, sedih dan tangis yang merupakan roda lingkaran belenggu manusia.
 Seorang petualang ‘Walter Bonatti’ bahkan berujar bahwa engkau adalah guru sekaligus pemberi petuah terbaik bagi manusia. Dalam gemulai pesonamu menyimpan hukum-hukum yang menjadi pelajaran bermanfaat bagi seluruh mahluk bernyawa. Yeah, aku yakin itu. Aku hanya butuh bukti akurat agar aku bisa mendongeng pada dunia. Yeah, inilah Sang Dewi Alam yang mengobsesi nafas dan detak jantungku hingga aku meggila ingin selalu bersimpuh dipangkuanmu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perjalanan Etape 3 (lanjutan Ketika Benih Cinta Mulai Tumbuh)

*Ketika Benih Cinta Mulai Tumbuh



Memang masih terlalu dini bagiku tuk mengenalmu, jiwa penasaranku ingin segera melumat setiap sisi penampakan alam yang kau sembunyikan dibalik rimbun dedaunan liar. Ingin kucari lahan kosong dihatimu agar bisa kutanam benih cinta yang telah mulai berkecambah. Aku harap benih itu akan tumbuh besar dan penuh cinta hingga kelak akan mengabadikan kisah-kisah yang pernah terlukis diantara kita.

Penyusuranku atas gerangan dirimu masih berlangsung. Buliran debu berganti menyambutku, menyerbu ke sekujur tubuh. Secercik bagiannya bahkan sempat singgah dimataku terasa perih memerah. Kemudian titik temu yang kau janjikan diatas tanah tinggi yang dingin mengulurkan tangannya, menyeret langkahku menuju dekap hangat nafasmu.

Tak jemu aku menasbihkan puji-pujian doa, berbisik betapa agung Sang Pecipta menguntai auramu. Kagumku sontak menghindar, senandung angin pilu menyiarkan luka terpendam dalam jiwanya yang tenang. Dia bertutur jika wajahnya tak sepucat kini. Ada rona mewarnai senyum abadinya. Sayang keabadian itu telah punah oleh jiwa-jiwa rakus yang mencuri mahkota kebesarannya. Kosong. Padang impian yang bermandikan edelweis telah tercabut oleh tangan. Sepi, meranggas dan meradang.

Aku terpaku kelu, seiring sudut mata yang mengaca. ’’Wahai cintaku, aku datang bukan hendak menjarahmu. Aku datang atas restu undanganmu. Apa yang bisa kubuat tuk menyucikan kegelisahan kalbumu yang beralas perih nestapa?”

Sunyi. Semakin dingin pula kurasa. Dan kau masih menampakkan geliat nan anggun, meski tawamu mugkin tak serenyah dulu.

Sebuah seruan menghentak, memaksa langkahku meninggalkan asa yang sempat kau titiskan padaku. Dan keluguanku tak mampu menerjemahkan sinyal harapan atas kemalanganmu. Aku hanya menikmati nelangsa sesaat. Tak juga paham inginnya.

Hanya getar aneh berbisik meyakinkan bahwa benih cinta yang pernah kuminta pada suatu lahan telah tertanam siap tumbuh dan mekar. Meski sejatinya aku tak mengerti bagaimana aku harus mencintanya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perjalanan Etape 3

*Ketika Benih Cinta Mulai Tumbuh


Sebuah kesempatan gemilang bertandang memberiku kartu undangan. Sangat menarik. Sebuah kencan indah yang telah lama kunanti. Kiranya dia menginginkan hadirku tuk sekedar bercumbu sesaat. Seiring rinduku, aku bersorak melonjak girang.

Entahlah. Gejolak yang menggebu menggerogoti kalbu. Ada perasaan percaya berhimpitan dengan ketidakyakinan. Benarkah aku ingin menjenguknya? Atau sekedar pelarian dari kepenatan aktivitas harian yang menjemukan.

Bentang permadani hijau berhasil menyedot perhatianku, melupakan ketidaknyamanan logika. Ingin sekali segera berlari, menari, bergulingan. Belum lagi buaian awan putih yang mendorong hasrat kecilku tuk bermain, meloncat dengan riang. Satu lagi, aroma khas tubuhnya menghirup otak menerbangkan angan bagai terbius obat-obat terlarang. Yang jelas ini bukan madat sungguhan. Ini akan sangat menyegarkan, menguatkan dan menyehatkan. Tubuhmu akan berkeringat hingga metabolisme tubuh bekerja normal menghantar pada semangat untuk hidup dan berupaya mengantongi hidup agar lebih bermakna. Aku harap semua percaya pada obrolanku ini. Walau aku mungkin seorang pembual, tapi bualanku jika dicerna akan memberimu petuah yang berguna.

Layar kehidupan telah berganti menjadi layar kematian, dan berganti lagi ke layar hidup baru. Pagi ini aku jauh lebih siap dari sebelumnya. Kematangan pola pikirku yang telah dicekoki berbagai pengetahuan tentang menyiasati dirinya, si molek alam dan cara memperlakukannya. Percaya diri lebih mewakili ungkapan berani. Setidaknya aku tak perlu bingung lagi jika tiba-tiba dia marah dan mencampakkan aku.

 Sisi lain dirimu kau saji begitu menawan. Lebih terang bahkan sang penguasa siang tak perlu malu-malu mengintip lewat celah dahan yang rimbun. Cukup vulgar hingga kulitku terasa terbakar. Bukan masalah besar. Asal aku bisa menatapnya lagi, luka itu akan menghilang dengan sendirinya. Hati pun akan terpuaskan, walau mungkin kehadiranku sebagai tamu undangan tiada sangat istimewa. Aku bisa menerima dengan bangga dan senang.

Buah dari hasil pertemuan pertama meyakinkan aku bahwa keberadaan dirimu sangat memberi arti bagi hidupku. Dulu hidupku monoton berkutat dengan benang-benang dunia yang kusut. Kini benang sutera lembut mulai kurajut demi lembaran kisah baru yang akan kubentang dipuncak kebebasan. (bersambung…..)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perjalanan Etape 2

(lanjutan *perjodohan)

Sebuah suara mengaburkan segala kenyamanan yang kurasakan saat aku mencoba merebahkan tubuh lelahku.
 “Mari kita lanjutkan langkah kita!” serunya.
 Aku duduk tersenyum. Gerak selanjutnya kembali aku merayap bersama jiwa-jiwa yang mendamba keagungan singgasana.
 Tak terasa tabir terang berganti corak menjadi hitam malam. Aku duduk mengitari api penebar hangat bersama jiwa-jiwa pencari cinta. Banyak cerita, kelakar dan canda. Semua itu membuat hatiku menghangat dan terhibur. Kisah-kisah dan kelucuan yang dilepaskan perlahan menjadi dongeng-dongeng indah dalam mimpi semalam.
 Pagi cerah menyambut geliat mata yang terbuka. Senyum ceria jiwa-jiwa lain yang menyertaiku menambah suasana gemilang. Entah dengan raut mukaku. Bersukakah? Ujian berat untuk mendapat tiket masuk singgasana baru akan dimulai. Tak ada gairah dalam diriku. Aku hanya mengandalkan keinginan diri tuk tetap hidup. Tentu saja! Aku tak mau mati konyol. Ini akan menjadi tongkat sakti yang bakal menuntun  pijak kakiku hingga ku bersanding dengannya nanti.
 Sedikit lagi, pompa semangatku. Jangan mati sia-sia di sini. Tak seorang akan menemanimu kelak. Hanya dingin, gemuruh angin dan tiupan petir yang akan menjilati jiwa kesepianmu. Mantapkan! Bersemangatlah!
 Teriakan kemenangan berkumandang. Ini…..ini adalah puncak singgasana tempatku akan bersanding kelak. Mataku nanar memandang ke sekeliling. Decak kagum tanpa kusadari memuji keindahan istana di atas awan. Dari sini aku merasa bisa melihat dunia seluruhnya. Aku sungguh kecil, sangat kecil. Teringat aku lagu tentang negeri di atas awan milik Katon Bagaskara. Dia benar. Kedamaian adalah jiwanya. Ingin sekali bisa menyatu dalam keheningan alam yang menggambarkan segala kehidupan anak manusia. Dia adalah saksi bisu yang setia menemani polah laku yang kadang sering melukai kesabaran hatinya.
 Kemudian, aku terkesiap. Sebuah wajah lugu nan menawan mendesirkan hati. Piasnya tersembul dari balik gugusan awan. Senyum itu. Jantungku berdetak cepat. Mengagumkan! Mahkota dari jamrud berkilauan menerpa jubah kebesaran bertahtakan mutiara bening yang singgah di pagi buta. Wawasannya luas, mengisahkan dongeng pembentukan aura cantik yang kini memancar.
 Ini adalah maha karya agung yang teramat sempurna. Beberapa kali ku bisikkan nama Sang Pencipta yang telah menghadiahkan keindahan ini. Terimakasih.
 “Ayo, kita segera turun! Sebelum dingin mengarcakan tubuh kita.” seru jiwa yang menyertaiku.
 Tanpa banyak kata aku mengikuti langkah-langkah berarak turun menyusuri jalan setapak menjauh dari singgasana tempat ku bertemu dengan seorang yang dijodohkan untukku. Ada getar aneh menelusup ke nurani. Hatiku perlahan berkata. “Akan kupertimbangkan perjodohan ini.”
 Aku tersenyum puas. Letih yang melibas anggota badanku meluruh bersama tatapan pesona nan anggun itu. Lepas….. Batinku bahkan berucap, “Tunggulah, hadirku akan kembali memeluk dingin yang kau cipta hingga hangat kan kau rasa. Ku pastikan aroma indah yang kau tawarkan akan selalu ku ingat dalam hati yang merindu.”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perjalanan Etape 2

* Perjodohan

Ketika embrio berkembang dan terlahir menjadi seorang bayi yang mungil, sebuah taqdir terlukis bahwa dia, bayi mungil itu yang juga aku adalah salah satu dari anak alam. Meski tidak langsung lahir dari perutnya, tapi aku tetap dianggap anak baginya. Aku digembleng oleh siang dan malam yang telanjang. Saat kedewasaan mendekat, aku harus siap menerima perjodohan yang telah disematkan.

Hari ini hatiku resah. Otot-otot tubuh ikut menegang. Seiring otak yang mengutuk tajam kelemahan argumenku tuk mengatakan, Tidak! Mereka tersenyum menyambut kebisuan yang kutampilkan. Tunggu! Ini pasti salah paham! Aku diam bukan berarti aku bersedia, justru kebimbangan yang mengisi penuh benak dengan ribuan pertimbangan.

Terlambat. Ketukan palu telah memutuskan aku harus setuju menerima tantangan perjodohan ini. Meski ketika teringat bagaimana dia menghajarku, mencaciku dan menertawakan diriku ingin rasanya menyudahi permainan bertaruhkan nyawa ini. Terlambat, sekali lagi terlambat. Aku semakin terjerambab jauh dalam arena perputaran nasib yang mengarahkan laju langkahku pada tangga tak beranak. Aku telanjur berucap akan bersedia mengenalnya. Mereka mengartikannya secara berlebihan. Aku harus menikah dengannya?

Baiklah. Demi harga diri agar tidak dijuluki si pecundang, aku rela menyerahkan diriku sebagai bentuk pengabdian. Toh, aku tidak sendiri. Aku yakin akan ada yang mendongkrak semangatku nanti.

Dengan enggan aku mengikuti arak-arakan dalam baris satu-satu yang rapi. Sebuah gerbang megah menjadi batas antara kerajaan alami dengan peradaban kontaminasi. Hawa dingin menerpa lembut dengan tusukan maut menghujam tulang. Nafas mulai kering, berhembus satu persatu. Sementara beban dipundak menekan seakan ingin menancapkan langkahku pada tatanan tanah basah.

Aku sadar, aku hanyalah seorang muda yang lemah. Aku hanya anak manja dari peradaban modern yang tak mengerti dunia alam atau kerajaan liar itu. Jiwaku mencintai dunia kerlip dengan desingan suara gaduh, aku sama sekali tak suka seni petualangan yang dicintai para maniak alam. Tapi…., kenapa dia memilih aku tuk jadi teman hidupnya. Bukankah banyak pejantan tangguh yang lebih kenal dirinya dan mencintainya? Bahkan mereka rela jika harus menjadi budak-budak yang bersedia tunduk pada titah sang alam. Tidak dengan aku.

Aku kira dengan mencoba sisi lain sebuah dunia akan membuatku bahagia. Kenyataannya aku hanya semakin terjebak. Perangkap yang dipasang olehnya sangat erat memasung raga dan sukmaku. Mustahil lepas! Jika kupaksa aku hanya akan menyakiti nyawa lain yang masih ingin menghirup madu kebebasan. Seteguk madu manis yang bagi mereka sangat menggairahkan. Tidak dengan yang kurasakan.

Siang ini hawa dingin yang menyelimuti dinginnya tubuh, sedikit banyak berhasil ditepis oleh pancaran panas surya yang dengan lincah menerobos celah diantara rimbunnya pepohonan. Selama aku melangkah dia tetap setia menyorotkan berkas hangatnya, hingga keringat mengucur deras membasahi balutan tubuhku. Masih jauhkah singgasananya? Hanya itu yang selalu kuucapkan dalam hati tuk mengusir lelah dan bosan.

Aku teguk setetes air tuk menghilangkan dahaga. Undakan yang akan membawaku ke singgasana pelaminan diwarnai dengan berbagai rintangan yang menyusahkan dan melelahkan. Aku mendongak ke sisi kananku jauh di atas. Samar terlihat singgasana yang berhias rangkaian awan putih. Begitu agung. Tidak jauh lagi. Hibur nuraniku. (bersambung….)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Teruntuk Tuhan...

Teruntuk Tuhan…



Terimakasih Tuhan….

Terimakasih karena hingga detik ini Engkau masih meberiku nafas agar k uterus bertasbih

Terimakasih karena memberiku waktu tuk memperbaiki sebentuk iman yang masih koyak

Terimakasih atas kesempatan mencari bekal demi menghadap-Mu kelak



Terimakasih Tuhan….

Terimakasih karena tiada bosan mendengar keluh kesah dan sumpah serapahku pada-Mu

Terimakasih karena selalu mengabulkan setiap untaian permintaan yang kuhaturkan



Terimakasih Tuhan….

Terimakasih karena selalu membimbing pijak-pijak kaki nakalku

Terimakasih karena selalu mengingatkan atas khilaf sengaja dan khilaf diluar pengertianku



Terimakasih Tuhan….

Telah memberiku hidup indah bersama kekasih yang Engkau tunjukkan untukku.



Jika telah sebegitu besar kemurahan hati-Mu, dihari dimana aku mulai ada ini masih pantaskah aku mengemis karunia yang masih Engkau simpan?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perjalanan


*Pertemuan

Ayam jantan sudah berkokok dengan gagahnya, dan aku masih terkapar enggan membuka mata. Bagai dikalungi berjuta tembaga mata ini terasa sukar tuk melihat gegap nuansa pagi yang baru saja lahir. Lelah masih setia menggelayut ditubuh. Nyeri, ngilu dan perih bahu-membahu menempa tubuh yang terbujur kaku, memprovokasi otak agar tak mengkoordinir otot melakukan satu gerak apa pun. Cukup begini, diam dan menikmati sejumlah kenangan.

Kemarin. Masih jelas terbayang saat jiwa dan ragaku dibelenggu oleh sistem yang tak aku paham. Luar biasa. Dia menyambutku dengan angkuh. Lecutan caci menjadi kata manis yang dia saji tuk menggerakkan tubuh melalui remote kontrol. Desauan angin yang dulu kurasa semilir menyegarkan berubah menggores balutan kulit sensitifku. Aku yang masih perawan. Hingga darah segar menetes diantara keringat yang meleleh terpanggang oleh sang siang.

Pertemuan pertama ini menerbitkan prasangka betapa kejam dirinya. Bahkan aku bernadzar tak sudi menemuinya kelak kecuali dia bersedia menyembulkan sedikit senyum manisnya padaku. Aku yakin, setiap senyuman yang tersungging menampilkan kesejatian sisi manis yang tersimpan dalam muka seram. Dengan itu mungkin jiwaku akan melunak dan mencoba tuk kembali mengenalmu.

Kemarin. Masih teringat bagaimana dirimu menjamuku dengan bongkahan-bongkahan amarah yang menggelindingkan raga. Aneh, dimana salahku? Setiap pijak langkahku kau hadang dengan kebengisan tapakan yang terjal. Kadang curam menanjak, kadang curam menurun, kadang lintasan bara kau pasang, bahkan kau juga menyisakan segaris jalan untuk satu kaki, bukan sepasang kaki. Beberapa kali aku nyaris jatuh, sekali aku terjatuh. Saat kuseka dayaku yang mulai meluruh kau justru tertawa. Tawamu terus menggema mengisi gendang telinga, terbahak di balik kebisuan ragamu.

Jika tidak salah sudah separuh jalan aku hidup bersamamu. Terawali dari naungan pucuk-pucuk hijau lebat yang menyesatkan dan bersanding dengan onak duri yang selalu siaga merajam tubuhku. Selesai menciumi diriku dengan hawa dingin yang menggigil, aku dituntun dalam gelap menelanjangi pesona auramu tanpa helaian busana hijau. Aku terkesiap. Indah, sunyi menelungkupi damai alami. Tak lama aku menikmati kesejukan yang menarikan bulu kuduk, selanjutnya aku dipanggang dalam terik surya membara. Panas, kulitku serasa mengelupas. Aku bergantung pada tali-tali erat, jika kupaksa lepas, lolos pula nyawa yang selama ini kudekap. Merayap dan terus merayap pada dinding batu tegak pencakar bumi.

Hari-hari bergulir. Begitu lambat namun pasti datang dengan membawa kejutan yang menantang urat syaraf. Firasatku berucap, ini akan segera berakhir. Penindasan yang sukar kutolak, kurasa akan menemui ajalnya. Atau justru ajalku? Oh, tidak. Dia sungguh ingin membunuhku terlebih dahulu sebelum dia mengakhiri dirinya. Sebuah hamparan penghisap tubuh menantiku dengan bangga. Rimbunan belukar menatap seakan merasakan haus yang berkepanjangan. Dia ingin tubuhku berkubang menyatu dengannya. Tidak! Dan terlambat. Alunan teriakan membahana menyeretku hingga terjerembab masuk semakin dalam.

Di antara keputus-asaan kutemukan butir semangat pemberontakan. Aku harus keluar dari kubangan ini! Seketika itu pula perih yang menggelitiki kakiku lenyap. Aku bangkit dan melawan. Satu hari aku berjuang mempertahankan ragaku dari hisapan lumpur maut. Nafasku tersengal, aku telah berada kembali diujung bibir kehidupan.

Senja semakin mendekat ke malam. Derap langkah lelah tertatih bersemangat mencari satu titik cahaya yang paling terang. Sayup kudengar bisikan memberi tanda bahwa sejengkal lagi hidup baru akan terjelang. Yah, cahaya itu penunjuk jalan menuju titik terbit cahaya terterang.

Gemerisik pasir yang bermain disela kaki tak kuhiraukan. Aku berjalan hanya dipandu semburat merah dilangit yang menampilkan bola pemberi nyawa siang. Samar kulihat pula sebuah bendera panji kemenangan yang harus kupegang dan kibarkan. Tentu saja, aku harus meraihnya, mengangkatnya dan meneriakkan kemenangan yang telah kureguk dengan taruhan nyawa.

Pagi ini hari begitu cerah. Terbukti dari kilatan sinar yang sukses meneropong mataku hingga mau membuka. Mimpi burukku telah berakhir. Dan hari ini tak disangka aku memperoleh kecupan lembut lengkap dengan senyum manis membasuh dendam yang kemarin bersemayam. Dia yang angkuh dan bengis namun mengasuhku dengan kasih yang hadir dipagi ini. Menjengukku, menebar senyum dan meluruhkan egoku.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

My True Love

Teruntuk Suamiku


Duhai suamiku,

aku memilihmu karena halus perangaimu

aku memilihmu karena gigih dan tekun upayamu tuk mencuri hatiku

aku memilihmu karena sinar sabar terpancar dari matamu


Duhai suamiku,

jika kau menganggapku mawar berduri ditepian jurang. Maka kau hujan yang menyiram bumi usai kemarau panjang

jika kau menganggapku mutiara hitam yang langka. Maka kau kristal indah yang harus kujaga dari goresan dan jatuh membuyar


Duhai suamiku,

kau simpan hatiku dalam pualam yang meneduhkan, dan akan ku simpan hatimu dalam bingkai lempeng berlian

kau menyanjungku bagai ratu, aku akan menobatkanmu sebagai ksatria cinta untukku


Wahai kekasihku,

meski aku menikahimu tanpa debar cinta yang kata orang begitu mendebarkan. Aku tahu pasti ada benang halus yang telah mengikat kita sebelum kita bertemu sebelumnya.

Aromamu, pancaran auramu tidaklah asing bagiku.

Seperti telah ada garis maya yang membuat kita saling terpana diawal jumpa.

Tapi itu bukan cinta. Semacam asa perahu yang telah lama mengarungi samudera kemudian menemukan pulau kosong rindu sentuhan.


Wahai kekasihku,

jika dalam hatimu masih bertanya-tanya adakah cinta itu dalam hatiku. Cinta itu ada, kekasihku. Cinta itu kini tengah mekar, sejak kuncup malam pertama. Cinta itu berubah menjadi edelweiss putih nun disana.

tak akan terjangkau siapa pun kecuali engkau yang telah berhasil membuat peta jalan untuknya.

Cinta itu tak akan layu oleh waktu sampai seribu tahun kemudian, bahkan hingga keabadian menjemput.


Wahai kekasihku,

jika kau selalu bertanya rindukah aku padamu yang jauh dimata. Aku tak pernah rindu, kekasih. Karena hatimu selalu menemaniku. Karena suaramu terus mengiang dalam ruang dengarku. Karena aroma tubuhmu selalu mengitari langkah-langkahku. Karena wajahmu tak pernah enyah dari mata dan otakku.

Walau sering aku ingin bertemu untuk mendengar cerita-cerita hidupmu. Sering aku ingin bertemu untuk memelukmu nyata dalam dadaku. Sering aku ingin bertemu agar ada yang menjaga keseluruhan hidupku dari serangan dunia. Dan sering aku ingin bertemu hanya untuk bermanja denganmu.

Tapi kekasihku, ada catatan kisah yang harus kita selesaikan sampai ada kata penutup yang indah.


Wahai kekasihku,

aku tahu kau juga merindu ceracau mulut mungil dari rahimku. aku mengerti usia kita tak lagi seperti lima atau sepuluh tahun lalu. aku paham ada sesuatu yang kurang dari cinta yang terbina.

Tapi kekasihku, ada goresan tinta yang berkata semua akan hadir pada saatnya. Ia akan menjadi buah yang lebih manis dari segala buah yang ada.


Oh gerangan belahan jiwaku,

Asaku membumbung bahwa kau akan menjadi yang pertama sekaligus yang terakhir dalam sejarah hidupku. Asaku mengangkasa bahwa kau akan tetap menjagaku sebagai ratu sepanjang jiwa dan ragamu merayapi bumi.


Oh gerangan belahan jiwaku,

tetaplah mencintaku tanpa pamrih

tetaplah menjadi pangeran seperti dalam dongeng yang senantiasa mengajakku berdansa dalam suka dan duka.



Happy b’day Luv…..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

a Piece Story of Love


Pertama kali aku melihatnya, jantungku berdecak indah nian bunga itu. Merah merekah senada dengan busana hatiku.

Kupikir kami bisa sepakat tentang hidup karena warna kami sama. Berhari-hari ku memujanya, menunggu saat tepat untuk memetiknya. Menyiapkan wadah terindah bagi kehadiran sang pesona.

Matahari telah mengemas ketika aku mengayun nada demi menyunting indahnya. Dia diam dalam tatap angkuh. Aku berlagu dalam tawa, dia mencibir.

Dalam degup yang membara ku beranikan tanganku terulur tuk menyentuhnya. Ouch.....
Warna merah semakin membuatku merah. Ada perih menggelayut.


Ah kawan, aku lupa sesuatu.
Mawar itu sungguh berduri. Bodohnya aku tak menyadari hingga aku tertusuk hingga ke dada.
Akhirnya yang kudapat hanya titik embun menyudut dikelopak mata.

Inilah nada-nada cinta yang kuuntai untuk memetiknya kawan,
dengarlah.....


Dear Mr Rose

Tahukah kau?
Sejak itu aku menjadi gila,
sungguh tergila-gila pada pancaran gerak lakumu
melupakan realita penantian lalu yang bersisa sia-sia

Entahlah,
Otakku mendadak buntu, meski aku mungkin cukup ahli dalam hal menggombal lewat tulisan
Kali ini aku terperangkap dalam lubang hitam kata, tanpa dasar hingga aku tak bisa keluar tuk berucap sebagaimana rasaku sesungguhnya
Terjebak dalam tuntunan nafsu
Gelisah dengan detik mengangan tentang dirimu

Kebimbangan menonjok telak ke jiwa. Membuat aku limbung memilih antara kebohongan atau kenyataan
Meski hati tak pernah bisa menipu hasrat setiap kehadiran selintas bayangmu
Ingin kembali menatapmu tanpa perlu kau berpaling padaku
Tanpa perlu menyentuh palung hatimu yang bukan untukku
teguhlah pada cintamu

Aku begitu takut mengakui bahwa ada getaran aneh yang menggerogoti status quoku
Aku terlalu naïf dengan menganggap percakapan sekejap dulu bukanlah mula atau bukanlah apa-apa
Ternyata aku salah
Itu awal bagi kebangkitan rohku yang suri
Menerbitkan harapan bahwa esok engkaulah sang pemberi hadiah pernikahan yang indah

Andai kau tak mengerti…..
demikianlah aku
Seorang pemimpi dengan obsesi setinggi Everest yang kelak ingin kudaki
Mustahil!
karena aku tetaplah aku
Si pecundang sok ksatria, pandai berpura-pura tegar sekokoh karang lautan
Tahukah kau?
Karang adalah sosok rapuh yang munafik
Kasat mata begitu perkasa dengan isi keropos berdiam dirongrong air laut kejam
Seorang yang mendadak jadi pengagummu
Seorang bodoh yang tiba-tiba menghamba cinta

Sangat aneh,
karena sekali lagi aku pun tak mengerti arti kegilaan ini
Tak seharusnya aku mendina-hina
menanti uluran tangan nisbimu, laksana si buruk rupa yang bermimpi bersanding dengan si rupawan

Tak seharusnya pula aku merangkai untai konsonan ke vokal dengan terbuka, sedemikian vulgar
Menumbalkan mutiara suci yang terpuja pembawa keanggunan
Menjeratkan diri dalam himpunan cerca kodrati manusia
Menjilati kehormatan kaum hawa

Tolong abaikan saja semua dramatisasi ini
Kecamlah aku!
Kutuki saja aku
tapi jangan kau ludahi ketidakberdayaanku tuk memilih cinta
Anggaplah aku serupa duri yang harus dibuang demi keindahan tanpa melukai siapapun
Anggaplah aku sebagai penggemar gilamu atas hasrat terlarang yang telah mencengkeram asaku
cukuplah dimengerti menjadi rahasia
Hanya kau dan aku
saja.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

My Life


Terdampar

Selama aku mengarungi samudera hidupku entah berapa kali aku terdampar dalam pulau asing yang jauh dari pulau impianku.

Tahukah kau kawan,
bahwa pulau impian pertamaku adalah pulau dimana orang akan merasa haus dengan ilmu berlayarku. Aku akan bicara dengan bahasa asing yang akan membuat mereka terpana, bertanya dan menjadi paham akan bahasa yang ku gunakan untuk berbicara.

Sayang, angin kecil tanpa ku sadar telah meniup perahuku menuju pulau yang membuatku bingung untuk melangkah. Apa yang akan kudapat dari pulau yang isinya hanya tentang cara memerintah. Mereka sangat lihai bersilat lidah menghujat yang mereka anggap salah tanpa melihat sudah benarkah mereka dalam bertindak selama ini.
Tak salah kiranya jika pada akhirnya kelak mereka pun akan dihujat balik oleh anak cucu mereka saat telah merasa menjadi wakil rakyat yang benar. Ini tidak akan pernah berakhir, karena yang mereka pelajari hanya demokrasi asal bunyi. Tidak pakai hati, tidak pakai otak.
Mereka berdalih anarkhi bisa mengubah tatanan yang ada. Benar sekali, karena mereka berhasil menghancurkan bentuk fisik dari tatanan itu. Hanya rumah atau gedung saja yang rusak, kawan. Isi mereka tetap sama. Busuk!
Meski aku muak, seluruh sudut pulau itu aku jelajahi sampai tak terasa aku telah menjadi warganya. Sebentuk kertas melabeli nama belakangku menjadi almamater pulau itu.

Tahukah kau kawan,
setelah menyisir pulau yang katanya telah banyak melahirkan ahli negara, aku kembali berlayar berusaha mencari pulau impian yang hakiki.
Sebentuk fatamorgana menyeretku mendekat pada sebuah pulau yang menyerupai pulau impian. Ah, ternyata tak salah. Aku sedang tidak berilusi. Benar ini pulau impian. Tapi kawan, ada selubung tipis yang membuatku tak bisa masuk ke dalamnya.
Aku hanya menjadi penonton tak setia. Aku hilir mudik tak acuh dengan sesuatu yang dulu adalah mimpiku.
Aku hanya pelayan, kawan. Aku melayani mereka yang telah menjadi cita-citaku. Tak ada iri dengki. Tak ada cemburu dengan pencapaian mereka. Tak senang pula aku berdiam di zona antara ini. Yah, aku sadar, ini menyerupai pulau impianku. Tapi sesungguhnya pulau impian yang kucari merupakan jembatan penghubung menuju samudera dengan pulau impian hakiki.
Aku masih dalam kubah yang nyaman. Setidaknya, aku sedang bersiap untuk berlayar kembali mencari pulau impian hakiki yang sampai kini belum juga terlihat dalam peta samuderaku.

Tahukah kau kawan,
saat aku sedang mengitari pulau tinggalku sekarang, sebuah badai mendamparkanku ke pulau yang pernah ku lihat dari bibir pantai. Anak pulau yang timbul tenggelam. Suatu masa pernah terlihat, namun tenggelam kembali kemudian.
Kini aku berdiri diatasnya. Pulau terjal yang penuh persaingan untuk hidup. Dan aku harus tinggal berebut udara agar bisa bertahan bernafas.
Perahuku koyak kawan, aku butuh kayu untuk menambal atau bahkan membuat perahu baru. Untuk itu aku harus rela berpeluh keringat, air mata bahkan darah jika perlu demi mendapat sebatang kayu kokoh bagi perahuku.

Entah kawan, aku merasa nyaman dalam arena pacu pulau ini. Ada hal yang membuatku bersemangat terus maju dan maju.

Dan kawan,
sepanjang hari aku sibuk berkejaran dengan waktu. Aku nyaris lupa dengan pulau impian hakiki yang masih menjadi misteri akankah kutemui. Perahuku pun belum tersentuh perbaikan sama sekali. Aku malah asyik tawar menawar dengan hari, gerangan kayu apakah yang cocok untuk mengarungi samudera dimana kemungkinan pulau impian hakiki berada.
kadang nyaris menyerah kawan,
tapi pertunjukan tidak boleh berhenti, kan? Atau kalian akan menyesal!

Dan tahukah kau kawan,
sebentuk kata-kata panjang ini kuharap bisa membawaku kembali berlayar menempuh kiloan samudera yang setiap saat bisa saja mendamparkanku kembali pada pulau asing yang tak ku ingin.

Dan kawan,
Sesungguhnya dibalik setiap terdamparnya perahuku, ada kuasa Agung yang telah menulisnya dalam angin. Aku selalu kalah dengannya. Aku yang lulusan pulau birokrat latah menghujat-Nya sebagai biang langkah tertatihku. Aku marah, aku nyaris berbuat anarkhi.
Tapi kawan, tanpa ku sadar tulisan angin yang membentuk badai itu ternyata perlahan menguatkan perahuku.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS