RSS
Container Icon

The Three Mbakentir's ke Gunung Salak (katanya 5)

Elang, Terdampar!


Hari itu kami hanya sampai di warung I dekat dengan pertigaan yang masuk ke jalur Salak (katanya). Ternyata tempat itu masih kawasan buat kemping (bumper). Buktinya banyak sekali anak-anak yang juga mendirikan tenda. Yang jelas, malam ini kami benar-benar menikmati acara kemping. Apalagi ada peralatan pendukung berupa gitar. Wah, cocok banget! Satu lagi, tenda yang Ujang cs bawa tenda segitiga. Tenda pramuka, Bleh! Persami bang-get! Pas malam minggu lagi. Weleh, weleh....
“Pin, yang kamu suka apaan sih?” tanya Ujang saat kami sedang menggelar acara makan-makan di luar tenda.
“Yang aku suka?” Pheenux pura-pura mikir.
“Barang atau sesuatu apa, kek?”
“Aku suka gunung! Apa tanya-tanya, kamu mau kasih aku gunung?”
Ujang bengong sesaat. “Okelah, akan aku persembahkan semua gunung yang ada di bumi untukmu?”
“Caranya?” balas Kentang sambil garuk-garuk kepala.
“Nanti kita pikirkan bersama ya.” jawab Ujang merangkul Kentang.
“Gombal keterlaluan,” komentar Noly.
“Betul, Nol!” Pheenux mengacungkan ibu jari. “Nggak mutu.”
Sementara itu aku dan Citonk cengar-cengir diseling tepuk tangan melihat mereka yang sudah adu mulut hebat. Ali dan Teh Mei terlibat percakapan romantis. Dede tetap sibuk mengenjreng gitar mengiringi debat Pheenux-Ujang.
Tonk, anak Mapala UI tadi cakep ya?” akhirnya aku buka lapak percakapan sendiri dengan Citonk.
“Si Jay?” tanggap Citonk tersenyum. “Biasa aja,”
“Ganteng gitu kamu bilang biasa?” tanggapku sedikit lega. Berarti tidak ada saingan, hehe... “Sayang, tadi tidak minta nomor telepon, ya.”
“Haa.... Suxie jatuh cinta? Keajaiban dunia ke sepuluh!” tunjuk Citonk tertawa-tawa girang.
Memang kenapa?
“Ada apaan?” Kentang menyelidik ke arah kami.
“Iya, nggak apa-apa.” Citonk masih tertawa.
Suxie jatuh cinta sama anak Mapala UI. terang Dede yang ternyata diam-diam menyimak pembicaraan aku dengan Citonk.
“Kalau Jay, aku setuju! Uh, cool banget! Mapala banget gitu loh!” Pheenux tiba-tiba ikut nimbrung setelah beberapa menit lalu sibuk dengan Ujang. Sekarang Ujang yang gigit jari dicuekin Pheenux yang sudah ngobrol seru tentang cowok yang baru saja kami temui tadi siang.
“Wah, nemu saingan nih.” cetusku. “Menurut Teh Mei?” tanyaku mencari opini untuk mencari rival yang lain.
“Lumayan! Tapi buat kamu saja,” ucap Mei terlihat begitu dewasa.
Memang di antara kami bersembilan yang paling tenang dan dewasa cuma Mei. Kentang yang ternyata lebih tua dari kami semua sikapnya pun tak kalah heboh seperti kanak-kanak.
Tenang, ambil buat kamu saja!” ucap Pheenux kemudian. “Memang ganteng sih, tapi terlalu ceper bagiku.” terus terang Pheenux yang postur tubuhnya memang tinggi.
“Serius nih! Nggak pada nyesel? Hehe… jadi malu!” mendadak jiwa feminimku keluar, posisi duduk yang tadinya ngangkang jadi menutup. Membetulkan kerudung berkali-kali.
“Kenapa dia?” celetuk Noly takjub.
“Kamu jangan aneh-aneh Sus, kami jadi takut nih.” timpal Ujang.
“Iya, jangan-jangan kesurupan.” Kentang langsung maju ke depanku melambai-lambaikan tangannya di depan mataku.
“Buuu!” semburku membuat Kentang terjengkang.
Semua tertawa melihatnya.
Kamu tadi nggak minta alamatnya?” kata Mei membuatku langsung terjun dari Gunung Salak. Ya ampun, konyol sekali. Ini jelas akan jadi angan semata. Alamat tidak tahu, apalagi nomor telpon yang bisa jadi penghubung selanjutnya.
“Huu, payah!” Ujang menghujatku.
“Benar, hiks hiks....”
“Sudah-sudah, besok kita cari cowok lain lagi ya.” bujuk Citonk.
“Oioi.... kami juga cowok-cowok keren lho!” Dede tiba-tiba berdiri bergaya bak raja dangdut.
Kami para cewek langsung mual pengin muntah. Pokoknya enggak banget! Tapi demi menyenangkan hati mereka kami berujar hal yang baik.
“Kalian itu sudah seperti saudara bagi kami. Tidak mungkin kan, jeruk makan jeruk.” Citonk berceramah mewakili kami. “Kenapa e.. kenapa, karena hukumnya haram.”
“Betul!” seru aku, Mei dan Pheenux.
“Ya deh,” ucap Kentang.
“Ah, aku kecewa.” Dede duduk dengan loyo.
Kami para cewek akhirnya tertawa geli melihat tampang-tampang lucu para pejantan yang merasa bukan pejantan lagi. Yah, karena seolah gagal menaklukkan hati kami para bidadari.
Sus, kamu kan bisa cari ke sekrenya.” kata Pheenux kembali pada topik si Jay. “Tenang, nanti aku temani.”
“Serius?”
“Tentu kawan!”
“Aku juga siap.” kata Citonk.
Mei hanya senyum-senyum memandang kami yang sudah mulai merencanakan invansi ke Mapala UI. Haha... tapi itu cuma bualan saja.
Para cowok saat itu sedang asyik membicarakan sesuatu pula. Kecuali Dede yang sepertinya cinta berat sama gitar yang dibawanya, hingga tiada detik dan jam tanpa menggenjreng gitar bututnya itu.
“Pinjam De!” Kentang mencoba melepaskan si gitar malang dari cengkeraman Dede. Tarik-menarik sempat terjadi tapi Dede kemudian dengan pasrah menyerahkan gitar itu.  Kentang pun segera memetik gitar dengan senyum kemenangan. Sebuah lagu Malaysia lama, Isabela mengalun syahdu sampai menegakkan bulu kuduk para gadis yang perhatiannya langsung mengarah ke Kentang dengan protesan keras.
“Ganti-ganti!” omel kami. Dengan cuek Kentang tetap merep melek menghayati lagu tersebut.
“Payah, tampang sangar, selera lagu Malaysia abis. Melankolis!” sindir Pheenux.
Tidak ada reaksi, Kentang tetap pada alirannya. Sampai akhirnya golongan cewek takluk juga. Bahkan malah ikutan nyanyi lagu Malaysia itu.
“Tang, kamu bisa lagunya Evie Tamala? Yang menangis,” pinta Mei kemudian.
“Seperti apa?”
“Ku menangis, menangis ku karena rindu… ku bersedih sedih ku karena rindu…” dengan merdu dan halus Mei menyanyikan sample lagu dangdut itu. Cengkoknya sangat fasih terdengar.
“Sebentar,” Kentang mencoba mencari kunci gitarnya.
“Heran, kenapa orang Sunda pada pintar nyanyi dangdut sih?” komentarku.
“Nggak semua kali,” sahut Mei. “Nah, itu ketemu! Ulang dari depan!”
Konser dangdut digelar, sebagai penyanyi utama Mei. Mulai lagu dangdut lama yang ngetop sampai yang baru, mulai Putri Panggung, Terlena, Cucak Rawa dll. Aku, Pheenux dan Citonk yang tadinya kurang menyukai keindahan musik dangdut, malam itu mengakui bahwa musik dangdut ternyata tidak kalah asyik sama lagu-lagunya Dewa, SOS, Padi, Kla Project dan band ngetop lain yang biasa menjadi soundtrack pendakian kami.
Tiba-tiba Kentang mengerem mendadak. Gitarnya sama sekali tidak bunyi, membuat ceracau mulut kami membuai malam dalam kegaduhan.
“Masuk tenda yuk!” ajak Kentang kemudian.
“Kenapa?” protes Pheenux.
“Dingin, berrrr...” cetusnya.
“Iya, ayo pada masuk!” Dede segera ngacir ke tenda.

Mau tak mau kami semua menurut masuk dan meneruskan aksi menyanyi di dalam tenda ala pramuka. Ini sih judulnya MAPRAM (Mapala Pramuka). Ya, sudahlah! (dan selanjutnya ada kejadian menggemparkan... Tunggu yach!)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Lomba Tetralogi Cinta (Sesi Kedua). DL 14 September 2014

OLEH : RISTY ARVEL DAN OCHA THALIB

Jumpa lagi dengan event di Meta Kata. Ini adalah event pertama kami setelah dua bulan kami rehat dari event melalui facebook. Ini event lanjutan dari tetralogi cinta sesi pertama yang telah sukses digawangi oleh saya, Risty Arvel dan Bunda Ocha Thalib.
 Event sesi kedua ini mengangkat 2 tema event yaitu : Love triangle  dan Forbidden Love. Tema “Love Triangle” akan dipegang oleh saya dan “Forbidden Love” yang akan dipegang oleh Bunda Ocha Thalib. Masing-masing tema (baik Love Triangle maupun Forbidden Love) akan mengambil 20 ff dan 30 puisi yang akan dibukukan.
Oke tak perlu berpanjang-panjang, ya, simak aja persyaratannya sebagai berikut :
Adapun persyaratan lomba sebagai berikut:
1.        Lomba terbuka untuk umum.
2.       Lomba dibuka dari tanggal 20 Agustus sampai dengan 14 September 2014 (pukul 23:59 WIB).
3.       Membagikan info lomba ke minimal 20 teman facebook, twitter, atau posting di blog pribadi (pilih salah satu).
4.       Like FB FansPage Penerbit Meta Kata(https://www.facebook.com/PenerbitMetaKata), follow twitter @MetaCreativePro(https://twitter.com/MetaCreativePro), dan bergabung dalam grup FB Pena Meta Kata(https://www.facebook.com/groups/152970934881025/).
5.        Info seputar lomba akan di-posting di FB FansPage, twitter, dan grup FB yang dikelola Meta Kata.
6.       Naskah dalam bentuk:
Flash Fiction : panjang naskah maksimal 700 kata, ditambah biodata narasi maksimal 50 kata (lengkapi dengan akun facebook dan alamat email). Naskah dan biodata narasi tidak boleh dipisahkan.

Puisi : panjang naskah 16 baris boleh ditulis dalam 4 bait boleh lebih dan ditambahkan biodata narasi maksimal 50 kata (lengkapi dengan akun facebook dan alamat e-mail) Biodata narasi tidak boleh dipisah dengan naskah.

1.        File naskah menggunakan format Ms. Word 2003/2007, A4, Time New Roman 12pt, spasi 1.5cm, batas margin rata-rata 3 cm (1,18 inci) untuk setiap sisi.
2.       Tulis subjek email dan nama file: Puisi/ff_judul_nama penulis jika dikirim untuk event “Love Triangle” maka kirim ke arvelristy13@gmail.com sedangkan bila dikirim untuk event “Forbidden Love” maka kirim ke pena.metakata@gmail.com
3.       Setiap peserta hanya boleh mengirimkan satu naskah terbaiknya dalam satu tema, boleh ikutan kedua tema, tapi tidak boleh mengirim dalam bentuk puisi sekaligus ff untuk satu tema. Misal : mengirimkan ff untuk tema “Forbidden Love” dan puisi untuk tema “Love Triangle”, atau puisi untuk tema “Forbidden Love” dan ff untuk tema “Love Triangle”, atau puisi kedua tema atau ff kedua tema.
10.  Update peserta bisa dilihat di dokumen grup “pena meta kata” dengan nama “Update Peserta event Love Triangle” untuk event “Love Triangle” dan “Update Peserta Event Forbidden Love” untuk event “Forbidden Love”. Update akan dilakukan oleh masing-masing PJ.
11.  Akan dipilih 2 (dua) naskah pemenang masing-masing event yang akan mendapatkan hadiah berikut:
FF terbaik : Pulsa Rp 25.000 + Voucer Penerbitan Senilai Rp 100.000 + E-sertifikat
Puisi terbaik : Pulsa Rp 15.000 + Voucer Penerbitan Senilai Rp 100.000 + E-sertifikat
#Catatan: Hadiah dalam bentuk VOUCHER PENERBITAN, hanya berlaku selama 6 bulan setelah pengumuman pemenang dan tidak dapat diuangkan juga tidak dapat digabungkan dengan voucher lainnya.
12.  Selain naskah pemenang, juga akan dipilih puluhan naskah nominator yang akan dibukukan bersamaan dengan naskah pemenang dan setiap nominator akan mendapatkan diskon 10% dalam pembelian buku terbit dan kontributor yang membeli akan memperoleh sertifikat cetak dan e-sertifikat yang dikirim ke e-mail.
13.  Hasil lomba akan diumumkan pada tanggal 24 september 2014

Oke, Selamat berkarya….
Salam,
a.n.
Penanggungjawab
Risty Arvel dan Bunda Ocha Thalib


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

The Three Mbakentir's ke Gunung Salak (katanya 4)

Elang, Terdampar!

sumber gambar : Mobil Kapanlagi.com

*H2 Operasional
Paginya kami di antar pakai mobil jeep inventaris buat UKM oleh salah seorang anggota Astacala. Namanya Teguh (nama samaran. aslinya lupa, he) anaknya kecil dan manis. Pheenux  lho yang bilang cowok itu imut dan manis. Tapi, itu toh sambil lalu saja, tidak ada yang semenarik Gunung Salak yang membuat kami begitu penasaran. 
Yang jelas kami sangat tersanjung dengan sambutan dan pelayanan mereka. Kalau boleh sih, ingin tinggal di sekre itu terus, coz segalanya terjamin. Wuahaha.... mereka yang pada enek.
“Mas, jangan lupakan kami ya?” pamit Pheenux. “Tiga cewek manis! Eh, empat ding. Maaf  Teh!”
 “Maaf, sudah merepotkan. Kapan-kapan lagi ya,” tambahku.
Cowok itu cuma cengar-cengir.
Fiuh! Mungkin anak-anak Astacala sekarang bisa kembali bernafas dengan lega, GPK (Gerombolan Pengacau Kedamaian) sudah pergi. Dan ada satu harapan besar mereka, semoga orang-orang tadi tidak datang lagi dan membuat repot kami. Amien! (Kira-kira gitu doa bersama mereka)
Dari Bandung kami harus meloncat ke Sukabumi, sebelum terbang ke Cigugur kami transit lagi di trotoar jalan dekat terminal. Payah! Ujang dengan tanpa rasa berdosa bilang kalau mereka cuma bawa bahan bakar gas dua tabung. Hah! Yang benar saja! Habis ketika masih di Purwokerto, mereka bilang semua beres tinggal berangkat. Nyatanya? Bikin gondok lagi tuh anak.
Kami kemudian berpencar mencari penjual tabung gas ke sekitar terminal. Nihil. Akhirnya setelah mendapat info tempat pembelian tabung gas, Ujang bersedia membeli, itu pun setelah adu debat hebat dan didesak kiri-kanan, depan-belakang, kepepet nih!
Yaah, terdampar lagi deh, menunggu Ujang yang minta kawan Noly dan Ali. Manusia tersisa terbiar, terlantar di pinggir jalan. Perut lapar, di sebelah ada penjual mie ayam… hmm, tambah menderita tuh cacing dalam perut kami.
Dalam bus yang membawa kami ke pos pendakian Gunung Salak, kami menyanyi-nyanyi riang kembali. Biarkan saja cacing-cacing pada demo. Berharap mereka tidak bertindak anarkhis nekat keluar lewat mulut dan memaki kami. Hiiy....
Sekitar pukul satu siang kami tiba di pos pendakian Cigugur. Ada berita buruk kawan, setelah membeli karcis masuk kami saling pandang dan mendesah, antara lelah, kecewa, marah, sebal dan bla…bla… perasaan jadi be-te berat. Bagaimana tidak! Petugas penjaga bilang kami tidak mungkin bisa sampai ke puncak Salak, katanya ada jalur yang longsor dan tidak bisa dilalui.
Dalam kabut kebingungan muncul malaikat penolong. Rombongan Mapala UI yang sedang berkegiatan di situ memberikan informasi jalur alternatif, lewat Cidahu.
“Gimana?” tanya Ujang. “Mau lanjut, apa kita putar haluan ke Cidahu.”
“Tapi sebenarnya sayang kan, kita sudah bayar mahal untuk masuk lewat jalur ini,” kata Citonk. “Kecuali kalau karcis ini bisa kita tukar lagi dengan uang.”
Hayuk kita tuker saja!” ajakku bersemangat.
“Tadi si Bapak bilang jalurnya ada yang longsor?” Kentang coba memastikan. “Horor dong!”
“Itu sebenarnya sih bukan masalah,” sahut Noly.
Bukan masalah gimana?” tanggap Ujang. “Kalian bawa tali nggak?” tanya Ujang ke aku, Citonk dan Pheenux.
“Yee, mana kami bawa. Tapi webbing, ada sih.” kata Pheenux.
Itu bisa dipakai, kan?” timpal Noly.
“Hei, hei… jangan egois, Bleh! Gimana dengan Mei, dia bisa lewat tidak di jalur longsor yang licin dengan kanan-kiri jurang?” kata-kata Kentang membuat semua mata mengarah ke Mei. Mei jadi salah tingkah dan tidak enak hati, sepertinya dia hanya merepotkan saja.
Kok kamu tidak mengkhawatirkan kami?protesku.
“Loh, bukannya kalian sakti?” tuding Kentang.
“Kalian kan cowok, masa kami harus khawatir.” cetus Ujang.
Kami bertiga cengar-cengir meski dalam hati sudah membayangkan hal-hal ngeri.
Jadi gimana?” Dede yang dari tadi diam nyeletuk memecah suasana yang mulai tegang.
“Pin, kayaknya jalur Cidahu itu yang benar deh,” bisikku ke Pheenux.
“Kalau lihat dari karcisnya, ini karcis masuk ke kawasan Kawah Ratu. Anak UI tadi kayaknya benar, yang mau kita lewati bukan jalur yang sesungguhnya.” kata Citonk. “Eits… bukannya aku gentar, ciut nyali dengan jalur yang menanti, ataupun plin-plan. Yeaah, keterangan mereka lebih masuk akal.”
“Lalu?” tanya Ujang. “Ke Cidahu nih?”
“Eh, tunggu! Kita minta dulu duit tiket kita tadi,” usul Pheenux. “Yuk!”
Pheenux, Citonk dan aku berderap menyerbu penjaga loket. Setelah berdebat alot kami terpaksa menyerah.
Bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Tiket masuk yang mahal dan sudah dibeli tidak bisa ditukar lagi.
Parah!”
“Gimana?”
Terserah kalian saja,” kata Ujang seperti tak mau tahu lagi.
Kami saling pandang.
“Hhh… sebaiknya kita berhitung sisa uang kita dulu. Cukup tidak buat ke Cidahu dan balik ke rumah.” kata Teh Mei. Semua menyeringai, lalu mulai sibuk mendata sisa uang yang ada.
“Serius nih, cuma tinggal segitu?” tanyaku. “Pulangnya bisa long march nih sampai Purwokerto, siap Pin, Tonk?”
“Siap! Dan semangat!” koor Pheenux dan Citonk sambil mengepalkan tangannya ke udara. Yang lain cuma berdecak dan ada yang menggeleng-gelengkan kepala.
Kalau aku karena sudah basah, nyebur saja sekalian,” kata Noly kemudian.
“Nyebur ke Kawah Ratu, maksud loh?” celetuk Dede. “Oke,”
“Terserah!”
“Kamu ini terserah, terserah melulu, kasih masukan dong!” hardik Pheenux ke Ujang.
“Aku sih orangnya santai, mau lewat mana aja oke, nggak masalah. Ya nggak De?” Kentang unjuk suara.
“Betul!” sahut Dede sambil menggenjreng gitarnya.
“Dasar cowok nggak punya pendirian!” gerutu Pheenux.
Akhirnya setelah melalui proses diskusi dan perdebatan panjang. Keputusannya, maju terus! Daripada pulang long march dan puasa tanpa berbuka. Intinya kepepet lagi

Bersitegang ternyata membuat lapar. Kami pun masuk ke areal yang mirip dengan bumper (bumi perkemahan). Yang penting makan dulu, biar otak bisa jalan. Soalnya nih, konon katanya kalau perut kosong, otak jadi ikutan kosong. Langkah taktis strategis selanjutnya dirundingkan setelah selesai menyantap jatah makan siang. Pukul dua kami baru menikmati nyamannya perut kenyang. Di lanjut jalaaaan… tu wa tu wa…. (gara-gara nekat terus jalan kami malah kayak rombongan wisatawan bonek, ikuti kelanjutannya....)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

The Three Mbakentir's ke Gunung Salak (katanya 3)

Elang, Terdampar!


Semua terpana melihat kemegahan bangunan di depan. Rupanya kami langsung dibawa masuk ke kawasan sekretariat UKM. Sebuah gedung besar yang dijadikan tempat mangkal seluruh kegiatan mahasiswa. Keren banget!
Dalam bangunan ada satu ruang besar multifungsi. Bisa buat main basket, tenis lapangan, bulutangkis dan bola voli. Garis-garis lapangannya begitu banyak dan ada dua buah tiang di tengah samping kanan dan kiri.
Ngomong-ngomong tinggal dalam satu atap apa mereka bisa akur ya? Apalagi tempat latihan basket, tenis, voli dan bulutangkis four in one. Ah pikirin amat sih, nyatanya belum pernah dengar ada perang antar UKM di sini.
Seluruh penghuni sekre menyambut ramah tamu tak diundang pulang minta diantar nanti. Mereka menjamu kami dengan minuman botol yang bagi kami terlalu mewah. Apalagi acara makan malam dibayar pula. Servis memuaskan pokoknya.
Obrolan berat maupun ringan menemani separuh malam itu. Banyak masukan diperoleh tentang Gunung Salak. Mulai dari jalur, sumber air, transportasi dll yang bisa berguna pada saat pendakian nanti. Sisa malam pun dihabiskan dengan menjemput mimpi masing-masing.
Sialnya malam-malam karena perut kekenyangan, aku jadi punya hasrat untuk menyalurkannya ketempat yang benar. Sempet keder juga begitu tahu klosetnya berbentuk duduk. Maklumlah, di Purwokerto belum marak penggunaan kloset duduk. Bingung kawan, takut tak keluar juga. Ada rasa jijik jika harus meletakkan pantat ditempat orang lain meletakkan pantatnya juga. Setelah aku gosok-gosok pakai kaki, terakhir pakai tangan dan ku siram berkali-kali barulah aku rela meletakkan pantatku di sana. Ternyata kekhawatiranku bahwasanya emas batangan yang akan aku tabung tidak akan keluar salah. Kepepet dan sudah diujung tanduk membuat semua berjalan lancar.
Yah, bingung lagi pas mau mengubur batangan emas tersebut. Berkali-kali aku guyur pakai air tidak mau hilang juga. Terus terang aku tidak rela meninggalkanya mengambang sedemikian rupa. Aha, akhirnya aku nemu ide, cari bala bantuan buat menghilangkan jejak tempat penyimpanan harta karunku itu. Citonk adalah orang termalang yang menjadi tragetku.  
Aku mengintip keluar memastikan tidak ada orang lain yang akan masuk ke toilet. Jurus gerak kilat aku keluarkan dan langsung menculik Citonk yang dengan wajah enggan kubawa ke toilet. Awalnya Citonk cuma memberi instruksi dari luar, tapi karena aku tidak paham aku memaksa Citonk masuk mencium aroma sedap dan melihat gelimpangan emas batanganku. Sambil menutup hidung Citonk memberanikan diri mendekati kloset dan menekan tuas yang ada di belakang dudukan. Aku melongo begitu melihat emas batanganku langsung tersedot masuk ke dalam. Ah, leganya....

Aku meringis kembali ke ruang istirahat. Berharap Citonk yang sudah bergelung dengan sleeping bag (SB) tidak menceritakan perihal aku, kloset duduk dan emas batangan. Sungguh malu-maluin, katrok bin ndeso! (masih nyambung....)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

The Three Mbakentir's ke Gunung Salak (katanya 2)

Elang, Terdampar!


Pukul sebelas lewat lima menit, kereta baru menunjukkan monyongnya. Kami bersembilan dengan penuh dendam langsung menyerbu ke salah satu gerbong. Benar-benar kayak segerombolan preman, bonek yang kalap.
Wah, ternyata kami salah sasaran, gerbong yang kami masuki tidak menyisakan satu tempat duduk pun. Ali dan Noly menawarkan diri mencari gerbong yang masih ada lowongan. Aku, Pheenux dan Citonk jelas tak bisa tinggal diam seperti Ujang. Kami ikut berburu menuju arah yang berlawanan.
Akhirnya Ali menjemput kami yang berhasil menemukan tempat duduk di gerbong buntut. Kami  duduk terpisah-pisah. Tidak masalah, yang penting bisa duduk. Korea….eh Kroya – Bandung gitu loh! Kalau terus berdiri kaki bisa kayak mesin jahit sebelum mendaki. Bergetar__gemetar kecapaian.
Pada akhirnya rencana nembak yang sudah dirancang begitu sempurna gagal. Kami termakan isu tentang adanya polsus yang ikut memeriksa karcis. Aku yang baru berpengalaman dalam hal tembak-menembak jelas ngeri mendengar itu. Setelah diskusi panjang kali lebar, pada saat kereta berhenti di stasiun Jeruk Legi kami membeli tiket. Fiuh, lega rasanya….
Isu polsus ternyata benar-benar gosip belaka. Ujang cs nampak kecewa berat. Malah sempat mau mengeroyok bapak yang ngasih isu palsu itu. Nah lho, kenapa jadi brutal, tapi nggak kok. Mereka cuma ngegerundel, shs$hsss wewwesss casffd@!!? fgdskjh#$azz!!!…, bukannya takut. Tapi… gimana ya, sejak awal memang sudah salah kan? Melawan? Babak belur. Yang ada kecewa berat pokoknya. Waduh, tidak beres otak mereka, melakukan kebaikan malah kecewa.
Perjalanan yang panjang kami isi dengan berbagai hal agar tidak membosankan. Salah satu caranya; yaah biasa, nyanyi-nyanyi dari lagu dangdut sampai hip hop. Tidak peduli penumpang lain pada keberisikan. Untung tidak ada yang menimpuk pakai sandal. Kami sih berharap ada yang menimpuk pakai hp, atau lontong tahu, pasti asyik!
Piuh, akhirnya setelah kira-kira separuh perjalanan kami semua nyaris bisa duduk bareng. Tempat duduk sebelah berhasil kami monopoli. Menyanyi lagi dan bergurau riang. Kadang diseling tidur lima menit untuk menghemat tenaga.
♪♫Aku ingin terbang tinggi seperti elang… ini tanganku untuk kau cium, ini tubuhku untuk kau peluk tapi tak bisa kau miliki… ♫♪ Lagu Dewa ini yang paling sering diputar berulang-ulang. Kalau kaset bisa cepat rusak tuh, di reff melulu.
Pukul lima sore, kereta masuk ke stasiun Kiara Condong, Bandung. Mereka lalu menelpon ke Mapala__Astapala Bandung. Biasa mau menumpang tidur, sekalian cari info tentang Gunung Salak.
“Ternyata banyak neng geulis nyak?” Dede yang menunggu di luar wartel menatap liar setiap cewek yang lalu-lalang di jalan. Logatnya pun dibuat sesunda mungkin.
“Benar, kenapa ya?” Kentang ikut berpartisipasi mengamati pemandangan segar cewek-cewek Bandung yang manis dan modis, beda jauh dengan penampilan cewek-cewek yang ikut dalam rombongan mereka. Ujang dan Noly tampak cuek dengan hal-hal begituan, mereka hanya sibuk menikmati rokok sambil jongkok di teras wartel. Bagaimana pun Ujang kan sudah ada Pheenux dihati. Ceileee… tipe cowok setia nih ceritanya.
Mendadak terdengar desingan keras mengagetkanku sehingga memaksa leherku mendongak ke atas. Busyet, baru kali ini aku melihat pesawat terbang serendah ini. Aku bener-bener ternganga.
“Tiarap, tiarap!” seru Dede sambil mengangkat gitar untuk melindungi kepalanya.
Wah, keren ya?seruku masih takjub sambil menunjuk ke atas, membuat orang-orang yang lewat memandang kami. Mungkin dibenak mereka, wah, ini pasti orang udik nih! Memang!
Teh Mei yang juga orang Sunda dan pernah jalan-jalan ke Bandung beringsut menggeser posisi berdirinya. Malu atuh! Masak Teh Mei yang manis ini disetarakan dengan anak-anak udik macam mereka. Nggak level!
“Wah, sampai kaget aku,” ungkap Dede pula. “Kirain ada pesawat tempur lewat sambil jatuhin bom.”
Hei, kalian. Jangan ndeso gitu napa. Malu-maluin tahu!cetus Noly yang sewaktu mengucapkan kata ndeso terdengar aneh ditelinga kami, orang Jawa. Noly memang asli Jakarta. Dia sudah bisa mengerti bahasa Jawa, meski belum bisa mengucapkan dengan baik dan benar.
“Kau juga ndeso kawan, wajahmu itu lho. Ndeso tenan!” balas Dede mancap langsung ke hati.
“Iya deh, yang waras ngalah.” ucap Noly.
Adu mulut itu terhenti ketika Citonk muncul dari dalam wartel bareng Pheenux dan Ujang yang pada waktu pesawat lewat ikut menyusul ke dalam wartel. Dari hasil birokrasi katanya sudah oke, kita diijinkan menginap di Astapala.
Hari sudah mulai gelap. Kami segera mencari angkutan ke sekre Astapala. Sungguh saat yang tidak tepat mencari angkot. Jam-jam segitu jam pulang kantor dan pabrik untuk wilayah Bandung. Kami harus berjuang kejar sana kejar sini agar dapat peluang. Dengan berat hati rombongan terbagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama Pheenux, Citonk, aku, Teh Mei dan Kentang. Kelompok kedua sisa dari lima orang tadi.
Dan tahu tidak, kami pikir meski dapat tempat di tengah angkot kami bisa duduk. Jangan harap kawan, ini bukan Purwokerto yang selalu menyediakan jengkok (tempat duduk mungil) untuk ditaruh di tengah di sela tempat duduk angkot resmi meski dilarang. Kali ini aku benar-benar membela para sopir angkot Purwokerto. Aku dukung mereka ngumpetin jengkok untuk dipakai saat darurat seperti sekarang ini. Gara-gara tiada jengkok, aku n the genk harus rela jongkok di tengah angkot dan dijepit lutut-lutut penumpang lain.
Setelah kaki semutan akhirnya kami bisa duduk pada tempat yang semestinya. Selama perjalanan kami selalu waspada dan berkali-kali bertanya pada pak sopir sampai pak sopir mau muntah mendengar kami tiap lima detik tanya masih jauhkah, STT Telkom Bandung itu? Pada pertanyaan ke seratus, kami kemudian dilempar ke pinggir jalan sama pak sopir angkot.
Benar-benar marah pak sopir itu, nyatanya ketika kami tanya ke penduduk sekitar mereka bilang masih jauh. Kira-kira 1 km lagi, busyet!
Kami akhirnya jalan, sambil sesekali mengawasi angkot yang lewat. Bukan mau naik angkot lagi (tidak ada budget) tapi, menunggu klongkot (kelompok angkot) kedua. Setiap ada angkot yang lewat kami pelototin sampai angkot yang lewat itu langsung kabur tidak berhenti-berhenti (memang tidak ada kawanan lusuh bin kumuh sih).
Jadi sempat terpikir jangan-jangan empat anak itu nyasar. Salah naik angkot, turun sebelum waktunya, atau… malah sengaja kabur? Wah, bagian terakhir tuh yang gawat, mungkin tidak sih? Ah, yang penting saling percaya saja. Lagian kami punya sandera Kentang. Kalau mereka sampai kabur lihat saja, Kentang ini bakal kami cincang kami buat keripik kentang.
Limabelas menit kemudian setelah leher kaku karena bolak-balik tengok ke belakang, datanglah sebuah angkot impian. Ya, sebuah angkot dengan carrier nangkring di atasnya. Pastilah kawan-kawan ajaib kami menyelip di antara penumpang lain. Serentak kami berteriak berusaha menghentikan angkot itu. Berhasil, berhasil, berhasil, horeeee! Teriakan kami sukses membuat angkot berhenti beberapa meter depan kami.
Satu persatu muka-muka lusuh turun dari angkutan itu. Spontan kami saling bersalaman, berpelukan dan bertangis-tangisan. Aneh banget pokoknya, mendadak kena sindrom kangen. Padahal baru setengah jam terpisah, tapi bagi  kami serasa satu abad. Di negeri antah berantah je, maksudnya di kota yang sama sekali asing.
Kami bersyukur bisa ketemu lagi, kalau sampai terpisah tidak ketemu-ketemu, gawat kan? Bisa-bisa dibuka operasi SAR. Memalukan! Tiga anggota UPL MPA UNSOED dan teman-temannya tersesat di kota Bandung. Cckck… di peradaban, Nek! Masak nyasar! Merusak image UPL yang pernah ke Cartenz Pyramid ajah (malah kemarin sudah ke Elbrus, Kilimanjaro dan besok rencana mau ke Vinson Massif dan Aconcagua). Sayang bukan aku yang melaksanakan tugas suci itu, hiks, hiks....

Ternyata sangat susah mencari lokasi kampus STT Telkom. Lebih mudah menemukan suatu titik dalam hutan dengan peta. Tinggal pakai guide punggungan dan kompas bisa langsung ketemu. Lha di sini kami sudah menggunakan guide andalan kami guide cocot (panduan mulut) bertanya-tanya, hasilnya malah muter-muter tidak karuan. Untung kami ketemu mahasiswa nan budiman yang bersedia mengantar kami sampai ke tujuan. (selanjutnya kami bertiga eh, berempat terkesima dengan pesona cowok-cowok STT Telkom)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

The Three Mbakentirs ke Gunung Salak (katanya 1)

Elang, Terdampar!

sumber foto : sidomi.com

 Ternyata virus kangen tidak hanya melanda kami (aku, Pheenux dan Cithonk) saja. Anak-anak Yogya ternyata merindukan kami juga. Satu bulan kemudian saat ada momen tujuh belasan kami (aku, Pheenux, Cithonk plus anak Yogya) sudah merencanakan pendakian berikutnya. Rencana awal sih ingin naik Gede-Pangrango. Tapi ternyata kami yang iseng ngegombal ke anak sekre lain malah mendapat berita duka kalau Gunung Gede-Pangrango tidak menerima pendaki pada tanggal 17 Agustus. Wah, kecewa berat! 
Katanya sih, takut populasi pendaki bakal meluap dan menimbulkan lautan sampah. Yah, kebanyakan pendaki memang tidak peduli dengan sampah. Mereka dengan semena-mena membiarkan bungkus-bungkus makanan mereka tercecer merana di gunung yang dingin. Kasihan, kasihan, kasihan.
Akhirnya setelah mengadakan diskusi panjang kali lebar lewat telpon pilihan jatuh pada Gunung Salak. Sayang referensi tentang tetek bengek Gunung Salak tidak ada di pusdok (pusat dokumentasi) sekre UPL, mungkin dia sengaja ngumpet dari kami. Terpaksa deh mendaki pakai ilmu kiralogi.

*H1 (Pra Operasional)
Benar saja kawan, ilmu kiralogi tidak memuluskan jalan kami. Dari awal kami sudah salah jalan. Ternyata tidak ada kereta dari Purwokerto yang langsung ke Bandung. Jadilah kami naik kereta nebeng sampai stasiun Kroya. Oh ya, anak-anak Yogya menjemput kami di Purwokerto dulu baru berangkat bareng ke Kroya.
“Untung nggak ketinggalan kereta kayak ke Lawu dulu,” ucap Pheenux menyeringai setelah kami sukses menemukan kereta yang bisa membawa kami hingga Kroya saja, “Pakai ngejar-ngejar kereta pula!”
“Memang nggak apa-apa tidak beli tiket?” tanyaku was-was.
“Tenang, kan ada Ujang.” kata Ujang membusungkan dada.
“Benar, wajahmu kan horor, jelas petugas tiket bakal takut.” smash Pheenux.
Santai Sus, kalau ada pemeriksaan tiket tinggal bayar aja. Gampang kan?” timpal Citonk menjawab rasa was-wasku.
“Aku juga sering nembak!” aku Ali kemudian. “Lumayan hemat. Bisa bayar separuhnya atau malah kurang dari itu, hee….” (ini jaman dulu lho saat kereta ekonomi belum ber-AC seperti sekarang).
“Wah, ilegal!” bisikku miris. Bagaimanapun aku ini kan anak manis. Selalu taat aturan. Bahkan karena begitu taat aturan, dulu waktu pertama masuk SMP pas OSPEK dan masih pakai baju SD aku memakai seragam lengkap anak SD, pakai topi dan dasi. Padahal waktu itu tidak ada yang memakai dasi. Kena lah aku! Ini SMP nduk bukan SD. Kesasar ya? Celetuk Pak Pembina membuat mukaku merah kuning hijau.
“Sesekali-kali jadi anak nakal, Sus.” kedip Pheenux.
Jadi anak nakal jangan ajak-ajak!” jitak Ujang ke kepala Pheenux.
“Sembarangan!” Pheenux melotot.
“Memang kamu minta ijin ortu kalau naik gunung?”
“Jangan gitu, Jang, aku juga nggak pernah ijin kalau ke gunung. Eh, pernah sekali ding, pas naik gunung pertama__Slamet. Selanjutnya… hehe… ilegal.” ungkapku terus terang.
“Tuh, kan bukan aku aja yang nggak minta restu.” ucap Pheenux merasa dapat dukungan teman senasib seperjuangan.
“Mbak Mei, pernah ke gunung mana aja?” tanya Citonk pada seorang cewek berjilbab yang Ujang bawa dalam pendakian kali ini. Selain Mei ada satu orang lagi, dia Dede. Kebetulan Dede dan Kentang duduk terpisah dari mereka.
“Baru ke Ceremai.” jawabnya.
“Ciremai?” mataku berbinar. “Kami malah belum pernah ke sana.
“Kapan-kapan kita ke sana yuk!” ajak Pheenux bersemangat.
Boleh, boleh.” sahutku dan Citonk  penuh gairah.
“Siap-siap!” seru Ali. “Tang, De!” panggilnya.
Kami bersembilan dengan cuek turun di stasiun tersebut tanpa bayar. Selanjutnya Pheenux dan Ujang mewakili kami menuju loket. Bukan mau beli tiket lho, cuma mau tanya keberangkatan kereta ke Bandung.
“Hebat! Kita harus nunggu sampai berakar dan lumutan.” lapor Pheenux yang sudah balik bareng Ujang.
“Jam berapa, Pheen?” tanya Citonk.
“Dua jam lagi baru ada. Katanya tadi kereta yang ke Bandung baru aja berangkat.”
Kami mendengus kecewa.
“Padahal aku baru bilang beruntung kita nggak ketinggalan kereta, ini malah lebih parah, ketinggalan sama sekali.” ucap Pheenux.
“Perasaan jadi nggak enak, jangan-jangan bakal terjadi hal-hal yang nggak diinginkan.” timpalku menyeringai.
“Hush! Jangan ngomong sembarangan!” larang Teh Mei. “Pamali atuh!”
“Tapi benar loh Teh,” lanjut Pheenux. “Dulu, pas ke Lawu kita nyaris ketinggalan kereta dan apa yang kita alami? Kita ketemu mahluk-mahluk jelek yang sok manis dan menyebalkan itu!” Pheenux member isyarat menunjuk para cowok yang sedang asyik menghisap asap nikotin.
Teh Mei senyum manggut-manggut.
“Siapa mereka?” tanya Dede penasaran yang tak melihat isyarat Pheenux.
“Yang pada duduk di sebelahmu!” tunjuk Pheenux tanpa basa-basi.
Dede tertawa girang sambil nunjuk-nunjuk Ujang, Noly dan Kentang.
“Hei denger! Ketemu kami justru membawa berkah. Coba nggak ada kami pas Citonk keseleo, siapa coba yang mau gendong dia?”
”Ali!” koor kami bertiga.
Ujang cengar-cengir.
“Lagian siapa yang mau digendong kalian. Idiiih, sori Bang!” kata Citonk.
“Yaah, paling nggak kami berguna sebagai koki dan tukang pasang tenda setelah itu, tho? Harusnya kalian berterimakasih sama kami.” kata Ujang masih nggak mau kalah.
“Kami nggak nyuruh kalian pasang tenda dan memasak. Bagi kami ada yang mau jadi korban, bahagia banget! Ya nggak?” Pheenux mengerling ke aku dan Citonk. Kami menyambutnya dengan anggukan dan acungan jempol mantap.
“Cebret tenan! Jadi cuma dimanfaatin toh.” Ujang geleng-geleng kepala menatap kami. “Hebat, hebat, hebat!”
“Hei, hei lihat, aku udah mulai jenggotan nih!” Kentang memegang jenggotnya yang cuma tiga helai.
“Gara-gara nunggu kereta mpe tumbuh jenggot ya, Tang.” tanggap Dede. “Coba lihat!” Dede memeriksa jenggot Kentang.
“Adauow!!” tiba-tiba Kentang berteriak. “Sakit tau!”
“Ini sih bukan jenggot. “ Dede masih bersikap sok serius dan cuek tidak peduli Kentang yang menoyor kepalanya. “Ini sih rambut yang iseng tumbuh di situ.”
Kami melihat ulah keduanya dengan geli.
“Sebenarnya kita mau naik gunung atau kemping sih?” ucapku spontan setelah melihat barang bawaan kami yang tidak meyakinkan.
“Naik gunung, tho? Naik gunung Salak. Kamu tidur ya, Sus?” jawab Ujang.
“Perasaan kok kayak mau kemping ya, tuh bawa gitar segala.” tunjukku ke gitar yang dipeluk Dede.
“Itu sih nyawa dia,” kata Noly akhirnya.
“Benar kawan. Gitar is my life!” tanggap Dede dengan lafal Inggris yang belepotan. “Buat jaga-jaga juga kalau ntar kehabisan duit, bisa buat ngamen!” Dede mulai menggenjreng gitarnya. “Atau sambil nunggu begini, nyanyi aja yuk!” tanpa mendengar komentar yang lain sebuah nada lagu Sheila On Seven mengalun lewat petikan gitar Dede.
Tanpa komando dua kali kami langsung unjuk suara, meski suara kami kacau, antara fals, sumbang dan kontrol nadanya itu loh! Adu balapan juga sama gitar Dede. Untung nggak ada mbak Ii (Tri Utami), bisa dibantai habis-habisan kami nanti, nyanyi nggak memperlihatkan keindahan ditelinga. Lama-lama seperti kena setrum Ali dan Teh Mei ikutan menambah paduan vokal yang amburadul. Sampai orang-orang yang lewat pada menutup kuping.
Selain nyanyi-nyanyi kami juga melakukan aksi bengong, tukar cerita konyol dan menertawakan orang lewat. Malah sempat terpikir mau melakukan pertunjukan topeng monyet dengan para aktor:
Dede        : monyet 1
Kentang   : monyet 2
Noly         : monyet 3
Ujang       : anjing
Ali            : tukang ambil duit
Mendengar ide cerdas kami para cewek jelas para cowok ngomel-ngomel dan protes keras atas perlakuan yang tidak berperikehewanan.
“Masa Mas Dede yang cool (keren) ini suruh akting jadi monyet, hah! Yang bener dong!” protes Dede. “Gimana kalau orang utan aja?”
Mendengar itu anak-anak langsung ngakak.
“Kurang gemuk dan berbulu tuh! Mana ada orang utan kurus dan gundul gitu,” cetus Noly membuat kami tambah ngakak.
Pukul setengah sepuluh, kami mulai siaga. Takut ketinggalan kereta lagi. Sebagai antisipasi kami meronda bergantian di ujung peron masuk kereta. Noly yang dapat giliran terakhir kembali dengan lesu. Jam sepuluh sudah, dan kereta yang ditunggu belum menampakkan batang moncongnya.
“Nihil!” cetus Noly.
“Tanya lagi yuk!” ajak Citonk. “Teh Mei, yuk!” ketika tidak ada yang merespon, aku ikut menyusul.
“Wajahnya kok pada mendung, nyanyi lagi yuk!” Dede kembali menggenjreng gitarnya. Lagu Ari Lasso, Misteri Illahi. Cocok banget dengan suasana mereka. Yang lirik awalnya, aku masih di sini… mendekap hampa dihati… bla bla….
“Ternyata jam sebelas baru datang.” lapor Citonk.
“Wah, bapak tadi tuti (tukang tipu) banget.” cetus Pheenux.
“Katanya ada halangan, entah apa.” klarifikasi Teh Mei.
“Tapi kok pada senyum-senyum gitu, kita kan jadi deg-degan!” ucap Kentang.
“Dia kan di kampus termasuk Mapres.” puji Pheenux.
“Ah enggak, kok!” protesku malu-malu. “Mengada-ada Pheenux tuh!”
“Mahasiswa berprestasi? Hebat!” ungkap Teh Mei. “Nggak nyangka ya?”
“Mahasiswa prengas-prenges (suka meringis)!” koor Pheenux dan Citonk.
“Huu dasar!” amukku.
“Ge-er dia,” kata Pheenux ke Citonk cekikikan.
“Senyum itu ibadah,” dalihku kemudian. “So, keep on smile!” aku meringis menampakkan seluruh jajaran giginya yang kuning.
“Hiyy, jorok gigi kuning gitu. Gosok gigi seminggu berapa kali, Neng?” tuding Ujang.
“Enak aja! Teratur dong, sehari dua kali, kadang malah tiga kali. Mang dari sononya gini. Yang penting, kan ramah.”
“Ah yang bohong?” komentar Kentang tanpa ekspresi.
“Banyak senyum berarti kamu punya banyak pahala Sus, bagi-bagi tho!” celetuk Dede. “Jangan pelit!”
“Hahh!”
“Koleksi sendiri, Bung!” balasku. “Lagian dibanding dengan pahala koleksi dosaku jauh lebih banyak, mau? Dengan senang hati aku kasih, gratis deh.”
“Walaah, kalau itu aku bersemeru-semeru.” ucap Dede.
“Bersemeru?”
“Gunung Semeru kan tinggi, kalau ber- berarti banyak. Bayang pun Gunung Semeru kalau ditumpuk-tumpuk sampai 100 tingkat, kalau ibarat air sampai tampungannya nggak muat terus banjir kemana-mana. Lha itu….” tunjuk Dede. Yang lain bengong mengikuti arah tunjukan jari Dede. “Kucing!”
“Apa sih?”
“Nggak nyambung!” runtuk kami semua.
Kami terus bersenda. Aku pikir masa penantian kami bakal garing, kering kerontang seperti musim kemarau. Nyatanya bersama mereka suasana sungguh renyah, legit dan manis. Lapis Surabaya kalah. (kira-kira kereta datang jam berapa ya? Dan ketakutanku karena naik kereta nggak bayar membawa petaka bagi kami semua... ikuti lanjutannya yach!)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS