RSS
Container Icon

The Three Mbakentir's ke Gunung Lawu

lanjutan...


Pen, Aku Padamu...!





“Bener nih, kalian mau ikut kita bermalam di sini nggak ngelanjutin?” tanya Pheenux ke Kisky dan Alex. Keduanya mengangguk, lalu mencari sarang mereka sendiri.

“Jangan karena kami lho yaa? Kami nggak biasa jalan malam.” tambah Citonk.

Kami anak UPL memang anti jalan malam dan tidak setuju dengan model mendaki SKS (Sistem Kebut Semalam). Sesuai dengan kode etik kepecintaalaman yang menyarankan/MENGHARUSKAN aktivitas jalan dilakukan siang hari. Alasannya : Pertama; jika jalan malam dikhawatirkan bakal bertemu dengan binatang yang tidak diinginkan (buas maksudnya), karena beberapa binatang yang berbahaya melakukan aktivitasnya di malam hari. Kedua; karena hawa dingin bisa mengganggu metabolisme tubuh__serangan hipotermia lebih ganas. Pengecualian kalau di goa yang nggak ketahuan siang – malamnya, dan hawa di goa tidak sedingin di gunung. Ketiga, bagi yang belum pernah naik, kemungkinan buat nyasar lebih besar. Apalagi kalau jalurnya banyak percabangan, mau ormed gelap. Jadi nyasar kan? Ini dia faktor utama kenapa banyak pendaki yang mati di gunung. Modal fisik saja tanpa bekal pengetahuan yang memadai.

Pokoknya resiko jalan malam lebih besar deh, yang lebih gawat lagi kalau ketemu Mbak Kunti dan teman-teman. Hiiiii… serem nggak sih!

Malam itu begitu cerah, ditemani api unggun yang sukses aku buat bareng Ali dengan bersusah payah. Bagaimana tidak, kalau buatnya tanpa bahan bakar penyulut seperti minyak tanah, spirtus ataupun bensin. Benar-benar ajang praktek cara survive di alam. Setelah api jadi Ali kebagian tugas mencari kayu-kayu kering. Dengan catatan tidak mengganggu tanaman yang masih hidup. Citonk yang tidak begitu pandai masak malam itu dapat jatah masak.

Malam itu banyak juga yang masih nekat mendaki. Kurang lebih pukul delapan tiba-tiba ada pendaki yang berhenti di perkemahan kami. Jumlah mereka ada sekitar empat orang. Itu juga kalau tidak salah hitung. Dengan seenaknya mereka makan dan menguasai api unggun hasil kerja kami. Sumpah, kesal banget. Apalagi mulut mereka berkoar tidak karuan.

“Ooo, Pheenux, Citonk, Ali terus yang memakai jilbab tadi siapa? Sushi?” seorang anak menunjuk satu persatu muka rombongan dari Purwokerto. "Sushi kok kayak nama makanan ya?"
"Wah, iya jadi lapar nih, Tang!"
"Kok laporan ke aku?"  
"Wis, wis, soal perut nomer dua. Kita kan belum memperkenalkan diri." 
"Kalau lapar jadi tidak bisa maksimal menampilkan diri dong." protes seorang yang tadi bilang lapar. 
"Diam, pret! Kita mulai saja,"

Dengan pe-denya mereka memperkenalkan diri mereka. Asli tidak ingin tahu. Kalau tampang mereka ganteng-ganteng sih, langsung kami mintain tanda tangan malah.

Yang pakai topi ala bajak laut itu, Kunyit!” kata si rambut gondrong lusuh, yang tadi paling ngebet ingin memperkenalkan diri. 
“Sebelah pohon Kunyit, berambut keriting namanya Kentang, terus yang agak ganteng itu, Noly. Dan dari kami berempat yang paling ganteng ini jelas, Ujang! ujarnya menepuk dan membusungkan dada. Derai suara huu... membahana.

Cepret, paling ganteng dia bilang?” kata anak yang bernama Kunyit mencak-mencak di sambut pembelaan diri Ujang.

“Dari mana, Mas?” Pheenux bertanya pada Noly yang duduk sebelah Ali.

“Dari bawah mau ke atas,” serobot Ujang tertawa bareng Kunyit.

Hush, ketawa. Gak ada yang lucu. Serius, serius!” Kentang berhasil membungkam tawa Ujang dan Kunyit. Tapi selanjutnya giliran dia yang cekikikan sendiri.

“Dari Yogya.” sahut Noly singkat padat dan jelas. Tidak seperti teman-temannya yang pada saraf semua.

Malam yang kusangka akan indah, berubah jadi bencana bagi kami dengan hadirnya gerombolan gila ini. Aku mendadak mengidap penyakit gondok. Cuma bisa cengar-cengir menahan ketidaknyamanan arena percakapan yang tidak jelas ujung pangkalnya.
            Lega banget rasanya bisa menghilang dari mereka. Pheenux dan Citonk menyusul. Akhirnya kami buka salon di dalam tenda. Obat cantik kami keluarkan, perkakas perempuan seperti bedak, lipstik, minyak wangi, ups! Memang kami cewek apaan? Yang jelas aku mengeluarkan cairan yang katanya bisa menghapus jerawat dari mukaku. Pheenux dan Citonk jadi pada ikutan tuh, menggosok-gosok muka mereka biar besok pagi bercahaya, mengalahkah sinar matahari. 
(tunggu sambungannya ya, bagaimana empat cowok pendatang baru itu menggoda tiga cewek cantik dari Purwokerto). C U!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

The Three Mbakentir's ke Gunung Lawu

lanjutan....


Pen, Aku Padamu...!



Sekitar pukul setengah dua belas kami berempat turun di stasiun Jebres, Solo. Sesudah acara foto-foto narsis, makan siang tak lupa sholat Dzuhur, perjalanan berlanjut menuju Matesih, Tawangmangu yang berjarak kurang lebih 40 km. Dari pasar Matesih kemudian naik angkutan ke pos penjagaan Cemoro Sewu. Salah satu jalur pendakian Gunung Lawu selain Cemoro Kandang.
Dan tahu tidak sobat, angkutan yang membawa kami ke Cemoro Sewu itu opletnya si Doel anak sekolahan. Sempat mencari si Doel beneran mau minta tanda tangan. Sayangnya ini, kan Karang Anyar bukan Jakarte, mane ade si Doel anek sekolehen.
Panas, sesak, berdesak-desakan mirip ikan asin dalam keranjang yang baunya hmmff... aduhai. Untung aku tidak mabok maning, mabok maning, padahal waktu kecil aku paling hobi mabuk kendaraan. Paling setelah turun nanti aku butuh tabung oksigen buat menyambung nafas.
Pukul 15.00 wib setelah bayar uang masuk di pos yang tepat di samping Gapura bertuliskan Cemoro Sewu kami berempat sibuk kembali dengan aktivitas mengambil air dan sholat Ashar. Pasalnya menurut guide Ali, air baru ada di sumber air Drajat beberapa meter dari puncak.
Ali tampak mengerutkan kening melihat carier yang dia bawa semakin berat. Kami pura-pura tidak tahu sampai Ali akhirnya bersuara memprotes tentang bawaan kami.
“Gila, kalian mau jualan di puncak ya?”
“Ada deh, mau tahu ajah!” sahut kami kompak sambil cengar-cengir.
Setengah empat kami mulai start naik. Sobat, tahu enggak sih, ternyata walau tidak tampil dengan make up atau baju seksi. Kami bertiga berhasil menggaet dua cowok loh. Hebat, tho? Tentu saja, tampang kami yang cute (sok kalau pada mau muntah) meski tanpa riasan telah membuat mereka berdua seperti kerbau yang dicucuk hidungnya.
 Jadi nanti tinggal rayu-rayu sedikit pasti nanti mereka mau bawain carier kita. Huehehee.... Mereka, Alex dan Kisky asal Bogor.
Jalur pertama yang harus kami lalui berupa jalan undak berbatu. Baru beberapa tapak nafas sudah mulai terdengar berat.
“Slow motion aja ya, guys!” desahku hampir kehabisan nafas.
“Iyahh,” sahut Citonk tak kalah lemah yang berjalan di belakangku.
Sesuai dugaanku, Pheenux masih terlihat sangar. Sejak zaman diksar dan melintas Gunung Slamet dulu dia memang terkenal sebagai strong woman. Apa karena bapaknya tentara ya jadi terlatih. Setiap pagi lari-lari keliling komplek asrama sambil menggendong ransel. Bapakku juga tentara, dulu pernah sih bapak mengajak lari-lari pagi, tapi pada saat itu aku tiba-tiba datang bulan, belum pakai pembalut hingga celanaku bersimbah darah. Sejak saat itu Bapak tidak pernah mengajak aku lari-lari lagi. Ada dua kemungkinan mengenai hal itu, pertama trauma aku bikin malu lagi dengan darah haid di pantatku. Kemungkinan kedua, takut disangka menyiksa anak sampai berdarah-darah sedemikian rupa. Efeknya kayak gini nih, gampang letih, loyo, letoy.
Satu jam kemudian kami beristirahat agak lama di pos satu. Sebuah shelter jadi pilihan ternikmat untuk meluruskan kaki. Tentu saja, setelah selama perjalanan tadi waktu istirahat hanya sekedar mengambil nafas.
“Hehe… lumayan!” desisku sebelum meneguk air dari botol air mineral palsu. Cuma casing-nya saja yang bermerk, dalamnya air sumur Citonk.
“Lumayan apa, Sus?” tanggap Pheenux.
“Lumayan ngos-ngosan, apalagi?balasku yang nyaris bareng dengan celoteh Citonk. Kami lalu tertawa.
“Nih, makan snack dulu!” tawar Kisky membuat mata kami langsung berbinar-binar.
“Asyik nih! Yach, bagi dong Pin!” seruku kalah serobot dari Pheenux.
“Tenang, tenang semua kebagian.” kata Citonk sok dewasa meski umurnya di bawah aku dan Pheenux. Tapi melihat mukanya, mupeng tenan!
Ali senyam-senyum melihat ulah kami bertiga berebut makanan. “Kalian lapar apa doyan sih?
Ini asli enak,” sahutku. “Beli di mana nih?”
Di Bogor.” jawab Kisky.
“Pasti mahal. Merknya apa, Cit?” Pheenux penasaran.
“Asterina,” baca Citonk yang memeluk biskuit dengan krim kacang.
“Judul yang bagus, mmm, ntar anakku tak kasih nama Asterina, ah.” kata Citonk.
“Nama merk biskuit dipakai buat nama orang, ada-ada aja.” ucap Kisky tersenyum.
“Eh, bagus lho, pabriknya aja yang aneh, pakai nama sebagus itu.” bela Pheenux. “Tonk, gimana kalo nama anak kita dibuat sama?”
Asterina, berarti bunga aster. Rina artinya cantikocehku asal. “Boleh juga tuh.”
“Yee, ikut-ikutan. Nggak boleh, itu hanya untuk nama anakku tahu! Yang nemu aku, kalian jangan ikut-ikutan.” protes Citonk kumat sifat kekanak-kanakannya.
“Jangan pelit gitu dong!Pheenux tidak mau kalah. Anggap aja sebagai kenang-kenangan dari ke Lawu, makan biskuit kacang pemberian Kisky.”
Sweet memory with biskuit kacang!” komentarku sambil menatap biskuit kacang yang pasrah dalam cengkeraman jariku.
Citonk kelihatan menimbang ideku dan Pheenux.
“Udah, mikirnya sambil jalan aja yuk!” ajak Ali menyudahi perdebatan ala play group kami. Tidak mutu! Lagi pula kalau ternyata anak mereka cowok apa mau dikasih nama Asterina? Ada-ada saja!
Jam menunjukkan pukul lima. Waktunya ngecamp, waktunya ngecamp! Jam tanganku sudah menjerit mengingatkan akan RO yang kami buat dan berdasarkan kesepakatan pakai target waktu. Tapi sejauh kaki melangkah belum menemukan tempat yang tepat untuk mendirikan tenda. Jalur yang kami lewati berupa tanjakan melulu. Banyak batu-batuan pula, nggak nyaman banget buat ngecamp. Dan lagi tidak mungkin muat buat pasang tenda.
Tapi menurut informan__Ali yang agak lupa-lupa ingat, katanya pos dua tidak jauh lagi. Kita sih menurut saja. Meski sudah tidak nafsu jalan.
Satu setengah jam kemudian pos dua masih belum menampakkan batang hidungnya. Mungkin karena langkah kami yang super duper kayak siput, jadinya tidak sampai-sampai.
Aku, Pheenux dan Citonk mendadak mogok jalan ketika menemukan tempat yang agak luas. Kami merengek ke Ali supaya ngecamp saja di tempat tersebut. Alasan pertama lapar, kedua aku dan dua teman UPL-ku sudah kena sindrom ngecamp kalau malam. Dari bayi saat diksar sudah dikondisikan begitu sih.
Ali menurut setelah kami ancam bakal kami perkosa rame-rame. Padahal tempatnya sama sekali tidak asyik, selain agak miring juga banyak batuan yang nongol. (baca kelanjutan kisah kami saat kedatangan tamu tak diundang ya!)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

The Three Mbakentirs ke Gunung Lawu

lanjutan...
Pen, Aku Padamu!



* HO1 (Hari Operasional 1)
Tepat pukul empat, Mbak Nia__weker hidup, tetangga kamar Citonk yang telah dipesan supaya bunyi untuk kami, menggedor-gedor pintu kamar. Aku langsung berdiri dan berteriak, “Siap!”
Hehe... kebiasaan di rumah. Masih ingat kan bapakku tentara. Jadi setiap pagi bapak sudah meniup peluit di depan pintu kamar kami anak-anaknya supaya bangun pagi. Setelah itu kami dibariskan layaknya apel pagi sebelum melaksanakan tugas masing-masing. Jadi kebawa deh, begitu dengar suara Mbak Nia serasa mendengar lengkingan peluit bangun pagi.
“Heh, cepetan bangun!” seruku melihat Citonk dan Pheenux yang masih akrab dengan selimut mereka.Ayo keburu keretanya berangkat.” tanpa ampun selimut aku tarik dari tubuh Citonk dan Pheenux.
Pukul lima lewat sepuluh menit, kami sudah berada di sekre. Biasa mencari bantuan buat mengantar ke stasiun. Setelah berjuang membangunkan para hantu sekre akhirnya ada juga yang terpedaya dengan jeritan alarm kebakaran ala Trio Meong (Suxie, Citonk dan Pheenux).
Mas Dedi dan Keling sambil kucek-kucek mata langsung menstater motor dan mengantar kami bertiga secara bergantian. Jadi curiga jangan-jangan mereka mengantar kami sambil tidur.
Ini pertama kalinya aku membonceng motor dengan menggendong tas carier segede gajah. Bisa dibayang pun gimana tuh rasanya. Mau pegangan Keling bukan mahrom. Jadilah aku menyisakan ruang ditengah jok motor untuk pegangan. Berkali-kali aku nyaris terbanting ke belakang. Tangan kram dan jantung deg-deg plas tidak karuan. Keling sepertinya sedang mimpi jadi Valentino Rossi. Tidak sadar ada penumpang yang jumpalitan berperang melawan angin.
Hei, cepeeeeet! Keretanya mau berangkat!” teriak Pheenux yang tiba duluan sehabis beli tiket.
“Makasih, Mas!” seruku dan Citonk sambil lari ngacir. Kami berlarian berlomba mengejar kereta yang tetap cuek melaju. Tidak berperikeretaan tuh kereta, tidak kasihan melihat ada tiga cewek yang aslinya manis-manis harus lari-lari dengan carier besar nguber dirinya. Ccckk….kurang kerjaan banget!
Setelah menjelajah dari gerbong ke gerbong dan sempat kena omelan sama orang-orang yang tidak sengaja kena tas gajah kami, akhirnya dapat tempat duduk di gerbong tiga. Kami menghembuskan nafas hampir bersamaan, fiuh, nyaris saja ketinggalan kereta.
“Pemanasan yang indah,” komentar Pheenux mengatur jalannya nafas. Aku dan Citonk manggut-manggut tanpa bersuara sibuk menertibkan udara yang masuk ke hidung.
Sekitar pukul sembilan tigapuluh kereta yang kami tumpangi berhenti di stasiun Klaten, kami langsung mencari-cari Ali. Bukan Ali topan anak jalanan loh! Ali adalah guide kami ke Lawu, syukur-syukur bisa merangkap jadi porter. Maklum kami ini masih amatir dalam hal pendakian. Baru satu gunung yang kami daki yaitu Gunung Slamet itu juga karena hukumnya wajib bagi AM. Ini pendakian kami kedua, pendakian pertama tanpa disertai anak UPL!
“Dia nunggu di mana?” tanyaku.
“Aku suruh tunggu di depan pintu masuk.” sahut Citonk menjulurkan kepala keluar jendela. Pheenux melakukan hal serupa. Aku yang tidak kebagian lubang jendela cuma menempelkan mukaku ke kaca kereta.
Untung tempat duduk kami berada di sisi sebelah kanan. Jadi tidak repot menggusur orang-orang yang sudah bercokol dibangku sebelah kanan. Tinggal longok ke jendela pintu masuk stasiun langsung kelihatan.
“Ali tuh!” seru Citonk.
Mana?” tanyaku yang belum pernah bertemu Ali, celingukan mencari-cari orang yang dimaksud Citonk.
Dia nggak lihat kita,” kata Pheenux. “Dia lagi nyari kita!”
“Syal, syal!” seruku tiba-tiba.
Citonk segera merogoh sakunya. Detik berikutnya syal berwarna oranye telah berkibar-kibar di udara. Teriakan heboh memanggil Ali, Ali, Ali ikut bergema. Jadilah kami seperti team pandu sorak norak yang menari-nari dibangku kereta.
Aksi kami membuahkah hasil. Kata Citonk, Ali telah bergerak mendekat ke gerbong dan kemudian sudah nongol di lorong tempat kami menyambutnya bak pahlawan. Rambutnya yang sedikit gondrong lurus lunglai berkibar tertiup angin yang tidak tahu datang dari mana.
“Wah, cewek semua?” Ali syok setelah tahu dia cowok sendirian. “Itu barang kalian?” apalagi setelah tahu carier kami bertiga.
Gawat, jangan-jangan aku nanti yang suruh bawain semua. Air muka Ali tampak berkata begitu, sambil cleguk, menelan air ludah.
“Kenapa?” tanya Pheenux.
“Ntar yang paling berat biar aku yang bawa.” kata Ali menawarkan diri.
“Pasti,” sahut Pheenux tanpa basa-basi mengacungkan ibu jarinya. “Memang itu maksudnya.”
Muka Ali tambah pucat pasi.
“Eh, kenalan dulu dong!” cetusku sambil mengulurkan tangan. “Suxie,”
“Udah tahu namaku, kan?” ucap Ali tersenyum. “Mereka berdua pasti udah cerita tentang aku.”
“Iya, sih. Tapi nggak semua.”
“Baguslah. Dengan begitu kemisteriusanku tetap terjaga.” kata Ali datar dan tenang.
Kemisteriusan? ulang Citonk.
Misterius? Gayamu.... sambar Pheenux tertawa bareng Citonk.
“Apaan sih?” aku tengak-tengok bingung.
“Loh, aku kan cowok cool.” tanggap Ali terkekeh.
“Halah!!”
“Kulkas?”
Yo, karepmu. He-em, Suxie fakultas apa?” Ali mengalihkan tema.
“FISIP,”
Lalu kami tahu-tahu sudah berada dalam sesi tanya jawab klasik sampai tanya jawab moderat. Halah maksudnya apa?! Tanpa prasangka bahwa nantinya kami akan bertemu dengan sesuatu yang akan mengubah hidup kami. (masih nyambung!!)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

The Three Mbakentirs ke Gunung Lawu



 Lanjutan: Pen, Aku Padamu!


* H-1 (Pra Operasional)

Aku cukup takjub dengan kamar Citonk yang tidak lagi menjadi kamar yang asyik menurut versiku. Daya imaji dan kreatifitas Citonk selalu menciptakan kamar yang bernuansa. Selalu berganti tema. Hari ini bertema alam, dengan banyak foto gunung, sobekan kulit kayu yang bertuliskan SAFE OUR FOREST, ada edelweis yang tidak mencerminkan safe our forest, tidak tahu Citonk dapat darimana sebab UPL melarang keras anggotanya memetik edelweis. Bunga pinus kering yang berbaris rapi di meja, tak ketinggalan tanaman hidup dalam vas air, dan pohon bonsai.

Tiga hari berikutnya kamar Citonk bisa penuh dengan gambar-gambar karakter kartun disney. Jendelanya berumbai-rumbai bintang dan bulan. Atau pernah pas aku ke sana ada banyak bunga melati di atas kasurnya, dengan warna pink bertebaran di mana-mana, katanya sih nuansa kamar pengantin. Dan bila natal tiba kamar Citonk langsung berubah seperti gereja.

Beda banget pokoknya sama kamar kosku yang berukuran 3 x 4 meter beralaskan karpet plastik karena belum dikeramik. Sejak awal datang sampai sekarang kamarku tidak berubah. Tetap gersang, tidak ada ornamen apapun yang menghias tembok dan mengisi meja kecil salah satu dari tiga perabot kamar selain lemari dan tempat tidur. Barang-barang elektronik pun, enggan singgah di kamarku. Eh, ada satu ding! Radio jadul imut yang suaranya sukses membuat beberapa retakan ditembok.

Malam ini tema kamar Citonk; badai baru saja berlalu. Bayang pun aneka benda berserakan semena-mena tidak pada tempatnya. Seperti CD (celana dalam) Citonk yang bercengkerama dengan beras. Sementara snack, mie instan bersanding dengan golok dan yang paling mengenaskan aneka plastik, buku dan kertas-kertas bergelimpangan terinjak-injak kaki Citonk dan Pheenux. Ramai pokoknya, ada yang mendesah-desah, ada yang menjerit-jerit, ada pula yang merintih kesakitan.

Wah, kamarmu benar-benar berkarakter, Tonk!” pujiku berdiri di ambang pintu sambil menenteng carrier.

“Datang juga!” Citonk tersenyum menyambut kedatanganku yang tak dijemput, pulang juga bakal sendiri.

“Harus!” komentar Pheenux.

“Tugasmu?” tanya Citonk. “Risti mau gantiin?”

Aku mengangguk melempar turun golok yang nangkring di kasur Citonk, lalu duduk di tepi ranjang berhimpitan dengan aneka bekal makanan selain golok tadi. Aku memegang janggutku sambil bersabda layaknya Chairil Anwar: “Aku ini bak koruptor yang terbang ke negeri orang.” 

“Haha… kami nggak maksa loh!” kata Citonk. Pheenux malah tertawa lebih keras sambil nungging-nungging.

“Tapi godaan itu begitu kuat.” masih sok berpuisi. “Dasar setan gunung! Aku tergoda!” pekikku berubah memakai intonasi ‘aku gak punya pulsa....’ (Siapa menjiplak siapa coba? Dialog itu terjadi sebelum handphone mewabah menjadi KLB: Kejadian Luar Biasa).

“Cuma tiga hari ini. Mbak Riana udah ngasih ijin, kan?” tanya Citonk.

Enggak tahu, tadi pas aku telpon ke kosnya dia lagi keluar. Jadi aku nitip pesen aja ma temannya, hehe....

“Bener-bener kabur kau!” hujat Pheenux membuatku semakin terpuruk di sudut ruang.

“Bukan waktunya untuk galau! Jadi ikut nggak?” hardik Citonk. “Kamu udah kami jatah barang kelompok, tahu!”

“Pe-de banget aku ikut. Mana?” sahutku terbangun dari rasa bersalah. Semangat penaklukan kembali berkuasa.

“Tuh, dekat lemari.”

“Beres. Plastik packing mana?” tanyaku cepat melupakan soal publikasi dan mbak Riana.

“Sebelah kaki Citonk.” sahut Pheenux.

Nux, kalau udah selesai RO-nya tolong di-print!” komando Citonk yang memang didaulat menjadi ketua tim.

“Petanya udah belum?” aku mengingatkan.

“Lupa!” pekik Citonk menepuk keningnya lalu mengaduk-aduk tumpukan buku yang ada. “Gimana nih, belum foto copy?”

Kami bertiga melihat ke arah jam dinding yang menampilkan pukul 22.30 WIB. Aku dan Pheenux kemudian saling pandang menyeringai menyaksikan sungut keluar dari kepala kami. Selanjutnya kami kompak berkoar “Langsung gunting!”

Citonk tersenyum ala pembunuh berdarah dingin, tanpa ekspresi dia memotong peta dari laporan pendakian Gunung Lawu yang kami culik dari Pusdok UPL. Semoga tidak ketahuan pengurus. Bakal push up seumur hidup kalau ketahuan nakal. Hihi... (padahal dengan kisah ini jadi ketahuan, maap-maap 1000x). Tapi tenang, nanti setelah mendaki kami akan pasang lagi kok. Itu kalau tidak lupa. Itu juga kalau petanya tidak lecek. Itu kalau petanya tidak hancur kena air hujan. Itu kalau petanya tidak hilang.

Kami sangat khusyuk menata barang bawaan kami yang jadi sebesar lemari. Sungguh melenakan hingga tanpa sadar malam telah merayap melewati tengah malam. Untung tidak ada ibu kos, kalau ada, huh… bisa mencak-mencak tidak karuan disangka sedang mengadakan pesta narkoba. Tetangga kos Citonk kayaknya sih bisa toleran.

Pukul dua dinihari kami baru merebahkan tubuh kami. Rasa senang campur deg-degan memaksa kami ingin tetap terjaga. Tapi kalau ingat besok harus bangun pagi, mau tidak mau mata kami paksa memejam meski hanya sekejap. Padahal sudah pagi! (nyambung lagi yak…!)


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS