RSS
Container Icon

Sang Pecinta 2


*Sebuah Kisah Tentang Aku dan Pantaiku


Pagi itu aku terbangun oleh percikan sinar mentari pagi. Hawa dingin dan hembusan mesra bayu memaksaku kembali ke balik sleeping bag yang hangat.
Suara canda air yang bermain dengan angin menggugah sadarku serta mengabarkanku untuk segera beranjak dan menyapa sang penguasa siang.
Senyum hangatnya seakan mengobarkan semangat hidup abadi.

Sejurus kemudian aku telah menatap lepas tanpa batas. Wangi laut tanpa komando menyergap indera pembauku. Sangat khas dengan aroma peluh si pelaut.

Tiba-tiba kudengar suara bisikan yang menegakkan bulu kuduk. Suara bisikan yang memilukan, rintihan yang mengisyaratkan mengharap uluran tangan. Bisikan itu bergema ditelingaku “tolong… tolong aku!”

Terpaku aku. Sementara otak warasku berpikir ini hanyalah halusinasi yang tak perlu aku hiraukan.
Namun suara itu nyaris memekakan gendang telingaku. Ku coba mengikuti arus suara mengarah. Hingga ku dapati bisikan itu semakin jelas tatkala telingaku hampir berciuman dengan pasir halus menghampar di depan indera lihatku.

“Tolong aku wahai manusia!” bisikan itu seakan berseru kepadaku.
Aku anggukkan kepala tanda jika aku benar mendengar jelas seruan mengiba itu.
“Lihatlah aku wahai manusia! Aku si pasir malang, bagian dari keindahan pantai yang terkapar tak berdaya.”
“Lihat! Gerangan apakah yang mengitari aku!”
Aku mengernyitkan dahi, menegakkan kepala lalu duduk bersila, kemudian berkomat-kamit laksana orang gila menghitung apa yang ditangkap lensa mata dalam diri sang pasir. “manusia, binatang, serpihan rumah kerang, perahu, jaring, dan tanaman”. Tebakku.
“Tertutupkah matamu wahai manusia? Sesuatu hampir menelanku?Tidakkah engkau menyadarinya?”
Aku diam tak mengerti apa yang dimaksud sang pasir dengan bisikan gaibnya. Aku bahkan ingin sekali mengacuhkannya.
“Tidakkah kau lihat begitu banyak sampah yang menutupi kecantikanku?”
Ups! Aku lupa menyebutnya. Benar, sampah nyaris membelenggunya dalam kebusukan.
“Bersediakah engkau mempersunting aku?”

Hening sejenak.

“Kudengar engkau seorang pecinta. Engkau bahkan mendeklarasikan dirimu sebagai seorang pecinta yang mencintai alam. Betulkah?”
Kata-kata itu seakan menghantam telak ke ulu hati sehingga tanpa aku sadar setitik air yang tak ingin ku cucurkan menetes lewat celah sanubari yang telah lama tertutup kepongahan.
“Bersediakah engkau menyucikan ragaku dengan cintamu? Aku sakit, aku miskin cinta, sementara di sini aku menanggung beban berjuta kotoran sisa manusia. Salahkah jika aku menuntut cinta atas ketidakadilannya? Walau mereka tlah meracuni diriku?”

Termenung aku.
 Naif sekali.
Pertama kali aku mengenalnya aku bahagia mengagumi kecantikannya, lalu bermain, tertawa, berteriak bebas. Kini ketika sampah telah mengisi hari-harinya aku hanya bisa mengeluh. Keluhan tentang keburukan, ketidakindahan dirinya yang pernah mendamaikan jiwaku.
Jiwaku yang dulu merindu ketentraman, haus ketenangan.

Hari ini mataku terbuka.
Ternyata kedewasanku selama ini tak cukup memahami keinginan dari cintaku. Begitu bodohnya aku hingga hanya bisa bermain dalam duka alam yang senantiasa teraniaya olehku. Oleh ego dan pongahku tuk menaklukkan dirinya yang berselimut pesona dan mimpi manusia.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

sekedar... 
Kicauan Hati

Menjadi sempurna jelas sebuah kemustahilan.
Tapi aku yang tak sempurna ini selalu memimpikan kesempurnaan itu.
Banyak hal yang ingin ku raih. Namun akhirnya yang ku dapat hanya kekosongan.
Jadi apa aku harus membuang semua impian itu?
Menjadi seperti takdir yang telah dititahkan.
dan menjadi semakin kosong...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sang Pecinta


Aku dan Alamku
 

Ketika persepsi mereka tergulir mendiskreditkan tentang aku dan alamku
Ku anggap itu hanya sekedar gurauan semata
Aku tahu, mereka tak akan pernah mengerti bahkan tak akan mau mengerti
Meski tiga hari tiga malam aku mendongeng tentang aku dan alamku

Aku sadar dengan otak waras.
Bagi mereka aku hanyalah seorang syaraf 
gemar berkeliaran masuk keluar hutan mencari titik tertinggi,
menyusup mencari sudut gelap dalam lorong pekat,
merayap menanggung nyawa demi puncak tegak,
bermandi lumpur untuk melawan ganasnya Agas, dan seolah bermain dalam bayang kematian
Itu pikir mereka.
Tapi esensi esaku demi cinta

Bagiku alam dan petualanganku adalah hidupku yang sesungguhnya
Dia laksana keluarga, sahabat dan rumah ternyaman bagiku
Dialah yang telah mengajari aku makna cinta serta menempa kedewasaanku atas pencarian jatidiriku
Dia begitu alami tanpa topeng kepalsuan
Dia selalu menebar damai, mengecam pertikaian
Indah meski selalu berpagar misteri

Dan aku sungguhlah percaya, bahwa alam yang kucinta akan mendekap hangat ragaku selepas arwah menghilang bersama ceria alam yang terjelang esok hari
Aku bahkan akan bahagia meski sebentuk sesal kan mengutuk aku karena telah lancang melawan titah agung yang murka

Biarlah…
Ini adalah kisah tentang aku dan alamku
Selama langit masih biru membentang
Selama laut masih bersedia menciumi garis  pantai
Selama puncak nan anggun masih menjulang tinggi
Selama jiwa masih setia pada raga ini
Selama itu pula ijinkan jiwa dan raga ini berkelana menyisir setiap lekuk pesona pada dirimu
Biar kukabarkan pada dunia betapa pentingnya engkau wahai alam bagi hidupku


                       

                                                                                          Purwokerto,  Juli 2004
                                                                                                                                         
                           Dalam letihnya malam yang membius nafas dalam buaian mimpi.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perjalanan Etape 9


*Menari Bersama Agas


Mataku seketika menuai pencerahan. Seluruh beban yang menghimpit luruh tertinggal dan tenggelam dalam alun gelombang mengayun laju perahu. Ombak kecil menggulung deru perahu hingga oleng menawarkan desiran pemacu adrenalin. Ini barulah sebuah awal dari balik ketegangan yang akan disajikan. Makanan pembuka yang menumbuhkan gairah tuk mencerna hidangan utama.
Sahabat, hari ini aku menantang kalian bercumbu dengan aroma laut bercampur geliat lumpur liat. Rawa, sebuah istilah yang akan membawa imaji pada tempat berlumpur dan terngiang kata buaya. Meski tak selamanya demikian. Justru rawa adalah hamparan tempat memikat yang tak kalah pamor dengan tonggak bebatuan menjulang berjuluk sang tebing perkasa. Walau pada kenyataannya jati dirinya tiada setenar rekan penyaji tantangan alam lainnya.
Inilah dirinya. Sang Tuan Rumah yang ‘ramah’. Segala ada tersedia dalam tatanan nan apik. Di awal langkah sambutan meriah kilauan air akan mengulum setiap jejak yang ditinggalkan. Bergelut dengan kaki-kaki terjerembab, membuka tabir jeruju yang mencolek genit dikulit, menepis sengatan pemilik cahaya abadi, berlomba dengan ratusan semut yang tiba-tiba berkeliaran dibadan atau menunggu cubitan mesra putri agas yang selalu merindu uluran tarian khasnya.
Inilah sepenggal kisah aku dan teman-temanku saat menyingkap tirai sangar yang memagari sisi perawan sang rawa.
Perahu mendaratkan kami dititik awal perjalanan. Kami berjajar satu lintas menerjang vegetasi daun-daun perepat yang rapat. Sungguh menghambat laju kaki meski telah diangkat tinggi. Aneka hijauan daun yang solid memayungi lumpur hingga tak menggigit kaki. Meski terkadang mereka nakal menjegal pijak ayunan tapak kami.
Penjelajahan terus berlangsung, sungai-sungai kecil memasang aliran dan harus kami lewati. Kadang kami dipaksa turun untuk menikmati romansa percik membasah. Tak jarang kami melompatinya dengan bangga. Dan ketika induk sungai marah menghadang derap laku kami, senyum lebar kami haturkan sebagai pembilas rona mengganas. Kami berusaha santun memenuhi alur penghantar ke sebrang. Berenang, disambut kembali himpunan lumpur pekat.
Malam mengganti selimut siang. Bercengkeramalah kami diantara dahan-dahan penyelamat hembusan gelombang pasang. Dalam hammock kami menidurkan badan yang letih hingga esok tiba menebar harum masakan di atas para-para, masih sebagai kawanan kera yang bergelantungan pada pohon-pohon pencakar.
Hari demi hari kami selami dengan riang. Tiba di sungai terakhir menghamburkan tubuh berpeluh lumpur. Satu tim perahu menyapa kami dalam reuni yang hangat. Sesaat kami mengenang gegap percumbuan kemarin. Kami tersenyum puas berhasil menelanjangi aura seram yang ia pancarkan. Tidak. Ia seorang kawan lama yang menyenangkan. Seorang pemberi kesan yang sempurna. Seorang penabur kenangan  manis yang terlupa.
Lihatlah kawan! Kamera waktu telah memproyeksikan kebersamaan kami. Saat-saat terindah… saat berkubang dalam jebakan lumpur, saat harus makan menelan lumpur, saat bayu menggoyang ayunan mimpi, saat putri agas merajuk mengajak berdansa dan… banyak lagi kenangan manis mengisi ruang ingatan. Begitu menggiurkan, teruntuk petualang yang lapar akan tantangan mendebarkan.
Bola merah pembias panas telah letih dan beranjak memasuki sarangnya. Kulihat burung bangau mengangkasa dengan ringan seakan mengenalkan bahwa inilah rumahnya. Belibis bercanda dengan kawanannya mengabarkan ini tempat singgah termewahnya. Peranakan bangsa kera menyanyi dengan jeritan bercerita bahwa di sinilah keturunan mereka dilahirkan untuk mendiami hamparan impian. Ku berseru dalam hati. Damailah kalian di sana. Jangan hiraukan kehadiran kami yang murni bukan hendak mengusik kalian. Kami datang tuk sekedar menjenguk, mengenal kalian dengan bendera persahabatan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perjalanan Etape 8

*Membelah Canda Riak



Lengan telah lelah menanggung beban, ketika sebuah jeram menanti dengan lapar seolah ingin segera melumat habis penampakan raga yang hendak melintas.
“Bersiap, dayung kuat!” seru skipper pemandu laju perahu lantang.
Sebagai awak perahu kami dituntut patuh apapun yang sang kapten komandokan. Jeram menatap liar ke arah kami layaknya pesakitan dengan algojo bertangan dingin siap mengeksekusi.
“Maju kuat!” teriak skipper penuh semangat. Kami jelas menyambutnya dengan bangga.
Teriakan pemicu kekuatan mistik bertalu-talu, mengiringi gerak otot bisep. trisep yang berkesinambungan menarik dan menegang. Wush! Perahu meluncur cantik tanpa dayungan. Arus kuat sangat bijak menuntun laju perahu pada permukaan flat.
Jeram-jeram kecil mengiringi arak-arakan gegap kemenangan. Kami tetap menjaga konsentrasi jika tak ingin si riak buih putih tiba-tiba menyusup lengah kami  dan kemudian dengan nakal ia muntahkan seluruh isi armada. Tidak, kawan kecilku. Kami paham trik kunomu.
Aliran berubah tenang bahkan mengandaskan perahu. Satu persatu walau enggan kami menurunkan kaki membiarkannya bermain bebas dengan air yang dingin. Orteging harus kami lakukan agar bisa melawan jeram berikutnya. Ini sangat menggelikan. Ajang balas dendamkah? Kami kini yang diperbudak perahu dengan memanggulnya hingga batas kandas usai.
Kembali ke posisi semula. Perahu mengarah tak beraturan. Manuver menjadi pemecahan kendali yang sempat terkacaukan.
“Tarik kanan!” komando skipper. Perahu terlalu merapat ke dinding sebelah kiri.
Perahu kembali menyisir normal. Kami terus mendayung melampaui ombak, bernafas di eddy sebelum terjun ke jeram dahsyat. Bahkan sebuah hole pada dinding tebing sukses kami pecundangi. Hhh…..nyaris saja, sedikit terlambat mengatur tempo kami bakal celaka termakan lubang yang semena-mena itu.
Kami menguras keringat di atas flat. Kapten kami mengendus ketidak beresan. Orteging lagi? Firasat kami berkelakar.
Ada celah yang bisa dimasuki!” kabar menggembirakan dari sang kapten.
Kami mengayuh kuat, mengendalikan perahu ke sisi kiri sungai. Dan…..kejutan besar menanti. Celah seukuran perahu menyajikan aliran yang menghujam tajam. Curahan bak air terjun kami lawan habis-habisan. Meski kami tahu kami akan terjungkal menabrak perahu lain yang sedang menepi menurunkan awaknya. Sudah terlambat, perahu yang tergelincir dalam ruang sempit tak sanggup bermanuver. Terjepit.
Seisi perahu sontak berhamburan ke sungai. Bahkan ada yang mendarat di perahu tetangga terkurung di antara dua perahu yang saling berpaut.
Satu demi satu awak berkumpul. Kami semua tertawa telah menyelesaikan sebuah aksi yang mendebarkan. Jeram Cepit. Nama tepat untuk jeram yang baru saja menjepit dan memuntahkan kami.
Penyusuran dilanjutkan. Tiba di jeram curam lagi. Manuver dilakukan. Dan seorang awak menjadi tumbal terpental mengikuti derasnya sungai. Aksi penyelamatan digelar, resque rope menjadi senjata ampuh untuk menarik nyawa. Kawan kami menyeringai.
“Itu tadi keren sekali!”
Ketegangan-ketegangan menyalami kami dengan indah. Si otak tubuh perahu sungguhlah hebat. Perahu terus dan terus melibas jeram tanpa jera. Begitu manis mengarungi setiap golakan yang ingin menggulingkan singgasana  kenikmatan. Tentu, kami akan melawan. Meski sesumbarnya seakan menyurutkan nyali.
Riak gelombang sungai masih setia mengikuti kayuhan dayung. Sementara matahari berangsur menghilang seperti menyengaja menanti kami di ujung terbenam. Dan arus tak lelah berlari mencari titik rendah akhir dari sebuah perjuangan. Baiklah. Ayo, kita berlomba, kita buktikan siapa yang paling tangguh dapat menyentuh cakrawala hari ini!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perjalanan Etape 7



*Lorong-lorong sahabat


Hari ini menurutku, aku terlihat gagah. Sebuah busana kebesaran membalut hampir seluruh tubuh. Baju ala penerbang mungkin juga pakaian kerja bengkel, cover all jadi ciri khas tersendiri bagi penjelajahnya. Helm dan lampu kepala menjadi asesoris yang tidak boleh terlewatkan ditambah sebuah lilin yang tersemat manis di saku lengan.
Berdebar rasanya jantungku menjemput pertemuan dengan primadona nan anggun namun sedingin salju. Sisi gelapnya menawarkan kesunyian abadi, hanya kawan lamanya yang bersedia menunggui dengan sinar mata penuh kehangatan. Jutaan ornamen adalah perhiasan mahal yang kau cipta dengan kasih ribuan tahun lamanya. Tentu, kau menyimpannya dan tak kan rela jika seseorang menjamahmu tanpa santun.
Zona remang romantis ku lewatkan dengan manis. Kelepak gelisah kelelawar mengitar terusik.
“Tenanglah kawan, hadirku hanya tuk memahami ketenangan sobat lamamu. Benarkah sunyi tempat sempurna tuk menimbun gundah? Aku ingin membuang resah dan berbagi kehampaan.”
Lampu senter menyirami aneka batuan unik. Ornamen flowstone menjuntai gemulai. Stalaktit menggantung bak lampu penghias ruang mewah. Pilar pencakar terbalut leleran air seakan mendesak ingin dipeluk. Stalakmit yang menggeliat tumbuh turut mewarnai cipta seni yang tersuguh apik.
Ups! Buaian pernak-pernik istana bawah tanah ini telah menjerembabkan kakiku dalam liatnya lumpur berbatas dengan keriap air. Dingin menelusup lewat pori kain pembalut badan menggigit kulit. Sensasi menakjubkan saat merenangi air tatkala dinding atap merendah memaksa muka berciuman hingga basah. Merayapi liang sempit ditebus dengan chamber selaksa ruang petapa agung.
Lorong-lorong panjang terkadang menyesatkan membuahi kecewa. Berakhir dengan jalan akhir yang mustahil ku terobos, sedang tubuhku kasat mata. Tirai-tirai gordin telah menutup jalan ke depan. Ku kembali menjilati tebaran moonmilk dengan mata kekaguman. Sementara air masih enggan melepaskan aku dari rengkuhannya.
Sebuah guardam telah menanti tuk ku gerayangi. Satu-satunya celah yang mungkin akan memberiku kejutan lain. Sedikit sukar tanpa pijakan nyata, air pun turut menampar muka dengan percikan nakal. Namun bara penasaran berhasil membawa tubuh menuju puncaknya.
Adakah kebosanan telah merambati kalbu, ketika ujung lorong tiada menyambut gemuruh rindu bersua dengan maha cahaya. Tidak. Pencarian harus menemui titik ajal. Aku yakin alur-alur yang ada akan membawa pada kepuasan tiada tara. Walau aku harus rela manakala kepala beradu keras dengan batu tua. Hadiah cap kebiruan dikulit mungkin akan menempel beberapa hari mendatang sebagai kenangan. Aku bangga telah menembus pekat sang jawara malam.
Lorong sempit masih ku ikuti ujungnya. Untuk menelusurinya kaki melaju menyamping. Pantat dan perut tak lepas bergesekkan dengan dinding pengap. Celah kecil yang menganga di depan hidungku tak kusia-siakan. Merayap merupakan santapan terlezat tiap waktu. Ku nikmati hingga hadiah lorong lebar memberi applause atas jerihku.
Telingaku menangkap sesuatu yang bergemuruh. Ku harap bukan derap genderang musibah air bah yang menggoncang. Air menyisakan setinggi mata kaki. Temaram cahaya membantu menuntun mataku memantulkan berkas cahaya. Gemuruh semakin memekakan telinga.
Lalu…….Air mukaku mengutas senyum. Pintu keluar menyorotkan cahaya siang yang menyegarkan. Rona pelangi laksana karpet merah penyambut tamu kebesaran digelar. Riuh gemuruh itu……ah, ternyata curahan air yang menghujam tanah. Sebuah air terjun nyaris menutup pintu keluar ujung lain. Menakjubkan!
Terbayang aku akan dongeng klasik tentang pangeran dan putri. Goa yang tertutup air terjun, tempat pelarian hebat untuk memadu kasih. Akankah putriku telah menunggu hadirku di mulut goa ini?
Sinar yang menerjang retinaku cukup menyilaukan. Aku coba susupkan tubuhku di sela percikan yang merajalela. Bebas, ku hirup wangi dunia permukaan. Terlampau biasa. Tak ada gejolak keterasingan yang dalam. Putri sunyi sungguh pendiam. Meski emas bergelimang menguasai jagad penuh kedamaian. Terimakasih putri, kiranya dirimu sudi berbagi kesenyapan dan meluruhkan dendam.
Kepalaku menengadah, ku cari si empunya cahaya. Ku berseru penuh bangga;
“Wahai surya, Sang Pemancar Cahaya! Aku yakin kau akan senang jika turut serta menjelajahi perut sang bumi. Sayang. Kau terlalu sibuk dengan kehidupan permukaan. Kau pasti tidak sadar, sahabat-sahabat baik di sana tetap diam dan tenang meski kau tak adil membagi cahayamu. Kerajaan gelapnya justru terbangun megah dan cantik tanpa sentuhan hangatmu. Mereka yang di sana membisu. Melindungi dari kekejaman terik yang kau tawarkan jika letihmu telah memuncak di ubun-ubun. Hai, kau yang di atas sana dan bertahta aura membara, sanggupkah kau berkenalan dan bersahabat dengannya?”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perjalanan Etape 6

*Saat Berdekap Denganmu




Aku tak tahu apakah ini sebatas pelarian atas kepenatan dalam menjalani hidup kemarin. Ataukah karena alam yang pendiam menyimpan segudang teka-teki yang sayang untuk dilewatkan, dibongkar hingga auranya telanjang? Yang pasti hari ini kobar adrenalinku akan tersalurkan dengan manis. Bersiap mengarungi detik, putaran waktu dan mengecap setiap mili kokohnya ragamu.
 Aku dongakkan kepala, mengukur jarak untuk target hari ini. Dan aku rasa tepat bagian batu yang menjorok (hang pertama) dengan hiasan rumput liar. Lima puluh meter, semoga, aku harap lebih, mengingat poin yang sukar ditembus.
Aku melirik ke sejumlah peralatan panjat siap pakai. Sebagian besar alat-alat itu termasuk benda berat yang terbuat dari besi. Semua tergantung membentang seperti jemuran lengkap dengan talinya bahkan mirip pajangan barang dagangan.
“Tiga hari!” ucap teman satu timku mengajak toas.
Why not!” balasku tak kalah optimis. Apalagi operasional perdana ini aku didaulat sebagai leader. Si penentu jalur pemanjatan, tentu tanggung jawabku besar. Aku harus memastikan pengaman yang kutancapkan menggigit kuat bibir batu andesit yang keras.
Aku mulai merayap mendekap batuan kokoh yang berjuluk tebing. Kaki, tangan, kelentukan tubuh dan otak berkoordinasi tanpa henti agar tak luncas dan terpental mengikuti laju gravitasi. Tanganku terus meraba sekedar mencari tempat singgah ternyaman jika ingin tetap berdekap dengannya. Kakiku menegang tuk sebuah pijakan penentu guliran nafas. Detak jantung dan nafas seakan berlomba menghantarkan butiran keringat.
Matahari semakin tinggi. Pancarannya benar-benar menyengat sekujur tubuh memaksa kulit yang mulai menjelaga runtuh terkelupas karenanya. Tubuhku masih bergelantungan bersama tali-tali sahabat jiwa. Lelah dan haus silih berganti menemani tanpa bisa ku elak.
Berat terlihat. Tapi tantangan ini sangat menjanjikan kepuasan para penantang kaum pejantan. Hidup seakan meregang nyawa. Seluruh indera bekerja. Satu lelah, asa kan musnah.
Hari ketiga. Hari penghabisan penuh pengharapan. Seorang kawan membimbing lintasan. Ku lihat begitu gesit laju geraknya, semangat yang meracun dirinya jadi pematik rasa penasarannya tuk segera menapak puncak kepuasan yang terjanjikan.
Aku sempatkan meletakkan pantat yang telah rindu ingin mengadu lempeng datar. Meski hanya setengah pantat yang diperbolehkan mendarat, aku sudah cukup tersanjung. Batu yang mejorok dan menyisakan sedikit ruang bagi lelahku sungguh melegakan tarikan nafas yang sebelumnya sesak.
“Hoi…..! Top!” teriak kawan setimku yang me-leader.
Kepala kudongakkan mencari kepastian pendengaran. Benar. Dia sedang berjuang agar kakinya bisa menapak tegak. Tercapailah asa. Sesaat dia meghilang. Kemudian kepalanya tiba-tiba melongok ke bawah seraya menampilkan sunggingan penebar semangat.
Gairah mendesir menyulut organ tubuhku tuk segera bersua. Satu pijakan, dua rengkuhan, dan…
“Ah!” erangku.
“Zan….!” kawan-kawanku meneriaki aku.
Seketika sadarku melayang seiring tubuhku yang serasa terbang. Lepaslah lelah sesaat, berganti desiran ringan membelah udara. Sekejap. Hingga indera perasaku menggores perih wajah yang bersimbah peluh bercampur debu dan sedikit leleran cairan kental berwarna merah darah. Yeah, darah mengalir cukup deras dari sudut pelipis kananku. Tapi otakku masih sangat jernih walau tubuh tergantung tak sempurna.
Aku mengenang sejenak gerangan apa yang telah dengan sukses memerosotkan tubuhku hingga beberapa meter ke bawah. Piuh, pe-erku semakin banyak. Aku teringat betapa bergeloranya diriku ketika sobat satu perjuangan berhasil menggenggam tali kemenangan dengan bangga. Aku jadi terlalu bernafsu ingin segera memeluknya, merasakan degup jantung yang berdentang mengabarkan kejayaan kami sebagai seorang pecinta yang selalu haus kasih Sang Dewi Alam. Lalu azab menelan ambisi serakah. Aku bahkan tak menyadari jika batuan yang  kudekap begitu rapuh, tanganku yang mencengkeramnya semakin melabilkan hingga runtuh bersamaku. Ah, cerobohnya aku!
“Kau tak apa-apa, sobat!” gemuruh suara kawanku menyadarkan keterkejutanku.
“Oke!” sahutku sambil mengacungkan ibu jari.
Ku seka darah yang menyatu keringat di sudut mata. Daya kembali kukumpulkan bersama pijar semangat yang ada. Aku tak hiraukan tusukan menyakitkan dipelipis kanan. Hanya satu yang kupedulikan, titik akhir pemanjatan ini. Walau terus terang ku akui tubuhku sempat melemas tanpa aliran darah, tapi itu tidak akan menyurutkan nyaliku yang kian menggebu.
Sekali lagi aku meniti lintasan yang pernah kurambati. Sejauh ini kesabaranlah batu ujian yang harus aku renangi. Aku pijak dan tancapkan jari-jariku dengan mantap. Satu rengkuhan lagi. Batinku menyemangati. Sobatku pun menyeringai menanti hadirku dengan dengungan pengobar semangat yang tak kalah berwibawa dari batinku. Selanjutnya dia mengulurkan tangannya membantuku memijak puncak yang aku rindukan.
Darah masih mengalir meski pertolongan ala kadarnya menyentuh lukaku. Nafas mulai normal setelah tersengal. Aku duduk menikmati nuansa penyegaran bak semerbak bauan aromatik. Wangi Sang Dewi Alam yang terpujakan. Kuciumi hembusan hawa yang disajikan, hingga pedih yang memakan rasa punah tersapu sang bayu.
Lirih ku dengar senandung jiwa kasmaran. Terbuai aku dalam alirnya. Dia lalu memapah indera lihatku menyaksikan bentangan alam yang maha luas. Memaksa benakku berangan dan menginginkan, hhh… seandainya hati dan jiwaku seluas jagat ini pasti tidak akan pernah ada luka terpendam. Yang ada hanya kejujuran tuk sebuah cinta kasih. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perjalanan Etape 5


Lanjutan *Saat Berlari Bersama Deru Ombakmu


Aku rentangkan kedua tanganku bebas. Wangi laut masih tercium oleh indera pembauku. Menakjubkan! Dari sini seluruh penampakan pantai dengan segala perniknya dapat terlihat nyata bak lukisan naturalis penuh imaji. Aneka burung laut mengangkasa dengan manuver menukik kadang menyentuh ujung laut dan kadang meraba ujung langit. Kapal-kapal mungil tampak mengayuh pelan, semakin jauh bahkan ada yang kemudian menghilang dibalik layar biru yang membentang tanpa batas. Lekukan teluk pembentuk pantai sangat jelas tergambar laksa bulan sabit. Bak bidak catur tanpa jari pengatur, kerumunan orang-orang bergerak bebas berlari, bermain menyisakan sayup dengung gembira digendang telinga.
Pemandangan lain berhasil ditangkap kamera mataku. Sisi kiri dari tanganku mempersembahkan seraut muka dengan sunggingan menawan. Sebuah pantai yang tak kalah menarik menatapku dengan ceria. Walau ia terhampar tak seluas tetangganya yang ramai pengagum, tapi sejatinya dirinya yang berdekap dalam ketenangan terlalu cantik untuk dilupakan.
Identitas unik bersarang hingga memuntahkan decak kagum. Dua karang mendongak menyembah langit dengan kepongahan yang tersirat. Satu karang menghadang hempasan ombak ditepian pantai. Karang lain berdiri menjauhi tepian tenggelam dalam pelukan air membiru. Batinku berseru,
“Tunggulah, kan kujemput engkau diujung pijakan tapakku. Kan kucari celah pembuka deburnya yang menyurut, kupastikan arah pelarianku hanya untuk merengkuhmu.”
 Lebih jauh radar penglihatanku beradu dengan panorama lain. Kulihat gugusan tanah menjorok lebih dari satu mengundang jiwaku tuk segera menyapa keanggunan hakiki. Beribu jajaran bukit menanjung menampilkan gejolak baru. Seperti bukit yang kini ku injak, bukit-bukit serupa gundukan tanah menghijau itu ku tebak membelah teluk, tempat dimana air bisa leluasa bercengkrama dengan butran pasir. Sungguh tergambar jelas nuasa syahdu itu.
Tak terasa siang telah menyenja. Bola merah pembias panas kian malu dan berusaha menundukkan wajahnya  di balik jajaran bukit terakhir dari seribu bukit. Bahkan separuh permukaanmu nyaris tercelup air laut. Sunset pantai! Beruntung aku bisa menyaksikan sebuah gejala alam yang sangat luar biasa bagiku, walau mungkin bagi anak pantai ini bukanlah sesuatu yang spesial. Untukku akan menjadi hal yang menimbulkan kecemburuan.
Debur ombak masih sibuk bermain dengan pantainya seakan tak mengenal istilah waktu. Kulihat burung-burung yang mengangkasa mulai gelisah ingin segera menjenguk sarang harapan. Namun aku dan anganku terlalu enggan berlalu dari ujung gundukan tertinggi, hasratku masih ingin menyelami irama debur ombak yang menyenandungkan kidung gembira anak pantai. Dan biarkan aku tetap di sini sebagai pengagummu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perjalanan Etape 5

*Saat Berlari Bersama Deru Ombakmu


Aku datang dari tempat dingin dan tinggi. Semasa itu telah beribu-ribu gunung aku daki. Setapak namun pasti kuturunkan pijak langkahku hingga mencapai muka dunia terendah. Aroma lain kucium begitu menyengat. Sangat khas, penuh gelora dan gairah yang mendebarkan dada.
Gunungan bukit-bukit kecil tak lebih tinggi dari mata kaki menghampar polos menantang terik bola merah pembakar satu sisi hari selama duabelas jam. Gundukan membukit-bukit pasir itu memberi citra tersendiri sebagai suatu tempat landai yang kaya akan air. Terlalu bertolak belakang dengan keberadaannya yang penyendiri dipuncak-puncak dingin, begitu angkuh meski segudang keindahan tertabiri selimut kabut. Di sini kau seorang peramah bersahabat dengan keriuhan segenap isi suka cita alam. Angin, ombak, riak, pasir, karang bahkan jerit anak manusia adalah pembentuk kisah persahabatan yang hangat. Rangkaian kisah yang bersama-sama akan membuahkan kenangan manis tersendiri.
Sebuah pantai. Di mana anak-anak dapat merasakan belaian kasih sang alam. Lewat pasir yang kau tebar mengalasi ragamu, kau lindungi kulit-kulit muda mereka agar tak terluka. Lewat hembusan nafas angin, kau menepis kejamnya siang yang membara. Lewat debur air mengombak, kau ajak jiwa-jiwa baru tertawa menyelami makna canda yang kau desahkan.
Aku sungguh menikmati suasana yang menghanyutkan ini. Gemerisik bulir lembut menyambut kaki telajangku dengan gelitik manja. Anginpun masih setia menerpa, mengusir hawa panas memberi kesejukan. Dengan angin inilah gelora air terkendali hingga sudi menjilati bibir pantai. Hhh……sebuah alunan canda yang menggemaskan sehingga dapat memaksa tiap insan turut serta dalam perhelatan gelak suka itu.
Aku mulai menyusuri lintasan batas antara darat dan lautan. Sesekali riak air mencolek nakal lewat sela kakiku dengan lincahnya. Hanya sesaat lalu berlari kembali ke induknya. Dia melambai menggulung diri, seakan menggoda aku agar mengejarnya. Aksi kejar-kejaran adalah kegemarannya, tanpa ragu aku melayani setiap titahnya.
Si pantai ini rupanya penyuka lawakan penghadir tawa. Ku lihat nyiur berjari seribu meliuk berdansa dengan sepoi angin selepas bergemuruh mencumbu air.
Langkahku sejenak terhenti, ku dongakkan kepala menebus penasaran mata. Benar. Aku tidak salah mengira. Di depan sebuah bukit telah menghadang pemandangan lepasku. Bukit itu menjorok ke laut membentuk semenanjung hijau dengan gagahnya. Tak takut terkikis derasnya hujaman kumpulan air liar. Serentak jiwa tualangku mendesak kaki tuk meniti rimbun terjalnya garis tepian yang menjadi titik temu garis lengkung lain.
Rumput semak bergoyang tersentuh irama langkah yang terasa sangat berat. Sisi miring nyaris 45 derajad membuat tubuhku mendekap pada lekukan kasar tubuhmu. Merayap menjadi sebuah sensasi yang menegangkan urat saraf. Kesabaranku menuai berkah.  Jalan setapak yang ku idamkan beberapa menit lalu membentang menghantar lajuku ke tempat yang dijanjikan. Puncakan bukit  mengesankan terhampari ilalang lengkap dengan serbuk putihnya melegakan tarikan nafas yang mulai menyambung teratur. (bersambung....)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS