RSS
Container Icon

Perjalanan Etape 4


*Cinta Gila

Dua tahun ini hidupku selaksa tersembah untuk Sang Dewi Alam. Tiada hari tanpa mencumbunya dalam asmara berselaput tawa. Ringan, tak terbelenggu beban yang mengancam eksistensiku sebagai aku pedamba kealamian. Bebas bersenandung tanpa nada. Merdeka dari keluhan duniawi yang haus harta.
 Dulu, tak sama kurasa. Aku sungguh menanggung karma. Dirimu yang kusangka liar tanpa hukum, ternyata lebih beradab dari peradaban yang telah lama tenar. Gegapmu menyiratkan kedamaian yang didamba manusia. Riuhmu menyimpan sunyi berhawa hangat melahirkan ketenangan. Bukan sunyi berbuah sepi. Bukan ketenangan ilusi mendekap mati. Itulah yang membuatku hanyut dan menggila dalam pelukmu.
 Aku teringat pada dunia yang dulu mengikatku. Sungguh aku takut keturunanku akan berbangsa kanibal, tega menghisap darah hasil jerih saudara dan bangga membiarkan bangkai-bangkai busuk penindasan berkeliaran tanpa topeng kemaluan. Tidak! Kupastikan jiwaku berkelana dan belajar cinta darinya, Sang Dewi Alam yang bersahaja berselimut kasih nan ceria.
 Untuk yang kesekian kalinya aku mengembara. Mencari dan terus belajar dari keluguan yang menyejukkan relung sanubariku. Tentu. Aku ingin menggali berjuta ilmu, menempa hidup menikmati ragam rasa yang kau tawarkan.  Senang, tawa, sedih dan tangis yang merupakan roda lingkaran belenggu manusia.
 Seorang petualang ‘Walter Bonatti’ bahkan berujar bahwa engkau adalah guru sekaligus pemberi petuah terbaik bagi manusia. Dalam gemulai pesonamu menyimpan hukum-hukum yang menjadi pelajaran bermanfaat bagi seluruh mahluk bernyawa. Yeah, aku yakin itu. Aku hanya butuh bukti akurat agar aku bisa mendongeng pada dunia. Yeah, inilah Sang Dewi Alam yang mengobsesi nafas dan detak jantungku hingga aku meggila ingin selalu bersimpuh dipangkuanmu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perjalanan Etape 3 (lanjutan Ketika Benih Cinta Mulai Tumbuh)

*Ketika Benih Cinta Mulai Tumbuh



Memang masih terlalu dini bagiku tuk mengenalmu, jiwa penasaranku ingin segera melumat setiap sisi penampakan alam yang kau sembunyikan dibalik rimbun dedaunan liar. Ingin kucari lahan kosong dihatimu agar bisa kutanam benih cinta yang telah mulai berkecambah. Aku harap benih itu akan tumbuh besar dan penuh cinta hingga kelak akan mengabadikan kisah-kisah yang pernah terlukis diantara kita.

Penyusuranku atas gerangan dirimu masih berlangsung. Buliran debu berganti menyambutku, menyerbu ke sekujur tubuh. Secercik bagiannya bahkan sempat singgah dimataku terasa perih memerah. Kemudian titik temu yang kau janjikan diatas tanah tinggi yang dingin mengulurkan tangannya, menyeret langkahku menuju dekap hangat nafasmu.

Tak jemu aku menasbihkan puji-pujian doa, berbisik betapa agung Sang Pecipta menguntai auramu. Kagumku sontak menghindar, senandung angin pilu menyiarkan luka terpendam dalam jiwanya yang tenang. Dia bertutur jika wajahnya tak sepucat kini. Ada rona mewarnai senyum abadinya. Sayang keabadian itu telah punah oleh jiwa-jiwa rakus yang mencuri mahkota kebesarannya. Kosong. Padang impian yang bermandikan edelweis telah tercabut oleh tangan. Sepi, meranggas dan meradang.

Aku terpaku kelu, seiring sudut mata yang mengaca. ’’Wahai cintaku, aku datang bukan hendak menjarahmu. Aku datang atas restu undanganmu. Apa yang bisa kubuat tuk menyucikan kegelisahan kalbumu yang beralas perih nestapa?”

Sunyi. Semakin dingin pula kurasa. Dan kau masih menampakkan geliat nan anggun, meski tawamu mugkin tak serenyah dulu.

Sebuah seruan menghentak, memaksa langkahku meninggalkan asa yang sempat kau titiskan padaku. Dan keluguanku tak mampu menerjemahkan sinyal harapan atas kemalanganmu. Aku hanya menikmati nelangsa sesaat. Tak juga paham inginnya.

Hanya getar aneh berbisik meyakinkan bahwa benih cinta yang pernah kuminta pada suatu lahan telah tertanam siap tumbuh dan mekar. Meski sejatinya aku tak mengerti bagaimana aku harus mencintanya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perjalanan Etape 3

*Ketika Benih Cinta Mulai Tumbuh


Sebuah kesempatan gemilang bertandang memberiku kartu undangan. Sangat menarik. Sebuah kencan indah yang telah lama kunanti. Kiranya dia menginginkan hadirku tuk sekedar bercumbu sesaat. Seiring rinduku, aku bersorak melonjak girang.

Entahlah. Gejolak yang menggebu menggerogoti kalbu. Ada perasaan percaya berhimpitan dengan ketidakyakinan. Benarkah aku ingin menjenguknya? Atau sekedar pelarian dari kepenatan aktivitas harian yang menjemukan.

Bentang permadani hijau berhasil menyedot perhatianku, melupakan ketidaknyamanan logika. Ingin sekali segera berlari, menari, bergulingan. Belum lagi buaian awan putih yang mendorong hasrat kecilku tuk bermain, meloncat dengan riang. Satu lagi, aroma khas tubuhnya menghirup otak menerbangkan angan bagai terbius obat-obat terlarang. Yang jelas ini bukan madat sungguhan. Ini akan sangat menyegarkan, menguatkan dan menyehatkan. Tubuhmu akan berkeringat hingga metabolisme tubuh bekerja normal menghantar pada semangat untuk hidup dan berupaya mengantongi hidup agar lebih bermakna. Aku harap semua percaya pada obrolanku ini. Walau aku mungkin seorang pembual, tapi bualanku jika dicerna akan memberimu petuah yang berguna.

Layar kehidupan telah berganti menjadi layar kematian, dan berganti lagi ke layar hidup baru. Pagi ini aku jauh lebih siap dari sebelumnya. Kematangan pola pikirku yang telah dicekoki berbagai pengetahuan tentang menyiasati dirinya, si molek alam dan cara memperlakukannya. Percaya diri lebih mewakili ungkapan berani. Setidaknya aku tak perlu bingung lagi jika tiba-tiba dia marah dan mencampakkan aku.

 Sisi lain dirimu kau saji begitu menawan. Lebih terang bahkan sang penguasa siang tak perlu malu-malu mengintip lewat celah dahan yang rimbun. Cukup vulgar hingga kulitku terasa terbakar. Bukan masalah besar. Asal aku bisa menatapnya lagi, luka itu akan menghilang dengan sendirinya. Hati pun akan terpuaskan, walau mungkin kehadiranku sebagai tamu undangan tiada sangat istimewa. Aku bisa menerima dengan bangga dan senang.

Buah dari hasil pertemuan pertama meyakinkan aku bahwa keberadaan dirimu sangat memberi arti bagi hidupku. Dulu hidupku monoton berkutat dengan benang-benang dunia yang kusut. Kini benang sutera lembut mulai kurajut demi lembaran kisah baru yang akan kubentang dipuncak kebebasan. (bersambung…..)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perjalanan Etape 2

(lanjutan *perjodohan)

Sebuah suara mengaburkan segala kenyamanan yang kurasakan saat aku mencoba merebahkan tubuh lelahku.
 “Mari kita lanjutkan langkah kita!” serunya.
 Aku duduk tersenyum. Gerak selanjutnya kembali aku merayap bersama jiwa-jiwa yang mendamba keagungan singgasana.
 Tak terasa tabir terang berganti corak menjadi hitam malam. Aku duduk mengitari api penebar hangat bersama jiwa-jiwa pencari cinta. Banyak cerita, kelakar dan canda. Semua itu membuat hatiku menghangat dan terhibur. Kisah-kisah dan kelucuan yang dilepaskan perlahan menjadi dongeng-dongeng indah dalam mimpi semalam.
 Pagi cerah menyambut geliat mata yang terbuka. Senyum ceria jiwa-jiwa lain yang menyertaiku menambah suasana gemilang. Entah dengan raut mukaku. Bersukakah? Ujian berat untuk mendapat tiket masuk singgasana baru akan dimulai. Tak ada gairah dalam diriku. Aku hanya mengandalkan keinginan diri tuk tetap hidup. Tentu saja! Aku tak mau mati konyol. Ini akan menjadi tongkat sakti yang bakal menuntun  pijak kakiku hingga ku bersanding dengannya nanti.
 Sedikit lagi, pompa semangatku. Jangan mati sia-sia di sini. Tak seorang akan menemanimu kelak. Hanya dingin, gemuruh angin dan tiupan petir yang akan menjilati jiwa kesepianmu. Mantapkan! Bersemangatlah!
 Teriakan kemenangan berkumandang. Ini…..ini adalah puncak singgasana tempatku akan bersanding kelak. Mataku nanar memandang ke sekeliling. Decak kagum tanpa kusadari memuji keindahan istana di atas awan. Dari sini aku merasa bisa melihat dunia seluruhnya. Aku sungguh kecil, sangat kecil. Teringat aku lagu tentang negeri di atas awan milik Katon Bagaskara. Dia benar. Kedamaian adalah jiwanya. Ingin sekali bisa menyatu dalam keheningan alam yang menggambarkan segala kehidupan anak manusia. Dia adalah saksi bisu yang setia menemani polah laku yang kadang sering melukai kesabaran hatinya.
 Kemudian, aku terkesiap. Sebuah wajah lugu nan menawan mendesirkan hati. Piasnya tersembul dari balik gugusan awan. Senyum itu. Jantungku berdetak cepat. Mengagumkan! Mahkota dari jamrud berkilauan menerpa jubah kebesaran bertahtakan mutiara bening yang singgah di pagi buta. Wawasannya luas, mengisahkan dongeng pembentukan aura cantik yang kini memancar.
 Ini adalah maha karya agung yang teramat sempurna. Beberapa kali ku bisikkan nama Sang Pencipta yang telah menghadiahkan keindahan ini. Terimakasih.
 “Ayo, kita segera turun! Sebelum dingin mengarcakan tubuh kita.” seru jiwa yang menyertaiku.
 Tanpa banyak kata aku mengikuti langkah-langkah berarak turun menyusuri jalan setapak menjauh dari singgasana tempat ku bertemu dengan seorang yang dijodohkan untukku. Ada getar aneh menelusup ke nurani. Hatiku perlahan berkata. “Akan kupertimbangkan perjodohan ini.”
 Aku tersenyum puas. Letih yang melibas anggota badanku meluruh bersama tatapan pesona nan anggun itu. Lepas….. Batinku bahkan berucap, “Tunggulah, hadirku akan kembali memeluk dingin yang kau cipta hingga hangat kan kau rasa. Ku pastikan aroma indah yang kau tawarkan akan selalu ku ingat dalam hati yang merindu.”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perjalanan Etape 2

* Perjodohan

Ketika embrio berkembang dan terlahir menjadi seorang bayi yang mungil, sebuah taqdir terlukis bahwa dia, bayi mungil itu yang juga aku adalah salah satu dari anak alam. Meski tidak langsung lahir dari perutnya, tapi aku tetap dianggap anak baginya. Aku digembleng oleh siang dan malam yang telanjang. Saat kedewasaan mendekat, aku harus siap menerima perjodohan yang telah disematkan.

Hari ini hatiku resah. Otot-otot tubuh ikut menegang. Seiring otak yang mengutuk tajam kelemahan argumenku tuk mengatakan, Tidak! Mereka tersenyum menyambut kebisuan yang kutampilkan. Tunggu! Ini pasti salah paham! Aku diam bukan berarti aku bersedia, justru kebimbangan yang mengisi penuh benak dengan ribuan pertimbangan.

Terlambat. Ketukan palu telah memutuskan aku harus setuju menerima tantangan perjodohan ini. Meski ketika teringat bagaimana dia menghajarku, mencaciku dan menertawakan diriku ingin rasanya menyudahi permainan bertaruhkan nyawa ini. Terlambat, sekali lagi terlambat. Aku semakin terjerambab jauh dalam arena perputaran nasib yang mengarahkan laju langkahku pada tangga tak beranak. Aku telanjur berucap akan bersedia mengenalnya. Mereka mengartikannya secara berlebihan. Aku harus menikah dengannya?

Baiklah. Demi harga diri agar tidak dijuluki si pecundang, aku rela menyerahkan diriku sebagai bentuk pengabdian. Toh, aku tidak sendiri. Aku yakin akan ada yang mendongkrak semangatku nanti.

Dengan enggan aku mengikuti arak-arakan dalam baris satu-satu yang rapi. Sebuah gerbang megah menjadi batas antara kerajaan alami dengan peradaban kontaminasi. Hawa dingin menerpa lembut dengan tusukan maut menghujam tulang. Nafas mulai kering, berhembus satu persatu. Sementara beban dipundak menekan seakan ingin menancapkan langkahku pada tatanan tanah basah.

Aku sadar, aku hanyalah seorang muda yang lemah. Aku hanya anak manja dari peradaban modern yang tak mengerti dunia alam atau kerajaan liar itu. Jiwaku mencintai dunia kerlip dengan desingan suara gaduh, aku sama sekali tak suka seni petualangan yang dicintai para maniak alam. Tapi…., kenapa dia memilih aku tuk jadi teman hidupnya. Bukankah banyak pejantan tangguh yang lebih kenal dirinya dan mencintainya? Bahkan mereka rela jika harus menjadi budak-budak yang bersedia tunduk pada titah sang alam. Tidak dengan aku.

Aku kira dengan mencoba sisi lain sebuah dunia akan membuatku bahagia. Kenyataannya aku hanya semakin terjebak. Perangkap yang dipasang olehnya sangat erat memasung raga dan sukmaku. Mustahil lepas! Jika kupaksa aku hanya akan menyakiti nyawa lain yang masih ingin menghirup madu kebebasan. Seteguk madu manis yang bagi mereka sangat menggairahkan. Tidak dengan yang kurasakan.

Siang ini hawa dingin yang menyelimuti dinginnya tubuh, sedikit banyak berhasil ditepis oleh pancaran panas surya yang dengan lincah menerobos celah diantara rimbunnya pepohonan. Selama aku melangkah dia tetap setia menyorotkan berkas hangatnya, hingga keringat mengucur deras membasahi balutan tubuhku. Masih jauhkah singgasananya? Hanya itu yang selalu kuucapkan dalam hati tuk mengusir lelah dan bosan.

Aku teguk setetes air tuk menghilangkan dahaga. Undakan yang akan membawaku ke singgasana pelaminan diwarnai dengan berbagai rintangan yang menyusahkan dan melelahkan. Aku mendongak ke sisi kananku jauh di atas. Samar terlihat singgasana yang berhias rangkaian awan putih. Begitu agung. Tidak jauh lagi. Hibur nuraniku. (bersambung….)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Teruntuk Tuhan...

Teruntuk Tuhan…



Terimakasih Tuhan….

Terimakasih karena hingga detik ini Engkau masih meberiku nafas agar k uterus bertasbih

Terimakasih karena memberiku waktu tuk memperbaiki sebentuk iman yang masih koyak

Terimakasih atas kesempatan mencari bekal demi menghadap-Mu kelak



Terimakasih Tuhan….

Terimakasih karena tiada bosan mendengar keluh kesah dan sumpah serapahku pada-Mu

Terimakasih karena selalu mengabulkan setiap untaian permintaan yang kuhaturkan



Terimakasih Tuhan….

Terimakasih karena selalu membimbing pijak-pijak kaki nakalku

Terimakasih karena selalu mengingatkan atas khilaf sengaja dan khilaf diluar pengertianku



Terimakasih Tuhan….

Telah memberiku hidup indah bersama kekasih yang Engkau tunjukkan untukku.



Jika telah sebegitu besar kemurahan hati-Mu, dihari dimana aku mulai ada ini masih pantaskah aku mengemis karunia yang masih Engkau simpan?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perjalanan


*Pertemuan

Ayam jantan sudah berkokok dengan gagahnya, dan aku masih terkapar enggan membuka mata. Bagai dikalungi berjuta tembaga mata ini terasa sukar tuk melihat gegap nuansa pagi yang baru saja lahir. Lelah masih setia menggelayut ditubuh. Nyeri, ngilu dan perih bahu-membahu menempa tubuh yang terbujur kaku, memprovokasi otak agar tak mengkoordinir otot melakukan satu gerak apa pun. Cukup begini, diam dan menikmati sejumlah kenangan.

Kemarin. Masih jelas terbayang saat jiwa dan ragaku dibelenggu oleh sistem yang tak aku paham. Luar biasa. Dia menyambutku dengan angkuh. Lecutan caci menjadi kata manis yang dia saji tuk menggerakkan tubuh melalui remote kontrol. Desauan angin yang dulu kurasa semilir menyegarkan berubah menggores balutan kulit sensitifku. Aku yang masih perawan. Hingga darah segar menetes diantara keringat yang meleleh terpanggang oleh sang siang.

Pertemuan pertama ini menerbitkan prasangka betapa kejam dirinya. Bahkan aku bernadzar tak sudi menemuinya kelak kecuali dia bersedia menyembulkan sedikit senyum manisnya padaku. Aku yakin, setiap senyuman yang tersungging menampilkan kesejatian sisi manis yang tersimpan dalam muka seram. Dengan itu mungkin jiwaku akan melunak dan mencoba tuk kembali mengenalmu.

Kemarin. Masih teringat bagaimana dirimu menjamuku dengan bongkahan-bongkahan amarah yang menggelindingkan raga. Aneh, dimana salahku? Setiap pijak langkahku kau hadang dengan kebengisan tapakan yang terjal. Kadang curam menanjak, kadang curam menurun, kadang lintasan bara kau pasang, bahkan kau juga menyisakan segaris jalan untuk satu kaki, bukan sepasang kaki. Beberapa kali aku nyaris jatuh, sekali aku terjatuh. Saat kuseka dayaku yang mulai meluruh kau justru tertawa. Tawamu terus menggema mengisi gendang telinga, terbahak di balik kebisuan ragamu.

Jika tidak salah sudah separuh jalan aku hidup bersamamu. Terawali dari naungan pucuk-pucuk hijau lebat yang menyesatkan dan bersanding dengan onak duri yang selalu siaga merajam tubuhku. Selesai menciumi diriku dengan hawa dingin yang menggigil, aku dituntun dalam gelap menelanjangi pesona auramu tanpa helaian busana hijau. Aku terkesiap. Indah, sunyi menelungkupi damai alami. Tak lama aku menikmati kesejukan yang menarikan bulu kuduk, selanjutnya aku dipanggang dalam terik surya membara. Panas, kulitku serasa mengelupas. Aku bergantung pada tali-tali erat, jika kupaksa lepas, lolos pula nyawa yang selama ini kudekap. Merayap dan terus merayap pada dinding batu tegak pencakar bumi.

Hari-hari bergulir. Begitu lambat namun pasti datang dengan membawa kejutan yang menantang urat syaraf. Firasatku berucap, ini akan segera berakhir. Penindasan yang sukar kutolak, kurasa akan menemui ajalnya. Atau justru ajalku? Oh, tidak. Dia sungguh ingin membunuhku terlebih dahulu sebelum dia mengakhiri dirinya. Sebuah hamparan penghisap tubuh menantiku dengan bangga. Rimbunan belukar menatap seakan merasakan haus yang berkepanjangan. Dia ingin tubuhku berkubang menyatu dengannya. Tidak! Dan terlambat. Alunan teriakan membahana menyeretku hingga terjerembab masuk semakin dalam.

Di antara keputus-asaan kutemukan butir semangat pemberontakan. Aku harus keluar dari kubangan ini! Seketika itu pula perih yang menggelitiki kakiku lenyap. Aku bangkit dan melawan. Satu hari aku berjuang mempertahankan ragaku dari hisapan lumpur maut. Nafasku tersengal, aku telah berada kembali diujung bibir kehidupan.

Senja semakin mendekat ke malam. Derap langkah lelah tertatih bersemangat mencari satu titik cahaya yang paling terang. Sayup kudengar bisikan memberi tanda bahwa sejengkal lagi hidup baru akan terjelang. Yah, cahaya itu penunjuk jalan menuju titik terbit cahaya terterang.

Gemerisik pasir yang bermain disela kaki tak kuhiraukan. Aku berjalan hanya dipandu semburat merah dilangit yang menampilkan bola pemberi nyawa siang. Samar kulihat pula sebuah bendera panji kemenangan yang harus kupegang dan kibarkan. Tentu saja, aku harus meraihnya, mengangkatnya dan meneriakkan kemenangan yang telah kureguk dengan taruhan nyawa.

Pagi ini hari begitu cerah. Terbukti dari kilatan sinar yang sukses meneropong mataku hingga mau membuka. Mimpi burukku telah berakhir. Dan hari ini tak disangka aku memperoleh kecupan lembut lengkap dengan senyum manis membasuh dendam yang kemarin bersemayam. Dia yang angkuh dan bengis namun mengasuhku dengan kasih yang hadir dipagi ini. Menjengukku, menebar senyum dan meluruhkan egoku.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

My True Love

Teruntuk Suamiku


Duhai suamiku,

aku memilihmu karena halus perangaimu

aku memilihmu karena gigih dan tekun upayamu tuk mencuri hatiku

aku memilihmu karena sinar sabar terpancar dari matamu


Duhai suamiku,

jika kau menganggapku mawar berduri ditepian jurang. Maka kau hujan yang menyiram bumi usai kemarau panjang

jika kau menganggapku mutiara hitam yang langka. Maka kau kristal indah yang harus kujaga dari goresan dan jatuh membuyar


Duhai suamiku,

kau simpan hatiku dalam pualam yang meneduhkan, dan akan ku simpan hatimu dalam bingkai lempeng berlian

kau menyanjungku bagai ratu, aku akan menobatkanmu sebagai ksatria cinta untukku


Wahai kekasihku,

meski aku menikahimu tanpa debar cinta yang kata orang begitu mendebarkan. Aku tahu pasti ada benang halus yang telah mengikat kita sebelum kita bertemu sebelumnya.

Aromamu, pancaran auramu tidaklah asing bagiku.

Seperti telah ada garis maya yang membuat kita saling terpana diawal jumpa.

Tapi itu bukan cinta. Semacam asa perahu yang telah lama mengarungi samudera kemudian menemukan pulau kosong rindu sentuhan.


Wahai kekasihku,

jika dalam hatimu masih bertanya-tanya adakah cinta itu dalam hatiku. Cinta itu ada, kekasihku. Cinta itu kini tengah mekar, sejak kuncup malam pertama. Cinta itu berubah menjadi edelweiss putih nun disana.

tak akan terjangkau siapa pun kecuali engkau yang telah berhasil membuat peta jalan untuknya.

Cinta itu tak akan layu oleh waktu sampai seribu tahun kemudian, bahkan hingga keabadian menjemput.


Wahai kekasihku,

jika kau selalu bertanya rindukah aku padamu yang jauh dimata. Aku tak pernah rindu, kekasih. Karena hatimu selalu menemaniku. Karena suaramu terus mengiang dalam ruang dengarku. Karena aroma tubuhmu selalu mengitari langkah-langkahku. Karena wajahmu tak pernah enyah dari mata dan otakku.

Walau sering aku ingin bertemu untuk mendengar cerita-cerita hidupmu. Sering aku ingin bertemu untuk memelukmu nyata dalam dadaku. Sering aku ingin bertemu agar ada yang menjaga keseluruhan hidupku dari serangan dunia. Dan sering aku ingin bertemu hanya untuk bermanja denganmu.

Tapi kekasihku, ada catatan kisah yang harus kita selesaikan sampai ada kata penutup yang indah.


Wahai kekasihku,

aku tahu kau juga merindu ceracau mulut mungil dari rahimku. aku mengerti usia kita tak lagi seperti lima atau sepuluh tahun lalu. aku paham ada sesuatu yang kurang dari cinta yang terbina.

Tapi kekasihku, ada goresan tinta yang berkata semua akan hadir pada saatnya. Ia akan menjadi buah yang lebih manis dari segala buah yang ada.


Oh gerangan belahan jiwaku,

Asaku membumbung bahwa kau akan menjadi yang pertama sekaligus yang terakhir dalam sejarah hidupku. Asaku mengangkasa bahwa kau akan tetap menjagaku sebagai ratu sepanjang jiwa dan ragamu merayapi bumi.


Oh gerangan belahan jiwaku,

tetaplah mencintaku tanpa pamrih

tetaplah menjadi pangeran seperti dalam dongeng yang senantiasa mengajakku berdansa dalam suka dan duka.



Happy b’day Luv…..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

a Piece Story of Love


Pertama kali aku melihatnya, jantungku berdecak indah nian bunga itu. Merah merekah senada dengan busana hatiku.

Kupikir kami bisa sepakat tentang hidup karena warna kami sama. Berhari-hari ku memujanya, menunggu saat tepat untuk memetiknya. Menyiapkan wadah terindah bagi kehadiran sang pesona.

Matahari telah mengemas ketika aku mengayun nada demi menyunting indahnya. Dia diam dalam tatap angkuh. Aku berlagu dalam tawa, dia mencibir.

Dalam degup yang membara ku beranikan tanganku terulur tuk menyentuhnya. Ouch.....
Warna merah semakin membuatku merah. Ada perih menggelayut.


Ah kawan, aku lupa sesuatu.
Mawar itu sungguh berduri. Bodohnya aku tak menyadari hingga aku tertusuk hingga ke dada.
Akhirnya yang kudapat hanya titik embun menyudut dikelopak mata.

Inilah nada-nada cinta yang kuuntai untuk memetiknya kawan,
dengarlah.....


Dear Mr Rose

Tahukah kau?
Sejak itu aku menjadi gila,
sungguh tergila-gila pada pancaran gerak lakumu
melupakan realita penantian lalu yang bersisa sia-sia

Entahlah,
Otakku mendadak buntu, meski aku mungkin cukup ahli dalam hal menggombal lewat tulisan
Kali ini aku terperangkap dalam lubang hitam kata, tanpa dasar hingga aku tak bisa keluar tuk berucap sebagaimana rasaku sesungguhnya
Terjebak dalam tuntunan nafsu
Gelisah dengan detik mengangan tentang dirimu

Kebimbangan menonjok telak ke jiwa. Membuat aku limbung memilih antara kebohongan atau kenyataan
Meski hati tak pernah bisa menipu hasrat setiap kehadiran selintas bayangmu
Ingin kembali menatapmu tanpa perlu kau berpaling padaku
Tanpa perlu menyentuh palung hatimu yang bukan untukku
teguhlah pada cintamu

Aku begitu takut mengakui bahwa ada getaran aneh yang menggerogoti status quoku
Aku terlalu naïf dengan menganggap percakapan sekejap dulu bukanlah mula atau bukanlah apa-apa
Ternyata aku salah
Itu awal bagi kebangkitan rohku yang suri
Menerbitkan harapan bahwa esok engkaulah sang pemberi hadiah pernikahan yang indah

Andai kau tak mengerti…..
demikianlah aku
Seorang pemimpi dengan obsesi setinggi Everest yang kelak ingin kudaki
Mustahil!
karena aku tetaplah aku
Si pecundang sok ksatria, pandai berpura-pura tegar sekokoh karang lautan
Tahukah kau?
Karang adalah sosok rapuh yang munafik
Kasat mata begitu perkasa dengan isi keropos berdiam dirongrong air laut kejam
Seorang yang mendadak jadi pengagummu
Seorang bodoh yang tiba-tiba menghamba cinta

Sangat aneh,
karena sekali lagi aku pun tak mengerti arti kegilaan ini
Tak seharusnya aku mendina-hina
menanti uluran tangan nisbimu, laksana si buruk rupa yang bermimpi bersanding dengan si rupawan

Tak seharusnya pula aku merangkai untai konsonan ke vokal dengan terbuka, sedemikian vulgar
Menumbalkan mutiara suci yang terpuja pembawa keanggunan
Menjeratkan diri dalam himpunan cerca kodrati manusia
Menjilati kehormatan kaum hawa

Tolong abaikan saja semua dramatisasi ini
Kecamlah aku!
Kutuki saja aku
tapi jangan kau ludahi ketidakberdayaanku tuk memilih cinta
Anggaplah aku serupa duri yang harus dibuang demi keindahan tanpa melukai siapapun
Anggaplah aku sebagai penggemar gilamu atas hasrat terlarang yang telah mencengkeram asaku
cukuplah dimengerti menjadi rahasia
Hanya kau dan aku
saja.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

My Life


Terdampar

Selama aku mengarungi samudera hidupku entah berapa kali aku terdampar dalam pulau asing yang jauh dari pulau impianku.

Tahukah kau kawan,
bahwa pulau impian pertamaku adalah pulau dimana orang akan merasa haus dengan ilmu berlayarku. Aku akan bicara dengan bahasa asing yang akan membuat mereka terpana, bertanya dan menjadi paham akan bahasa yang ku gunakan untuk berbicara.

Sayang, angin kecil tanpa ku sadar telah meniup perahuku menuju pulau yang membuatku bingung untuk melangkah. Apa yang akan kudapat dari pulau yang isinya hanya tentang cara memerintah. Mereka sangat lihai bersilat lidah menghujat yang mereka anggap salah tanpa melihat sudah benarkah mereka dalam bertindak selama ini.
Tak salah kiranya jika pada akhirnya kelak mereka pun akan dihujat balik oleh anak cucu mereka saat telah merasa menjadi wakil rakyat yang benar. Ini tidak akan pernah berakhir, karena yang mereka pelajari hanya demokrasi asal bunyi. Tidak pakai hati, tidak pakai otak.
Mereka berdalih anarkhi bisa mengubah tatanan yang ada. Benar sekali, karena mereka berhasil menghancurkan bentuk fisik dari tatanan itu. Hanya rumah atau gedung saja yang rusak, kawan. Isi mereka tetap sama. Busuk!
Meski aku muak, seluruh sudut pulau itu aku jelajahi sampai tak terasa aku telah menjadi warganya. Sebentuk kertas melabeli nama belakangku menjadi almamater pulau itu.

Tahukah kau kawan,
setelah menyisir pulau yang katanya telah banyak melahirkan ahli negara, aku kembali berlayar berusaha mencari pulau impian yang hakiki.
Sebentuk fatamorgana menyeretku mendekat pada sebuah pulau yang menyerupai pulau impian. Ah, ternyata tak salah. Aku sedang tidak berilusi. Benar ini pulau impian. Tapi kawan, ada selubung tipis yang membuatku tak bisa masuk ke dalamnya.
Aku hanya menjadi penonton tak setia. Aku hilir mudik tak acuh dengan sesuatu yang dulu adalah mimpiku.
Aku hanya pelayan, kawan. Aku melayani mereka yang telah menjadi cita-citaku. Tak ada iri dengki. Tak ada cemburu dengan pencapaian mereka. Tak senang pula aku berdiam di zona antara ini. Yah, aku sadar, ini menyerupai pulau impianku. Tapi sesungguhnya pulau impian yang kucari merupakan jembatan penghubung menuju samudera dengan pulau impian hakiki.
Aku masih dalam kubah yang nyaman. Setidaknya, aku sedang bersiap untuk berlayar kembali mencari pulau impian hakiki yang sampai kini belum juga terlihat dalam peta samuderaku.

Tahukah kau kawan,
saat aku sedang mengitari pulau tinggalku sekarang, sebuah badai mendamparkanku ke pulau yang pernah ku lihat dari bibir pantai. Anak pulau yang timbul tenggelam. Suatu masa pernah terlihat, namun tenggelam kembali kemudian.
Kini aku berdiri diatasnya. Pulau terjal yang penuh persaingan untuk hidup. Dan aku harus tinggal berebut udara agar bisa bertahan bernafas.
Perahuku koyak kawan, aku butuh kayu untuk menambal atau bahkan membuat perahu baru. Untuk itu aku harus rela berpeluh keringat, air mata bahkan darah jika perlu demi mendapat sebatang kayu kokoh bagi perahuku.

Entah kawan, aku merasa nyaman dalam arena pacu pulau ini. Ada hal yang membuatku bersemangat terus maju dan maju.

Dan kawan,
sepanjang hari aku sibuk berkejaran dengan waktu. Aku nyaris lupa dengan pulau impian hakiki yang masih menjadi misteri akankah kutemui. Perahuku pun belum tersentuh perbaikan sama sekali. Aku malah asyik tawar menawar dengan hari, gerangan kayu apakah yang cocok untuk mengarungi samudera dimana kemungkinan pulau impian hakiki berada.
kadang nyaris menyerah kawan,
tapi pertunjukan tidak boleh berhenti, kan? Atau kalian akan menyesal!

Dan tahukah kau kawan,
sebentuk kata-kata panjang ini kuharap bisa membawaku kembali berlayar menempuh kiloan samudera yang setiap saat bisa saja mendamparkanku kembali pada pulau asing yang tak ku ingin.

Dan kawan,
Sesungguhnya dibalik setiap terdamparnya perahuku, ada kuasa Agung yang telah menulisnya dalam angin. Aku selalu kalah dengannya. Aku yang lulusan pulau birokrat latah menghujat-Nya sebagai biang langkah tertatihku. Aku marah, aku nyaris berbuat anarkhi.
Tapi kawan, tanpa ku sadar tulisan angin yang membentuk badai itu ternyata perlahan menguatkan perahuku.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Oktober Still Love

Masihkah Kau Mencintaiku?


Sedikit tergelitik dengan acara reality show berjudul ‘Masihkah Kau Mencintaiku?’ Apalagi waktu kebetulan menonton tema yang diajukan mengenai suami yang tidak lagi perhatian seperti saat bulan madu dulu, eh, kemudian menuduh selingkuh.

Jika benar terjadi perselingkuhan bukankah seharusnya pihak yang diselingkuhi introspeksi diri? Bukannya langsung men-jugde bahwa itu murni kesalahan suami/istri yang selingkuh. Ngaca dunk, say! Sudahkah kau memberikan yang terbaik bagi dia. Sudahkah kau menjalankan hak dan kewajiban sebagai suami/istri secara seimbang.

Bukannya berheboh ria memanggil kru TV untuk mem-blow up (dimana ‘maluku’ berada saat itu; sepertinya tidak lagi di Indonesia) masalah kamar rumah tangga.

Yeach! Mungkin itu bukan urusanku juga. Tapi ku punya sebuah cerita menarik tentang masihkah dia mencintai kita.

Sebuah kisah yang mungkin bisa menjadi cermin bagi kita, agar tidak langsung main tuduh yang kelak justru bisa berakibat fatal.

Kisah ini ku ambil dari buku ‘Indahnya Kegagalan’ pengarang Yusron Pora.

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan hangat. Kami telah menjalani masa perkenalan 3 tahun, waktu yang cukup lama untuk mengenal dia sebelum masuk masa pernikahan yang sudah saya jalani selama 2 tahun ini. Terus terang saya mulai lelah dengan pernikahan kami. Segala alasan yang menyebabkan saya mencintainya berubah menjadi sesuatu yang membosankan.

Saya seorang yang sensitif dan berperasaan halus yang selalu menginginkan romantisme dengan pasangan. Sayang, suami saya kurang sensitif dan tidak bisa menciptakan suasana yang romantis seperti yang saya inginkan.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya yang ingin bercerai dengan dia. Dia terkejut dan menanyakan alasannya, “Mengapa?”.

“Saya lelah, kamu tidak pernah memberikan cinta yang saya inginkan”.

Dia hanya terdiam dan sepanjang malam malah berada di depan komputernya. Kekecewaan saya semakin bertambah, saya pikir buat apa mengharapkan seorang pria yang bahkan saat seperti ini pun tidak menampakkan reaksi apapun. Begitu dingin!

Keesokan paginya dia bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?”

Saya menatapnya dalam dan menjawab dengan pelan, “Saya punya pertanyaan, jika kamu dapat menemukan jawaban yang ada dihati saya, saya akan berubah pikiran.

Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?”

Dia termenung dan akhirnya berkata, “Saya akan memberikan jawabannya besok.”

Hati saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya ketika saya bangun, dia sudah tidak ada di rumah. Saya hanya menemukan selembar kertas dengan coretan tulisan tangannya di bawah segelas susu.

Tulisan itu berbunyi;

Sayang, aku tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tapi ijinkan aku menjelaskan alasannya.

Kalimat pertama sudah menghancurkan hati saya, tetapi saya lanjutkan membaca.

Kamu mengetik di komputerku dan selalu mengacaukan program PC-nya, kamu lalu menangis di depan monitor. Pada akhirnya aku harus memberikan jari-jariku agar bisa membantumu memperbaiki programnya.

Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan aku harus memberikan kakiku supaya bisa mendobrak pintu, membukakan pintu untukmu ketika pulang.

Kamu suka jalan-jalan keluar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, dan aku harus menunggumu di rumah agar bisa memberikan mataku untuk mengarahkanmu.

Kamu selalu pegal-pegal pada waktu ‘teman baik’mu datang setiap bulan, dan aku harus memberikan tanganku untuk memijat kaki dan pinggangmu yang pegal.

Kamu lebih banyak di rumah, dan aku selalu khawatir kamu akan menjadi ‘aneh’ hingga aku harus memberikan sesuatu yang dapat menghiburmu atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami.

Kamu selalu menatap komputer, membaca buku yang tidak baik untuk kesehatan matamu, dan aku harus menjaga matakku agar ketika kita tua nanti aku masih dapat membantumu menggunting kuku dan mencabut ubanmu.

Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar cantik seperti cantiknya wajahmu.

Tetapi sayangku, aku tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Aku tidak akan sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku.

Sayangku, aku tahu ada banyak orang bisa mencintaimu lebih dari aku mencintaimu. Untuk itu sayangku, jika semua yang telah diberikan oleh tanganku, kakiku, mataku tidak cukup bagimu, aku tidak bisa menahan dirimu untuk mencari tangan, kaki dan mata lain yang dapat membahagiakanmu.

Air mata saya jatuh ke atas tulisan dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha membacanya,

Dan sayangku, jika kamu telah selesai membaca jawabanku. Jika kamu puas dengan semua jawabanku dan tetap menginginkan aku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita.

Aku sekarang berdiri di depan pintu menunggu jawabanmu.

Jika kamu tidak puas, sayangku. Biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia.

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri tepat di depan pintu dengan wajah penasaran. Di tangannya tergenggam setangkai gelas berisi susu dan roti kesukaanku.

Akhirnya saya tahu bahwa tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintai saya. Ternyata cinta yang dia berikan kepada saya telah hadir dalam bentuk lain yang sama sekali jauh dari bayangan saya. Cinta romantis yang penuh dengan bunga, tidak lebih baik dari tangan, kaki dan mata yang dia persembahkan untuk saya.

So, masihkah dia mencintaiku?

Tanyalah hatimu yang paling dalam, kemudian bercerminlah sudahkah kita memberinya hal yang serupa.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cermin Hati dari Dareschool


Berbagi sedikit dari wahana yang kudapat di facebook. Sebuah motivasi hidup yang indah yang layak untuk dicoba.


let's see....




Bagi yang berusaha meningkatkan diri dan ilmu pengetahuannya pasti tahu bahwa hidup akan lebih mudah dijalani bila kita selalu berpikir positif. Tapi, bagaimana melatih diri supaya pikiran positiflah yang 'beredar' di kepala kita, tak banyak yang tahu. Ada Baiknya kita kenali ciri-ciri orang yang berpikir positif sebagai cermin sudahkah kita seperti itu.




#1. Jadikan masalah sebagai tantangan, Sehingga kita dapat melihat masalah secara proposional. Bandingkan dengan sahabat yang melihat masalah sebagai cobaan hidup yang terlalu berat dan bikin hidupnya jadi paling menderita sedunia.




#2. Menikmati hidupnya , Pemikiran positif akan membuat seseorang menerima keadaannya dengan besar hati. Hal ini merupakan benih kebahagiaan akan berbuah kenikmatan. meski demikian tetap diiringi berusaha untuk mencapai hidup yang lebih baik.




#3. Pikiran terbuka untuk menerima saran dan ide. Ada hal-hal baru akan memberi kesempatan pada kita untuk membuat segala sesuatu lebih baik.Hati-hati untuk yang merasa sudah tahu segala hal, akan sulit menerima suatu yang baru apalagi dari orang yang kita sepelekan.




#4. Mengenyahkan pikiran negatif segera ketika terlintas di benak 'Memelihara' pikiran negatif lama-lama bisa diibaratkan penyakit kanker ganas yang akan menyebar. Hal yang Sebetulnya tidak apa-apa, ternyata malah bisa menimbulkan masalah. Pikiran negatif bisa berasal dari lingkungan terdekat bahkan dari orang yang kita cintai.




#5. Mensyukuri apa yang dimilikinya adalah persiapan kita untuk meraih suatu yang lebih. Berkeluh-kesah tentang apa-apa yang tidak dipunyainya hanya akan memperpanjang penderitaan.




#6. Menghargai waktu sebagai aset yang paling berharga. Menunda untuk persiapan matang merupakan strategi. Namun Menunda-nunda suatu yang harus dilakukan adalah kecerobohan.




#7. Jangan terlalu banyak alasan, tapi langsung bikin tindakan. Resep sukses orang bodoh adalah banyak bertindak tidak usah banyak alasan. Alasan yang dibuat-buat hanya menunjukan ketidakmampuan diri untuk menghadapi kenyataan. Takut gagal bukan alasan itu adalah hanya ketidaksiapan menghadapi kenyataan.




#8. Membiasakan Menggunakan bahasa positif Kalimat-kalimat yang bernadakan optimisme, seperti "Masalah itu pasti akan terselesaikan," adalah doa. Menilai orang lain "Dia memang berbakat" adalah kebesaran hati kita. Stop mencela meski itu hanya gurauan.




#9. Menggunakan bahasa tubuh yang positif Di antaranya adalah senyum, berjalan dengan langkah tegap, dan gerakan tangan yang ekspresif, atau anggukan. Mereka juga berbicara dengan intonasi yang bersahabat, antusias, dan 'hidup'.




#10. Peduli pada citra diri Orang yang ingin sukses, mereka berusaha tampil baik. Bukan hanya di luar, tapi juga di dalam. Yang perlu diingat ini bukan topeng yang menutupi keburukan kita. Tunjukan jati diri kita apa adanya dengan penuh keiklasan. Pujian dan hinaan hanya beda tipis bagi yang memahaminya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Facebook Haram on JUni

Facebook Haram

Tema agak jadul nich. Tapi penting untuk diketahui.

Waduh, baru saja buat facebook kok malah jadi haram. Apa karena aku ikutan nee…?
Itu komen pertamaku. Facebook haram? Why?
Padahal facebook kalau dipakai secara wajar bisa untuk sarana komunikasi yang efektif, apalagi sekarang sudah bisa pake HP. Facebook juga bisa menjadi ajang reuni bagi pengguna yang ingin menemukan teman-teman lama yang telah hilang kontak. Bertukar pikiran, rasa dan suasana.

Awalnya sempat malas ikut situs jejaring semacam itu. Tapi didorong oleh rasa penasaran jadi ketagihan (kik kik….). Ingin selalu tahu perkembangan teman-teman dan berbagi banyak dengan mereka.

Menurut Dani Muhtada facebook itu memiliki fungsi yang sama dengan desa ataupun kota. Para anggota dapat melakukan aktifitas apapun untuk menunjukkan eksistensi mereka, sebagai manusia yang secara sunnatullah hidup dalam jejaring sosial bagaimanapun bentuknya. Baik berinteraksi langsung maupun melalui sebuah sarana yang lebih canggih berupa internet.

Seperti halnya kota sebagai wahana interaksi, dalam wahana facebook seseorang dapat melakukan berbagai aktifitas seperti bertukar pengalaman, menawarkan barang, melakukan dakwah bahkan melakukan kejahatan social yang mengacu pada tindakan yang diharamkan. Lantas apa kemudian sebuah kota dengan aneka macam kegiatan baik dan buruk tersebut bisa difatwakan haram?

Facebook hanya sarana yang bersifat netral. Jika diibaratkan lagi pakai mobil, kendaraan ini dapat digunakan sebagai sarana transportasi berangkat kerja, mengangkut orang sakit, dsb. Tapi juga bisa digunakan untuk melakukan aksi kejahatan perampokan, ke tempat-tempat mesum dan segala hal yang tidak dibenarkan oleh agama. Apa kemudian setelah tahu mobil bisa untuk melakukan tindakan kriminal mobil juga diharamkan?

Mari kita ibaratkan lagi facebook seperti sinetron/film. Dalam penayangan sinetron/film bukannya juga banyak mengandung unsur-unsur pornografi dan kekerasaan yang justru secara pasif kita cuma bisa menerima tanpa bisa menolak secara langsung. Di suguhi tiap menit, jam, hari dengan adegan-adegan dan kata-kata yang kadang kasar dan berbau mesum. Lalu mengapa sinetron/film tidak difatwakan haram?

Mengutip lagi pendapat dari Dani Muhtada, empat kemungkinan mengapa facebook diharamkan.
Pertama,
Para peserta musyawarah FMPP Jawa Timur tidak sesungguhnya tahu apa itu facebook. Seandainya tahu mungkin pengetahuan tersebut didapat dari orang ketiga yang bukan pengguna facebook aktif.
Kalau informasi didapat dari pengguna, sangat mungkin informasi itu tidak utuh, akibatnya keputusan yang diambil atas dasar informasi yang tidak valid. Garbage in garbage out. Jika data yang didapat benar, hasil analisis benar. Jika data kabur, hasil analisanya dipastikan ngabur.

Kedua,
Para peserta mungkin mengetahui apa itu facebook, namun gagal mengidentifikasi persoalan dengan tepat. Ada kekhawatiran facebook akan melulu digunakan untuk hal-hal mesum dan maksiat. Maka tanpa meninjau lebih lanjut mereka segera mengeluarkan keputusan haram tersebut.

Ketiga,
Para peserta paham apa itu facebook dan mampu mengidentifikasi persoalan. Namun mereka gagal menerapkan teori hukum Islam.secara tepat. Ada fiqh yang menyatakan: “Hukum instrumen sama dengan hukum peruntukan”.Namun kaidah ini tidak bisa digeneralisir untuk instrumen yang bagian-bagiannya memiliki fungsi beragam. Penggunaan satu fungsi yang haram tidak serta-merta mengharamkan fungsi yang mengandung manfaat.

Keempat,
Peserta FMPP memahami apa itu facebook dan mampu mengidentifikasi persoalan sesungguhnya. Mereka hanya mengharamkan facebook pada penggunaan yang tidak sesuai dengan syariah, bukan facebook itu sendiri. Hanya saja umat menangkap secara keliru.
Jika ini yang terjadi maka yang diperlukan adalah sikap tabbayun tentang keputusan tersebut. Sikap ini sangat penting agar masyarakat pengguna facebook tidak resah dan tidak menuduh FMPP telah membuat keputusan tanpa basis pengetahuan yang memadai.

Jadi kemungkinan mana yang mungkin benar tentang fatwa facebook haram tersebut?
See ajah ;D!

Yang jelas adalah langkah kita sebagai pengguna facebook harus jeli menyikapi tentang fatwa haram itu. Jika masih sebatas say hello pada teman, bertukar pengalaman, pikiran dan rasa semoga tidak pada kategori haram, yach?



Sumber: SM 27 Mei 09, Dani Muhtada.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Fever Facebook on May???

DEMAM FACEBOOK

Bermain2 dengan facebook asyik banget yach?
Tapi kalo terlalu asyik ada efek sampingnya lo, apalagi sampai nyandu facebook (situs jejaring social; secara umum)..
Menurut penelitian para ahli situs2 ini memicu orang untuk mengisolasi diri. Meningkatnya isolasi diri dapat mengubah cara kerja gen, membingungkan respon kekebalan, level hormone, fungsi urat nadi dan merusak performa mental.

Orang2 yang terbiasa berkomunikasi melalui facebook akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Pada anak dan remaja bisa merusak secara perlahan kemampuan sosial dan dalam membaca bahasa tubuh.

Ancaman facebook pada tubuh jelas menimbulkan sakit punggung karena berlama-lama duduk di depan komputer, merusak mata, depresi dan sulit berkonsentrasi akibat kurang tidur. Obesitas juga ikut mengancam loh, coz kita jadi malas berolah raga.

Nah, temen2 sudah pada taraf ketergantungan?
Check it out!
1. Tidur larut malam akibat asyik mengakses facebook
2. mengaksesnya lebih dari 2 jam
3. Terobsesi menemukan kawan lama melalui facebook
4. Mengabaikan pekerjaan demi berlama-lama mengakses facebook
5. Merasa tak bisa hidup tanpa facebook.

Jika mengakses facebook masih sebatas sign in, mengomfirmasi frend request lalu sign out, masih aman, coy!
Setidaknya resiko kanker, stoke bahkan pikun sebatas mengintai saja belum berani menyerang.
paling nggak terhindar dari kantong kering;D.


sumber: SM, Radar Banyumas

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

April 09

Bicara tentang keberuntungan…..?

Hem,
Benar ada gak sih yang namanya keberuntungan?

Kalau tiba-tiba lihat orang dapat undian, kita akan bilang betapa beruntungnya dia
Kalau lihat orang dapat pekerjaan yang hebat, naik pangkat kita akan berujar beruntung sekali
Kalau kita lihat orang menikah dengan pasangan yang tampan/cantik, kaya, kita juga akan berdecak ah, beruntungnya

Tapi dalam kamusku kok tidak ada yang namanya keberuntungan (bagaimana dengan Anda?)
Pengin dapat undian, yang ada cuma gigit jari sendiri
Pengin punya pekerjaan impian, setelah berurai leleran keringat, air mata akhirnya cuma bisa mengagumi orang yang berhasil meraihnya
Saat ingin menikah pun, aku harus menjadi seorang pejuang tanpa takut mati (rasa)

Pokoknya semua yang kumiliki sekarang melalui usaha yang berdarah-darah
Itu pun tak selalu dapat apa yang kita inginkan.
(How about U?)

Jadi keberuntungan itu apa?
Kok mudah ya kita berkata tapi tidak tahu makna dibaliknya
Atau cuma aku saja yang begitu dungunya

Yang jelas,
Sepertinya memang tidak ada ya yang namanya keberuntungan.
Kalau pun ada itu merupakan karunia Tuhan yang tak terkira sebagaimana mukjizat untuk para nabi.
Berapa persen kemungkinannya……?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Refleksi

Sudah 3 tahun berlalu….

Nyaris terlupa kah?
Bagian tubuh kita itu mungkin telah menguar menyatu dengan alam

Masihkah kita merasa lengkap?
Saat celoteh, tawanya tak lagi bergema di antara telinga kita

Bagaimana kabarnya, kawan?
Pernahkah kita menanyakan lewat lantun doa tengah malam

Jika ini cinta tentang sobat setia
Masihkah terkenang setiap derik laku baiknya sebagai teman dia menyusuri ruang untuk merintis kita kelak

Sudah 3 tahun berlalu bukan….
Semoga dia tetap bersemayam dalam benak kita


In memoriam Indra Wijaya

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Valentine on Februari09

Pilihan Untuk Menikah


Teringat sebuah tulisan tentang pilihan dalam menikah dari seorang teman.
Mumpung momentnya pas di bulan kasih sayang (katanya)
Ini dia pilihan tentang menikah or tidak menikah.

Sesungguhnya menikah pun adalah sebuah pilihan hidup. Seperti halnya saat kita memilih sekolah, pekerjaan, memilih baju, sepatu, sandal, memillih menu makanan.
Selalu ada pilihan dalam hidup.

Jika ada orang yang memilih untuk jadi bujangan seumur hidup itu pun pilihan baginya.
Jika ada seorang wanita yang tidak ingin menikah itu pun pilihan hidupnya.
Entah dengan alasan apa mereka memutuskan untuk menyendiri yang jelas itu pilihan hidup mereka yang harus dihormati. (melihat dari lingkungan sekitar banyak yang hingga usia mendekati senja masih melajang, dan tampaknya mereka begitu menikmati hidupnya tuch! Gak tau ya, dalamnya?)
Mungkin awalnya mereka ingin menikah, tapi sepertinya ada sebentuk trauma yang menenggelamkan keinginan untuk menikah tersebut.

Pernah terlintas pula dalam benak untuk tidak menikah saja, bebas berpetualang ke dunia yang luas ini tanpa ada yang mengganduli.
Terbang dari satu pucuk dunia ke pucuk dunia yang lain.
Terbayang begitu menyenangkan. Tidak akan ada yang mengekang gerak langkah kita. Karena hidup ini hanya untuk kita.

Tapi entah kenapa mendadak muncul sebentuk kerinduan yang aneh. Apalagi setelah teman-teman terbaik satu-persatu pergi mencari sesuatu yang mereka sebut cinta.
Ah….. betapa sepinya.

Pilihanku untuk tidak menikah perlahan tapi pasti meluntur. Apalagi ada satu keinginan terbesar untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Ku pikir satu-satunya jalan adalah dengan cara menikah, aku bisa menjadi seorang yang sempurna (sempurna secara manusia, karena sesungguhnya kesempurnaan hanya milik Sang Pencipta).

Menjajal satu tantangan hidup lain tidak ada salahnya, bukan?
Rasakan saja sensasinya seperti saat kau sedang menjelajah dunia. Bukankah satu buah pribadi juga memiliki misteri untuk diselami.
Bukankah jika kau ingin mengelilingi dunia, berdua lebih ceria berwarna daripada sendiri dalam sunyi?

Akhirnya kumantapkan memilih menikah saja sebagai pilihan hidup.

Dan tahukah kau?
Pilihan ini tidaklah salah.
Aku merasa sedang menaiki grafik perbaikan diri.
Ada kenyamanan bersemayam
Ada ketenangan bersarang
Aku jadi lebih mencintai hidupku dari sebelumnya.

Niwey, terlepas dari pengalamanku tersebut
Menikah tetaplah menjadi sebuah pilihan hidup
Pilihan hidup untuk menjadi lebih baik
Pilihan hidup menjadi umat Rosulullah yang sebenarnya

or pilihan untuk menempuhi surga dengan jalan suci yang lain.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS