RSS
Container Icon

The Threembak Kentir's Ke Gunung Merbabu 5

Lanjutan...

Trio Meong Vs CJR KW 4


Pemandangan lucu tersaji saat Trio Klaten berbalik turun, mereka jatuh secara beruntun. Kami yang melihat adegan tersebut spontan ngakak. Habis jatuhnya lucu banget, Radit yang jalan paling belakang (ketahuan dari postur tubuhnya yang paling tinggi) rem kakinya tidak makan terus melaju dengan kecepatan tinggi menabrak sosok yang kelihatannya Dino. Nah, Igit yang jalan paling depan jadi panik. Maksudnya mungkin mau menghindari serudukan dari Dino dan Radit, tapi karena begitu paniknya kali, eh, dia malah jatuh duluan baru tertimpa dua rekannya. Benar-benar seperti kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga. Igit menikmati sensasinya tuh, sudah jatuh tertindih dua orang pula.
Sudah, ah. Kasihan!” ucapku berusaha menghentikan derai tawa.
“Benar. Jahat banget, tertawa di atas penderitaan orang lain.” Citonk menyetujui.
Suasana bisa terkendali, saat trio Klaten dengan tertatih mencapai ujung tanjakan. Igit terlihat begitu kepayahan, kakinya cidera. Dia tampak memegang sebatang kayu sebagai tongkat.
“Bawa balsam otot nggak?” tanya Dino. “Igit keseleo saat jatuh tadi. Kalian lihat kan?”
“Wah, nggak bawa. Paling balsam gosok, mau?” tawar Pheenux yang masih berdiri selepas mengepak alat makan.
“Nggak apa-apa. Yang penting bisa memberi pertolongan pertama.” jawab Dino.
“Eh, tadi makasih lho.” ucap Pheenux tiba-tiba bersamaan dengan terulurnya balsam gosok dari tanganku ke Dino.
Makasih apa?” ketiganya sontak menatap melompong pada Pheenux.
“Kalian sudah memberi kami hiburan,” Pheenux kembali tertawa. Citonk dengan air muka geli mendelik saat Pheenux mengarahkan mata padanya.
“Iya, iya lucu!” tanggap Dino serius.
“Sori…”
“Menurut kalian lucu!” cetus Radit. Mendadak suasana senyap. Citonk dan Pheenux tidak lagi cengengesan.
“Empat!” celetukku membuat anak-anak lain jadi bingung. “Iya, Radit baru empat kali memperdengarkan suaranya yang seksi.”
Citonk yang duduk bersebelahan denganku menyikut lengan.
“Kamu ngitungin Radit ngomong?” Dino melongo.
“Dia ini memang sering kurang kerjaan.” ungkap Pheenux tertawa. “Eh, tapi bener Sush, seksi. Kok jarang ngomong sih?”
“Yaah, karena seksi makanya dia jadi pelit ngomong. Takut ntar kalian pada klepek-klepek, hayo, gimana coba?” jawab Dino.
“Tipe cowok dingin, Pheen!” timpal Citonk.
“Cowok es?” ulang Igit merasa geli dengan istilah itu sambil meringis menahan sakit ketika Radit mengoles engkelnya yang keseleo.
“Kami juga cewek dingin lho!” selorohku. “Hei, Pheen yang kul, kenapa?” kami bertiga langsung pasang gaya sok kul. Tapi malah jadi aneh. Wagu!
Dino tertawa, Igit senyum-senyum. Sedang Radit cuma nyengir sebentar lalu fokus lagi menatap pemandangan yang terhampar di bawah
“Sudah ah, yang biasa aja.” Dino mengakhiri suasana yang mendadak jadi beku, gara-gara tiga cewek yang tadinya berisik jadi sok kul.
“Oh ya, Igit gimana kakinya? Masih bisa jalan?” tanyaku penasaran. Pasalnya berdasarkan peta masih ada beberapa punggungan lagi yang harus didaki.
“Lumayan. Lumayan sakit maksudnya.”
“Ceilee… perhatian nih!” goda Dino.
“Jalan lagi yuk!” ajakku memutus celoteh Dino.
“Kita jalan pelan-pelan aja.” saran Radit.
“Kalau mengikuti kami ditanggung seperti putri Solo.” cetus Pheenux.
“Hah, jalan ngibrit gitu seperti putri solo.” Igit membelalak.
“Iya, jalan kayak badak gitu, apa nggak pada capek?” protes Dino.
“Nggak sih, cuma cuuuapek buaaangeeeet!” tanggap Pheenux.
Setelah berkemas, kami melanjutkan langkah mendaki. Kali ini tim putri harus bersabar berjalan di belakang Igit. Apalagi jalan ke puncak isinya tanjakan melulu. Sama sekali tidak ada bonus. Igit dengan terseok tampak berjuang melawan rasa sakit yang bersemayam di kaki. Sesekali berhenti seakan mengukur berapa jauh lagi puncak dari tempat dia berdiri. Lumayan, masih jauuuuuh, Bang!
Dentang kelontong sapi (lonceng sapi) yang tergantung di tas Radit masih setia mengiringi setiap jengkal pijakan derap kaki yang semakin patah-patah. Akhirnya pukul lima kami berhasil menancapkan bendera kemenangan dengan menapakkan jejak kaki di tanah yang seakan telah rindu terjamah.
Puncak Bleh! Untuk selanjutnya....

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

The Threembakentir's Ke Gunung Merbabu 4

Lanjutan...

Trio Meong Vs CJR KW 4


Gimana kalau kita istirahat sambil nunggu mereka?” usul Citonk.
“Iyes!” sahutku sudah menjatuhkan diri ke tanah.
Lima menit berlalu. Mendekati menit kesepuluh karena yang ditunggu tidak muncul-muncul kami memutuskan meninggalkan Trio Klaten. Daripada nanti menghambat operasional. Lebih baik jalan dulu, lagian mereka kan cowok, sebentar juga bisa menyusul.
Satu tanjakan lagi berhasil terlewati, kini di depan terhampar padang rumput yang luas. Kami bertiga terkagum-kagum melihat fenomena alam yang membentang memanjakan mata. Saat ini kami berdiri di tengah padang rumput sabana. Kanan-kiri bukit-bukit hijau menjulang membentengi lembahan menghijau.
“Wow, keren!” decak Pheenux pada garis setapak mengarah ke bukit tinggi nan jauh di depan.
“Ngeri juga ya, kalau udah liat tanjakannya.” ucap Citonk.
“Puncakkah?” gumamku.
“Sepertinya.” komentar Citonk.
“Ayo semangat!!” seru Pheenux.
Dengan tertatih-tatih kami merayapi bukit yang medannya, ampun susah euy! Tegak lurus ke atas, tanpa undakan yang jelas. Sudah begitu, tanahnya berbulir kering bercampur sedikit pasir yang acap kali memerosotkan sepatu beberapa senti. Cukup buat jantung ikutan berdesir, khawatir muka mencium tanah lalu memarutnya.
Meski berjalan dalam kaki patah-patah dan nafas yang putus-putus. Jangan salah, kami tetap dapat menyuarakan lagu separuh nafasnya Dewa.
“Separuh nafasku… hosh… hosh…” ngos-ngosan. “terbang bersama dirimu… hosh… hosh…” ngos-ngosan lagi.
“Sebentar lagi… hosh… hosh!”
Tanjakan terjal berhasil terlibas. Berharap ini puncak Merbabu. Sayangnya, puncakan lain telah menunggu dengan senyuman mengejek.  
“Hah, puncak lagi, haha…” tudingku tertawa.
Kami merayapi dengan terbata-bata. Satu bukit kandas tapi masih menanti bukit lain. Dengan lemas kami menjatuhkan carier di tanah.
“Fiuuh… gila! Bikin deg-degan aja. Kirain ini puncak asli!” kata Pheenux diamini aku dan Citonk.
“Makan yuk, laper nih!” ajak Citonk yang sudah terlihat memucat, maklumlah waktu itu sudah pukul setengah satu.
 Dari atas bukit sini kami bisa memandang, menyapu hampir seluruh padang sabana dan bukit-bukit lain. Sangat lepas tak terhalang oleh lebatnya hutan. Hanya rerumputan yang setia menemani langkah kaki, bahkan saat makan siang rumput-rumput semak turut bersenda di sekitaran kami.
Satu jam kemudian lezatnya makan siang menghampiri perut, habis api kompornya tidak fokus, kabur-kabur oleh angin, so, matengnya jadi lamaaaa banget! Apalagi menunggu dalam kondisi lapar. Serasa setahun.
Ada yang naik punggungan sebelah sana tuh!” kataku yang waktu itu sedang ormed. Sementara Pheenux lagi sibuk ngerokin leher Citonk yang katanya berasa masuk angin.
Pheenux langsung menerka mereka Trio Klaten. Ketiga cowok yang dua jam lalu jalan bareng kini tengah menaiki punggungan sebelah kanan tidak menyadari posisi kami. Sampai akhirnya salah satu dari mereka menunjuk ke arah bukit yang kami pijak.
Kami pun heboh melambaikan tangan agar ketiganya naik mengikuti jalur kanan. Karena berdasarkan hasil ormed, bukit yang kami duduki sekarang arah yang benar. Mereka tampak berdiskusi, tak lama terlihat pergerakan ke arah sebaliknya.
Pemandangan lucu tersaji saat Trio Klaten berbalik turun. 
(Apakah itu? Tunggu lanjutannya ya....) 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

The Threembakentir' Ke Gunung Merbabu 3

Lanjutan...
Trio Meong vs CJR KW 4 


Pagi ini begitu cerah, secerah wajah kami. Hari ini aku menjabat sebagai leader. Jalur awal yang dilalui ternyata tidak seberat sangkaan, banyak bonus yang membuat pergerakan menjadi cepat. Kondisi hutan yang masih sedikit perawan menambah kesegaran tubuh.
Sesekali kami berpapasan dengan penduduk yang habis mencari kayu atau daun-daunan untuk pakan ternak. Mereka begitu ramah menyapa pendatang, otomatis kami pun tak kalah ramah menebar senyum semanis-manisnya.
Tiba di pertigaan, langkahku mulai ragu-ragu. Untuk memastikan aku segera mengeluarkan peta. Ormed, ormed (orientasi medan).
“Ke kiri,” gumamku menentukan langkah. Tapi beberapa tapak kemudian aku termangu, lalu mengambil nafas sebanyak-banyaknya, “Tanjakan ala tangga, Bleh!”
“Habiskan!” balas Pheenux bersemangat.
“Serius nih kita habisi!” tanggapku masih menatap ke atas yang tidak terlihat ujungnya.
“Ayo, Sush!” Citonk ikutan bersemangat.
Kami lalu meniti setiap pijakan tanah yang semakin ditapak semakin mengarah curam nyaris menyentuh hidung.
“Sebentar lagi kayaknya datar!” laporku terengah-engah namun tetap melaju mencoba mengalahkan rasa lelah.
Tiba di akhir tanjakan.
“Lho!” pekikku kaget manakala mendapati dua mahluk yang tidak asing leyeh-leyeh bersandar pada tas masing-masing. Mereka itu rombongan cowok yang sudah berangkat jam setengah enam tadi.
“Masih di sini, tho?”
“Iya, kami habis buang bekal dalam perut.” jawab si imut. “Biar ringan.”
Seorang cowok yang memakai bandana berambut gondrong diikat ekor kuda hanya tersenyum tipis. Penampilannya MAPALA banget. Paling keren di antara ketiganya. Dan cowok itu seleranya Citonk!
“Yang satu lagi mana nih?” tanya Pheenux yang sudah ikut mengerumuni keduanya.
“Igit?” sahut si imut. “Masih ada keperluan.”
“Wah, aku lupa nih nama kalian.” ucapku terus terang. “Igit, terus Mas?” tunjukku pada si imut. “Sori, aku rada amnesia kalau mengingat nama orang.”
“Aku Dino, dia Radit.” tunjuk Dino pada Radit si gondrong. “Sushi, Citonk sama Pheenux, kan?” Dino menunjuk tim cewek satu persatu.
“Betul seratus!” balasku. Tepuk tangan mengiringi nilai yang aku suguhkan.
Setelah dirasa cukup beristirahat, tim putri meminta ijin untuk jalan duluan. Jalur berikutnya masih ngetrack berat. Kami terus melaju seakan tidak kenal sama yang namanya Om Lelah. Pas nemu tempat ideal buat istirahat aku minta break pada anggota rombongan lain. Sayangnya, yang ada di belakangku cuma Pheenux seorang. Citonk tidak ada!
“Tercecer di mana tuh anak!” kata Pheenux nyengir memandangku yang tertawa geli.
Tonk, hello genk!” kami pun memanggil-manggil Citonk. Tidak ada balasan.
“Pheen, aku lihat ke bawah ya.”
“Mengkhawatirkan juga tuh anak.” timpal Pheenux yang bersedia menjaga barang bawaan.
Setelah melangkah turun setengah berlari kurang lebih dua ratus meter, terlihat Citonk sedang duduk bersandar pada carier sambil kipas-kipas pakai topinya.
“Lagi ngapain, Tonk?” sapaku setengah geli setengah khawatir. “Kamu nggak pa-pa kan?”
“Sebentar, Sush.”
“Yuk! Aku bawakan cariernya, di atas ada tempat luas buat istirahat. Daripada ditanjakan gini.ucapku seraya mengangkat carier Citonk ke punggung.
Begitu sampai di tempat Pheenux, “Mana Citonk?”
Hah? aku jadi menengok ke belakang. “Kirain tadi jalan ngikuti aku.” desahku menghempaskan tubuh bersama carrier Citonk.
Kumat ngadatnya?” ujar Pheenux.
Aku hanya menggeleng sambil mengangkat bahu. Pheenux berdiri melangkah turun. Tak berapa lama yang nongol malah trio Klaten.
Citonk, nampaknya kecapekan.” kata Dino setelah ber-say hey. “Yang bawa carier Citonk kamu?” tanya Dino ketika menyadari aku bersandar pada carrier Citonk.
Aku menanggapinya dengan meringis.
“Ckckck…” Igit berdecak kagum.
“Wow, dua kali naik turun?” tanggap Dino.
Tak lama muncullah Citonk yang tampak kepayahan. Disusul Pheenux dan Radit.
Sush, air di carier Citra pindah ke aku aja!” kata Pheenux langsung melangkah ke arahku.
Tanpa banyak komen aku segera mengeluarkan satu buah jerigen berisi air, lalu menyerahkan pada Pheenux.
“Benar juga mungkin dia keberatan,” komentar Dino yang orangnya lebih bisa diajak komunikasi ketimbang dua orang rekannya yang sepertinya tipe cowok dingin.
Perjalanan berlanjut kembali. Tentu saja setelah memastikan Citonk siap melaju. Kami berenam berjalan berurutan dengan rombongan cewek berada di depan. Formasi tim putri berubah, Citonk ditaruh depan, takut tercecer lagi.
Bonus jalur datar membuat laju langkah menambah kecepatan. Percakapan tak lupa kadang mengisi sela langkah kaki yang terasa ringan. Tapi itu tidak berlangsung lama. Sebuah tanjakan sudah menanti kembali menantang dengan angkuh. Tanpa gentar kami lalu menapaki setapak demi setapak.
Dan entah kenapa, Citonk mendadak perkasa. Gara-gara Radit kali ya. Hihi… kayak habis dicash. Baterainya fit bener sampai nggak ngedrop-ngedrop. Sepengetahuan kami, Trio Klaten masih setia mengikuti langkah ala badak. Tapi ketika tiba di tempat datar lagi, ternyata mereka lenyap.
“Wah, kok ada yang tercecer lagi sih?” cetusku lalu meneguk air dari botol.

“Tiga orang sekaligus malah” timpal Pheenux. “Perasaan tadi mereka masih di belakang deh.” 
Jangan-jangan... kok mendadak syerem yah? Kami bertiga saling berpandangan.
(kira-kira mereka_Trio Klaten menghilang kemana sih?)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

The Three Mbakentir's Ke Gunung Merbabu 2

Lanjutan....

Trio Meong vs CJR Kw 3



“Pheen! Kabutnya turun lagi.” laporku masih dengan tertawa.
“Masa sih?”
Citonk yang tidak percaya meyakinkan diri dengan melongok keluar. “Benar. Gelap lagi.”
“Wah, kita dipermainkan!”
Kami pun turun ke jalan dan duduk di bangku yang ada di depan pintu masuk halaman. Aksi bengong terjadi lagi. Menunggu dan menunggu. Bosaaaaan oooi! Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul tiga sore.
“Nggak ada harapan.” desis Citonk.
“Dari pada bengong, kita foto-foto aja yuk!” usul Pheenux.
“Benar, benar,” aku menjadi bersemangat. “Aku ambil dulu kameranya?”
Untuk menghibur diri, kami bertiga kemudian berfoto-foto ria seperti layaknya foto model, bergaya dengan berbagai pose norak. Sok pada jadi covergirl! Covergirl tabloid satwa. Untung kami ingat kalau perjalanan besok masih butuh dokumentasi. Nyaris saja satu rol habis.
Pengisian waktu selanjutnya kami lalui dengan jalan-jalan menuju titik start pendakian. Di situ tampak ada batas jelas, antara jalan beraspal dengan jalan setapak tanah berhiaskan daun-daun kering yang bertaburan di atasnya.
Saat sedang mengawasi titik pemberangkatan bakal jalur tiba-tiba muncul pendaki lain yang turun. Terjadilah kembali saling sapa, sekali lagi ini menyangkut kode etik sesama pendaki yang harus saling menyapa. Maksudnya sih, siapa tahu dapat hibahan logistik gratis, hehe…. Makanya tanpa ragu-ragu kami langsung setel tampang manis dan menyapa pendaki yang baru turun. Lagi-lagi pendaki yang turun menyarankan agar jangan nekat naik sekarang, apalagi kalau belum hafal medan. Kami tentu saja mengiyakan dengan ekspresi sok bego.
“Pendakian masal, Mas!” celetukku ketika melihat rombongan yang baru turun tadi jumlahnya banyak sekali. “Ada duapuluhsatu orang, Bleh.”
“Hush, apa sih. Kurang kerjaan.” tegur Pheenux.
“Aku cuma membayangkan Kunyit, Ujang yang naik lewat Wekas. Pasti seperti tadi itu panjangnya.” balasku.
Setelah bosan lagi dengan aktivitas jalan-jalan, kami kembali ke base camp. Kabut masih menyelimuti ruang gerak. Sampai di base camp ternyata sudah ada pengunjung lain. Jumlah mereka empat orang, berpasang-pasangan dan cuma membawa tas rangsel kecil. Datangnya pakai motor. Mungkin mereka cuma mau kemping.
Aktivitas kembali ke masak-memasak. Daripada bengong, lebih baik mengurusi bakal makan malam. Di sudut lain kedua pasangan tadi tampak sedang berbincang-bincang dengan mesra.
“Khusus dewasa!” hardik Pheenux padaku dan Citonk yang dilanda penasaran.
“Ngomong-ngomong dulu kamu putus sama pacarmu kenapa, Tonk? Apa karena kamu suka naik gunung dia jadi ngeri sama kamu. Takut tersaing kekar.” tanyaku membuka percakapan ke arah yang lebih privat tentang hubungan asmara.
“Yaa, gitu deh!” sahutnya tertawa. “Beda prinsip. Artis aja yang sudah pada menikah bisa cerai, apalagi masih pacaran.”
“Siapa ya namanya?” tanggap Pheenux.
“Antonius brengsek!
“Weesshh, segitu bencina?” goda Pheenux.
“Habis dia yang mutusin aku dulu sih. Nggak pangki banget, kan? Pemutusan secara sepihak. Hiks hiks… padahal aku... hhh… cinta mati sama dia.” curhat Citonk.
Bilang saja kamu nyesel karena bukan kamu yang mutusin?” imbuh Pheenux.
“Ya iyalah, secara Citonk, gitu….”
“Sabar Tonk,” ucapku sok bijak, “Pasti akan datang cowok lain yang lebih dari dia.”
“Mungkin. Semoga.” balas Citonk terlihat lemas. “Eh, Sush, cowok manis yang jalan bareng sama kamu dulu itu siapa?” interogasi Citonk tiba-tiba.
“Yang mana? Kenapa? Naksir?”
“Kamu itu, bukannya dia pacarmu? Itu tuh, waktu aku jalan bareng Kisti terus kita ketemu di depan warung pojok.”
“Oh… Heka,” balasku tertawa. “Pacar? Ngaco ah! Dia itu teman kuliah dan kebetulan kosnya depan kosku.”
“Tapi sebenarnya nggak cuma sekali lho, aku lihat kalian jalan bareng.” kata Citonk.
“Teman apa teman?” Pheenux malah menggoda.
“Halaah! Kalau Heka mana bisa dibilang pacar. Dia tuh statusnya TTM seluruh penghuni kosku.”
“Dia cowok gampangan?” selidik Pheenux.
“Iya kali, hehe… nggak, anaknya mang mudah akrab ma siapa aja. Dan dia tuh anaknya super baik, mudah dimanfaatin. Teman-teman kosku juga keterlaluan, seenaknya saja nyuruh-nyuruh. Terus terang aku nggak suka sama sifatnya yang itu, terlalu mudah dimanfaatin”
“Termasuk kamu, kan?”
“Heh, he… kadang sih,” cengirku. “Dia rajin banget kuliah dan yang paling penting catetannya lengkap. Nah, asyik kan, tinggal pinjem sama dia, urusan kuliah beres!”
Bukannya kamu juga rajin, Sush?”
“Rajin, apaan?”
Rajin ke gunung!” koor Pheenux dan Citonk.
“Yaa benar-benar… Ngomong-ngomong berarti kita semua ini jomblo!?”
“Jojoba banget dech!” tambah Pheenux.
“Jomblo-jomblo bahagia,”
Kami pun tertawa tak sadar ada delapan pasang mata sedang mengawasi dengan tatapan tidak senang. Keberisikan kali.
Sepertinya dari kita ada yang mau mengakhiri masa jomblo nih,” celetuk Citonk.
“Oh ya, Pheenux! Gimana perkembanganmu dengan Ujang?” pekikku menyadari sesuatu.
“Nggak!” kata Pheenux keras.
“Dia cinta berat lho, Pheen, sama kamu.” Citonk mengompori.
“Buat kamu aja, sana!” sungut Pheenux menunjukku pakai centong nasi.
“Kenapa aku?” ucapku menunjuk hidung sendiri pakai ikan asin. Kebetulan lagi bagi jatah makan.
“Yuk, makan aja!” Pheenux mengalihkan pembicaraan.
Sushi pimpin doa.” kata Citonk.
Setelah berdoa kami menyantap makan malam yang agak kepagian eh, kesorean. Bersamaan dengan selesainya acara makan, dua pasangan tadi pun pergi setelah berpamitan pada Pak Bau.
Sekali lagi aku menawarkan diri untuk cuci piring. Sekalian wudlu. Kali ini Pheenux membantu karena hendak mengambil air wudlu juga. Citonk yang non muslim membereskan peralatan.
“Hei Sush, ada yang datang!” bisik Pheenux antusias setelah memasukkan peralatan makan dan hendak wudlu lagi karena batal.
“Berapa orang?”
“Tiga,”
“Oh!” tanggapku santai. “Aku duluan, Pheen!”
Ternyata ucapan Pheenux benar. Di dalam sudah ada tiga cowok yang kelihatannya mau naik juga. Mereka sedang mengobrol dengan Citonk.
“Itu yang satunya,” ucap Citonk.
Aku langsung pasang senyum semanis madu refleks menyalami ketiganya melupakan sesuatu.  
“Astagfirullah!” seruku membuat tiga cowok yang sedang mengorek isi tas masing-masing memandang penuh keheranan.
“Apa, Sush?” tanya Citonk tak kalah bingung.
“Aku lupa. Aku kan habis wudlu, mau mengambil mukena. Eh, malah salaman sama mereka.” ucapku menunjuk tiga cowok asal Klaten itu.
“Oa laah….” tanggap salah satu diantara mereka yang bertubuh paling kecil. “Ya, wudlu lagi aja, Mbak!”
“Ehehh… iya,” gumamku malu ngeloyor keluar mengambil air wudlu. Wah, airnya dingin lagi. Kenapa sih tadi begitu semangat menyambut uluran tangan mereka. Kesannya kan haus cowok banget.
“Memang iya!” komentar Pheenux ketika aku curhat padanya.
Masa sih?ucapku sangsi
Kembali dari mushola ketiga cowok pendatang tadi sudah tidak ada, meskipun barang-barang mereka masih terlihat pada posisi semula. Menurut Citonk ketiganya keluar untuk jalan-jalan. Aktivitas selanjutnya ngerumpi, sesekali membicarakan rencana operasional esok hari. Tak lupa melakukan pencatatan waktu dan biaya yang sudah digunakan. Buat laporan.
Pukul sembilan aku sudah membungkus diri dalam kantung tidur. Sayup-sayup terdengar obrolan kecil antara Pheenux, Citonk dan ketiga cowok yang sepertinya baru balik ke base camp.
Aku terbangun ketika mendengar kegaduhan yang ditimbulkan oleh tiga cowok Klaten, sepertinya sedang bersiap mau berangkat. Mengerjap-kerjap aku berusaha melihat jarum jam tangan.
“Bangun, Bleh!” seruku terkesiap begitu tahu waktu telah menunjuk pukul lima.
“Selamat pagi!” sapa cowok yang paling kecil. Kalau tidak salah namanya Dino. Habis lupa.
“Pagi juga!” balas Pheenux sambil menggeliat. “Lho katanya berangkat malam?”
“Kami baru terbangun jam empat. Niatnya sih jam satu dinihari, eh, ketiduran.” terang Dino.
Aku tak begitu peduli dengan ketiganya. Pagi ini jatahku masak. Makanya aku langsung berjibaku menyiapkan kompor, nesting dan kawan-kawan.
“Kamu sholat dulu sana, Sush!” Citonk menyuruhku meninggalkan aktivitas perdana mengurusi bakal sarapan.

Pukul setengah enam rombongan cowok berangkat. Setelah mengucapkan salam perpisahan dan janjian ketemu di atas, kaum cowok pergi meninggalkan para wanita kesepian yang masih sibuk dengan aktivitas rutin tiap pagi, sebagaimana ibu rumah tangga. Masak! (masih nyambung, Bleh!!)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

The Three Mbakentir's Ke Gunung Merbabu

Trio Meong vs CJR kw 3

sumber gambar : argopura.blogspot.co.id

“Halah, malah hujan,” gerutu Citonk yang berdiri depan rumah Pak Bau. Juru kunci jalur pendakian Selo. Gerimis turut mewarnai suasana kelabu yang telah lama melingkupi sekitar.
Saat ini kami sedang berada di basecamp pendakian gunung Merbabu di dusun Tarubatang, desa Genting, kecamatan Selo. Istirahat dulu lah, setelah tadi jalan dari Polres Selo (saat pendakian kala itu belum ada kendaraan menuju ke sana).
“Kalau cuma hujan sih nggak masalah. Kabutnya itu lho nggak nguatin, tebal kebangetan!” tambahku.
“Hhh….” Citonk menghela nafas kemudian masuk menghampiri Pheenux yang sedang memasak buat makan siang kami.
“Nasinya belum matang?” tanya Citonk.
Pheenux membuka tutup nasi, lalu mencicipinya. “Sebentar lagi.”
“Anak-anak pasti sudah mulai naik,” ujarku yang ikut duduk mengerubuti kompor menanti hidangan dari Chef Pheenux.
Kira-kira bisa pas ketemu di puncak nggak ya?” desah Citonk.
“Nggak ada koordinasi, kemungkinannya kecil, Tonk.” balas Pheenux.
“Heh, ketawa sendiri.” tegur Citonk padaku.
“Nggak, cuma lucu aja. Akhirnya, bisa juga kita berangkat bertiga. Nekatzzz!”
“Habis Kunyit nggak jelas infonya sih. Eh, kemarin dia ngajak kita naik mana? Wekas atau Thekelan?”
“Wekas,” jawab Citonk. “Meragukan, nggak jelas mau beneran naik apa nggak. Daripada kita telantar mending naik sendiri.”
“Dan kita ambil jalur Selo.”
“Mau gimana lagi, pusdok cuma punya data pendakian lewat sini.” kata Pheenux.
Judulnya cari yang praktis?” komentar Citonk.
“Aman juga dong!” imbuhku. “Jangan sampai edisi pendakian ke Salak terulang lagi.”
“Sudah matang!” seru Pheenux. “Mari kita eksekusi!
Kami pun mulai sibuk membagi jatah makan siang kali ini yang berupa sayur sop dan tempe goreng. Sejak pukul setengah dua belas kami sudah nongkrong di rumah Pak Bau. Kalau tidak salah namanya Pak Warso.
Bagian depan rumah Pak Warso telah ter-setting sebagai tempat transit untuk para pengunjung puncak Merbabu. Di situ terdapat area khusus bagi pendaki yang hendak bermalam. Siap pakai pokoknya, ada tiga hamparan tikar mengisi sudut ruang sebelah kanan.
Sebelah rumah Pak Warso, berdiri mushola kecil yang dapat berfungsi sebagai tempat istirahat lain. Tentu jika rumah Pak Warso telah penuh sesak tak mampu menampung pendaki yang lapar puncak.
Pak Warso sempat tidak percaya saat menerima kedatangan tiga cewek yang mengaku mau naik Merbabu tanpa kawalan pejantan. Awalnya mungkin beliau pikir kami hanya bercanda, “Ah, paling sudah janjian sama teman lain,” tapi, nyatanya… nihil. Berkali-kali Pak Bau menghitung kami, jumlahnya tetap tiga. Kalau sampai bertambah jadi empat, kami yang malah jadi merinding disko.
Fiuuh, Pak Bau akhirnya menyerah menunggu rombongan kami yang lain. Dia pun cuma berpesan agar naik ketika kabut sudah hilang, sebab menurut beliau bahaya kalau naik saat kabut. Kami manggut-manggut. Paham benar resiko mendaki dalam cuaca berkabut, kemungkinan tersesat besar. Modal kami menuju puncak kan peta dan kompas. Bagaimana mau ormed (orientasi medan) kalau kawasan tertutup kabut.
“Pheen, sini biar aku yang cuci piring,” aku menawarkan diri ke sumber air. Sekalian mau ada urusan darurat sama kamar mandi.
“Boleh, dengan senang hati!”
“Aku bantu, Sush.” Citonk menyusul keluar menuju kamar mandi yang letaknya di belakang rumah, terpisah dari rumah induk. Sementara Pheenux tampak membereskan peralatan pendukung masak dan bahan makanan.
Pada akhirnya Citonk yang mencuci semua peralatan. Yah, seperti yang aku bilang tadi, aku ada urusan dengan kakus dulu. Begitu keluar, Citonk sudah kelar cuci-cucinya. Ah, leganya. Makasih ya, Tonk!
Ada pendaki turun tuh!” kata Citonk terlihat antusias ketika kami sampai di teras rumah dengan menenteng piring dan gelas yang sudah bersih.
“Habis naik, Mas?” tanyaku basa-basi pada seorang anak yang duduk beristirahat di halaman rumah Pak Bau.
“Iya,” jawabnya singkat sambil tersenyum.
“Di atas gimana? Apa kabutnya tebal juga?” Citonk ikut mengintrogasi.
“Iya, lampu senter sampai nggak tembus.” jawab yang lain yang memakai tutup kepala.
“Kalian mau naik?” tanya anak yang hidungnya tertempel plester.
“Iya, tapi nunggu kabut hilang.” sahut Citonk.
“Eh, cuma berdua?” tanyaku penasaran.
“Berlima. Yang tiga, itu mereka!” tiga orang pendaki muncul lagi.
“Udah ketemu Bapak?” tanya salah seorang yang bertubuh tinggi hitam dan baru datang.
“Belum, istirahat dululah,” sahut si hidung plester.
“Masuk aja!” ajak Citonk. “Daripada kehujanan gitu. Bapak ada kok.”
“Sebentar Mbak, istirahat dulu,” jawab yang lain.
“Oh ya udah, saya tinggal masuk.” pamitku menyusul Citonk yang sudah ngacir duluan.
Di dalam Pheenux dan Citonk sedang mendiskusikan tentang keberangkatan kami nanti.
“Pokoknya kita tunggu sampai kabut reda.” ucap Pheenux pada Citonk.
“Meski sore sekali pun?” tanya Citonk.
“Kalau redanya sore, kita langsung cabut.” kata Pheenux mantap.
Kalau pakai target waktu, bisa-bisa baru dapat sepuluh langkah sudah langsung bangun tenda.” celetukku. “Masih di jalan aspal pula, haha...”
“Kondisional,” balas Pheenux. “Maksimal cabut jam tiga. Lewat jam itu kalau masih kabut, terpaksa nge-camp di sini.”
“Sepakat.”
“Permisi!” gerombolan anak-anak yang baru turun tadi masuk base camp Pak Bau. “Bapak ada?” tanya salah seorang yang ditunjuk sebagai jubir.
“Di dalam, Mas.” sahut Pheenux. “Ketok-ketok aja,”
Si jubir mengikuti saran Pheenux. Satu detik, dua, lima sampai satu menit tidak ada tanda-tanda orang nongol dari dalam.
“Wah, kok sepi?”
Kami saling berpandangan sejenak.
“Coba Tonk, kamu tengok ke dalam!” perintah Pheenux bossi.
“Sebentar,” Citonk menurut beranjak lalu melongok ruang pribadi Pak Bau sambil terus memanggil-manggil dengan suara yang lebih stereo.
“Bertiga aja?” tanya seorang yang berkulit putih.
“Iya,” jawab aku dan Pheenux kompak.
“Berani?” ujarnya seakan meremehkan kemampuan kami.
Belum sampai kami menjawab tantangan anak itu, Pak Bau muncul dan menyambut mereka dengan ramah. Citonk kembali pada kami yang sudah mulai packing carier masing-masing. Maksudnya biar nanti tinggal berangkat kalau kabut sudah lenyap.
“Mbak, kami duluan!” seru si hidung plester setelah mereka beramah tamah sebentar dengan pemilik rumah pada sudut kiri ruang yang terdapat seperangkat kursi panjang.
“Oh, iya ya!” sahut kami nyaris bersamaan.
“Langsung pulang?” tanya Pheenux. “Nggak mampir Merapi?”
“Waktunya nggak ada, udah ditunggu kuliah. Mari Mbak!” sahut anak yang pakai balaclava.
Mereka semua melambaikan tangan pada ketiga cewek yang sedang ribut packing. Terpaksa kami menghentikan sejenak aksi beres-beres tas lalu berdiri berjajar membalas lambaian kelima cowok yang lumayan kece.
Hampir saja aku ikut arus melaju ke depan. Tarikan tangan dari Pheenux dan Citonk berhasil mengurungkan niat membeoku.
“Lho, mau naik sekarang?” tanya Pak Warso setelah mengantar tamunya hingga teras depan.
“Yaaa, tergantung kabut, Pak. Kalau kabutnya hilang kami langsung berangkat.” sahut Pheenux.
“Sepertinya hari ini akan kabut terus,” katanya. “Heran, padahal kemarin cuaca cerah sekali.”
“Apa karena kami datang jadi berkabut begini, Pak.” sambarku.
Pak Warso tertawa. “Bisa jadi,” komentarnya. “Ya sudah, sekarang istirahat saja dulu. Jangan sungkan-sungkan.”
“Iya Pak!” koor kami kompak mirip anak SD yang habis dikasih instruksi sama Pak Guru.
“Sekarang mau ngapain lagi nih?” keluh Pheenux berkacak pinggang. “Bosen.”
“Sepi, sepi,” timpalku.
Kami bertiga kompak duduk bersila menopang dagu menghadap pintu ditemani segelas air teh dan sebungkus biscuit susu. Detik-detik berlalu.
“Keluar yuk!” ajak Citonk.
Acara bengong massal berpindah ke teras depan yang berundak. Mata kami tidak lepas memelototi kabut yang terus bergantungan di udara. Hujan tidak lagi turun. Dalam hati kami terus memohon agar kabut segera disingkirkan dari pandangan.
“Mulai terang!” pekikku girang.
“Tunggu sebentar, serius nggak nih.” ucap Pheenux mencegah kegembiraanku.
Selama lima belas menit menunggu dalam harap-harap cemas. Akhirnya cuaca semakin terlihat cerah. Matahari rupanya sukses menembus pertahanan kabut yang mengitari desa terakhir ini.
“Siap-siap yuk!” ajakku bersemangat kuda. Ringkikannya bahkan terdengar menggugah sadar Citonk dan Pheenux yang masih ragu-ragu dengan aura kasih, eh, aura wajah langit yang sendu malu.
“Jam berapa, Sush?” tanya Citonk.
“Jam dua,”
Khawatir si kabut berubah pikiran kembali turun ke bumi, kami langsung memakai sepatu gunung menggusur alas kaki favorit, skandal jepit_nama tren sandal jepit di luar peradaban. Menghabiskan teh yang masih tersisa, lalu memasukkan biskuit yang tinggal tiga keping dalam kantung tas carier bagian atas berdesakan dengan alas kaki merk swallow.
Aku yang sudah siap segera berderap menyongsong mentari sang pahlawan kami. Jreng, jreng....
Ini sungguh menggelikan. Sang kabut seakan tidak mengijinkan kami berangkat sekarang. Tawaku pun menyembur seiring tatapan heran dari Pheenux dan Citonk. Kesambet jin mana tuh anak? (apa yang akan terjadi selanjutnya ya, mereka jadi naik ke merbabu tak? tunggu kelanjutannya bulan depan^^)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS